March 17, 2010

Keberkahan di Ruang Tamu

Ada sebuah ruangan di rumah kita yang menyimpan potensi keberkahan yang besar apabila kita bisa memanfaatkannya. Ruangan apakah itu? Ya, ruang itu adalah ruang tamu (udah baca judulnya sih ya.)

Keberkahan itu muncul karena ada dua amal yang berhubungan dengan ruang tamu. Dan kedua amal itu Allah iming-imingi dengan balasan rezeki, keberkahan dan ampunan. Dua amal yang sering dilakukan di ruang tamu itu adalah: Bertamu/silaturahim dan Memuliakan Tamu.

Silaturahim

Acara silaturahim biasanya dilakukan di ruang tamu. Kalau kita mampir ke toilet rumah orang lain, itu namanya numpang buang air.

Ada banyak dalil yang memerintahkan kita untuk silaturahim. Salah satu diantaranya: Diriwayatkan dari Anas r.a., "Barangsiapa senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim" (Muttafaq Alaih)

Ada yang memberi penjelasan mengapa silaturahim dapat meluaskan rezeki. Karena silaturahim memperluas dan mengukuhkan relasi. Relasi itu penting dalam bisnis. Dengan relasi, maka kita mudah memasarkan produk atau memperkokoh jaringan bisnis.

Ya, itu salah satu hikmahnya. Sewaktu kecil, saya juga mendapatkan hikmah tersendiri dari silaturahim. Biasanya kalau saya silaturahim ke rumah om/tante/kakek, saya diberi uang saat hendak pulang. Lumayan :)

Kalau kita bersilaturahim dengan orang yang punya hubungan baik dengan kita, itu baik. Kita sebut dengan "memelihara silaturahim". Tapi di atas amal itu, ada yang lebih baik. Yaitu menyambung silaturahim. Apa definisinya? Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Orang yang menyambung silaturahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam hadits lain, ada seorang sahabat yang mengadu pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” (Muttafaq ‘alaihi).

Subhanallah besar sekali manfaat silaturahim, amal yang terlaksana di sebuah ruang dalam rumah yang disebut ruang tamu. Dengan catatan kalau tamunya disuruh masuk oleh empunya rumah. Kalau tidak disuruh masuk, walau pun di teras, tetap saja namanya silaturahim.

Memuliakan Tamu.

Memuliakan tamu, sebagaimana silaturahim, adalah bukti keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah saw bersabda "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik-baik saja atau hendaklah ia diam" (HR Bukhari Muslim)

Menarik dari hadits di atas, ada tiga hal yang disebut beriringan: memuliakan tamu, silaturahim, dan berkata baik. Kita bisa sambung dari tiga hal itu: dalam menyambut tamu dan bersilaturahim, hendaklah jaga perkataan baik, karena persaudaraan yang terjalin apik oleh silaturahim itu bisa terganggu oleh perkataan yang tidak baik.

Apabila tamu datang, jangan lah menggerutu karena takut rezki kita berkurang.  Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang tamu memasuki (rumah) suatu kaum, ia masuk dengan membawa rezekinya sendiri. Jika ia keluar (pulang), maka ia keluar dengan membawa ampunan bagi mereka".(Hr. Ad Dailami)

Bila kita anak kos, kemudian datang kawan untuk bertamu ke rumah, jangan ragu untuk mengambil sedikit uang kiriman orang tua untuk kita belikan kue atau minuman untuk kawan kita itu. Karena rezeki kita tidak akan berkurang. Makanan yang kita berikan itu menjadi amal bagi kita dan kemudian yang sesungguhnya terjadi adalah kita menyerahkan rezeki milik tamu kita itu tanpa mengurangi rezeki kita. Begitu yang dipahami dari hadits Ad-Dailami di atas.

Dan dari hadits di atas juga ada kabar gembira bagi yang mampu memuliakan tamu: ampunan dari Allah Azza wa Jalla. Itu lah keberkahan yang hadir dari ruang tamu bagi pemilik rumah.

Seorang sahabat mempunyai cara yang unik untuk memperoleh rahmat melalui amal memuliakan tamu. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmizi dan An Nasa’i dari Abu Hurairah, ia berkata:  “Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata: “Aku lapar”. Maka Rasulullah mengutus kepada istri-istrinya (menanyakan makanan), tapi tidak ada, beliau bersabda: “Adakah orang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini ? Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini akan diberi rahmat oleh Allah”. Berkata  seorang dari golongan Ansar (Abu Talhah): “Saya ya Rasulullah”. Maka ia pergi menemui istrinya dan berkata “Hormatilah tamu Rasulullah”. Istrinya menjawab: “Demi Allah tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak kita. Suaminya berkata: “Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini, agar kita dapat menjamu tamu Rasulullah”. Maka hal itu dilakukan istrinya. Pagi-pagi esoknya Abu Talhah menghadap Rasulullah SAW. menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda: “Allah SWT benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan kalian berdua.”

Rentang Waktu yang Wajar Dalam Menjaring Keberkahan

Ada batas waktu bertamu yang wajar yang dalam rentang waktu itu seorang muslim diperintahkan untuk memuliakan tamunya. Di luar batas waktu itu, dikhawatirkan tuan rumah mulai terbebani dan kebaikan silaturahim mulai luntur. Batas waktu itu adalah tiga hari. Rasulullah memerintahkan tuan rumah untuk memuliakan seorang tamu dalam waktu tiga hari itu.

Abu Syuraih khuwailid bin ‘Am ia berkata: "saya mendengar rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya pada saat istimewanya". Para sahabat bertanya: "wahai rasulullah, apakah saat istimewanya itu?, beliau bersabda: hari dan malam pertamanya, bertamu itu adalah tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari. Maka itu adalah sedekah". (HR bukhari dan Muslim)

Jadi, bagi pembaca yang terbiasa ‘ngambek’ dan ‘minggat’ dari rumah orang tua, jangan menyusahkan kawan tempat pelarian dengan menginap dalam waktu yang lama.

March 8, 2010

Lomba Penulisan Artikel Hikmah dan Renungan di MyQuran

Filed under: Santai....

Di MyQuran (lihat Rumah Baru Untuk MyQuran), saya diberi amanah untuk menjaga board Hikmah dan Renungan. Supaya board itu lebih hidup, saya mengadakan lomba penulisan artikel Hikmah dan Renungan.

Ini baru pertama kali saya mengadakan lomba. Hadiahnya dari kocek sendiri :D . Mungkin rekan2 blogger berminat untuk ikut serta? Hadiahnya jaket… ya… ada embel-embelnya sih, jaket myquran tepatnya.

Berikut ini pengumumannya yang saya posting di http://myquran.com/forum/showthread.php/6187-Lomba-Penulisan-Artikel-Hikmah-dan-Renungan

Assalamu’alaikum wr wb

Untuk memotivasi menulis rekan-rekan, saya selaku moderator Hikmah dan Renungan mengadakan kontes menulis artikel Hikmah dan Renungan. Berhadiah lho

- Untuk kali ini, tema tulisan mengenai "Merenungi Ketauladanan Rasulullah saw". Judulnya bebas, terserah peserta.

- Tulisan diposting pada thread baru, dan dipersilahkan untuk dikomentari oleh myqers yang lain.

- Tulisan haru asli buatan sendiri. Kalau ketahuan menyalin dari tulisan orang lain, maka akan di-diskualifikasi. (bener gak tulisannya begitu )

- Batas akhir kontes ini pada tanggal 5 April 2010. Setelah tanggal tersebut, thread baru yang dibuat tidak disertakan sebagai perlombaan.

- Sertakan tag [Kontes Menulis] sebelum judul thread. Misalnya "[Kontes Menulis] Mata Air yang Tak Pernah Habis"

- Pemenangnya ditentukan melalui penjurian. Pemenang akan diumumkan pada 12 April 2010.

- Nah… hadiahnya……. untuk event kali ini berupa jaket myquran.

Silakan kalau ada pertanyaan

February 2, 2010

Perhatikanlah Kekuasaan Ilahi

Dulu saya sering memperhatikan awan berarak bila sedang dirundung masalah. Kebetulan saya sempat kuliah di sebuah kampus yang terletak di atas bukit, yang dari bukit itu tampak pemandangan sebagian kota Padang, laut, dan hutan yang hijau. Sangat indah. Dari bukit itu, memperhatikan awan yang besar-besar bergerak dihembus angin merupakan penawar hati yang resah. Terbersit pikiran bahwa Dia swt berkuasa menggerakkan awan yang jauh lebih besar dari diri saya. Tentu saja Dia azza wa jalla berkuasa untuk menolong saya di setiap permasalahan saya.
Memperhatikan kebesaran Ilahi bisa menumbuhkan optimisme. Dengan catatan, itu bisa terjadi kalau kita berserah diri dalam segala urusan kepada Allah swt dan menjadikan-Nya tempat meminta pertolongan. Barang siapa yang bertakwa dan bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan keperluannya.

"… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS 65: 2-3)

Adalah Nabi Zakariya a.s., sempat kesulitan mendapatkan seorang anak. Padahal usianya sudah senja. Memiliki anak penting baginya untuk memiliki penerus dakwahnya. Orientasinya bukan meneruskan keturunan, tapi meneruskan perjuangan.

Sudah menjadi skenario Allah swt., ia a.s. terpilih untuk mengasuh Maryam, seorang anak yang telah dinadzarkan oleh orang tuanya - Imran - untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dibawah asuhan Nabi Zakariya a.s., Maryam tumbuh menjadi gadis yang sholehah.

Allah swt memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada Zakariya a.s. melalui Maryam. Suatu hari saat hendak menemui Maryam di mihrab, Zakariya melihat makanan berada di dekat Maryam. Entah dari mana datangnya makanan-makanan itu. Merasa heran, Zakariya a.s. bertanya pada Maryam asal-usul makanan itu. "Makanan itu dari sisi Allah." Jawab Maryam. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Nabi Zakariya a.s. telah melihat kebesaran Ilahi. Hal seperti itu menumbuhkan optimisme-nya sehingga mantap ia berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
 
Melihat kebesaran Ilahi bisa menambah keyakinan. Doa Nabi Zakariya ini sudah dijawab oleh Allah swt. Jibril sudah mengabari bahwa Nabi Zakariya a.s. akan dianugerahi seorang anak bernama Yahya. Tapi Nabi Zakariya masih bertanya, "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?." Maka Allah memberi tanda dengan tidak dapatnya Nabi Zakariya a.s. bercakap-cakap dengan orang lain selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan itu juga merupakan tanda kebesaran Allah swt.

Kisah seperti ini bisa kita temui dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 36-41.

Nabi Ibrahim a.s., sang Kekasih Allah, masih butuh untuk melihat kebesaran Ilahi. "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)" (QS 2:260) Begitu alasan Ibrahim a.s. ketika ia meminta Tuhan untuk memperlihatkannya bagaimana Tuhan menghidupkan orang yang mati. Bila seorang nabi masih butuh untuk menyaksikan kebesaran Allah swt sebagai penguat imannya, maka bagaimana dengan kita?

Allah swt telah menyuruh kita memperhatikan kebesaran-Nya. Salah satu peristiwa yang sering dipaparkan dalam Al-Quran adalah tentang hujan yang menumbuhkan bumi yang mati. Salah satunya dalam surat Ar-Rum (30) ayat 48-50

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Merenungi fenomena hujan yang menghidupkan bumi yang mati itu cukup efektif untuk memelihara optimisme kita. Bumi yang mati itu seolah-olah hati kita yang sudah berputus asa. Tapi pertolongan Allah membuat hati kita hidup lagi. Ceria lagi. Kita pun menyadari bahwa tak ada gunanya putus asa itu.

Dan tak perlu jauh-jauh untuk memperhatikan kebesaran Ilahi. Firman Allah swt: "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.  dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS 50: 20-21)

Saya yakin bahwa masing-masing kita memiliki pengalaman saat doa kita dikabulkan. Itu cukup menjadi amunisi untuk meyakini bahwa Allah swt maha luas rahmat-Nya untuk menolong setiap permasalahan kita. Sebenarnya, masalah yang menimpa kita itu juga merupakan tanda kebesaran Ilahi. Dan Allah memperlihatkan kebesarannya melalui masalah yang menimpa kita, bukan untuk membuat kita menyerah. Justru menjadi sarana kita untuk semakin merendahkan diri kepada Allah swt dan meminta datangnya kekuasaan-Nya yang lain, yaitu jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

 
*****
 
Tulisan terkait : Bersabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya
 
January 22, 2010

Pelajaran Dari Hendri Mulyadi

Pertandingan sudah memasuki menit ke 80. Tim Nasional Indonesia masih tertinggal 2-1. Penonton frustasi. Umpan yang salah, kontrol bola yang tidak cermat, dribling yang mudah dipatahkan, semua itu membuat penonton gemas kepada pemain Tim Nasional Sepak Bola Indonesia.

Gregetan. Gemas tak tertahankan. Akhirnya di injury-time, seseorang nekat menembus barisan keamanan dan tiba-tiba muncul di tengah lapangan. Entah bagaimana akhirnya orang itu bisa menguasai bola. Para pemain hanya terpaku melihat lapangan yang sudah terkontaminasi penonton. Orang itu terus menggiring bola menuju ke gawang tim Oman. Hingga ia tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Oman. Ia tendang bola itu ke arah gawang, melampiaskan seluruh kekesalan dan kekecewaannya. Sayang, kiper Oman mampu menangkap bola sepakannya.

Nama orang itu Hendri Mulyadi. Sejak itu ia menjadi perbincangan publik. Ada yang bilang ia pantas masuk timnas, sampai ada yang mendukung ia menjadi ketua PSSI menggantikan Nurdin Halid.

Tulisan ini tidak akan membicarakan pesepakbolaan Indonesia. Karena cukup pahit bagi saya untuk membicarakan itu. Tapi ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari peristiwa Hendri Mulyadi. Pelajaran yang bisa diterapkan di semua hal.

Pelajaran itu pelajaran yang sangat sederhana.

Jujur saja, sangat sering kita terjebak menjadi pengamat/penilai/pengomentar yang gagah. Tidak membanggakan kok hal itu. Memang mengomentari itu hal yang mudah. Tinggal lihat sepintas, lalu beri nilai dengan apa yang terlintas di kepala kita. Objektif atau subjektif, tak masalah.

Termasuk memberikan komentar yang negatif -  dan itu berbeda dengan kritik membangun, sangat mudah. Apalagi hasil karya manusia tidak ada yang sempurna. Maka peluang memberikan komentar yang negatif itu sangat besar.

Bahayanya, apabila komentar negatif itu mengantarkan kita pada kesombongan. Atau memang lahir dari sikap sombong. Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” (Al-Hadits) (Saya membawa hadits ini tidak untuk memvonis siapa pun, termasuk Hendri Mulyadi. Ini cuma wanti-wanti saya kepada pembaca, agar jangan sampai komentar negatif, cela, hujat, dsb itu menjerumuskan/lahir dari sikap sombong).

Hendri Mulyadi mengaku kecewa pada timnas. Itulah yang mengatarkannya memasuki lapangan sepakbola. Bukan cuma Hendri Mulyadi saja, tapi semua warga Indonesia yang menonton pertandingan itu - termasuk saya - saya rasa akan gemas kepada timnas.

Akhirnya banyak yang berkomentar negatif kepada pemain. Tapi apakah mereka merasa bahwa bila mereka yang bermain, maka keadaan akan lebih baik? Hendri Mulyadi, salah seorang yang kecewa, telah membuktikan bahwa kenyataannya ia pun tidak sanggup membobol gawang Oman. Saat itu posisinya tinggal satu lawan satu dengan kiper Oman. Tapi tetap saja ia gagal menceploskan bola ke dalam gawang.

Akhirnya, orang-orang cuma menjadi komentator yang gagah, dan entah sadar atau tidak, mereka pun belum tentu bisa membalikkan keadaan apabila mereka berada dalam lapangan.

Peristiwa Hendri Mulyadi seharusnya bisa membuka mata kita bahwa kita belum tentu bisa melakukan yang lebih baik dari apa yang kita komentari. Untuk setiap hal. Supaya kita tidak tergelincir pada perasaan sombong.

Jangan mudah berkomentar buruk atas karya orang lain, belum tentu kita bisa menghasilkan karya yang lebih baik dari karya tersebut. Jangan mudah berkomentar buruk atas perilaku orang lain, siapa tau perilaku kita malah lebih buruk. Dan banyak hal lainnya… Lihat siapa kita sebelum berkomentar :)

****

Note: Berkomentar buruk itu berbeda dengan kritik membangun. Pada dasarnya mencela, menghujat, dsb itu tidak baik. Tetapi mengkritik dengan semangat yang positif, itu bukan termasuk komentar negatif. Beda :)

Saya menaruh hormat pada Hendri, malah salut atas keberaniannya. Tidak ada maksud merendahkan dia dalam tulisan ini. Semoga pesan saya sampai kepada pembaca. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

*****

Tulisan Terkait: Ceng-ceng-an

January 13, 2010

Materi

Lama gak ngapdet blog. Akhirnya aku mengalami juga, perasaan jenuh. Well… untuk memancing semangat nulis, aku posting tulisan yang repost. Ya, tulisan di bawah udah pernah di posting sih di blog ini juga. Aku posting ulang dengan sedikit perubahan. Biarin… namanya juga lagi jenuh. Suka-suka :D

*****

Di depan kelas kini sudah berdiri Pak Amrizal yang akan mengajarkan pelajaran kimia. Pak Amrizal itu pun kemudian menuliskan tulisan “Materi” ke papan tulis.

“Baik anak-anak, sekarang kita belajar mengenai materi.” Ujar pak Amrizal setelah mengucapkan salam.

“Seperti telah diulas sedikit pada pertemuan terakhir, bahwa materi adalah sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Sekarang, siapa yang tahu contoh materi ini?”

Karena khawatir terhadap budaya cemooh-nya Indonesia yang begitu kental, maka tak seorang anak pun yang mau menjawab.

“Baiklah kalau tidak ada yang mau menjawab. Bapak akan panggil melalui absen.” Pak Amrizal mengambil absen untuk kemudian menyebut sebuah nama, “Syafrie!”

“Contoh materi itu… mmmm… ya materai, Pak.”

“Materai?”

“Iya, yang kayak prangko itu lho.”

“Oke deh, ananda… Baik, nomor absent 24, Hafidz Alyusra, apa lagi contoh materi?”

“Materazzi Pak!” Jawab Hafidz yang gila bola.

“Apa itu?”

“Pemain belakang Inter Milan, Pak.”

“Oooh, jadi Materazzi itu mewakili manusia. Ya, manusia itu memang materi. Sekarang… Imam Taufik. Apalagi contoh materi?”

“Cewek Matre, Pak.”

“Lho, manusia kan udah disebut. Yang laen dong.”

“Oh ya, duit Pak.”

“Baik-baik. Tampaknya kalian sudah mengerti apa itu materi. Jadi…”

“Pak, kalau materi itu memiliki massa dan menempati ruang, maka ada suatu benda yang sangat cocok dan paling cocok disebut materi.” Interupsi Hamzatil Frengki.

“Apa itu?”

“Kursi, Pak.”

“Oh ya. Kursi memang termasuk materi. Tapi dari mana kamu berkesimpulan bahwa kursi paling cocok dikatakan materi.”

“Karena kursi memiliki massa pak. Coba, orang kalo mau dapet kursi, misalnya untuk pemilihan gubernur, dia kasak-kusuk cari massa. Rela menghabiskan uang bermilyar-milyar membuat spanduk, pamflet, dan lain sebagainya. Apalagi musim kampanye dan pemilu. Banyak yang ribut cari masa supaya dia dapet kursi di DPR atau pun DPD. Pokoknya, kursi itu memiliki masa deh.

Dan kursi itu juga menempati ruang lho. Baik ruang MPR, ruang DPR plus terdakwa, ruang Gubernur, ruang DPRD, sampe ruangan yang bernama hati. Kalo di ruangan hati itu, jelas banyak orang yang memiliki hati yang ditempati kursi. Nggak peduli itu politikus, tukang becak yang mimpi jadi gubernur, sampe aktifis dakwah sekali pun. Banyak juga yang hatinya ditempati kursi.”

“Mmm… ya, ya… benar kata-kata mu, Nak. Memang kursi itu benar-benar memiliki massa dan menempati ruang. Kursi memang sebuah materi. Menurutmu, bagaimana dengan kursi Allah, apakah materi?”

“Jelas. Kursi Allah kan dalam ayat kursi dikatakan terdiri dari langit dan bumi. Hitung aja sama bapak sendiri berapa massanya langit dan bumi. Juga menempati ruang, yaitu jagad raya ini. Nah, kursi Allah ini sebenarnya lebih besar dari kursi-kursi yang ada. Tetapi nggak ngerti kenapa kok banyak yang nggak nyadar, bahwa ia berada di kursi Allah. Bukannya memuji Allah Yang Memiliki Kursi yang Agung, eh tapi dia rebutan kursi yang cuma berapa hari saja jangka waktunya. Seharusnya orang-orang pencari massa dan ingin menempati ruang ini membaca ayat kursi minimal dua kali sehari, pagi dan petang.”

“SubhanaLlah. Bagus sekali paparanmu tentang kursi. Lalu tentang materi, bagaimana menurutmu Frengki?”

“Wah, sebenarnya materi itu udah dijadikan sembahan, Pak. Tanyain aja ke orang-orang, apa tujuan hidup kamu? Paling jawabnya pingin punya rumah gede lah, punya uang banyak lah. Yah, semua itu kan cuma materi. Padahal, ketika manusia sudah pindah ke alam baka’, sudah tidak ada lagi HP yang menempati ruang, CD Meteor Garden, baju, bola, game, semuanya tidak menempati ruang kecuali amal soleh yang berwujud kawan kita kelak. Amal soleh itulah yang menjadi materi ketika kita di alam baqa’. Seharusnya manusia mencari materi berupa amal soleh itu, Pak. Sekali pun di dunia tidak memiliki massa dan menempati ruang, tetapi pahala itu menempati ruang di alam kubur, dan memiliki massa di jembatan timbangan kelak.”

“Ya… ya… ya. Betul kata kamu Frengki.

Materi yang sejati adalah amal soleh. Menempati ruang ketika kita di kubur nanti dan memiliki massa ketika kita ditimbang oleh Allah kelak. SubhanaLlah.

Baik, kita akan meneruskan pandangan materi ini dari prespektif kimia…”

December 17, 2009

Hijrah

Realistis, bukan menyerah. Dakwah untuk semua manusia, bukan cuma untuk masyarakat Mekkah. Bila di sana masyarakat tak mau menerima, sedangkan di tempat lain ada tangan-tangan terbuka menerima dakwah, untuk apa ‘ngotot’ tetap berada di sana? Hijrah adalah sikap yang realistis. Bukan sikap gampang menyerah, juga bukan sikap keras kepala.

Seorang sales tentu tidak akan memaksakan diri menjajakan jualannya pada seseorang yang sudah menolaknya. Ketika ia berpaling dari orang tersebut dan berupaya menggaet pembeli lain, berarti ia sedang menuju pada kesuksesan dan tidak akan pernah diartikan ‘menyerah’.

Justru yang menyerah adalah yang bertahan dalam lingkungan yang zhalim. Padahal bumi ini luas. Kemenangan adalah saat kita mampu menyelamatkan diri dari kezhaliman dengan cara yang elegan.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." (QS 4:97)

Bergerak, bukannya stagnan. Hijrah adalah suatu terobosan menghindari keadaan yang jumud (mandeg). Hijrah adalah manuver yang ter-skema dengan apik. Pendelegasian  seorang pembuka dakwah sebelum hijrah merupakan langkah yang brilian. Bahkan pilihan pada siapa yang akan menjalankan tugas, adalah pilihan yang sangat jitu. Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda tampan yang keluar dari kehidupan borjuis menuju Islam, mampu memainkan peran dengan sukses. Dan Rasulullah pun dengan mulus melanjutkan manuvernya: hijrah ke Madinah.

Hijrah, manuver yang sama yang sudah diusulkan oleh seorang ‘alim kepada pembunuh 100 manusia. Sebelumnya, pembunuh itu berkonsultasi pada seorang Rahib mengenai kemungkinannya bertaubat. Tapi Rahib itu malah memvonis bahwa taubatnya tak kan diterima. Ia bunuh Rahib itu untuk menggenapkan 100 orang korbannya. Selanjutnya ia berkonsultasi pada seorang ‘alim yang penuh ilmu. Orang ‘alim itu menyuruhnya hijrah menuju kampung yang diisi orang-orang baik, meninggalkan kampung yang berisi orang-orang jahat. Itulah manuver elegan menuju kemenangan: Hijrah.

Konsistensi, bukannya tidak setia. Konsistensi harusnya hanyalah pada kebaikan, bukan pada keburukan. Dan untuk para Nabi dan pada da’i (du’at), kesetiaan hanyalah pada dakwah, bukan pada objek dakwah. Sekalipun objek dakwah itu kita cintai. Karena itu, hijrah adalah sikap konsisten untuk berdakwah secara berkesinambungan. Kalau objek dakwah menolak, maka demi menjaga kontinuitas dakwah, beralihlah pada mereka yang siap menerima dakwah. Karena kalau dipaksakan, dakwah tidak akan berkembang dan akan stagnan.

Rasulullah saw sangat mencintai kota Mekkah. Tapi kesetiaan pada dakwah membuatnya untuk patuh pada perintah Allah swt: Hijrah ke Madinah. Dan Rasulullah pun menempatkan sikap konsistennya pada tempat yang tepat.

Cinta tidak menjamin hidayah itu tertransfer mulus. "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS 28:56) Kisah Abu Thalib telah membuktikan ayat ini. Karena itu, Ibrahim a.s. bukan lah tidak setia ketika ia meninggalkan bapaknya, Adzar. Ia mencintai bapaknya. Tapi demi dakwah, ia harus hijrah untuk menemukan lingkungan yang siap menerima dakwah. Ia setia pada dakwah.

Hijrah adalah konsistensi, manuver, dan kemenangan. Ketika Nabi Yunus a.s. pergi dalam keadaan marah meninggalkan kaumnya, itu bukan bentuk Hijrah. Karena Hijrah adalah manuver yang penuh perhitungan, bukan berlandaskan emosi. Hijrah adalah konsistensi, bukan berlandaskan ketidak-setiaan untuk terus membimbing umat dengan sabar. Hijrah adalah kemenangan, bukan menyerah kalah padahal Allah belum memerintahkan untuk hijrah. Saat para Nabi hijrah meninggalkan kaumnya, itu karena Allah telah memerintahkan begitu. Biasanya karena akan ada adzab untuk kaum tersebut.

Hijrah meninggalkan kemaksiatan pada kebaikan, adalah sebuah kemenangan, manuver, dan kesetiaan pada kebaikan.

—–

Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari jadikan momentum tahun baru ini untuk bermuhasabah. Dan mari hijrah pada menuju yang lebih baik. Dari dunia yang buruk menuju dunia yang baik. Atau dunia yang sudah baik menuju dunia yang lebih baik lagi :)

December 8, 2009

Sebelum Menyalahkan

Kisah ini aku dapat ketika kecil dari orang tuaku.

Sebut saja namanya Badin. Perawakannya pendek, kekar, dan berkumis lebat. Dengan perawakan seperti itu, tentu saja muncul image kalau orang ini galak. Tapi sebenarnya si Badin adalah seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Ia punya kebiasaan menciumi anak-anaknya tiap pagi. Anak-anaknya berjumlah 4 orang, yang paling besar berumur 12 tahun.

Di suatu pagi yang cukup dingin - habis hujan malam tadi - Badin merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. Maka buru-buru ia pergi ke jamban yang berada di belakang rumah - terpisah dari bangunan inti rumahnya.

Beberapa saat setelah mengambil posisi yang nyaman untuk mengobati sakit perutnya di jamban, ia kedatangan seekor lalat hijau, hendak menemaninya di jamban. Karena lalat itu bertengger di hidung, Badin merasa agak terganggu dengan lalat itu. Dalam posisi jongkok, ia keluarkan jurus silat untuk menyerang lalat tersebut. Tapi karena kuda-kudanya tidak baik, Badin terjembab sendiri dan kondisi jamban menjadi berantakan dan tidak etis untuk diceritakan di sini.

Selesai dari jamban, Badin memulai kebiasaan paginya: menemui anak-anaknya di kamar mereka masing-masing. Ia bangunkan anak-anaknya untuk sekolah sembari menciuminya. Dimulai dari putra pertama yang masih nikmat terlelap. Badin membangunkannya sembari menggelitiki & mencium anak pertamanya itu. Tapi… Badin merasakan ada yang salah. "Mmmhh… Kamu bau kotoran. Cepat lah kamu Mandi, bersihkan badan kamu lalu berangkat ke sekolah. Tadi malam buang air ya? Ceboknya tidak bersih?" Ujar Badin.

Tak lama anak pertamanya bangun dan segera ke kamar mandi.

Kemudian Badin menghampiri putra kedua. Ia membangunkan anaknya sembari mencandai & menciuminya. Lagi, ia menemukan bau yang tidak sedap pada anaknya. "Mmmhh.. Kamu sama dengan kakak kamu. Bau kotoran. Segera lah mandi, bersihkan badan kamu dan berangkat ke sekolah."

Setelah anak keduanya bersiap untuk mandi, Badin kemudian membangunkan anak ketiganya. Seorang putri berumur 8 tahun. Dan lagi-lagi Badin membaui suatu yang tidak enak pada putrinya. Badin pun menyuruh putrinya itu mandi.

"Ada yang salah…" pikir Badin. Ia pun menemui istrinya untuk bertanya mengapa anak-anaknya bau kotoran. Dan setelah ia selesai mengadu masalah anak-anaknya pada istrinya, istrinya malah berkata, "Pak, ada apa di kumismu?"

"Di kumisku?"

"Iya, ada sesuatu berwarna kuning."

Badin pun meraba kumisnya di tempat yang ditunjuk oleh istrinya. Rupanya…

"Kotoran… Ya ampun… mungkin karena di jamban tadi…" Ujar Badin.

*****

Maaf kalau rada jorok ceritanya. Tapi ada moral story yang sangat dalam dari cerita ini.

Kawan, sadar atau tidak, kita sering menjadi tokoh seperti si Badin ini. Mudah menyalahkan orang lain atas suatu peristiwa, yang sebenarnya justru kesalahan ada pada diri kita sendiri.

Saat macet di jalan raya, sering seorang pengemudi kendaraan pribadi menyalahkan polisi atau pemerintah. Padahal, entah ia sadari atau tidak, kemacetan itu karena jumlah kendaraan yang terlampau banyak memenuhi jalan raya. Dan ia menjadi salah satu penyebabnya ketika ia memilih kendaraan pribadi daripada menggunakan kendaraan umum.

Ketika banjir, masyarakat menyalahkan pemerintah. Padahal penyebab banjir itu salah satunya adalah karena sampah. Dan masyarakat pula yang membuang sampah sembarangan.

Yang lebih tragis, bila seorang hamba menyalahkan Allah swt atas musibah yang ia derita. Padahal Allah swt telah berfirman, "Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri" An-Nisa : 79.

Karena itu, ingatlah petuah Ebiet G Ade dalam lirik lagunya, "Tengok lah ke dalam sebelum bicara…"

December 2, 2009

Rumah Baru Untuk MyQuran

Filed under: Santai...., Orat Oret

MyQuran adalah sebuah komunitas muslim Indonesia. Memang bukan sebuah organisasi yang punya kepengurusan yang saklek, tapi komunitas MyQuran sudah mulai rapi. Ada jabatan presiden dan wakil presiden. Dan tiap daerah punya korwil (Kordinator Wilayah) sendiri, seperti korwil jabotabek, korwil Bandung, korwil Malang, korwil Surabaya, dsb.

Komunitas ini eksis di dunia maya. Ada forum diskusi yang mewadahi komunitas ini. Lebih dari tiga tahun terakhir, komunitas myquran terwadahi di alamat http://myquran.org/forum/. Kini, ada rumah baru untuk myquran, yaitu http://myquran.com/forum Ganti domain, dari .org ke .com

Di rumah baru ini, ada perubahan beberapa board.

Yuk, kita join di forum myquran untuk menambah wawasan keislaman serta dan menjalin persaudaraan :)

November 25, 2009

Ketauladanan Ibrahim a.s.

 
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis.

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. "Mengapa harus memberikan sesaji"? "Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria"? Atau bahkan, "Mengapa harus tunduk kepada orang tua"?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. "Kenapa patung"? Dan pertanyaan itu mengantarnya pada pengelanaan menakjubkan dalam mencari Tuhan. Ia lihat bintang dan takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia lihat Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia lihat mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Dan Ibrahim telah membuktikan. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, ""Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan "apakah Tuhan itu ada", kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas.

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Dan Ibrahim a.s. begitu kreatif dalam membuat parodi ketika ia a.s. menghancurkan patung-patung kaumnya dan membiarkan sebuah patung besar. Dan patung itu dibuat seakan-akan menjadi pelaku karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti, kapak, pada patung terbesar itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata2 yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis "bakar hidup-hidup" dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Mungkin tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., tapi mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan anak. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."" (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia "lucu-lucunya". Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. " Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar - istri Ibrahim a.s. - dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh Ibrahim a.s. meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin Tuhannya tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran itu adalah kekhawatiran seorang bapak pada anaknya. Ibrahim a.s. khawatir bila anaknya sepeninggalnya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-QUr’an, "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapannya yang diabadikan dalam Al-Qur’an: "Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."" (QS 60:4)

 
—–
 
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H :)
November 16, 2009

Karena Hati Ini Telah Lapang

Ada dua kenikmatan yang bertolak belakang di waktu malam: Kenikmatan di dunia gemerlap (dugem), begitu orang-orang menyebutnya; dan kenikmatan di sepertiga akhir malam yang dirasakan oleh pelaku tahajud. Kenikmatan yang pertama mudah dirasakan, sedangkan kenikmatan kedua perlu waktu dan perjalanan yang panjang untuk merasakan nikmatnya.

Di siang hari yang terik, ada dua kenikmatan yang juga bertolak belakang. Satu kenikmatan di cafe-cafe dan tempat makan, satu kenikmatan orang yang tengah menahan lapar dan dahaga dalam shoumnya.

Kenikmatan yang kedua sering tidak dimengerti oleh orang lain.

Saya pernah mendengar kisah tentang dialog seorang penikmat dunia dengan seorang sahabat Al-Qur’an (shohibul Qur’an), yang kurang lebih dialognya seperti ini: "Kenapa kamu menghabiskan waktu dengan Al-Qur’an? Lebih baik kamu mendalami ilmu-ilmu dunia agar wawasan kamu bertambah." Ujar si penikmat dunia.

"Wah, saya kalau sehari saja tidak membaca Al-Qur’an, rasanya hidup ini tidak nikmat." Ujar shohibul Qur’an

"Bagaimana mungkin?" Penikmat dunia tidak mengerti dan tidak percaya.

"Akan susah saya menerangkan kenikmatan itu kepada anda, seperti ibaratnya menerangkan kenikmatan pernikahan pada anak yang belum baligh." Pungkas shohibul Qur’an.

Maka tidak mengherankan apabila di suatu tempat masyarakatnya begitu antusias menyambut perda syari’at, sedangkan di tempat lain orang-orang terperangah dan tidak habis pikir bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada yang ingin hidup di bawah naungan syari’at. "Kembali ke zaman batu" pikirnya. Begitulah, ada kenikmatan yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang.

Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125 sudah menerangkan hal ini, "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."

Kelapangan dada dalam Islam lah yang dimiliki oleh pelaku tahajud, pecinta shoum sunnah, shohibul Qur’an, dan masyarakat yang menerima syariat. Kelapangan dada itu tidak dimiliki oleh pecinta dunia. Melihat kenikmatan-kenikmatan itu saja mereka sudah terasa sesak dadanya dan sulit untuk mereka mengerti bahwa ada kenikmatan di balik itu.

Ulama salaf pun berkata mengenai kenikmatan hidup di bawah naungan Islam: "Seandainya para raja itu tahu kenikmatan yang kami rasakan, tentu mereka akan merebutnya dengan pedang mereka."

Memang ada gap yang besar antara penikmat dunia dan pecinta akhirat. Yang pertama berada di wilayah lembah, sedangkan yang kedua ada di wilayah pegunungan. Untuk ke lembah, tak terlalu besar energi terkuras. Tapi untuk beralih ke wilayah pecinta akhirat, ada tebing tinggi yang perlu ditaklukan. Ada jalan yang mendaki dan sukar. Al-Aqobah. Allah menyebutnya dalam surat Al-balad: "Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar." (QS Al-Balad (90) : 11)

Tetapi setelah berada di pegunungan tinggi itu, maka ungkapan seperti ini terasa masuk di akal:

“Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat “ (H.R. Abu Dawud)

November 9, 2009

“Kenapa ya Allah?”

Tak perlu bersusah payah untuk menguraikan berbagai kebaikan yang didapat dari sebuah nikmat. Tetapi bila datang sebuah musibah, hanya sedikit orang yang bisa mengambil hikmah di baliknya.

"Kenapa ya Allah?" Sebenarnya untuk apa pertanyaan seperti itu? Bukan Ia yang akan ditanyai, tapi manusia. "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai" (QS 21:23). Kalau tidak mampu menjabarkan hikmah yang didapat dari musibah, tak cukupkah berbaik sangka kepada Allah? ("Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku," Hadits Qudsi). Sehingga bila kita yakini Allah memberikan kebaikan di balik musibah, maka Allah akan menuruti prasangka kita - insya Allah.

Wajar bila manusia tidak mengerti kebijaksanaan Allah dibalik musibah. Karena manusia hanya diberi sedikit pengetahuan (QS Al-Isra’:85). Tapi yang keterlaluan adalah bila manusia mencoba menggurui Allah SWT. "Kok rusak sih, ya Allah? HP ini kan untuk keperluan dakwah juga!" "Ya Allah, terlalu cepat Engkau memanggil dia." Atau bahkan memvonis Allah ta’ala. "Engkau sudah tak sayang aku lagi, ya Allah…" Ah… manusia memang sering keterlaluan.

Subhanallah, Maha Suci Allah. Allah Maha Suci dari berbagai keburukan. Tak pantas ia dituduh begini begitu hanya karena kebodohan kita tak mampu memaknai musibah.

Dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan tentang iman kepada qadar yang baik dan buruk: "Tiada keburukan dalam perbuatan Allah. Semua amal perbuatan Allah adalah baik dan bijaksana. Akan tetapi, keburukan itu pada apa-apa (objek) yang dilakukan dan apa-apa yang diberi ketentuan. Oleh sebab itu, Nabi Shalallahu Alaihi wa salam bersabda, "Sesuatu yang buruk tidak ditujukan kepada-Mu." (HR Muslim)"

*****

Manusia cuma bisa mencoba menyelidiki latar belakang kebijaksanaan atas suatu keputusan Allah swt, dengan segala keterbatasan ilmunya. Tapi manusia tidak akan bisa memastikan hasil penyelidikan itu.

Perintah sholat 5 waktu sedikit banyak akan membebani seorang muslim. Begitu juga perintah zakat, puasa, haji, jihad, silaturahim, dsb. Tetapi orang yang beriman tak pernah berhenti menarik hikmah di balik semua perintah itu. Contohnya pada sholat subuh, orang-orang akan menguraikan betapa sholat subuh itu baik untuk kesehatan, bisa berfungsi sebagai kontemplasi, dsb. Sungguh pun begitu, tetap tidak akan bisa menjawab secara pasti mengapa Allah memerintahkan sholat subuh.

Pada akhirnya, husnuzhon billah (berbaik sangka pada Allah) adalah muara penghambaan yang hakiki. Baik hukum syar’i (sholat, puasa, zakat, dsb) maupun hukum kauni (setiap peristiwa yang Allah kehendak pada manusia) pasti ada kebijaksanaan Allah swt di balik itu semua.

Masih dalam syarah Aqidah Al-Wasithiyah, "Perhatikan kebijaksanaan Allah dalam hukum kauni-Nya, dimana Dia ta’ala menimpakan berbagai musibah besar kepada manusia untuk berbagai tujuan yang mulia. Seperti firman Allah ta’ala,

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)" (QS Ar-Ruum: 41)."

Dalam ayat ini ada sanggahan atas ucapan orang yang mengatakan "Sesungguhnya hukum-hukum Allah itu bukan atas dasar kebijaksanaan, tetapi sekedar karena kehendak-Nya."

*****

Keimanan menghasilkan ketenangan. Dalam menjalakan hukum syar’i, iman yang kuat menjalaninya dengan mantap karena keyakinan bahwa itu semua telah Allah gariskan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam menerima setiap peristiwa (hukum kauni), segalanya baik karena ada keyakinan bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap perbuatan-Nya. "Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Dan masih dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Sholih Utsaimin menjelaskan: "Firman Allah ta’ala "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (At-Tiin:8); mencakup hukum kauni dan syar’i. Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana dengan hukum kauni dan hukum syar’i. Dia Ta’ala juga teliti terhadapnya. Maka masing-masing dari dua hukum itu sejalan dengan hikmah ‘kebijaksanaan’.

Akan tetapi sebagian hikmah itu kita mengetahuinya dan sebagian lagi kita tidak mengetahuinya, karena Allah ta’ala berfirman:
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit." (QS Al-Isra’: 85)

Kemudian hikmah ‘kebijaksanaan’ itu ada dua macam:
1. Kebijaksanaan dalam kondisi sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keadaannya. Seperti keadaan sholat. Seperti keadaan sholat. Dia adalah ibadah besar yang didahului dengan bersuci dari hadats dan najis dan dialaksanakan dengan gerakan tertentu berupa berdiri, duduk, ruku’, dan sujud. Juga seperti zakat. Dia adalah ibadah demi Allah dengan menunaikan sebagian harta yang berkembang pada umumnya kepada orang yagn sangat membutuhkan ekpadanya. Atau pda kaum muslimin ada hajat kepada mereka serti sebagian orang-orang mu’allaf.

2. Kebijaksanaan dalam suatu tujuan hukum. Di mana semua hukum Allah ta’ala memiliki tujuan-tujuan mulia dan buah-buah yang terpuji."

Begitulah. Di dalam perintah sholat, semua syarat dan rukunnya adalah bentuk kebijaksanaan Allah swt. Dan kebijaksanaan Allah juga terdapat dalam tujuan Allah memerintahkan sholat kepada manusia.

Hikmah kebijaksanaan itu ada yang dikabari-Nya, seperti dalam firman-Nya: "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179) Dan juga ada yang tidak dikabari, namun orang yang berakal mampu menjabarkannya dengan baik.

Husnuzhon-lah kepada Allah swt. Tak perlu nada protes menjerit, "Kenapa ya Allah?"

November 2, 2009

Tuntutan Untuk Luki

Sebelumnya mohon maaf bila tulisan ini tidak berkenan. Niat saya untuk kebaikan :)

—- *** —-

Nafas Luki terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Dan seseorang tengah mendekatinya. Saat melihat orang tersebut, Luki berteriak, "Aduh… Siapa lagi kamu?"

"Aku Rika. Ingin menuntut atas kezholiman yang kau lakukan semasa kau hidup." Jawab orang itu.

"Ah… Tidak… Celaka aku." Luki kembali berteriak.

Orang yang datang pada Luki itu adalah orang yang ke-2130 yang menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki semasa hidup. Saat ini yaumil hisab, hari pembalasan. Semua kasus dan masalah dipersidangkan secara adil. Termasuk siapa yang pernah dizholimi, berhak menuntut keadilan atas pelaku kezholiman.

Luki sebenarnya jarang menghina orang. Hanya 3% orang yang telah menuntutnya karena penghinaan. Untuk menggunjing orang, agak banyak. Ada 10%. Tapi yang dominan adalah kezholiman atas aktifitas merokok, sebesar 80%. Ya. Kebanyakan orang yang telah datang pada Luki adalah orang yang dirugikan karena asap rokok Luki.

Luki memang suka merokok sembarangan semasa hidupnya. Dia tidak merasa canggung untuk menghembuskan asap rokok memenuhi ruangan angkutan umum sekalipun di angkot itu ada orang lain selain dirinya. Di tempat terbuka seperti pasar, taman, dan lainnya, ia juga sering membuat orang mengipas-ngipas mukanya untuk menghalau asap rokok yang dikeluarkan Luki. Orang-orang itu merasa terzholimi.

Kalau ada yang menegur, kadang memang Luki bersikap sopan dengan langsung mematikan rokoknya. Tapi kadang ia juga cuek, sehingga membuat orang yang tidak diindahkan oleh Luki itu merasa makin terzholimi.

Luki sempat berdalih, bahwa kezholimannya tidak begitu parah karena cuma menghadirkan gangguan bagi yang terkena asap rokok. Tapi dalihnya tertolak, karena bukan cuma asap, tapi juga racun yang dikandung oleh asap rokoknya yang membuat orang terzholimi. Sedikit atau banyak, ia tetap menebar racun pada orang-orang. Dan itu kezholiman.

Maka akhirnya orang-orang itu pada hari pembalasan ini menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki. Dan kini di hadapan Luki, berdiri seorang wanita sedang menuntutnya.

"Atas masalah apa kamu menuntutku?" Tanya Luki.

"Karena rokok!" Jawab wanita itu.

"Hei… Aku tak pernah merokok di dekatmu!"

"Memang tidak pernah. Tapi suatu hari kamu pernah naik metro mini dan kemudian duduk di sebelahku. Saat itu kamu membawa bau rokok yang sangat menyengat sehingga membuatku mual. Itu karena kamu sebelumnya merokok. Andai kata bau yang menempel di badan dan pakaianmu itu disebabkan rokok orang lain, tidak akan menjadi masalah."

Dan orang yang terzholimi itu akhirnya mendapatkan keadilan. Sebagian pahala Luki dipindahkan untuknya untuk menebus kezholiman.

Kezholiman itu terjadi saat Luki berumur 30 tahun. Dan Luki wafat di usia 62 tahun. Ia berhenti merokok di usia 60 tahun. Berarti ada rentang 30 tahun lagi yang di rentang itu akan ada orang-orang yang menuntut Luki atas kezholimannya merokok.

Sedangkan pahala terakhir yang dipindahkan ke orang yang terzholimi adalah pahala yang dilakukan Luki saat ia berusia 58 tahun. Ada kemungkinan Luki termasuk orang yang bangkrut.

***

Lagi, seseorang menghampiri Luki.

"Kezholiman apa yang aku lakukan padamu?" Tanya Luki.

"Rokok." Jawab orang itu.

"Aku tak pernah merokok di dekatmu."

"Memang tidak pernah. Semasa hidup aku ditakdirkan suka mual dengan bau rokok. Suatu ketika di dalam perjalanan, aku singgah di sebuah rumah makan untuk makan dan buang air. Ketika masuk ke dalam wc yang disediakan rumah makan itu, aku dibekap oleh bau rokok yang pekat. Dan kamu adalah orang yang berada di wc itu sebelumnya. Kamu buang air besar sambil merokok. Dan baunya tinggal di wc itu ketika aku menggunakannya. Racunnya pun masih berkeliaran bercampur udara di dalam wc itu."

Luki terhenyak. Saldo amalnya dalam posisi kritis. Ia diambang kebangkrutan.

"Celaka aku… celaka aku…." Nafasnya terengah-engah ketakutan. Dan tak berapa lama kemudian… ia terjaga dari tidurnya.

Masih dalam keadaan terengah-engah, tatapannya beradu pada jam dinding di kamarnya. Pukul 1.30 malam. Jam dinding itu berhias kotak rokok bekas yang ia koleksi setelah isinya ia konsumsi. Melihat hiasan kotak rokok itu, Luki merinding.

— ** —-

Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan di dunia ini, adalah sangat berharga. Karena itu semua akan mendapatkan balasan dari Allah swt. Allah telah mengabarkannya dalam QS Al Zalzalah ayat 7: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". Allah mengabarkan hal itu agar kita termotivasi untuk beramal dan tidak meremehkan setiap bentuk perbuatan baik.

Begitu juga dengan keburukan, sekecil apa pun bentuknya akan ada balasannya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS 99:8)

Termasuk kezholiman yang kita lakukan pada orang lain, apa pun bentuknya, seremeh apa pun kadarnya, akan diadili oleh Allah swt di hari pengadilan. Bahkan ada kemungkinan di mana kezholiman kita itu menghabiskan seluruh amal baik kita dan membuat kita menjadi orang yang bangkrut.

Dalam suatu hadits, dikabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka, para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Khusus untuk perokok, perlu kiranya anda introspeksi. Apakah aktifitas merokok anda sudah menzholimi sekian banyak orang? Jangan sampai hal yang kita anggap remeh itu malah menjadi penyesalan di akhirat kelak.

October 28, 2009

Ncang Muslim dan Pengamen

Filed under: Santai....

**
Kemaren2 ini blog saya sempet down. Mental saya ikut2an down juga :D . Ada masalah dari blogsomenya. Alhamdulillah hari ini udah pulih.

Posting yang sederhana dulu aja deh, sembari memulihkan mental :D .

**
Sudah agak sore saat ncang muslim memulai makan paginya di sebuah rumah makan warteg amigos (agak minggir got sedikit) di bilangan Kemang. Di tengah asyiknya ncang muslim menyantap menu ikan asin lada hitam bersama cah jengkol, masuk lah seorang pemuda bernama Ksatria Playboy (KP) membawa gitar ke dalam warteg hendak mengamen.

Pada pengamen itu, ada hal yang membuat ncang muslim tertarik. "Andai anak ku masih hidup, mungkin dia seumuran pengamen itu. Sayang, anakku wafat begitu cepat di umurnya yang masih 70 tahunan." Begitu batin ncang muslim.

Dan karena ketertarikannya itu, ncang muslim berniat memberi pengamen itu uang 5000 dollar monopoli internasional setelah pengamen itu memamerkan suaranya.

Jreng gonjreng gonjreng…. KP memainkan intro lagu "Kucinta Kau Apa Adanya" yang dipopulerkan oleh once. Sesaat kemudian, mulailah KP bernyanyi:

"Kau boleh acuhkan diriku…
Dan anggapku tak ada…."

Mendengar lirik lagu itu, ncang muslim malah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi lu minta diacuhin dan dianggep gak ada? Okeh, kalo gitu gw gak jadi ngasih lu uang!" Ncang muslim berubah pendiriannya.

**
Cerita di atas adalah postingan saya di forum myquran. Nama-nama yang ada dalam cerita adalah panggilan untuk user-user myquran.

October 20, 2009

Puisi Untuk Anakku

Filed under: puisi

Puisi ini aku buat untuk anakku, Raudhatur Rahmah, yang berulang tahun ke-1 tanggal 21 Oktober 2009. Selamat ulang tahun, sayang :)

Raudhah

I

Itu dunia anakku, gengamlah!
Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!
Buaian hanya sementara
Selanjutnya kertas dan pena
Kau hadirkan pada mereka
Keilmuan seluas samudra
Hadirkan cahaya sibak gulita
Kau tembus bumi, merobek angkasa
Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.

Itu cakrawala anakku, rengkuhlah
Kau milik zamanmu, bersiagalah
Pelukan bunda hanya sementara
Selanjutnya keringat dan air mata
Kau suguhkan pada mereka
Hujjah dan qoulan syadida
Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa
Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka
Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga
Hingga kau diterima dalam ridho-Nya

II

Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik
Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik
Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik
Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik

Aku bukan pemikul beban yang terpaksa
Tapi aku penggembala penuh cinta
Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa
menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia

III

Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban
Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban
Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban
Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban

Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.

Selamat ulang tahun yang kesatu, Raudhah anakku sayang…. :)

Klik untuk melihat foto-foto Raudhah :)

October 14, 2009

Add-ons Kebaikan

Salah satu kelebihan browser Mozilla Firefox adalah adanya add-ons, yaitu tools atau aplikasi-aplikasi tambahan yang melekat pada browser yang punya banyak manfaat untuk pengguna Mozilla.

Salah satu contoh add-ons yang dimiliki Mozilla adalah DownThemAll!, yang memudahkan pengguna untuk mendownload contain dari internet secara massal dan meng-organize-nya. Selain itu ada Boost For Facebook yang memanjakan pengguna untuk bermain-main dengan akun facebook-nya. Dan ada Alexa Statusbar yang berfungsi untuk mengecek rating situs yang sedang kita browsing. eQuake Allert untuk mengingatkan kalau terjadi gempa, dan banyak lagi.

Add-ons itu seperti plug-in, semacam tools tambahan. Bukan cuma browser mozilla firefox yang punya add-ons, aplikasi lain pun punya. Facebook punya, linux punya.

Hmm.. andai hati kita bisa dipasang add-ons, maka add-ons apa ya yang akan kita pasang? Mungkin bisa dicoba add-ons berikut ini:

1. Everytime dzikrullah.
Add-ons ini membuat hati kita untuk selalu berdzikir mengingat Allah swt di setiap saat. Rasulullah pun menginstall add-ons ini. Begitulah pengakuan Aisyah rha. “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam selalu berdzikir kepada Alah setiap saat." (HR. Muslim & Abu Dawud)

Add-ons ini memang bekerja di hati kita. Tapi hendaknya lisan kita pun mengikuti kerja add-ons ini. Karena itu perintah dari junjungan kita Rasulullah saw. "Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Alloh." (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah)

2. Auto Istighfar.
Ketika kita melakukan suatu perbuatan dosa, maka kita akan segera tersadar dan beristighfar kepada Allah swt. Begitulah fungsi add-ons ini.

Add-ons ini merupakan aplikasi yang tepat agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena ciri orang yang bertaqwa adalah cepat menyadari kesalahannya dan kemudian bertaubat kepada Allah swt.

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS 3:135)

3. GhodBash
Aneh atau familiar namanya? Add-ons ini singkatan dari ‘Ghodul Bashar’. Artinya adalah menundukkan pandangan. Cara kerjanya begini: Ketika mata kita menangkap objek yang Allah haramkan untuk dipandang, seketika itu juga add-ons yang berada di hati kita ini bekerja mengirimkan pesan serius pada otak. Pesan itu adalah agar otak memerintahkan mata kita berpaling dari objek terlarang itu.

Add-ons ini sangat berguna untuk mengaplikasikan perintah Allah pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31.

4. eQuake.
Ya memang, add-ons ini beneran ada di dunia nyata. Gunanya untuk mengingatkan kalau ada gempa.

Tapi kalau versi yang terpasang di hati, berfungsi untuk membuat gempa atau getaran di hati ketika terdengar nama Allah swt. Getaran atau gempa yang ditimbulkan besarnya berbanding lurus dengan kecintaan kita kepada Allah swt. Makin cinta kita pada Dia, maka makin besar gempa yang terjadi di hati ketika nama Allah terdengar.

Add-ons ini musti terpasang di hati orang mukmin. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS 8:2)

5. Muhasabah.
Add-ons ini berfungsi untuk mengukur fluktuasi ketaatan kita pada Allah swt. Karena iman itu mengalami pasang surut. Kalau kita memiliki add-ons ini, maka kita bisa mengoptimalkan ketaatan kita pada Allah swt. Ketika ketaatan terdeteksi surut, maka kita bisa segera bertaubat dan menyegarkan iman kita, agar ketaatan kembali naik.

Kita bisa menggunakan aplikasi ini untuk memeriksa grafik ketaatan kita di waktu-waktu khusus. Misalnya akhir tahun, akhir bulan, akhir pekan, atau di akhir hari. Atau kapan saja kita mau.

6. Anti Virus.
Ya, ada juga add-ons seperti ini di hati. Karena hati kita rawan terkena virus. Kalau sudah terkena virus, maka jadilah hati kita hati yang sakit (qalbun maridh). Kalau tidak terobati juga, maka hati pun mati (qalbun mayit).

Jenis-jenis virus yang diobati oleh aplikasi ini adalah: dengki, hasad, dendam, riya’, ujub, ghurur, kibr, dll. Juga ada virus merah jambu (apa tuuh?? hehe…). Silakan lengkapi database antivirus anda dengan membaca buku tazkiyatun nafs karangan Imam Ghozali, sering mendengar taushiyah Aa Gym, dan cara lainnya.

Disarankan untuk rajin men-scan hati anda ketika hendak tidur, mencontoh seorang sahabat yang telah Rasulullah klaim sebagai penghuni surga. Salah satu kerja anti virus ini adalah dengan memaafkan orang yang pernah berbuat salah pada kita sehingga tidak ada dendam.

7. I’m Sorry.
Selain memaafkan, kita juga harus meminta maaf pada orang lain kalau kita berbuat salah. Install-lah add-ons ini agar kita tidak memiliki musuh atau punya kesalahan pada orang. Add-ons ini akan bekerja di hati ketika hati terdeteksi memiliki noda berupa kezoliman pada orang. Add-ons ini memaksa otak untuk segera mengucapkan kata maaf pada orang yang kita zolimi.

8. Anti Nifaq.
Penting untuk tidak menjadi munafik. Kalau tidak, kita akan memiliki musuh di langit dan di bumi. Install-lah add-ons ini di hati kita. Maka kita hati kita akan memiliki karakter shidq (jujur) dan amanah.

9. Syukur 21, Shobr, dan Ridho
Ketiga add-ons ini bekerja saat menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan pada diri kita. Syukur 21 aktif saat diri kita mendapatkan kenikmatan dari Allah swt. Shobr bekerja saat diri kita menerima musibah. Ridho bekerja secara general, apa pun yang terjadi, ridho selalu aktif bekerja.

Add-ons ini membuat pribadi yang meng-install-nya menjadi pribadi ‘ajaib’ yang mengagumkan.

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

10. Ikhlas mode on.
Add-ons ini penting dimiliki oleh hati agar setiap perbuatan baik kita memperoleh pahala. Aktifkan add-ons ini sebelum, ketika, dan sesudah berbuat baik.

Ada pihak ketiga yang tidak ingin add-ons ini aktif. Yaitu setan. Ia berusaha menjadi intruder dalam diri kita agar add-ons ini rusak. Maka selalu jagalah add-ons ini! Karena aktif-nya add-ons ini menjadi syarat sahnya amalan baik yang kita lakukan.

*****

Itulah beberapa add-ons yang bisa di-install di hati kita. Ada banyak lagi add-ons yang kita perlukan. Tidak cuma apa yang ada di atas. Pokoknya, semua jenis kebaikan adalah add-ons yang harus terinstall di hati kita. :)

Allahu’alam bish-showab.