June 6, 2009

Dari Pohon Hingga Kebun

Kita semua tentu mengenal apa itu tumbuhan atau pohon. Suatu organisme yang tumbuh dari sebuah bibit atau biji, kemudian memiliki tunas, dan terus tumbuh hingga memiliki dahan, cabang, dan ranting. Subhanallah… Kebesaran Allah sangat terlihat pada perjalanan tumbuhnya organisme ini.

Organisme inilah yang dipakai Allah untuk menjadikan perumpamaan bagi harta yang diinfakkan oleh seorang mukmin di jalan Allah, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah:261. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Sangat indah dan tepat. Begitulah yang dipaparkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa ketika Allah menerangkan perumpamaan sebutir biji yang tumbuh menjadi 7 tangkai dan setiap tangkai menghasilkan 100 biji, perumpamaan ini lebih mengena ke dalam jiwa daripada langsung menyebutkan bahwa satu kebaikan mendapat ganjaran 700 kali lipat karena disini ada isyarat bahwa amal sholeh seseorang ditumbuhkan Allah sebagaimana Allah menumbuhkan sebutir biji bagi orang yang menanamnya di tanah yang subur, bahkan lebih dari itu sebagaimana diriwayatkan dari Imran bin Hashin dari Rasulullah , beliau bersabda : “Barangsiapa yang membiayai orang yang sedang berjihad di jalan Allah sedang dia tinggal di rumahnya, maka baginya disetiap dirhamnya 700 dirham pada hari kiamat dan barangsiapa ikut berperang di jalan Allah serta juga menafkahkan hartanya maka baginya pada setiap dirhamnya 700.000 dirham. Kemudian Rasulullah membaca ayat …Wallahu yudhooifu liman yasyaa’… (dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki) sesuai keikhlasannyan dalam beramal dan Allah Maha Luas KaruniaNya dan lagi maha Mengetahui”.

Bila dalam sebidang tanah terdapat sebuah pohon, lalu benih-benih dari pohon itu jatuh ke tanah dan kemudian menumbuhkan pohon-pohon yang baru, maka sebidang tanah itu bisa menjadi kebun. Kebun yang homogen. Bila sebidang tanah itu ditumbuhi lebih dari satu jenis pohon, maka sebidang tanah itu menjadi kebun yang heterogen.

Kalau kita mendengar kata kebun, tentu yang terbayang ada sebidang tanah yang indah,rindang, dan menyenangkan yang terdapat pohon-pohon baik sejenis atau berbagai jenis. Kata kebun yang bercitra indah ini juga digunakan oleh Allah untuk perumpamaan bagi harta yang diinfakkan oleh seorang mukmin di jalan Allah. “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS Al-Baqarah : 265).

Dalam dua ayat yang berdekatan ini Allah menggunakan perumpamaan pohon dan kebun. Perumpamaan yang ‘nyambung’, karena antara pohon dan kebun punya hubungan. Subhanallah…

Suatu sedekah yang kita keluarkan ibarat tumbuhan yang akan tumbuh mulai dari benih hingga memiliki tujuh bulir dengan 700 biji tiap bulirnya. Maka jadikanlah sedekah kita itu kebun. Kebun yang homogen, manakala sedekah itu kita rutinkan, dan kebun heterogen manakala kita memiliki lebih dari satu macam sedekah.

Umpamanya berinfaq untuk seorang anak yatim dari kerabat kita, itu – insya Allah – akan menjadi sebuah pohon infaq kita. Kalau infaq itu kita rutinkan perbulan, akan menjadi sebuah kebun amal yang homogeny. Dan kalau kita juga punya pos infaq yang lain, misalnya infaq untuk Palestina, infaq untuk saudara yang lain, infaq untuk masjid yang kita rutinkan, dan kita juga punya kewajiban membayar zakat profesi, maka kita memiliki kebun amal yang heterogen.

Insya Allah, Allah akan melipat gandakan kebun amal kita.

April 28, 2009

Jantan

Jantan memiliki arti yang sama dengan pria. Tapi jantan lebih digambarkan dengan keperkasaan, kekuatan, dan keberanian. Sifat tersebut dalam kehidupan memang selalu dilekatkan pada pria. Dan secara kodratnya, pria lebih perkasa daripada wanita – yang digambarkan dengan sifat kelembutan.

Saat yang paling jantan dalam kehidupan pria adalah ketika ia menjemput sendiri ‘mitsaqon gholizo’. Kenapa bisa disebut saat yang paling jantan? Apa hubungannya dengan mitsaqon gholizo? Mari kita bahas dulu tentang mitsaqon gholizo.

Mitsaqon gholizo bermakna ikatan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT tiga kali menyebut kata ini. Pertama dalam Al-Ahzab ayat 7, perjanjian antara Allah dan Rasul-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”.

 Kemudian pada An-Nisa 154, antara Allah SWT dan Bani Israil. “Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”

Dan terakhir pada An-Nisa ayat 21, perjanjian antara suami dan istri. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Allah menggunakan kata mitsaqon gholizo dalam pernikahan, sebagaimana Allah menggunakannya untuk perjanjian antara Ia dan Rasul-Nya, serta Ia dan Bani Israil.

Mitsaqon gholizo adalah perjanjian yang sangat serius. Untuk Bani Israil, Allah sampai mengangkat gunung Thursina ke atas kepala mereka. Coba bayangkan, jangankan gunung, apa rasanya kalau ada yang mengancam atau menginterogasi kita dengan cara mengangkat sebuah batu besar di atas kepala kita? Tentu kita merasa ketakutan. Dan begitulah proses perjanjian mitsaqon gholizo.

Dan untuk Nabi, Allah tidak kalah kerasnya mengancam. Bahkan seorang kekasih-Nya pun diancam seperti ini: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (QS Al-Haaqqah : 44-48).

Bukan main konsekuensi dari mitsaqon gholizo ini. Karena itu, wajar bila disebut saat yang paling jantan bagi seorang pria adalah saat ia menjemput sendiri mitsaqon gholizo, ketika ia datang ke rumah orang tua seorang gadis untuk menikahinya.
Khusus untuk pernikahan, wanita lah yang mengambil perjanjian yang kuat dari seorang pria yang teruji kejantanannya. Tapi bukan berarti konsekuensinya kecil. Dalam buku fiqh prioritas, Yusuf Qardhawi membuat bab yang berjudul “Mengutamakan Hak-Hak Manusia Atas Hak-Hak Allah”.

Hak manusia memang lebih utama dipenuhi. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa para ulama berpendapat, “Sesungguhnya hak-hak Allah Ta’ala dibangun atas dasar toleransi, sementara hak-hak manusia dibangun atas dasar kepastian (ketat).” Dan dalam hadits disebutkan bahwa seorang yang mati syahid, sebuah amal yang sangat besar pahalanya, terhalang masuk surga karena ada hak manusia yang tidak terpenuhi, misalnya hutang atau lebih parah lagi pencurian. Seorang pencuri ketika bertaubat, insya Allah dihapuskan dosanya oleh Allah. Tapi tidak cukup di situ, selama ia belum meminta maaf kepada manusia, urusannya belum selesai.

Tanpa terangkat sebuah gunung ke atas kepalanya, atau ancaman pemotongan urat jantung, seorang pria membuat ikatan dengan seorang gadis untuk beberapa misi yang sangat sulit. Misi yang sulit itu adalah : Menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Hanya yang jantan lah yang bisa menjalankan misi tersebut!

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)

Jelas misi ini sangat sulit. Menjaga diri sendiri dari api neraka saja sangat sulit. Pada misi yang ia hampiri sendiri ini, seorang pria harus melindungi tidak cuma dirinya, tapi juga keluarganya dari api neraka.

Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan ia akan dimintakan pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya ini. Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin… Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka…” (Shahih Muslim No.3408)

Dan dalam An-Nisa : 34, Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”

Belum lagi, apa yang dipimpinnya, kadang ‘menjadi musuh’ bagi dirinya (lihat QS At-Taghabun (64) : 14). Sangat-sangat tidak mudah menjaga diri dari api neraka yang dikelilingi oleh kenikmatan. Wajar disebut jantan bagi seorang yang berani mengambil peran memimpin diri dan orang lain dari api neraka.

April 20, 2009

Guncangan

Suatu hari sewaktu saya masih di bangku SMU, pernah terjadi gempa bumi. Dan setelah gempa bumi itu reda, kawan saya tidak sengaja menemukan seekor ular yang hendak dan hampir keluar dari sebuah lubang yang ada di halaman sekolah. Kami mengerubungi lubang itu dengan perasaan penasaran campur takut.

Tampaknya gempa bumi yang menyebabkan ular itu hendak keluar. Ular itu sepertinya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sehingga harus keluar dari lubang sarangnya. Ular juga butuh keselamatan. Apa lagi mungkin dia tidak ikut asuransi sehingga kalau cedera tidak ada proteksi untuk pengobatan dirinya. (halaah…)

Fenomena ini, sebenarnya bisa menjadi permisalan bagi kehidupan kita. Untuk menampakkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati, perlu ada guncangan pada hati kita.

Dalam keadaan tenang, mungkin kita tidak akan pernah menyangka bahwa kita memiliki sifat yang mudah berkeluh kesah, dengki, dendam, dan sifat buruk lainnya. Tetapi ketika kita mendapat guncangan, mendapat masalah dalam hidup, maka itu akan memancing watak-watak buruk untuk tampil dalam perilaku kita.

Ketika saya mengikuti acara kemah yang diadakan oleh organisasi keislaman di kampus saya dulu, ada teman yang mengatakan pada saya bahwa watak asli seseorang akan terlihat di alam, ketika acara kemah seperti ini. Akan terlihat mana yang pekerja keras, mana pengeluh, mana yang manja.

Watak-watak tersebut terpancing keluar oleh guncangan, yaitu berupa kehidupan yang tidak nyaman. Di alam bebas atau di hutan, kita harus survive. Ketika lapar tidak ada pembantu untuk memasakkan makanan. Harus kita sendiri memasak makanan dengan peralatan seadanya. Ketika tidur, begitu tidak nyaman. Harus mendirikan perlindungan berupa tenda yang tidak cukup baik melindungi dari nyamuk dan hujan.

Misal di kantor kita ada pegawai baru yang terlihat periang, mungkin perlu ada ujian berupa beban kerjaan yang stressful untuk melihat apakah dia periang dalam setiap keadaan. Perlu ada konflik dengan pegawai lain untuk melihat apakah ia pemaaf dan tidak pendendam atau sebaliknya.

Guncangan itu sunnatullah (QS 2:155). Dan guncangan itu adalah hal yang baik. Berikut ini manfaat guncangan:

1. Sebagai jalan menuju surga dan pembuktian iman.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 214 yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Yakin lah ketika kita mendapatkan guncangan yang hebat dalam hidup, maka itu adalah sebuah jalan menuju ke surga. Balasan bagi orang yang beriman adalah surga, dan iman itu sendiri perlu pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut : 2)

Dari dua ayat ini, Allah memperingatkan kita agar kita tidak mengira bahwa pernyataan iman kita akan mulus mengantarkan kita pada surga. Tidak!! Ada guncangan untuk itu semua. Dan ketika guncangan itu datang, kabar baik, Allah telah merespon pernyataan kita dan telah membentangkan jalan untuk ke surga. Insya Allah :)

(Silakan buka buku ‘Menuju Jamaatul Muslimin’ karya syeikh Husain bin Muhammad bin Ali Jabir. Ada bab tentang tabiat jalan. Yang bercerita tentang berbagai guncangan kepada pembela kebenaran.)

2. Kesempatan untuk membersihkan diri.

Seperti yang sudah disebutkan, guncangan membuat ‘ular-ular’ yang bersembunyi pada lubang di hati kita untuk keluar. Saat itu lah kesempatan kita membunuh ular-ular itu dan membersihkan hati kita dari binatang jahat tersebut.

Saat kita telah menyatakan beriman, lalu Allah menurunkan ujian pada kita. Kadang kala terjadi seperti Surat Al-Ankabut ayat 10, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.”

Guncangan malah membuat kita melakukan kesalahan. Tapi masih ada kesempatan. Atas kesalahan yang kita perbuat, kita bisa bertaubat dan mengambil pelajaran untuk tidak mengulanginya lagi. Allah memperlihatkan aib kita melalui ujian agar kita bisa memperbaiki diri.

Yang perlu diperhatikan, apabila kita menemukan diri kita mudah berkeluh kesah kalau ada masalah, jangan kita menyangka seperti ini: “Ah, kalau ada masalah memang bawaan saya begitu. Tapi kalau saya mendapat nikmat, insya Allah saya mudah bersyukur sih. Memang kelemahan saya itu di ujian yang tidak enak, tapi kalau ujian yang enak, insya Allah saya lulus.”

Perhatikanlah surat Al-Ma’arij ayat 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,”

Allah menyanding sifat keluh kesah dan kikir sebagai suatu kesatuan. Maka menjadi warning, kalau kita mudah mengeluh dalam keadaan tidak enak, dijamin dalam keadaan yang enak akan menjadi kikir. Sama saja, tidak lulus ujian juga.
Jadi, insya Allah suatu guncangan dalam hidup bisa membersihkan dua penyakit sekaligus, yaitu bila kita belajar tidak berkeluh kesah, sekaligus juga akan membersihkan penyakit kikir. Insya Allah.

3. Dalam barisan dakwah, guncangan menjadi seleksi yang membersihkan dari anasir yang lemah.

Salah satu kisah tentang seleksi ini ada pada kisah Bani Israil yang Allah ceritakan pada surat Al-Baqarah 246-251. Awalnya mereka meminta melalui salah seorang nabi mereka agar Allah mengangkat seorang raja agar mereka bisa berperang. Nabi itu menggertak, jangan-jangan mereka tidak jadi berperang setelah Allah menurunkan perintah perang. Lalu mereka membantah dan beralasan.

Kekhawatiran nabi itu terwujud. Allah memerintahkan mereka berperang, tapi hanya sedikit saja dari mereka yang menyambut perintah itu. Ada apa?

Ada guncangan pada egoisme mereka. Raja yang mereka minta untuk memimpin mereka berperang, adalah orang yang mereka anggap tidak memiliki kekayaan yang cukup. Harga diri mereka terguncang, karena mereka menganggap masing-masing dari mereka lebih berhak menjadi pemimpin dari pada Thalut, raja baru yang telah Allah anugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Sebuah guncangan yang mengarah pada rasa gengsi yang tinggi. Dan mereka pun terseleksi. Hanya sedikit yang menyambut perintah perang.

Seleksi berlanjut. Thalut membawa keluar pasukan yang sedikit itu. Perjalanan panjang dan melelahkan mengundang dahaga. Lalu mereka menjumpai sebuah sungai yang airnya bisa melepas haus. Tapi Thalut malah menyampaikan bahwa Allah hendak menguji mereka untuk tidak meminum air sungai tersebut kecuali sekedar mencedukkan tangan. Sebuah guncangan lagi untuk mereka. Dan lagi-lagi mereka terseleksi. Sebagian besar dari mereka membandel meminum air dari sungai itu, dan kemudian tiba-tiba mengaku tidak mampu melawan Jalut, musuh yang akan dihadapi. Mental orang-orang yang meminum air sungai itu drop akibat ketidak-patuhan. Hanya sedikit dari mereka yang menuruti perintah Allah yang melanjutkan perjalanan.

Pasukan yang tinggal sedikit tersisa itu kemudian sekali lagi merasakan guncangan saat mereka berhadapan dengan Jalut dan tentaranya yang perkasa. Tapi mereka adalah orang yang cerdas yang mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa do’a “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Allah kekalkan redaksi doa mereka dalam Al-Qur’an agar kita menjadikannya doa ketika menghadapi guncangan.

Kisah ini happy ending. Mereka memenangi pertempuran. Dan Jalut terbunuh oleh salah seorang dari mereka yang bernama Daud a.s., yang kemudian menjadi Nabi. Begitulah kwalitas dari barisan yang sudah terseleksi ketat oleh berbagai guncangan. Mereka mampu mengalahkan pasukan yang lebih kuat. Dan keyakinan mereka adalah keyakinan yang baja yang mencerminkan pembuktian keimanan yang sangat dalam: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Itulah antara lain manfaat guncangan yang Allah hadirkan pada kita. Jangan kira itu buruk, tapi itu baik bagi kita kalau kita mau bersabar.

—–

artikel terkait, http://andaleh.blogsome.com/2008/06/18/sabarlah-kita-akan-kembali-pada-nya/

March 4, 2009

Teka Teki Soal Matematika

Filed under: Santai....

Sewaktu SMU, saya menemukan soal matematika yang saya tidak bisa jawab. Alhamdulillah soal itu tidak keluar di UMPTN.

Begini soalnya:

Pilih lah jawaban yang paling benar!

5 + 3 = …
a. 8
b. a benar
c. semua benar
d. a,b, dan c benar

Nah lho!!! Kira-kira jawabannya apa ya? Saya jadikan kuis berhadiah deh. Yang menang hadiahnya mendapat ucapan terima kasih :D

February 18, 2009

Penyemangat Di Awal Hari

Awal yang baik sangat berpengaruh bagi kesuksesan suatu proses.

Tanyakan pada seorang pelari, kesuksesannya saat start berpengaruh besar baginya untuk terdepan mencapai garis finish. Ketika ia telat start, maka ia harus bersusah payah untuk mendahului lawan-lawannya. Saking berpengaruhnya, maka kita kenal “curi start” dalam perlombaan lari.

Tanyakan juga pada perenang. Lompatan awalnya sangat berpengaruh untuk kesuksesannya terdepan menyentuh garis finish. Kalau terlalu pendek melompat, atau malah terpeleset, maka ia akan kesulitan mengalahkan lawan-lawannya. Tanyakan juga pada pembalap. Bagaimana pentingnya sebuah start. Kalau bisa, ia harus berada di posisi nomor 1 dalam start.

Begitu juga dalam keseharian kita. Start yang baik di pagi hari akan berpengaruh bagi kesuksesan kita di hari itu.

Kalau kita terbangun tanpa semangat, maka kemurungan akan mengisi hari kita. Tetapi kalau kita terbangun dengan penuh semangat dan bergairah, maka hari yang cerah telah menunggu kita.

Setiap hari adalah pertempuran. Kita harus memenangkan pertempuran dalam setiap harinya. Oleh karena itu, kita harus memasuki pertempuran dengan mental seorang pemenang, bukan pecundang. Dengan begitulah kita bisa berjaya di medan pertempuran.

Boleh saja mensugesti diri ketika bangun tidur dengan kata-kata yang bersemangat. Misalnya, “Selamat datang di hari yang menyenangkan…”, atau “Selamat pagi, waah senangnya bertemu hari yang baru…”. Kata-kata motivasi tersebut semoga bisa membuat kita lebih bersemangat mengarungi itu.

Tapi ada kata-kata yang penuh motivasi yang diajarkan oleh Rasulullah. Kata-kata yang bukan sekedar mantra, tapi menyemangati kita. Kata-kata tersebut dalam bentuk doa.

Terdapat dalam hisnul muslim, bacaan ketika bangun tidur ialah: “Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.” “Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.” Doa tersebut bisa menjadi kata-kata penyemangat kalau diresapi ketika diucapkan, asal bukan sekedar ucapan rutin tanpa penghayatan, apalagi bila tidak diucapkan. Kata-kata tersebut bukan mantra, tapi doa yang maknanya menyemangati.

“Alhamdulillah”. Ucapan syukur seorang hamba atas berbagai nikmat-Nya. Melalui ucapan pertama ketika bangun tidur, Rasulullah mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup kita berada dalam limpahan nikmat-Nya. Dan seperti hari-hari yang lain, hari yang akan kita masuki adalah hari yang berlimpahan nikmat-Nya. Ada segudang nikmat tak terhitung yang menunggu kita di hari itu. Dan bersiap lah mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi melalui ucapan tersebut.

“Allah tidak memberikan nimat kepada seorang hamba yang kemudian ia membaca Alhamdulillah, melainkan nikmat yang Dia berikan lebih baik dari apa yang diterima oleh hamba itu.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).

Kalau kita tahu bahwa ada nikmat yang berlimpah yang akan menunggu kita, lalu apa yang membuat kita tidak bergairah menyambut hari? Maka ucapkanlah “Alhamdulillah” dengan senyum dan penuh penghayatan, menghadirkan kata-kata tersebut ke dalam hati dan tulus berterima kasih kepada Allah swt atas segala nikmat-Nya.

“Alladzi ahyanaa ba’da maa amatanaa…”. Setelah mengucapkan syukur, kesadaran kita diarahkan pada kenyataan bahwa kita sedang hidup. Kita mendapatkan kehidupan setelah melalui proses kematian kecil – yang juga adalah nikmat-Nya yang lain. Kehidupan inilah yang menjadi objek syukur dalam doa ini. Dan Allah lah yang memberi nikmat tersebut.

Ya, kehidupan itu adalah sebuah nikmat. Karena melalui kehidupan lah kita bisa merasakan berbagai nikmat tak terhitung dari Allah. Dan melalui kehidupan, kita mendapat kesempatan berbuat untuk kehidupan yang lain di akhirat nanti, yang kekal abadi. Karena itu bersemangat lah menjalani nikmat Allah yang satu ini!!!

“Wa ilaihin nusyuur”. Doa ini, kata-kata penyemangat ini, ditutup dengan kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya. Kesadaran ini membuat kita bertambah semangat lagi, karena kita sebagai seorang muslim tentu menginginkan perjumpaan dengan-Nya. Seorang muslim mustilah rindu begitu sangat kepada-Nya.

Maka bagi orang yang rindu akan perjumpaan pada-Nya, bersemangatlah menggunakan nikmat hari yang cerah ini untuk diisi dengan amal sholeh. Ayo semangat!!!

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al Kahfi : 110)

Kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya, akan membuat kita bergairah mengarungi hidup walau pun kita sadar kita memiliki masalah. Tertanam dalam kesadaran kita, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Kita sadar bahwa berbagai penyakit dan musibah yang kita hadapi adalah dari Allah – dengan tujuan untuk menguji kita, dan Allah lah tempat kita memohon agar Ia rela mengambil semua penyakit dan masalah kita. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”

Allah lah tempat kembali kita. Kita ‘mentok’ kepada-Nya. Penggal ini dalam doa sesudah tidur, membuat kita menjadi optimis dan bersemangat menghadapi berbagai masalah yang ada, karena kita punya Allah. Kita punya Allah. Kita serahkan pada-Nya berbagai permasalahan kita. Dan ia adalah sebaik-baik Pemecah Masalah.

Ayo, semangatlah mengarungi hari yang baru. Awali hari ini dengan start yang baik, yang elegan. Motivasi diri kita dengan sunnah Rasulullah, doa bangun tidur.

[Tulisan lain yang berkaitan dengan penggal wa ilaihin nusyur: http://andaleh.blogsome.com/2008/06/18/sabarlah-kita-akan-kembali-pada-nya/ ]

February 14, 2009

Ketika Seruan Nabawi Dicemooh

Filed under: Orat Oret

Di kota Depok terdapat sebuah poster besar yang menampilkan foto walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail. poster tersebut menyampaikan pesan untuk kembali ke jati diri bangsa dengan makan menggunakan tangan kanan.

Tentu saja banyak orang akan bertanya-tanya, apa hubungannya “jati diri bangsa” dengan “makan menggunakan tangan kanan”? poster tersebut tidak menampilkan jawabannya.

Tidak cuma pertanyaan yang serius ingin bertanya, ada juga yang mengejek. Di internet saya pernah menemukan tulisan lain yang menilai bahwa seruan itu tidak bermanfaat. Ada juga sebuah email yang masuk ke-inbox saya memasukkan poto poster tersebut dalam rangkaian spanduk-spanduk lucu/konyol dari caleg. Di email tersebut terdapat komentar, “ Pak … Memangnya dulu makan pake’ kaki ya … ?  Trus yang kidal gimana dong … ?” Sebuah nada ejekan.

Mungkin masih banyak orang lain yang menertawakan seruan tersebut. Menganggapnya sebagai seruan useless yang tidak jelas. Padahal, sangat disayangkan apabila ada seorang muslim yang ikut menertawakan seruan itu.

Seorang muslim seharusnya sadar bahwa seruan tersebut adalah seruan yang nabawi. Seruan dari Rasulullah yang menyukai segala sesuatunya dimulai dari tangan kanan. Ingatlah ancaman Rasulullah terhadap siapa yang mengabaikan sunnahnya :
“Barangsiapa mengabaikan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Mutafaq’alaih)

Terdapat dalam Riyadush Sholihin, bab “Sunnat mendahulukan yang kanan”, beberapa hadits yang menyerukan agar umat mengutamakan tangan kanan.

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw. selalu mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan dalam segala hal. Seperti bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hafshah ra ia berkata: “Rasulullah saw mempergunakan tangan kanan untuk makan, minum, dan memakai pakaian. Dan mempergunakan tangan kiri untuk selain itu.” (Hr Abu Daud).

Ada lagi cerita yang seharusnya menjadi peringatan bagi seorang muslim yang sempat mengejek seruan tersebut. Dalam riwayat muslim, ada seorang laki-laki makan di hadapan Rasulullah saw dengan tangan kirinya. Kemudia beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Ia menjawab, “Saya tidak dapat makan dengan tangan kanan.” Beliau bersabda lagi, “Tidak, sebenarnya kamu bisa. Yang menyebabkanmu tidak mau menggunakan tangan kanan karena kesombonganmu.” Akhirnya laki-laki tersebut tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. (HR Muslim).

Bagaimana dengan kidal?

Saya pernah punya beberapa teman yang kidal. Salah satu teman saya di bangku SMP, mengaku dia kidal. Untuk melempar bola basket ke dalam keranjang, ia cenderung menggunakan tangan kiri. Memang, kekuatannya ada pada tangannya.

Saya juga pernah bertemu dengan siswa cerdas yang kidal ketika bimbel. Ia menulis dengan tangan kiri. Ketika menjawab soal di papan tulis, ia juga menulis dengan tangan kiri. Memang sering dicandai “gak sopan” oleh kawan-kawannya. Tapi ia mengerti itu becanda.

Mereka semua adalah muslim. Dan tidak ada halangan bagi mereka untuk makan dengan tangan kanan. Seorang yang kidal tidak akan kesusahan makan menggunakan tangan kanan. Kalau terbiasa makan dengan tangan kanan, maka tidak ada masalah.

Seseorang yang kidal juga tidak akan punya masalah apabila mendahulukan sesuatu dengan sebelah kanan. Tidak susah kok memakai sepatu didahulukan dengan tangan kanan, mandi dimulai dengan membasuh anggota tubuh bagian kanan, dsb.

Kidal sebenarnya masalah di mana kekuatan tangan lebih dominan, atau lebih leluasa melakukan sesuatu. Tapi sebenarnya apabila dibiasakan, maka tangan kanan pun bisa luwes juga melakukan pekerjaan tertentu.

Kita bisa mengambil contoh pada Rafael Nadal. Petenis dunia itu bukanlah seorang yang kidal. Namun pelatihnya, Toni Nadal, membiasakan dirinya untuk menggunakan tangan kiri. Pada akhirnya, Rafael Nadal terbiasa menggunakan dua tangannya ketika bermain Tenis. Dan itu adalah kelebihan dirinya. Juga banyak pesepakbola yang melatih kedua kakinya agar sama kuatnya. Kemampuan menggunakan kedua kaki yang sama kuat itu amat bermanfaat di lapangan hijau.

Islam tidak merendahkan orang yang punya bakat kidal. Islam menuntut umatnya menggunakan tangan kanan apabila makan, dan juga mendahulukan sebelah kanan dalam memulai sesuatu, bukan untuk mendiskriminasi orang yang kidal. Lagian, tidak susah kok melaksanakan itu semua bagi orang kidal. Jadi, tidak ada diskriminasi, dan jangan sampai kita menjadi orang yang sombong seperti hadits di atas, apalagi mengejek seruan makan menggunakan tangan kanan apabila kita muslim. Karena itu adalah perintah Rasulullah saw.

Apabila seorang diantara kamu makan maka makanlah dengan tangan kanannya, apabila ia minum maka minumlah dengan tangan kanannya.  Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR Muslim, no 5233)

Jati Diri Bangsa.

Sebenarnya seruan tersebut hadir untuk mengajak masyarakat Indonesia kepada jati dirinya: yaitu masyarakat yang punya etika, tata tertib, beradat, dan sopan santun. Maka kalau seruan itu diejek juga oleh segelintir masyarakat, benar-benar pengejek itu sudah meninggalkan budaya sopan santun yang dimiliki masyarakat Indonesia. Terutama karena ejekannya.

Sewaktu kecil, etika makan saya benar-benar digodok oleh keluarga. Ketika menggunakan tangan kiri, saya dikoreksi. Tidak cuma masalah tangan, cara duduk ketika makan pun sering dikoreksi. Apabila duduk di kursi, adalah tidak sopan untuk menaikkan salah satu kaki ke kursi. Apabila makan di lantai, maka makan harus bersila. Hal hal kecil tersebut benar-benar dijaga.

Dan saya akui bahwa masyarakat sekarang mulai meninggalkan hal hal kecil tersebut. Jangankan hal kecil, hal besar dalam etika pun terabaikan. Kita tentu sering menemukan perokok yang tidak tahu etika merokok di depan umum. Itu adalah hal besar dalam etika yang terabaikan.

Maka tidak heran, bila seruan yang baik yang terdapat dalam poster besar di Kota Depok itu dicemooh. Rupanya perjuangan untuk mengembalikan jati diri bangsa, yaitu masyarakat yang punya adat dan etika serta sopan santun, adalah perjuangan yang begitu berat di tengah masyarakat yang bergeser menjadi pragmatis, hedonis dan individualis.

Photobucket

December 15, 2008

Sebuah Logical Fallacy

Ada sebuah pendapat yang sangat ngawur mengatakan bahwa, “Karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, maka apabila kita sudah berakhlak baik, kita tidak perlu lagi sholat.” Pendapat itu merujuk pada firman Allah surat Al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” Menurut pendapat tersebut, tujuan sholat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Ketika seseorang tidak lagi mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tidak perlu lagi sholat.

Sebuah logical fallacy. Rasulullah saw saja yang Allah memujinya dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS 68 : 4), tetap melakukan sholat hingga bengkak kakinya. Para sahabat yang berada pada generasi terbaik tidak ada yang tercatat meninggalkan sholat karena merasa akhlaknya sudah baik.

Pendapat tersebut bisa keluar dari ketidak-seimbangan orientasi kebaikan, di mana kebaikan dalam hubungan terhadap manusia (hablum minannaas) yang dipresentasikan pada akhlakul karimah dipandang lebih utama daripada hablum minallah. Atau bisa jadi yang diperhatikan hanyalah habulum minannas dan menafikan hablum minallah.

Bentuk peremehan atas hablum minallah bisa dilihat dari pandangan bahwa seolah-olah bentuk perbuatan keji dan munkar itu hanyalah akhlak yang buruk terhadap sesama manusia. Padahal yang paling awal dikategorikan perbuata keji dan munkar adalah bentuk kedurhakaan kepada Allah SWT.

Atau pendapat tersebut lahir dari salah kaprah menyangka bahwa yang termasuk perbuatan keji dan mungkar adalah perbuatan yang dilarang oleh agama, atau melanggar norma kesusilaan dalam hubungan manusia saja (mis. berjudi, mabuk, berzina, dll). Tidak masuk dalam hitungannya bahwa yang termasuk perbuatan keji dan munkar adalah ketidak-taatan atas perintah Allah SWT (mis. sholat, zakat, puasa, dll). Padahal taqwa itu adalah mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hal ini, Allah memerintahkan kita sholat untuk menyembah-Nya. Maka bentuk perbuatan keji dan munkar yang pertama kali adalah ketika kita tidak melakukan sholat. Lalu bagaimana disebut sudah lepas dari perbuatan keji dan munkar manakala akhlak kepada sesama manusia begitu baik namun ketaatan kepada Allah sangat tipis atau nihil?

Yusuf Qardhawi dalam karangannya “At-Taubah Illallah” (buku terjemahan Indonesianya berjudul “Taubat” karangan Pustaka Al-Kautsar, lihat hal. 114 & 115), menulis : “Pembagian pertama tentang dosa ada dua macam: Meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakanapa yang dilarang. Banyak orang mengira bahwa dosa itu hanya sekedar mengerjakan apa yang dilarang dan diharamkan semata. Mereka lupa bahwa kedurhakaan pertama terhadap Allah adalah meninggalkan apa yang diperintahkan dan bukannya mengerjakan apa yang dilarang. Ini merupakan kedurhakaan Iblis. Allah telah memerintahkannya untuk sujud kepada Adam yang telah diciptakan dengan Tangan Allah sendiri dan meniupkan dari Ruh-Nya. Namun Iblis membangkan perintah Allah ini.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam”. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah : 34).

Kedurhakaan kedua adalah mengerjakan apa yang dilarang Allah, yaitu merupakan kedurhakaan Adam…”

Jelas sekali, bahwa ajakan untuk meninggalkan sholat apabila merasa diri sudah memiliki akhlak yang baik atau merasa sudah meninggalkan perbuatan keji dan munkar, sesungguhnya merupakan ajakan untuk melakukan perbuatan keji dan munkar dalam bentuk yang lebih besar lagi. Bahkan ajakan tersebut adalah ajakan kepada kekafiran, karena sholat merupakan pembeda antara mukmin dan orang kafir.

Selanjutnya Yusuf Qardhawi menulis, “Begitulah kita melihat dosa dan kesalahan yang bisa dipilah antara meninggalkan perintah Allah, ataukah mengerjakan apa yang dilarang Allah. Apa yang diperintahkan Allah juga berbeda-beda derajatnya. Perintah-Nya yang paling besar adalah tauhid dan iman, sedangkan larangan-Nya yang paling besar adalah syirik dan kufur. Setelah itu disusul dengan berbagai macam kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang agung seperti mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan, menunaikan haji. Meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban dan syiar-syiar yang agung ini merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah. Tingkat dosanya juga berbeda-beda. Yang paling besar adalah sholat karena sholat merupakan sendi agama, tanda orang-orang mukmin dan pemisah antara orang mukmin dengan orang kafir. Meninggalkan sholat termasuk ciri orang-orang kafir.

“Dan apabia dikatakan kepada mereka, “Ruku’ lah”, niscaya mereka tidak mau ruku’ (Al-Mursalat : 48).

Mengerjakan sholat dengan malas-malasan dan hati yang berat merupakan ciri orang munafik.

“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, maka mereka berdiri dengan malas” (An-Nisa’  142).

Allah menganggap celaka orang-orang yang menunda sholat dan melalaikannya hingga waktunya lewat.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya” (Al-Ma’un : 4-5)

Bahkan di antara imam-imam Muslimin ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggakan sholat sama dengan orang kafir dan keluar dari agama”

Orang yang berpendapat dan yang membenarkan bahwa tidak perlu sholat apabila tidak berbuat keji dan munkar, haruslah bertaubat dan menegakkan sholatnya lebih ketat lagi!!!

November 23, 2008

Bersumpah Tidak Dengan Nama Allah Pada Lirik Lagu

Filed under: Orat Oret

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR Tirmidzi]. Pada hadits lain dari Ibnu Umar ra, "Rasulullah saw. Bersabda, ‘Setiap sumpah yang diucapkan tidak dengan nama Allah, termasuk perbuatan syirik.’" (Shahih, HR Hakim [1/18] dan Silsilah al-Ahadatis ash-Shahihah [2042]) 

Kita semua tentu sudah sering mendengar lagu ungu yang berjudul “Demi waktu” dan “Dengan Nafasmu”. Pada kedua lagu tersebut, terdapat lirik yang agak kontroversial. Seorang muslim harusnya memprotes lirik tersebut.

Pada lagu Demi Waktu, dari judulnya saja sudah kontroversial. Karena menggunakan kata “demi”. Biasanya kata “demi” dipergunakan untuk bersumpah. Bahkan kemungkinan besar kata-kata ini diambil dari ayat pertama surat Al-‘Ashr. 

Lagu kedua, terdapat juga kata “demi” yang maksudnya sangat mendekati sumpah, “demi nafas yang telah kau hembuskan dalam kehidupanku, Ku berjanji… ”.

Kata demi, memang bisa saja artinya adalah “untuk”. Tapi lazim juga digunakan untuk sumpah. Untuk mengetahui maksud penggunaannya, harus didengarkan secara lengkap keseluruhan kalimat hingga bisa diambil kesimpulan. Atau tanyakan langsung kepada pengucapnya untuk lebih jelasnya. Silakan lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya ada 5 arti dari kata “demi”.

Allahu’alam, saya tidak tahu apakah Ungu menggunakan kata “demi” untuk sumpah atau dalam artian “untuk”. Kalau saya ikuti cita rasa bahasa saya, maka terasa seperti sumpah. 

Dulu dalam sebuah forum diskusi di internet, ada yang membahas tentang lagu “Demi Waktu” ini, menggugat kenapa Ungu bersumpah bukan dengan nama Allah. Dan jawaban saya waktu itu adalah tidak boleh seorang muslim bersumpah dengan nama selain Allah. Tapi kata demi sendiri bisa bermakna untuk. Dan saya tidak mengambil kesimpulan apakah kata demi tersebut dimaksudkan untuk sumpah atau maksud lain.

Semoga saja ada personel Ungu membaca artikel ini. Atau anda yang membaca, mau menyampaikannya kepada personel band Ungu. Semoga mereka bisa lebih berhati-hati, terutama dalam pemilihan diksi pada syair yang mereka buat. Artikel ini dipublish agar kita semua bisa mengambil pelajaran, tanpa maksud meng-ghibah.

Mengembalikan File Yang Disembunyikan Virus

Filed under: Orat Oret, Blogramming

Suatu saat flashdisk saya terkena virus. Semua file yang berekstensi *.doc hilang entah kemana. Hingga menimbulkan kedukaan yang mendalam di hati saya (bahasanya biasa aja dooong).

Singkat cerita, virus di flashdisk saya berhasil dibersihkan. Tetapi saya masih kehilangan file-file yang penting. Tapi mau bagaimana lagi? Rencananya roh-roh file yang hilang tersebut akan dihadirkan lagi menggunakan program file recovery, tapi belum sempat dilaksanakan. Masih kurang sesajen.

Surprise!! Saat flashdisk saya dibaca oleh komputer kawan, rupanya file2 tersebut terbaca. Hanya saja di-hidden. Berita gembira, rupanya file2 tersebut dibuat tidak tampak oleh virus. Padahal hampir saja saya menghubungi komisi orang hilang atau kontras.

Ketika file tersebut ingin saya pulihkan dari status hidden, saya klik kanan – properties, rupanya file tersebut ter-deep freeze hidden, dalam kata lain tidak bisa dipulihkan hiddennya. Waduh…Tampaknya file-file yang disembunyikan itu dibuat menjadi file system oleh virus.

Kemudian, saya setting computer saya agar bisa membaca file yang hidden, melalui tools\folder options\view di windows explorer. Tapi rupanya belum terbaca juga. Saya un-check ‘Hide protected operating system files’, tetap tidak terbaca. Keanehan terjadi, rupanya setelah saya klik tombol OK, item tersebut kembali checked. Entah kenapa. Jangan-jangan, computer saya masih ada virusnya????

Akhirnya saya pakai cara bodoh (sebenarnya, karena saya merasa bodoh, maka cara apa pun yang saya lakukan tetap namanya cara bodoh. Huh… menghina diri sendiri). Saya pinjam komputer kawan saya itu, lalu saya buka file yang hidden. Kemudian saya save-as dengan nama yang lain (file yang terbaru tidak hidden). Lalu file yang hidden itu saya delete.

Capek juga. Ada lumayan file bertipe doc di flashdisk saya. Hhhh….

Akhirnya saya tanya teman, bagaimana caranya agar file yang ghaib itu bisa pulih. O la la, rupanya dia tahu. Caranya seperti ini:

1.Buka command prompt.
2.Tuju folder yang memuat file yang mati suri.
3.Lalu ketikkan attrib –s –h *
4.Berhasil.

Wah… saya baru tahu caranya. Mungkin pembaca sudah dulu tahu ya. Ya… begini lah saya. Kampungan. Wekekekeke……..

November 17, 2008

Hisab

Allah berfirman dalam surat Al-Insyiqaq :

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (Al-Insyiqaq : 7-8)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini: “Maksudnya ia akan dihisab dengan lancar dan tanpa kesulitan. Seluruhnya amalnya tidak akan diperiksa secara teliti. Sebab orang yang dihisab secara teliti, pasti binasa. “

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dihisab dengan rinci, ia pasti disiksa.” ‘Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah berfirman : “Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” Beliau menjawab, “Itu bukan berarti dihisab, tetapi hanya diperlihatkan amalnya. Barangsiapa hisabnya dirinci pada hari kiamat, ia pasti disiksa.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung orang mukmin yang dihisab dengan mudah tanpa dirinci. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan orang kafir.

“…Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 13 : 18)

‘//———–

Hari penghisaban membuat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang merugi dan yang beruntung. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (QS 56 : 3).

Selanjutnya orang-orang yang beruntung itu Allah bagi lagi menjadi dua bagian, hingga terdapat tiga kelompok seperti yang disebutkan pada surat Al-Waaqi’ah ayat ke 7, “dan kamu menjadi tiga golongan”. Golongan pertama adalah Ashabul Maymanah (golongan kanan, ayat ke 8) , Ashabul Masy’amah. (golongan kiri, ayat ke 9), dan Assaabiquunas-saabiquun (yang paling dahulu beriman. ayat ke 10). Golongan yang terakhir lah golongan yang terbaik.

Berdasarkan cara penghisaban, juga terdapat tiga golongan. Untuk golongan yang baik, dihisab dengan mudah tanpa rinci. Dan untuk golongan yang buruk, dihisab dengan hisab yang detail dan buruk. Terakhir adalah golongan yang terbaik, yaitu yang masuk surga tanpa hisab.

Terdapat dalam Riyadush-Sholihin Bab Yakin dan Tawakal, hadits riwayat Ibnu Abbas yang ringkasnya seperti berikut:
“Rasulullah saw bersabda:.. …Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal….” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya ketika dihadirkan hadits tentang hisab tanpa rinci untuk orang mukmin, itu sudah sangat melegakan kita. Karena apabila dirinci perbuatan kita, maka akan kita temui kedurhakaan-kedurhakaan yang besarnya tidak sebanding dengan amal baik yang kita lakukan. Tapi semua termaafkan oleh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Adanya kabar tentang sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, patut menjadi motivasi untuk kita. Bobot amalan kita dipengaruhi oleh motivasi. Oleh karena itu, jangan pesimis memandang hadits tersebut. Kalau timbul keraguan dan pertanyaan apakah kuota tujuh puluh ribu seperti yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut sudah penuh atau belum, mengingat kita hidup di akhir zaman dan telah berlalu berjuta umat muslim sebelum kita? Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Allah karena Allah yang mengetahui. Keraguan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan hadits tersebut menjadi motivasi kita. Berbuatlah sebatas kemampuan kita.

Agar hisab mudah, Umar bin Khattab r.a. sudah memberikan tips dengan ucapannya yang terkenal “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.”

Muhasabah adalah sarana yang ampuh untuk memperbaiki diri.

Juga ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah dengan redaksi hadits yang berbunyi:
“Aku mendengar Rasulullah saw berdoa di dalam sebagian sholatnya: “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo” (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”).
Setelah Nabi saw beranjak, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu hisab yang mudah?” Nabi saw menjawab “Buku catatan amalnya dilihat lalu dilewati begitu saja. Barangsiapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia binasa” (HR Ahmad).

Semoga Allah memudahkan kita pada amalan yang memasukkan kita pada golongan orang yang masuk surga tanpa hisab.

Allahu’Alam bish-showab.