November 2, 2009
Sebelumnya mohon maaf bila tulisan ini tidak berkenan. Niat saya untuk kebaikan
—- *** —-
Nafas Luki terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Dan seseorang tengah mendekatinya. Saat melihat orang tersebut, Luki berteriak, "Aduh… Siapa lagi kamu?"
"Aku Rika. Ingin menuntut atas kezholiman yang kau lakukan semasa kau hidup." Jawab orang itu.
"Ah… Tidak… Celaka aku." Luki kembali berteriak.
Orang yang datang pada Luki itu adalah orang yang ke-2130 yang menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki semasa hidup. Saat ini yaumil hisab, hari pembalasan. Semua kasus dan masalah dipersidangkan secara adil. Termasuk siapa yang pernah dizholimi, berhak menuntut keadilan atas pelaku kezholiman.
Luki sebenarnya jarang menghina orang. Hanya 3% orang yang telah menuntutnya karena penghinaan. Untuk menggunjing orang, agak banyak. Ada 10%. Tapi yang dominan adalah kezholiman atas aktifitas merokok, sebesar 80%. Ya. Kebanyakan orang yang telah datang pada Luki adalah orang yang dirugikan karena asap rokok Luki.
Luki memang suka merokok sembarangan semasa hidupnya. Dia tidak merasa canggung untuk menghembuskan asap rokok memenuhi ruangan angkutan umum sekalipun di angkot itu ada orang lain selain dirinya. Di tempat terbuka seperti pasar, taman, dan lainnya, ia juga sering membuat orang mengipas-ngipas mukanya untuk menghalau asap rokok yang dikeluarkan Luki. Orang-orang itu merasa terzholimi.
Kalau ada yang menegur, kadang memang Luki bersikap sopan dengan langsung mematikan rokoknya. Tapi kadang ia juga cuek, sehingga membuat orang yang tidak diindahkan oleh Luki itu merasa makin terzholimi.
Luki sempat berdalih, bahwa kezholimannya tidak begitu parah karena cuma menghadirkan gangguan bagi yang terkena asap rokok. Tapi dalihnya tertolak, karena bukan cuma asap, tapi juga racun yang dikandung oleh asap rokoknya yang membuat orang terzholimi. Sedikit atau banyak, ia tetap menebar racun pada orang-orang. Dan itu kezholiman.
Maka akhirnya orang-orang itu pada hari pembalasan ini menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki. Dan kini di hadapan Luki, berdiri seorang wanita sedang menuntutnya.
"Atas masalah apa kamu menuntutku?" Tanya Luki.
"Karena rokok!" Jawab wanita itu.
"Hei… Aku tak pernah merokok di dekatmu!"
"Memang tidak pernah. Tapi suatu hari kamu pernah naik metro mini dan kemudian duduk di sebelahku. Saat itu kamu membawa bau rokok yang sangat menyengat sehingga membuatku mual. Itu karena kamu sebelumnya merokok. Andai kata bau yang menempel di badan dan pakaianmu itu disebabkan rokok orang lain, tidak akan menjadi masalah."
Dan orang yang terzholimi itu akhirnya mendapatkan keadilan. Sebagian pahala Luki dipindahkan untuknya untuk menebus kezholiman.
Kezholiman itu terjadi saat Luki berumur 30 tahun. Dan Luki wafat di usia 62 tahun. Ia berhenti merokok di usia 60 tahun. Berarti ada rentang 30 tahun lagi yang di rentang itu akan ada orang-orang yang menuntut Luki atas kezholimannya merokok.
Sedangkan pahala terakhir yang dipindahkan ke orang yang terzholimi adalah pahala yang dilakukan Luki saat ia berusia 58 tahun. Ada kemungkinan Luki termasuk orang yang bangkrut.
***
Lagi, seseorang menghampiri Luki.
"Kezholiman apa yang aku lakukan padamu?" Tanya Luki.
"Rokok." Jawab orang itu.
"Aku tak pernah merokok di dekatmu."
"Memang tidak pernah. Semasa hidup aku ditakdirkan suka mual dengan bau rokok. Suatu ketika di dalam perjalanan, aku singgah di sebuah rumah makan untuk makan dan buang air. Ketika masuk ke dalam wc yang disediakan rumah makan itu, aku dibekap oleh bau rokok yang pekat. Dan kamu adalah orang yang berada di wc itu sebelumnya. Kamu buang air besar sambil merokok. Dan baunya tinggal di wc itu ketika aku menggunakannya. Racunnya pun masih berkeliaran bercampur udara di dalam wc itu."
Luki terhenyak. Saldo amalnya dalam posisi kritis. Ia diambang kebangkrutan.
"Celaka aku… celaka aku…." Nafasnya terengah-engah ketakutan. Dan tak berapa lama kemudian… ia terjaga dari tidurnya.
Masih dalam keadaan terengah-engah, tatapannya beradu pada jam dinding di kamarnya. Pukul 1.30 malam. Jam dinding itu berhias kotak rokok bekas yang ia koleksi setelah isinya ia konsumsi. Melihat hiasan kotak rokok itu, Luki merinding.
— ** —-
Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan di dunia ini, adalah sangat berharga. Karena itu semua akan mendapatkan balasan dari Allah swt. Allah telah mengabarkannya dalam QS Al Zalzalah ayat 7: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". Allah mengabarkan hal itu agar kita termotivasi untuk beramal dan tidak meremehkan setiap bentuk perbuatan baik.
Begitu juga dengan keburukan, sekecil apa pun bentuknya akan ada balasannya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS 99:8)
Termasuk kezholiman yang kita lakukan pada orang lain, apa pun bentuknya, seremeh apa pun kadarnya, akan diadili oleh Allah swt di hari pengadilan. Bahkan ada kemungkinan di mana kezholiman kita itu menghabiskan seluruh amal baik kita dan membuat kita menjadi orang yang bangkrut.
Dalam suatu hadits, dikabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka, para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)
Khusus untuk perokok, perlu kiranya anda introspeksi. Apakah aktifitas merokok anda sudah menzholimi sekian banyak orang? Jangan sampai hal yang kita anggap remeh itu malah menjadi penyesalan di akhirat kelak.
October 28, 2009
**
Kemaren2 ini blog saya sempet down. Mental saya ikut2an down juga
. Ada masalah dari blogsomenya. Alhamdulillah hari ini udah pulih.
Posting yang sederhana dulu aja deh, sembari memulihkan mental
.
**
Sudah agak sore saat ncang muslim memulai makan paginya di sebuah rumah makan warteg amigos (agak minggir got sedikit) di bilangan Kemang. Di tengah asyiknya ncang muslim menyantap menu ikan asin lada hitam bersama cah jengkol, masuk lah seorang pemuda bernama Ksatria Playboy (KP) membawa gitar ke dalam warteg hendak mengamen.
Pada pengamen itu, ada hal yang membuat ncang muslim tertarik. "Andai anak ku masih hidup, mungkin dia seumuran pengamen itu. Sayang, anakku wafat begitu cepat di umurnya yang masih 70 tahunan." Begitu batin ncang muslim.
Dan karena ketertarikannya itu, ncang muslim berniat memberi pengamen itu uang 5000 dollar monopoli internasional setelah pengamen itu memamerkan suaranya.
Jreng gonjreng gonjreng…. KP memainkan intro lagu "Kucinta Kau Apa Adanya" yang dipopulerkan oleh once. Sesaat kemudian, mulailah KP bernyanyi:
"Kau boleh acuhkan diriku…
Dan anggapku tak ada…."
Mendengar lirik lagu itu, ncang muslim malah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi lu minta diacuhin dan dianggep gak ada? Okeh, kalo gitu gw gak jadi ngasih lu uang!" Ncang muslim berubah pendiriannya.
**
Cerita di atas adalah postingan saya di forum myquran. Nama-nama yang ada dalam cerita adalah panggilan untuk user-user myquran.
October 20, 2009
Puisi ini aku buat untuk anakku, Raudhatur Rahmah, yang berulang tahun ke-1 tanggal 21 Oktober 2009. Selamat ulang tahun, sayang

I
Itu dunia anakku, gengamlah!
Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!
Buaian hanya sementara
Selanjutnya kertas dan pena
Kau hadirkan pada mereka
Keilmuan seluas samudra
Hadirkan cahaya sibak gulita
Kau tembus bumi, merobek angkasa
Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.
Itu cakrawala anakku, rengkuhlah
Kau milik zamanmu, bersiagalah
Pelukan bunda hanya sementara
Selanjutnya keringat dan air mata
Kau suguhkan pada mereka
Hujjah dan qoulan syadida
Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa
Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka
Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga
Hingga kau diterima dalam ridho-Nya
II
Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik
Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik
Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik
Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik
Aku bukan pemikul beban yang terpaksa
Tapi aku penggembala penuh cinta
Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa
menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia
III
Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban
Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban
Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban
Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban
Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.
Selamat ulang tahun yang kesatu, Raudhah anakku sayang….
Klik untuk melihat foto-foto Raudhah
October 14, 2009
Salah satu kelebihan browser Mozilla Firefox adalah adanya add-ons, yaitu tools atau aplikasi-aplikasi tambahan yang melekat pada browser yang punya banyak manfaat untuk pengguna Mozilla.
Salah satu contoh add-ons yang dimiliki Mozilla adalah DownThemAll!, yang memudahkan pengguna untuk mendownload contain dari internet secara massal dan meng-organize-nya. Selain itu ada Boost For Facebook yang memanjakan pengguna untuk bermain-main dengan akun facebook-nya. Dan ada Alexa Statusbar yang berfungsi untuk mengecek rating situs yang sedang kita browsing. eQuake Allert untuk mengingatkan kalau terjadi gempa, dan banyak lagi.
Add-ons itu seperti plug-in, semacam tools tambahan. Bukan cuma browser mozilla firefox yang punya add-ons, aplikasi lain pun punya. Facebook punya, linux punya.
Hmm.. andai hati kita bisa dipasang add-ons, maka add-ons apa ya yang akan kita pasang? Mungkin bisa dicoba add-ons berikut ini:
1. Everytime dzikrullah.
Add-ons ini membuat hati kita untuk selalu berdzikir mengingat Allah swt di setiap saat. Rasulullah pun menginstall add-ons ini. Begitulah pengakuan Aisyah rha. “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam selalu berdzikir kepada Alah setiap saat." (HR. Muslim & Abu Dawud)
Add-ons ini memang bekerja di hati kita. Tapi hendaknya lisan kita pun mengikuti kerja add-ons ini. Karena itu perintah dari junjungan kita Rasulullah saw. "Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Alloh." (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah)
2. Auto Istighfar.
Ketika kita melakukan suatu perbuatan dosa, maka kita akan segera tersadar dan beristighfar kepada Allah swt. Begitulah fungsi add-ons ini.
Add-ons ini merupakan aplikasi yang tepat agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena ciri orang yang bertaqwa adalah cepat menyadari kesalahannya dan kemudian bertaubat kepada Allah swt.
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS 3:135)
3. GhodBash
Aneh atau familiar namanya? Add-ons ini singkatan dari ‘Ghodul Bashar’. Artinya adalah menundukkan pandangan. Cara kerjanya begini: Ketika mata kita menangkap objek yang Allah haramkan untuk dipandang, seketika itu juga add-ons yang berada di hati kita ini bekerja mengirimkan pesan serius pada otak. Pesan itu adalah agar otak memerintahkan mata kita berpaling dari objek terlarang itu.
Add-ons ini sangat berguna untuk mengaplikasikan perintah Allah pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31.
4. eQuake.
Ya memang, add-ons ini beneran ada di dunia nyata. Gunanya untuk mengingatkan kalau ada gempa.
Tapi kalau versi yang terpasang di hati, berfungsi untuk membuat gempa atau getaran di hati ketika terdengar nama Allah swt. Getaran atau gempa yang ditimbulkan besarnya berbanding lurus dengan kecintaan kita kepada Allah swt. Makin cinta kita pada Dia, maka makin besar gempa yang terjadi di hati ketika nama Allah terdengar.
Add-ons ini musti terpasang di hati orang mukmin. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS 8:2)
5. Muhasabah.
Add-ons ini berfungsi untuk mengukur fluktuasi ketaatan kita pada Allah swt. Karena iman itu mengalami pasang surut. Kalau kita memiliki add-ons ini, maka kita bisa mengoptimalkan ketaatan kita pada Allah swt. Ketika ketaatan terdeteksi surut, maka kita bisa segera bertaubat dan menyegarkan iman kita, agar ketaatan kembali naik.
Kita bisa menggunakan aplikasi ini untuk memeriksa grafik ketaatan kita di waktu-waktu khusus. Misalnya akhir tahun, akhir bulan, akhir pekan, atau di akhir hari. Atau kapan saja kita mau.
6. Anti Virus.
Ya, ada juga add-ons seperti ini di hati. Karena hati kita rawan terkena virus. Kalau sudah terkena virus, maka jadilah hati kita hati yang sakit (qalbun maridh). Kalau tidak terobati juga, maka hati pun mati (qalbun mayit).
Jenis-jenis virus yang diobati oleh aplikasi ini adalah: dengki, hasad, dendam, riya’, ujub, ghurur, kibr, dll. Juga ada virus merah jambu (apa tuuh?? hehe…). Silakan lengkapi database antivirus anda dengan membaca buku tazkiyatun nafs karangan Imam Ghozali, sering mendengar taushiyah Aa Gym, dan cara lainnya.
Disarankan untuk rajin men-scan hati anda ketika hendak tidur, mencontoh seorang sahabat yang telah Rasulullah klaim sebagai penghuni surga. Salah satu kerja anti virus ini adalah dengan memaafkan orang yang pernah berbuat salah pada kita sehingga tidak ada dendam.
7. I’m Sorry.
Selain memaafkan, kita juga harus meminta maaf pada orang lain kalau kita berbuat salah. Install-lah add-ons ini agar kita tidak memiliki musuh atau punya kesalahan pada orang. Add-ons ini akan bekerja di hati ketika hati terdeteksi memiliki noda berupa kezoliman pada orang. Add-ons ini memaksa otak untuk segera mengucapkan kata maaf pada orang yang kita zolimi.
8. Anti Nifaq.
Penting untuk tidak menjadi munafik. Kalau tidak, kita akan memiliki musuh di langit dan di bumi. Install-lah add-ons ini di hati kita. Maka kita hati kita akan memiliki karakter shidq (jujur) dan amanah.
9. Syukur 21, Shobr, dan Ridho
Ketiga add-ons ini bekerja saat menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan pada diri kita. Syukur 21 aktif saat diri kita mendapatkan kenikmatan dari Allah swt. Shobr bekerja saat diri kita menerima musibah. Ridho bekerja secara general, apa pun yang terjadi, ridho selalu aktif bekerja.
Add-ons ini membuat pribadi yang meng-install-nya menjadi pribadi ‘ajaib’ yang mengagumkan.
”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)
10. Ikhlas mode on.
Add-ons ini penting dimiliki oleh hati agar setiap perbuatan baik kita memperoleh pahala. Aktifkan add-ons ini sebelum, ketika, dan sesudah berbuat baik.
Ada pihak ketiga yang tidak ingin add-ons ini aktif. Yaitu setan. Ia berusaha menjadi intruder dalam diri kita agar add-ons ini rusak. Maka selalu jagalah add-ons ini! Karena aktif-nya add-ons ini menjadi syarat sahnya amalan baik yang kita lakukan.
*****
Itulah beberapa add-ons yang bisa di-install di hati kita. Ada banyak lagi add-ons yang kita perlukan. Tidak cuma apa yang ada di atas. Pokoknya, semua jenis kebaikan adalah add-ons yang harus terinstall di hati kita.
Allahu’alam bish-showab.
October 6, 2009
"Munafik!" Terlontar tudingan itu dari lisan seseorang yang membela icon kemaksiatan. "Munafik!" Tertulis vonis itu pada komentar berita di portal, milis, blog, dan berbagai tempat di dunia maya, sebagai pembelaan atas gugatan yang menyerang kemungkaran.
Kalau yang dimaksud adalah apa yang terucap tidak sama dengan apa yang diperbuat, maka kemunafikan memang pantas dibenci. Ia haram mendompleng idealisme.
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS 61: 2-3)
Tapi apa ganti dari kemunafikan? Kebanggaan atas kebejatan kah?
"Sudah, ngaku aja kalo lu juga suka!" Kalimat itu menyempurnakan vonis munafik. Mengajak para penggugat kemungkaran untuk mengakui bahwa dirinya pun bejat dan tak pantas menggugat kemaksiatan.
Maka begitulah gaya pemuja kemungkaran. Memeluk erat kebejatan dan simbol-simbolnya, dan kemudian menciptakan tameng berupa "tuduhan munafik" yang akan mereka layangkan pada setiap pencerca kebejatan. Seperti pemabuk yang menjinjing ringan botol arak dan berjalan di tengah kampung. Ketika orang kampung mengingatkannya bahwa isi botol itu terlarang, ia balik berteriak, "Hey sadarlah. Kalian pun mabuk!!"
Tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan. Bahkan ketika diri ini memang bejat, maka menutupi kebejatan diri - disertai dengan penyesalan - adalah sebuah keselamatan dan bisa menjadi jalan untuk berubah.
Abu Hurairah ra, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (HR Muslim)
Seorang mukmin tak mungkin bangga dengan kebejatan. Karena konsekuensi iman menuntut begitu. Bahkan pada kadar iman yang paling rendah, tidak ada ruang untuk bersikap biasa-biasa saja atau acuh pada kemaksiatan. Ubah! Atau gugat! Atau kau membencinya, dan itu derajat yang amat rendah pada strata keimanan. Di luar sikap itu, tidak ada iman!!!
Dari Abu Said Al-Khudri ra: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)
Sudah jelas, tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan selama iman ini ada di dada.
Dan begitu pula dengan icon-icon kemaksiatan. Tak kan pernah sudi seorang mukmin menyukainya, atau pun sekedar bersikap biasa saja atau tak acuh padanya. Tak ada alasan menyambutnya bila icon kemaksiatan itu datang ke negeri seorang mukmin.
Tersulut rasa benci orang kampung dulu dengan kemaksiatan. Maka mereka usir pelaku zina dari nagari (kampung). Tak pantas pezina hadir di tengah kampung hidup bersama warga.
Maka begitulah seharusnya sikap seorang mukmin: pada semangat yang sama dengan orang kampung dulu. Tak ada alasan bagi pezina - apalagi seseorang yang menjadi icon pezina - untuk disambut datang ke negeri ini. Yang kedatangannya membuat sorak sorai pecinta zina bergemuruh seantero negeri. Terobati haus kerinduannya pada bintang zina yang selama ini cuma bisa ia pelototi dari layar televisi atau monitor komputer.
Wahai muslim, kalau masih ada iman di hatimu, tak ada alasan untuk bungkam ketika simbol kebejatan menyapa saudara-saudaramu di negerimu. Penerimaannya semakin memudahkan terpeliharanya kebejatan di sekitarmu. Ketika kedatangannya diterima, maka aksi zinanya lebih mudah dijual. Dan anak-anakmu, keponakanmu, antusias mencari tahu tentangnya. Dan adik-adik perempuan mu yang masuk remaja berpotensi mengidolakannya ketika popularitas dan uang telah menjadi prioritas, atau tuhan, dalam kehidupan.
"Munafik. Padahal lu suka kan? Gw juga suka, tapi gw gak munafik kayak lu. Semua juga suka, kalee…" Maa lakum, kaifa tahkumun (QS 68:36)? Bagaimana bisa begitu, apa dasar kamu menghakimi seperti itu? Lantas yang bagaimana munafik itu sebenarnya?
Ibnu Mas’ud r.a., sahabat Rasulullah saw, memberikan deskripsi perbedaan orang mukmin dan munafik. “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”
Lalu siapa sebenarnya yang pantas padanya disematkan gelar "munafik"?
—-
September 29, 2009
Di musim kemarau, mentari pukul delapan sudah cukup terasa menyengat. Begitu lah yang dirasakan oleh Adi dan Indra yang sedang berada di sebuah metro mini menuju wilayah perkantoran Sudirman. Saat itu, bus yang mereka tumpangi sedang berada di sekitar Kalibata, salah satu daerah langganan macet di Jakarta.
Adi menghela nafas. Kemudian ia melontarkan keluhan, "Duh… sampe kapan sih harus begini. Apa orang-orang gak bosen dengan macet begini? Liat deh, itu ada mobil yang isinya cuma satu orang. Kenapa sih orang itu gak milih naek angkutan umum? Bikin macet aja."
Entah keluhan yang keberapa dari mulut Adi selama ia terjebak kemacetan. "Kenapa sih… kalo udah tau gak bakalan bisa menyelesaikan macet, kenapa masih ngotot jadi gubernur?" Keluhnya lagi.
Indra, yang duduk di samping Adi. Cuma tersenyum mendengar keluhan-keluhan itu.
Tak lama, di samping metro mini itu lewat lah bus lain yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Asap itu masuk ke dalam metro mini yang ditumpangi Adi, dan membuat Adi lagi-lagi melontarkan dumelannya.
Tak tahan dengan keluhan-keluhan temannya, Indra menegur Adi. "Buat apa sih ngeluh terus Di? Kayaknya hidup lu penuh dengan kesulitan-kesulitan aja." Ujar Indra sambil tertawa kecil.
"Iya sih… kalo dipikir-pikir. Kayaknya hidup gw penuh dengan kesulitan deh." Balas Adi.
"Halah.. lebay." Kali ini Indra tertawa lepas.
"Memang iya, Ndra. Ada-ada aja kesulitan dateng. Terakhir, gw diancem sama bos untuk gak boleh telat. Kalau telat, ada hukuman pengurangan gaji. Padahal gw beberapa hari ini telat karena motor gw rusak." Adi membela diri.
"Lho, yang laen aja bisa gak telat kok, Di."
"Ya, tapi kan gw terbiasa bawa motor. Sekalinya gak bawa motor, gw agak susah mengatur ulang jadwal berangkat ke kantor. Lagian, oke lah masalah telat itu karena gw sendiri. Gimana dengan masalah rusaknya motor gw gara-gara ditabrak lari mobil? Itu kan bukan salah gw. Dan masih banyak lagi masalah gw laennya. Banyak yang bukan karena keteledoran gw." Adi terus membela diri.
Indra menarik nafas panjang dan kemudian menghelanya. "Tapi bukan jadi alasan buat ngeluh, Di."
"Ya, tapi wajar dong kalo gw ngeluh."
"Gak lah."
"Lho, kok?"
"Gini deh. Misalnya lu jadi ikan yang hidup di kolam yang sempit banget. Lu sangat gak betah dengan kolam itu. Lalu suatu hari lu nemuin ada lubang sebagai jalan menuju kolam di samping yang jauh lebih luas. Lu harus melalui lubang itu untuk ke kolam yang lebih luas. Tapi lubang itu sempit banget, cuma lebih besar sedikit dari ukuran badan lu. Apa lu tetep akan menempuh jalan itu?"
"Mmm… Sebenernya gw lebih pantes diumpamakan sebagai burung merak yang indah, Ndra. Tapi kalo pun jadi ikan, mungkin ikan mas koki yang keren kali ya."
"Terserah deh. Tadinya gw mau mengumpamakan lu sebagai kecebong. Masih mending gw umpamakan sebagai ikan. Jadi lu mau gak melewati lubang itu. Ceritanya lu pengen bener tinggal di kolam sebelah."
"Ya… mau aja."
"Walaupun lubang itu sempit? Lu gak ngeluh?"
"Gak ngeluh dong. Kan gw udah tau bakalan dapetin tempat yang lebih baik. Lebih luas berkali lipat dari kolam pertama."
"Nah… kalo gitu, terhadap semua kesulitan, lu gak perlu ngeluh Di."
"Lah… kenapa Ndra? Maksudnya apa sih perumpamaan itu?"
"Semua kesulitan itu seperti lubang sempit itu, Di. Yang membawa pada kenikmatan dan kelapangan."
"Ya gw udah tau. Kalo kesulitan itu membawa kemudahan. Tapi mending gak ada kesulitan sama sekali dan gak perlu ada kemudahan, kalau jadinya impas."
"Kok impas?"
"Iya, memang ujung-ujungnya sih ada kemudahan. Tapi harus lewat kesulitan dulu. Seperti impas gitu kan? Mending gak ada kesulitan sekalian."
"Lho… bukan impas, Di. Kesulitan itu membawa keuntungan. Kadarnya lebih besar dari pada kesulitan yang lu derita. Seperti perumpamaan tadi, dapet tempat yang jauh lebih luas dari tempat sebelumnya. Untung kan?"
"Ya itu kan cuma ada dalam perumpamaan elu. Bukan di kehidupan nyata."
"Di kehidupan nyata juga, Di. Allah swt kok yang bilang itu."
"Ah, masa’?"
"Lu tau dong surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6."
"Iya tau. Setelah kesulitan ada kemudahan. Itu yang impas kata gw tadi."
"Lu salah memahaminya berarti. Di ayat itu bukan impas, tapi untung. Karena Allah menyebut Al-’usr, dan yusron. Al yang berdempetan dengan kata ‘usr (kesulitan) itu bentuk tunggal. Sedangkan kata yusron (kemudahan) tidak memakai Al, tidak berbentuk tunggal, yang berarti kemudahan itu ada banyak. Jadi Allah menyebutkan setelah satu kesulitan itu ada banyak kemudahan. Bukan setelah satu kesulitan ada satu kemudahan. Gitu lho."
Adi terdiam sebentar. Kemudian ia menjawab, "Oh gitu… Tapi kok… kenapa gw belum ngerasain kelapangan-kelapangan itu ya?"
"Karena kemudahan-kemudahan itu gak membekas di hati lu, Di. Lu cuma meresapi kesulitan aja, dengan cara mengeluh. Tapi terhadap kemudahan dari Allah, lu biarkan lewat tanpa disyukuri. Kalau lu gak mengeluh dan banyak bersyukur, lu pasti nyadar kalo kehidupan lu dipenuhi oleh kemudahan." Balas Indra.
Adi lagi-lagi terdiam.
"Ya kan?" Kata Indra lagi, menagih pembenaran.
Tapi Adi tidak menjawab. Hanya diam. Dan akhirnya Indra melemparkan senyuman ke luar jendela.
******
Menafsirkan Surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, Ibnu Katsir menulis: "Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh "Al-’usri" (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh "yusran" berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak."
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: "Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)
Agar kita bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, maka perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (QS 93:11). Terhadap kesulitan, hendaklah berlaku ridho. Dengan itu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat lebih banyak daripada kesulitan.
****
Saya mem-posting tulisan ini pada selasa 29 September 2009. Tapi keesokan harinya, tanggal 30 September 2009, terjadi gempa di Sumatera Barat. Kampung halaman saya. Padang, kota yang saya punya bayak kenangan indah di sana, rusak parah.
Ya Allah… begitu cepat apa yang saya tulis menjadi ujian kembali bagi diri saya sendiri…..
Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Bersabarlah, kita akan kembali pada-Nya.
September 15, 2009
Sejatinya, kesempatan baik itu ada dua jenis. Pertama, kesempatan baik yang apabila tidak termanfaatkan, tidak akan membuat orang yang mendapatkan peluang itu menjadi rugi. Kedua, kesempatan yang apabila tidak termanfaatkan, akan membuat orang yang mendapat kesempatan itu menjadi rugi.
Contoh kesempatan jenis pertama: seseorang berbelanja di tokok andaleh-mart. Karena nominal belanja mencapai seratus ribu rupiah, orang tersebut mendapatkan kesempatan untuk membeli 1 kg gula dengan harga murah hanya sebesar Rp 500. Tapi kesempatan itu tidak diambilnya. Dan orang tersebut tidak rugi apa-apa. Itu lah contoh kesempatan jenis pertama.
Kemudian, apabila ada seseorang berada dalam bahaya, maka kesempatan untuk keluar dari bahaya adalah kesempatan jenis kedua. Misalnya pada peristiwa penyanderaan oleh sekelompok penjahat, tersandera memiliki peluang untuk kabur. Tapi peluang itu tidak diambilnya atau gagal dimanfaatkan. Maka tersandera itu pun menjadi rugi.
Dalam hadits yang cukup kita kenal, bahkan hadits ini menjadi syair lagu bagi tim nasyid Raihan, terdapat nasihat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk menyegarkan ingatan kita, hadits itu berbunyi:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak.)
Kesempatan yang ada dalam hadits di atas adalah kesempatan jenis kedua. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia itu berada dalam keadaan merugi. Dan lima perkara itu menjadi jalan bagi manusia untuk keluar dari keadaan merugi. Yaitu dengan cara memanfaatkan masa muda, masa sehat, masa kaya, masa luang, dan masa hidup untuk beramal sholeh serta saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr:1-3)
*****
Kemudian, ada hadits riwayat Al-Hakim lainnya yang berhubungan dengan kesempatan jenis kedua.
"……Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku lalu berkata,’ Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, tetapi ia tidak diampuni,’ maka aku berkata, ‘Amin’. Lalu ketika aku menaiki tangga kedua dia berkata,’ Celakalah orang yang mendengar namamu disebut, tetapi ia tidak bersholawat atasmu.’ Maka aku berkata, ‘Amin’. Ketika aku menaiki anak tangga ketiga, ia berkata,’ Celakalah orang yang menjumpai kedua ibu bapaknya yang telah tua atau salah satu dari keduanya, tetapi mereka tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.’ Aku berkata,’Amin’." ( HR Hakim )
Pada hadits ini, ada tiga kesempatan yang apabila tersia-siakan maka orang yang mendapat kesempatan itu menjadi celaka. Yaitu kesempatan mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan, kesempatan bersholawat ketika nama Rasulullah disebut, dan kesempatan berbuat baik kepada kedua orang tua yang telah renta agar mendapatkan surga Allah swt.
*****
Segala kesempatan berbuat baik yang kita dapatkan haruslah dimanfaatkan dengan segera mungkin.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa," (QS Ali-Imran : 133)
Karena selain kesempatan itu mudah hilang, juga ada kemungkinan membatunya hati kita dikarenakan malas yang terpelihara untuk segera memanfaatkan kesempatan itu. Ini terjadi pada Ahli Kitab sebelum umat ini. Telah datang hidayah kepada mereka berupa Al-kitab, namun mereka menunda-nunda untuk memanfaatkan kebenaran itu sehingga hati mereka keras.
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS 57:17)
Tidak semua orang mendapatkan hidayah. Ketika hidayah itu datang, maka itu adalah kesempatan yang diberikan Allah swt pada kita untuk mengikuti petunjuk itu. Tetapi kalau kita bermalas-malasan mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan, maka hati kita kemungkinan akan membatu. Atau akhirnya kita tidak lagi memiliki kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, atau pun kehidupan untuk mengikuti hidayah yang telah Allah berikan.
*****
Kini, kita harus introspeksi atas peluang besar untuk mendapatkan ampunan yang sedang kita dapatkan, yaitu bulan Ramadhan. Bagaimana kita menjalankan aktifitas di bulan Ramadhan? Apakah dengan berleha-leha dan santai-santai saja atas berita baik tentang rahmat, ampunan, dan tertutupnya pintu neraka? Apakah kita membiarkan waktu menggerogoti kesempatan ini detik demi detik, hingga ketika Ramadhan ini berakhir kita gagal menyandang gelar muttaqin? Apakah ampunan Allah semakin menjauh karena kita sendiri yang menjauhinya?
Celaka… celaka lah kita bila gagal memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt. Belum tentu kita mendapatkan bulan Ramadhan tahun depan. Dan ya, memang, di bulan lain kita bisa mendapatkan ampunan. Tapi bila di bulan yang penuh ampunan saja kita gagal mendapatkan maghfiroh dari Allah, lalu bagaimana dengan di bulan yang biasa?
Allahumma innaka ‘afuwwun kariim. Tuhibbul ‘afwa fa’fuanna.
Asyhadu an laa ilaaha illallah. Astaghfirullah. Inni as’alukal jannah. Wa’audzubika minannaar.
—–
Menjelang hari raya idul fitri, Zico Alviandri dan keluarga mengucapkan minal aidin wal faidzin. Taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin, atas semua kesalahan yang kami sengaja atau punt tidak.
Aktifitas blogging mungkin berhenti sementara, dilanjutkan setelah Ramadhan. Kecuali kalau ada inspirasi yang sangat bagus untuk ditulis
September 9, 2009
Generalisasi… Kita biasa gunakan ini untuk vonis dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kalau kita menemukan sifat yang sama pada mayoritas anggota suatu golongan, kita akan memukul rata bahwa sifat tersebut dimiliki oleh semua anggota golongan itu.
Biasanya kalau kita mendapat pengalaman tidak enak saat berinteraksi dengan seseorang, ada saja godaan untuk memvonis latar belakang golongan orang tersebut. Entah sukunya, ras, agama, jenis kelamin, atau yang lainnya.
Tentu saja vonis generalisasi macam ini akan mendapat protes. Misalnya kita ngedumel kesal, "Orang Padang memang pelit!!". Lalu akan ada yang protes dengan ucapan itu, "Enak saja… tidak semua orang Padang pelit. Tergantung orangnya masing-masing. Jangan main generalisasi begitu dong…" (Ya dong… saya orang Minang, menurut saya, saya gak pelit kok :p).
Mungkin yang lebih tepat adalah kata-kata: "pada dasarnya, tapi tidak semua." (Sekali lagi, pada dasarnya orang minang gak pelit kok!). Atau kita memerlukan kata "kecuali" saat menilai suatu golongan agar terhindar dari generalisasi. Contohnya: "Anggota dewan itu bukan koruptor. Mereka bersih kok. Ya… kecuali beberapa oknum anggota dewan." (Oh ya? Ada berapa persen tuh beberapa oknumnya?
)
Ungkapan seperti ini Allah gunakan untuk menghukumi semua manusia.
Dapat kita temukan pada ayat yang sering kita baca: surat Al-Ashr. "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-’Ashr: 1-3)
Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata: “Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152). (lihat sumber)
Allah menghukumi manusia sebagai orang yang merugi. Lalu kemudian Allah lengkapi dengan pengecualian pada orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Allah tidak menggeneralisasi semua manusia itu merugi walau pun kebanyakan manusia itu ingkar kepada Allah dan merugi.
Juga pada ayat yang sering kita baca. "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya" (QS At-Tiin (95):5).
Allah bercerita tentang tempat kembali manusia - makhluk yang telah Allah ciptakan dengan sangat baik, yaitu tempat yang sangat rendah: neraka. Ciptaan yang sangat baik berakhir pada tempat yang sangat rendah. Tapi di situ Allah berikan pengecualian untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Jadilah orang-orang yang beriman dan beramal saleh terhindar dari penghukuman general terhadap manusia.
Oke, sampai di sini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kebanyakan manusia itu merugi dan ingkar. "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS Ar-Rum :
Dan mereka akan berakhir pada tempat yang buruk: neraka. Kecuali, orang yang beriman. Mereka akan masuk surga.
Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa orang yang beriman akan menempati surga. Tetapi… tunggu dulu… rupanya hal ini juga ada pengecualiannya.
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari)
Konteks ‘umatku’ di situ adalah umat Islam. Karena hanya orang yang beriman yang akan masuk surga. "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah, masuk surga.”" Jadi hanya orang yang beriman yang bisa digeneralisasi bahwa pada dasarnya mereka akan masuk surga.
Sayangnya memang masih ada pengecualian untuk itu. Walaupun pada akhirnya akan masuk surga juga, tapi akan ada umat Rasulullah saw yang singgah ke neraka terlebih dahulu. Itu lah orang yang enggan. Yaitu orang yang mendurhakai Rasulullah saw.
Tidak semua orang yang beriman akan langsung masuk surga. Di antara mereka akan ada yang melalui neraka sebelum masuk surga.
*****
Sekarang, posisi kita adalah sebagai manusia di bumi ini. Kebanyakan dari kita akan kembali ke neraka. Karena itu segera lah bergabung kepada golongan yang masuk pengecualian. Yaitu orang yang beriman.
Orang-orang yang beriman ini pada dasarnya akan masuk surga. Kecuali orang yang enggan, mereka akan masuk neraka terlebih dahulu. Karena itu berdoa lah agarjangan sampai kita tergabung pada golongan yang dikecualikan ini. Semoga. Amiin.
September 2, 2009
Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" (QS 2:30)
Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.
Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. "Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat."(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS 67:2).
Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita." (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179)
Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi."Berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT" (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).
Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.
"Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43)."
Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.
Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.
Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan."Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya".
Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.
Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.
Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.
Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari - Muslim)
Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.
Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS 41:34)
Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.
Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari "homo homini lupus".
September 1, 2009
(Tulisan berikut ini tidak ada niatan merendahkan atau menghina suku tertentu.)
Nama orang sunda memiliki pola tersendiri. Misalnya, Titi Sumiati, Nana Suprihatna, Maman Abdurrahman, dan nama walikota Bandung: Dada Rosada, dsb. Kata seorang teman saya yang orang sunda, polanya itu terdengar "tek tek dung dung tek".
. Nama di depan di sebut lagi di belakang.
Nah, bagaimana ya kalau nama orang sunda dan polanya ini dipadukan dengan marga orang Batak? Berikut ini utak-atiknya.
Ipul Sitompul
Yoyon Nasution
Yayan Siagian
Dadang Matondang
Aang Situmeang
Aan Siahaan
Tatak Simanjuntak
Tatan Panjaitan
Nanan Tambunan
Riri Sianturi
Lulu Napitupulu
Uung Marpaung
Wawan Pangaribuan
Dede Pardede
Lala Sinambela
Titi Rangkuti
Nanang Aritonang
Lilit Simanungkalit
August 25, 2009
Suatu hari terjadi percakapan antara saya dengan seorang senior di kampus, ketika saya masih di bangku kuliah. Di pembicaraan itu, senior saya mengkritik perilaku teman-teman mahasiswa aktivis dakwah yang suka menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan lawan jenis. Senior saya berkata, "Katanya jaga hijab… Yang perlu dihijab kan hati. Walau pun tidak melihat tapi hatinya bermain, kan sama saja bohong. Lebih baik hati yang dihijab." Seperti itu lah kira-kira.
Saat itu saya mangut-mangut. Ungkapan itu terdengar logis.
Berapa lama kemudian di sebuah pengajian, terdengar kritik dari seorang anggota pengajian (dia adalah senior saya yang lain) kepada para aktivis dakwah kampus yang menyepelekan hijab. "Mereka bilang ghodul qulub (menjaga hati) lebih penting, kemudian menyepelekan ghodul bashor (menjaga pandangan). Padahal yang benar ghodul bashor ilaa ghodul qulub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Jaga pandangan dulu untuk kemudian jaga hati!"
Nah lho… saya termangut-mangut lagi. Mana yang benar?
Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah penjagaan yang langsung di pusatnya: hati, daripada bersusah-susah menjaga pandangan. Tapi menurut senior kedua, tidak mungkin menjaga hati apabila tidak menjaga pandangan.
Sejauh mana kita bisa menjaga hati? Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah kita mengontrol langsung hati kita sendiri. Pertanyaannya, bisa kah kita mengontrol atau mengendalikan hati kita?
Bahwa kondisi hati mengendalikan kita, jelas sekali dalilnya. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)
Lalu, sekali lagi, sejauh apa kendali kita terhadap hati?
Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, "…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.
Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”
Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.
Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al-Muthofifin : 83)
Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.
Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”" (QS. An-Nuur : 30-31).
Karena itu, saya rasa pernyataan senior yang kedua lebih tepat: ghodul bashor ilaa ghodul quluub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Bagaimana mungkin kita menjaga hati sementara indera kita dibiarkan bermaksiat?
*****
Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.
Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)
Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.
Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.
Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.
*****
Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)
Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.
Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.
Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.
Allahu’alam bish-showab.
—
Tulisan terkait:
N O D A
August 19, 2009
Kau menagih cintaku pada jalan memutar
jalan di mana banyak rambu kulanggar.
Memegang peta berdebu,
aku merangkak penuh ragu.
Aku memindai tumpukkan derita,
mengejanya persatu.
Pada setiap permukaannya,
aku mengharapkan salju.
Kau membelaiku dengan pucuk pecut Zabaniah yang disegerakan.
Aku mengerang keras, dan terbisikkan (70:19-21).
Di setiap bulir hujan yang turun,
aku menghitung tasbih.
Sendawaku berdarah,
tapi ‘alaa kulli hal alhamdulillah.
Masih, aku menapaki gulungan mendung membumbung ke angkasa.
Hingga ruh ku di puncak sana sempurna…..
August 12, 2009
Dalam sebuah percakapan Telepon…
A : "Namanya siapa, Pak?"
B : "Alviandri"
A : "Tolong dieja hurufnya, Pak"
B : "Alfa…."
A : "Ya, terus…"
B : "Lalfa, Valfa, Ialfa, Alfa, Nalfa, Dalfa, Ralfa, Ialfa"
August 6, 2009
Dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global”, Hermawan Kartajaya menulis sebuah kisah.
“Seorang teman pergi ke dokter internis, ahli penyakit dalam. Dia mendadak suka haus. Oleh dokter, ia divonis diabetes mellitus. Dokter geleng-geleng kepala. Sambil mengernyitkan dahi, dokter bertanya bagaimana bisa dalam usia kurang dari 40 tahun sudah terkena penyakit kronis ini. “Kamu bisa mati kalau tidak hati-hati. Ini penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Paling-paling Cuma bisa dilakukan pencegahan saja!”.
Lantas teman saya dianjurkan ke ahli gizi. Oleh ahli gizi, dia diharuskan untuk diet ketat. Mengetahui kalau dia kena diabetes, teman saya jadi murung. Tapi dia tetap berusaha keras untuk mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh ahli gizi itu.
Tiga bulan kemudian, dia pergi ke Singapura untuk check up. Kali ini dia pergi ke salah satu dokter ahli penyakit dalam yang praktek di Mt-Elizabeth Hospital. Hasilnya sama, diabetes mellitus. Tapi ada yang sangat berbeda. Si dokter Cuma ketawa dan menghibur, “ya, Anda memang sudah diabetes. Ini penyakit kronis. Yang penting you have to live with it!”. Maksudnya si dokter ingin mengatakan, ya mau apa lagi. Sudah terlanjur diabetes. Yang penting jangan terlalu dipikirkan penyakit itu. Tapi bagaimana caranya hidup produktif bersama diabetes!”
Cerita di atas ada lanjutannya, tapi saya potong sampai di situ. Pointnya tentang bagaimana memanjakan client. Cerita itu dimuat dalam buku marketing. Tulisan ini tidak membicarakan tentang pelayanan pada client, tapi ada pelajaran bagus dari cerita di atas.
Pelajaran itu ada pada kata-kata si dokter Singapura untuk menyambut musibah yang dialami oleh penderita diabetes pada cerita di atas. “Yang penting you have to live with it.” Becanda kah si dokter? Atau meremehkan? Atau malah mengejek?
Tidak, tapi dokter itu memang benar untuk menyambut musibah dengan ceria. Apalagi musibah seumur hidup seperti penyakit diabetes.
Dalam buku La Tahzan, Dr ‘Aidh Al-Qarni (siapa yang tidak tahu buku itu, dan siapa yang tidak kenal beliau?) pada tulisan yang berjudul “Pendapat Orang-Orang Bijak Tentang Sabar” menulis: “Konon Anusyirwan pernah mengatakan, “semua ujian di dunia ini bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama, yang bisa dicari jalan keluarnya, yakni guncangan jiwa. Dan kedua, yang tidak bisa dicari jalan keluarnya. Yang ini sembuh justru dengan menyambutnya.” Menurut kalangan bijak bestari, “jalan keluar yang tidak memberikan jalan keluar adalah kesabaran.””
Karena diabetes mellitus – menurut dokter – tidak bisa dicari jalan keluarnya, maka menyambutnya dengan kesabaran itu jauh lebih baik. Kesabaran malah menjadi “jalan keluar” dari musibah yang tidak ada jalan keluarnya.
Diabetes mellitus hanyalah satu contoh. Ada banyak jenis musibah yang bila menimpa seseorang, maka seseorang itu harus hidup bersamanya. Misalnya cacat permanen. Dari namanya saja – permanen, kita harus hidup bersama cacat itu sepanjang hayat. Tapi silakan googling, ada banyak cerita tentang orang cacat yang berprestasi. Ada kisah tentang seorang buta di negeri kita yang karya seninya berupa ilustrasi musik dipakai oleh game Mario Bross dan Final fantasy. Dia bernama Ramaditya. Dan masih banyak cerita orang cacat yang berprestasi lainnya.
Musibah yang kita harus hidup bersamanya bukan sebatas pada penyakit. Ada banyak derita lain. Yang paling menarik adalah…. persoalan asmara. Nah lho…
Dalam bukunya “Catatan seorang ukhti: 4, Karena Cinta Harus Diupayakan”, ada kisah yang menarik tentang rasa cinta yang membekas dan tak mau hilang. Itu menimpa pada seorang wanita yang sudah berkeluarga selama (kalau tidak salah) 5 tahun (maaf saya tidak punya bukunya, cuma pernah baca saja
). Pada curhatnya dia mengaku tidak bahagia dalam rumah tangganya. Penyebabnya adalah perasaan cinta yang tidak bisa hilang kepada seorang lelaki yang bukan menjadi suaminya.
Menurut saya, perasaan cinta yang tidak bisa hilang itu seharusnya bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia. Kecuali kalau dipaksakan solusinya adalah hidup bersama orang yang dicintai. Tentu itu susah untuk diupayakan (kalau tidak mau dibilang tidak bisa). Dan selama wanita itu tidak hidup bersama pria yang dicintainya, ia tidak akan bisa bahagia.
Kalau perasaan itu sudah diupayakan untuk lenyap namun tidak kunjung hilang juga, maka kesabaran lah solusinya! Biarkan kesabaran - yang harus sudah ada sejak awal musibah - menemani perasaan itu, dan kita bisa fokus pada dunia nyata. Jangan biarkan perasaan itu tidak terkontrol oleh kesabaran hingga mengganggu dunia nyata kita.
Begitulah, ada banyak musibah lain yang kita harus hidup bersamanya. Bisa berupa kegagalan kita menggapai cita-cita dan kesempatan itu telah hilang. Mungkin kematian dari salah seorang yang kita cintai. Atau mungkin ada pembaca yang pada masa kecilnya pernah diperkosa (duh sadis banget contohnya). Biarkan musibah itu mengiringi kita, dan kita hadirkan kesabaran untuk melengkapinya. Selanjutnya, semua musibah itu tidak bisa menghalangi produktifitas kita.
Tetapi ingat, kesabaran harus sudah dihadirkan sejak awal musibah. ”Sesungguhnya yang namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)
Tetap semangat!!!
Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah (QS 70:5)
July 29, 2009
Allahu akbar… Allahu akbar…
Suara adzan isya’ mengudara dari sebuah musholla yang tidak jauh dari tempatkusedang menyantap sepiring nasi goreng. Tinggal beberapa suapan lagi, aku bergegas menghabiskan makan malamku itu. Panggilan dari musholla itu sangat penting.
Di tengah asyikku menyelesaikan makan malam, tiba-tiba terdengar bunyi memekakkan telinga. "Grooung… groooung… grooooung…". Segera aku menengok ke arah suara. Rupanya suara itu berasal dari bengkel yang berada 6 meter dari warung nasi goreng tempatku berada. Suara itu dikeluarkan oleh knalpot sebuah sepeda motor yang digeber gasnya. (Ya, itu bunyi knalpot motor digeber. Maaf kalau salah menuliskannya bunyi suaranya
).
Hati ku panas. Ada dua alasan yang membuat aku kesal. Pertama, tentu saja suaranya yang sangat mengganggu dan memekakkan telinga. Suara itu semakin lama semakin keras. Semakin keras suara itu, mungkin semakin membuat pemiliknya senang bukan main. Tapi kebalikannya denganku.
Kedua, karena suara itu mengganggu suara adzan yang sedang berkumandang. Penggeber gas motor itu sangat tidak sopan sekali kepada Allah SWT. Seharusnya dia mengerti adab ketika adzan dikumandangkan. Dan jauh lebih baik lagi apabila dia menjawab adzan itu.
Ya, memang orang yang di bengkel itu belum tentu seorang muslim. Andai kata dia seorang muslim, sangat disayangkan. Tapi kalau dia non muslim, sangat lebih baik apabila dia faham bahwa dalam Islam - agama mayoritas penduduk di mana ia hidup - ada adab dalam mendengarkan adzan, yaitu diam dan menjawab adzan. Untuknya, diam itu sudah cukup dan jangan membuat kegaduhan.
Saya pernah dalam sebuah perjalan dari daerah Sudirman Jakarta menuju Pasar Minggu menumpang bus metro mini 604. Di tengah perjalanan, naik lah seorang pengamen. Orang itu kemudian membawakan lagu diiringi gitar. Ketika sedang mengamen, terdengar suara adzan maghrib dari sebuah masjid di pinggir jalan. Spontan saja pengamen itu berhenti mengamen.
Subhanallah. Saya appreciate sekali dengan pengamen tersebut. Sikapnya yang sederhana itu patut menjadi pelajaran bagi para penumpang di dalam bus.
Mungkin karena kebodohan saya atau memang tidak ada, saya belum pernah mendapatkan hadits yang menyuruh kita diam apabila dikumandangkan adzan. Yang ada adalah hadits tentang menjawab adzan. Tetapi diam itu sendiri adalah adab ketika mendengar adzan. Karena untuk menjawab adzan, suara adzan itu harus terdengar jelas kalimat demi kalimatnya. Kalau dalam keadaan gaduh, adzan tidak begitu terdengar.
Adab mencerminkan akhlak kita. Ada adab dalam membaca Al-Qur’an, ada adab dalam berdo’a, juga ada adab dalam mendengar adzan. Perilaku kita semestinya sesuai dengan adab-adab tersebut untuk memperlihatkan pribadi yang berakhlak mulia.
Sedihnya, suara adzan di negara mayoritas berpenduduk Islam ini tidak saja dilecehkan oleh tindak-tindakan yang tidak sesuai dengan adab. Bahkan suaranya yang mengudara merdu tiap lima kali sehari itu juga mendapat gugatan dari sekelompok orang yang menganggap suara itu mengganggu masyarakat. Gilanya lagi, gugatan itu datang dari pemuda-pemudi Islam yang mengaku menjunjung tinggi toleransi.
Allahu’alam bish-showab.