August 22, 2008

N O D A

Saat saya bepergian dari Jakarta menuju sebuah desa di Lampung di tempat kakek saya tinggal, saya tiba pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”
“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak malu.
“Lho, kan bisa sholat di mobil.”
“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan meninggalkannya.
Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa jalan-jalan ke kebun.”
“Asyiik!!!” Sambut saya sumringah.

Senja tiba. Saya sudah siap melihat-lihat kebun kakek yang tidak jauh dari rumahnya. Entah kenapa, kakek meminjamkan sebuah celana berwarna putih untuk saya. Maklum karena di kebun tentu saja kami akan berkotor-kotor, saya tidak ragu mengambilnya. Daripada celana yang saya bawa dari Jakarta yang saya pakai. Sayang, persediaan terbatas.  Tapi aneh, pada akhirnya kakek berkata, “Kalau celana itu sampai kotor, kamu cuci sendiri ya!!” Saya tidak mengerti maksud kakek, tapi saya ikuti saja. Dan saya lihat kakek sendiri menggunakan celana hitam.

Perjalanan di mulai. Setelah 15 menit kami sampai di kebun kakek. Di kebun itu kami berkeliling menyaksikan bermacam tanaman yang ditaman oleh kakek, mulai dari pisang, jagung, hingga cabai.

Setelah puas, kami istirahat sejenak. Tanpa sungkan, kakek duduk di tanah dan menyuruh saya duduk di sampingnya. “Duduk lah.”
“Gak ah, kek. Takut kotor.”
“Kenapa takut kotor? Kakek santai saja kok duduk di tanah.”
“Ya jelas. Kakek kan memakai celana hitam. Sedangkan celana saya putih.”
“Memang kenapa kalau celana putih?”
“Kalau celana putih, kan susah dicucinya kalau kena noda. Kalau tidak bersih, nodanya akan terlihat jelas. Sedangkan celana hitam, tidak terlalu kentara kalau kotor.”
Kakek terangguk-angguk. “Apa kamu bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut?”
“Hah?? Pelajaran apa kek???” Aku agak bengong.

“Kamu mengerti, bahwa perumpamaan orang munafik atau fasik, adalah seperti kakek ini yang memakai celana hitam…”
”Lho, maksud kakek?” Aku memotong.
“Dengar dulu!! Orang yang memakai celana hitam, tidak akan merasa was-was kalau celananya kotor. Dia tidak akan malu berjalan di tengah orang banyak dengan celana yang terkena noda tanah di sana sini. Sedangkan orang yang beriman, seperti orang yang memakai celana putih, yang ia khawatir apabila celananya sedikit kotor, maka noda itu akan terlihat jelas.”
Aku mengangguk-angguk. “Ooh… iya kek. Gak nyangka kakek filosofis banget.” Ujarku sambil ‘nyengir’.
“Apa kamu tidak mengambil pelajaran terhadap diri kamu sendiri?”
“Maksudnya, kek?”
“Bukankah tadi pagi kamu menggampangkan tidak sholat subuh? Muhasabah lah!! Apa mungkin hati kamu sudah terlanjur kotor sehingga setiap kotoran baru yang menempel bukan menjadi sesuatu yang mencolok?”
“Astaghfirullah…” Aku terhenyak.
“Kalau hati kamu bersih, tentu saja kamu tidak ingin ada setitik noda pun hinggap di hati kamu.”
“Astaghfirullah. Iya kek. Saya sadar, saya salah. Kalau begitu, mulai sekarang saya akan berusaha membersihkan hati saya. Akan saya jaga agar hati saya senantiasa bersih, tidak boleh ada kotoran yang hinggap. Saya akan selalu bersihkan dengan istighfar.”
“Bagus!!” Kakek mengangguk-angguk….

Saat alam menunjukkan tanda bahwa saat maghrib hendak tiba, kami pulang ke rumah. Di jalan, saya termenung. Lalu berkata kepada kakek, “Kakek, saya jadi paham kenapa kalau ada orang baik yang ketahuan aibnya, selalu menjadi bulan-bulanan gosip dibanding orang jahat yang ketahuan aibnya.”
Kakek mengangguk-angguk.
“Ya ya ya…. Ya seperti tadi, karena orang yang baik yang ketahuan aibnya itu seperti sebuah pakaian putih yang terlihat terkena noda. Nodanya akan mencolok dilihat oleh orang banyak. Beda dengan orang jahat, orang sudah terbiasa dengan berita aibnya. Tak terlalu menjadi bulan-bulanan omongan orang.”
“Benar kek. Tapi, susah ya menjaga hati ini bersih. Menjaga perilaku ini tetap bersih. Karena kotoran ada di mana-mana. Kalau terkena noda, akan mencolok. Dan harus dibersihkan dengan tenaga yang ekstra. Belum lagi omongan orang-orang… Hhh…”
“Hahaha….” Kakek tertawa kecil.

—-

Ibnu Mas’ud r.a. berkata "Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya."

Semoga bisa diambil hikmahnya dari cerita di atas. Btw, cerita di atas fiktif!! Kedua kakek ku udah lama meninggal. Kakek ku yang ada di Lampung gak punya kebon. :D

August 15, 2008

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Kulihat harta dunia di tangan seseorang
Lahirlah gundah semakin ia berlipat bilangan
Hinalah siapa yang memandang dengan keagungan
Agung lah siapa yang memandang dengan kehinaan
(Suara Persaudaraan)

“Rumput tetangga lebih hijau”. Ungkapan yang berarti bahwa orang lain memiliki kenikmatan atau kebaikan yang lebih dari pada diri kita. Bagaimana sikap kita ketika menghadapi kenyataan tersebut? Dengki, iri, atau ikut senang?

Mudah-mudahan tidak ada penyikapan negatif. Berikut ini kemungkinan dan penyikapan yang tepat saat melihat rumput tetangga lebih hijau…

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita memandangnya dari jauh.
Jarak sering menipu pandangan. Bulan yang terlihat indah dengan sinarnya yang kuning keemasan di malam hari, sebenarnya bila dilihat lebih dekat, adalah sebuah padang tandus yang berlubang-lubang oleh meteor. Sebuah bukit yang sebenarnya agak gundul, bila dilihat dari jauh tetap saja terlihat biru.
Semuanya jelas bila dilihat lebih dekat. Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia dari kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi kita akan mengkoreksi pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena ketamakan dan kurangnya rasa syukur pada diri kita.
Rasulullah pernah bersabda “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (dalam Jami’ ash-Shaghir karya Suyuthi)
Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Introspeksilah, dan semoga kita terhindar dari sifat buruk ini.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena mental pecundang yang ada pada diri kita.
Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu under estimate terhadap dirinya.
Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran 139)

- Boleh saja rumput tetangga lebih hijau dari kita, Memangnya kenapa?
Sifat cuek hadir pada saat yang tepat dalam urusan seperti ini. Jangan sifat cuek hanya ada pada kritik atas kesalahan kita saja. Atau seperti istilah begini: “gw sih asik asik aja… Selama dia gak nyenggol gw.”

- Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena rumputnya dicat oleh pemiliknya.
Kadang kala ada orang yang seleranya melompat dari kemampuannya. Seleranya berada di kebutuhan tersier, sedangkan kemampuannya berada di kebutuhan primer. Dan orang tersebut memaksakan diri meraih apa yang ia selerakan. Sehingga terlihat lah ia parlente, dan mewah. Keadaannya palsu. Hijau rumputnya adalah karena cat, bukan hijau alami.
Jadi, jangan buru-buru takjub lah terhadap orang yang kehidupannya terlihat mewah.

- Alhamdulillah, rumput tetangga lebih hijau. Saya ikut senang.
Rasulullah bersabda, "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari-Muslim) Maka melihat saudaranya seiman memiliki nikmat yang lebih, seharusnya sikap seorang mukmin seperti apa yang telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kaum Anshor, “ …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” (QS 59 : 9)

- Rumput tetangga yang lebih hijau memberi motivasi bagi diri saya!!
Maka telah hadir energi positif, alih-alih energi negative berupa kedengkian. Motivasi seperti ini adalah bahan bakar yang baik untuk kehidupan.

- Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi dibanding tetangga yang lain, alhamdulillah rumput saya masih lebih hijau…
Dalam urusan akhirat, kita seharusnya melihat ke atas, tetapi dalam urusan dunia, lihat lah ke bawah. Kalau kesyukuran itu hadir karena perbandingan, maka seharusnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.

- Biarkan saja rumput tetangga lebih hijau, karena orientasi saya adalah surga dan keridhoan Allah, bukan rumput.
Ya, seharusnya orientasi seorang mukmin adalah surga dan keridhoan Allah. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3 : 14)
Maka seharusnya seorang mukmin sibuk menghijaukan rumput surganya daripada mengurusi hijaunya rumput tetangganya.

- Asyik.. rumput tetangga lebih hijau. Bisa buat makan si dombi, domba kesayangan saya.
Waaa… parah niiih…..

August 12, 2008

Bahasa Indonesia vs Bahasa Malaysia

Filed under: Santai....

Inilah beberapa perbedaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia. Selamat menikmati :)

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : Pasukan bubar jalan !!!
MALAYSIA : Pasukan cerai berai !!!

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : Purnawirawan militer
MALAYSIA : Pasukan tak berguna

INDONESIA : Pasukan Terjun Payung
MALAYSIA : Aska Begayut

INDONESIA: rumah sakit bersalin
MALAYSIA: hospital korban lelaki

INDONESIA : Toilet
MALAYSIA : Bilik Termenung

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA: talipon bimbit

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan

INDONESIA : Menteri Kehutanan
MALAYSIA : Menteri Semak Belukar

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam

INDONESIA : gratis ngobrol 30menit
MALAYSIA : percuma berbual 30minit

INDONESIA : tidak bisa
MALAYSIA : tak boleh

INDONESIA: Es Campur
MALAYSIA: ABC(Air Batu Campur)

INDONESIA : Buldozer
MALINGSIA : Setrika bumi

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Penghapus
MALINGSIA : Pemadam

INDONESIA : Sendok
MALAYSIA : Centong

INDONESIA : Centong
MALAYSIA : Sendok

INDONESIA : 6.30 = Jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = Jam enam setengah

INDONESIA : Satpam
MALAYSIA: Penunggu Maling

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA: ok lah, gw mo tidur dulu
MALINGSIA: k larr, aku nak tido

INDONESIA : Anak kecil
MALAYSIA : Budak cilik

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar (jah… gw dibilang comel benar?)

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA :bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Ikan Teri
MALINGSIA : Ikan Bilis

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar (diambil dari cara baca tulisan Tyre dalam english)

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu Pocong
MALAYSIA : hantu Bungkus

INDONESIA: Anak kecil lagi kejar-kejaran
MALAYSIA : Tak boleh kau memburu dia

INDONESIA : Selang air
MALAYSIA : Karet

INDONESIA : Sabuk pengaman di pesawat
MALAYSIA : Tali keledar

INDONESIA : Helm
MALAYSIA : Topi Keledar

INDONESIA : Penjudi
MALAYSIA : Kaki Judi

INDONESIA : Pemabuk
MALAYSIA : Kaki Botol

July 29, 2008

Arti Hidup

Tulisan ini aku buat ketika aku menjabat sebagai Bidang I Divisi Kerohanian Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) Unand pada tahun 2002. Tulisan ini untuk buletin “Ihtisaban” yang diterbitkan oleh Himatika. Rencananya buletin Ihtisaban ini akan diterbitkan berkala. Tapi jadinya ini adalah tulisan pertama dan terakhir :D . Aku keburu pindah ke Gunadarma.

ARTI HIDUP

“Tong, bangun tong. Udah jam sembilan. Lu mau kuliah nggak?” Gelombang suara ibunya Entong yang sedang menyeterika pakaian ruang tengah memantul-mantul pada dinding rumahnya yang sebagian terbuat dari kayu, lalu masuk ke telinga entong yang tengah berkemul sambil memeluk guling kurus di atas kasur tipis, yang banyak terdapat relief kepulauan di sana-sini. 
Entong tersentak. Matanya sedikit terbuka, namun dirinya masih urung untuk bangun. Matahari yang cerah tidak diizinkan olehnya untuk memasuki kamarnya – yang berukuran 3x3 meter – melalui jendela.
“Ah, Emak berisik ah. Mate aye berat banget nak..” Jawab Entong sambil mengelap iler di pipinya yang masih berfasa cairan yang mengalir pada saat ia tidur tadi.
“Pegimane sih, lu? Tiap hari kerjanya molor mlulu. Bangun tidur makan, terus tidur lagi. Sekolah kagak mau, ngaji kagak mau. Hidup lu tuh mau diapain sih?”
“Emak… emak. Justru ini namanya menikmati hidup mak. Kecil disuka, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itulah hidup, mak.”
“Lu bener-bener nggak ngerti arti hidup ya Tong. Makanya denger ceramah pak Ustadz, kalo tujuan hidup tuh untuk…”
“Aaaah…. emak kuno. Brisik ah. Orang lagi nikmatin hidup kok diganggu. Urus kehidupan emak sendiri deh.”
Setelah Entong berteriak seperti itu, suasana rumah menjadi hening. Hanya tik-tok jam yang menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit memenuhi ruangan tengah tempat ibunya Entong bekerja.

Ilustrasi di atas mengisahkan tentang seorang anak yang sedang mencoba menikmati hidup – begitu menurut anak tersebut. Ia menganggap masa mudanya harus diisi dengan foya-foya. Adakah di antara rekan muda yang menyerupai Entong, tokoh anak pada cerita di atas?

Rekan muda, sekalian, ketika tengah membaca ilustrasi di atas, insya Allah rekan muda memang hidup bukan? Coba periksa lagi jantungnya, nafasnya, denyut darahnya, dompetnya… Entong yang berada pada cerita di atas pun tengah hidup ketika ia membantah kata-kata emaknya sambil menikmati selimut kumpel plus apek ditambah bau iler, yang menaungi badannya yang bertelanjang dada (dan bau juga).

Hanya saja, adakah kita syukuri hidup kita ini? Kehidupan adalah nikmat yang jarang disyukuri oleh manusia. Padahal aktifitas ini merupakan pintu gerbang bagi berbagai nikmat lain yang ia dapatkan di dunia ini.

Bagaimana rasanya hidup? Apakah merasa betah? Memang beginilah hidup: penuh suka yang di situlah kita mempersembahkan kesyukuran kita kepada-Nya, dan penuh duka yang di situ kita menunjukkan kesabaran kita sebagai ungkapan kebesaran jiwa di hadapan-Nya.

Tapi apa yang dirasakan Entong tentang hidup memang beda. Ada rekan muda yang sependapat?

Berapa lama kita hidup? Insya Allah apabila pembaca adalah seorang mahasiswa, maka bisa ditaksir usia kita antara 18-25 tahun. Kalau cleaning service atau pelayan café sempat membaca bulletin ini, maka silakan jawab sendiri. Emang penulis pikirin? Tapi yang jelas, bilangan yang terus bertambah yang kita rayakan setiap tahun itu adalah sebuah perjalanan untuk menghabiskan sisa umur kita. Jangan pernah berbangga dengan bilangan itu. Kecuali kalau bilangan itu sebanding dengan yang telah kita dapatkan dan manfaat yang telah kita buat selama hidup ini.

Oke, sebuah pertanyaan lagi, sebenarnya mengapa kita hidup? Pernah kah kita renungkan masalah ini?

Sebenarnya jawabannya simple saja. Kita hidup karena Allah telah menghidupkan kita. Hanya saja jawabannya akan berbeda ketika pertanyaan ini diajukan kepada orang-orang atheis atau kafir Quraisy. Sehingga Allah berfirman untuk mengingatkan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 28.

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”

Jawaban mereka yang salah terhadap pertanyaan “mengapa kita hidup” itu telah menyebabkan mereka kafir. Mereka lupa bahwa Allah lah yang telah menghidupkan mereka.

Hal ini seperti yang dialami oleh penganut Darwinisme, yang berpendapat bahwa manusia berasal dari keturunan kera. Dengan ilmu pengetahuan yang serampangan, mereka mengadakan penelitian dan penilitian untuk menguatkan dugaan mereka.

Hanya pada akhirnya peneilitian dan penelitian yang mereka lakukan semakin melemahkan dugaan mereka, dan mencapai keruntuhannya. Tapi dasar mereka merasa bangsawan (bangsa hewan), maka jadilah mereka baruak-baruak gadang nan ndak tahu diuntuang. Andai mereka tahu bahwa ndak ka jadi urang bagai barauk-baruak itu do.

Sedangkan kaum kafir Quraisy, mereka telah melupakan dzat yang menghidupkan mereka. Kehidupan mereka tanpa arah. Yang mereka sembah adalah berhala-berhala seperti hubal, lata, manat, yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Sehingganya Allah menegur mereka seperti dalam firman di atas.

Dan kita pun bisa berkedudukan sama seperti mereka, ketika kita lupa bahwa kita telah dihidupkan oleh Allah, sehingganya kita tidak lagi tahu apa tujuan Allah menghidupkan kita.

Lalu apa tujuan hidup kita? Dengan maksud apa Allah menghidupkan kita? Adakah rekan muda yang sependapat dengan Entong di atas mengenai tujuan hidup?
Setidaknya ada tiga tujuan Allah menghidupkan kita di dunia ini, yaitu:

 Untuk beribadah kepada Allah
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-dzariat : 56)

Firman di atas menegaskan bahwa kehidupan kita ini tiada lain bertujuan untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka segala tindak tanduk kita melenceng dari tujuan kita dihidupkan apabila tidak kita bingkai dengan ibadah kepada Allah. Mulai dari bangun tidurnya kita hingga kita kembali ke tempat tidur, harus frame dengan ‘ubudiyah.

 Untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Dalam firman-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 61, Allah berfirman:

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…”. Dan dalam Al-Baqoroh ayat 30 Allah berirman, “…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.…”

Setiap kita mengemban misi kekhalifahan. Siapa pun, dari seorang budak, seorang cacat, hingga seorang bangsawan. Semuanya dihidupkan oleh Allah dengan tujuan agar mereka mengolah bumi ini. Semua aktifitas kita tidak boleh menyimpang dari misi ini. Belajarlah, memanfaatkan kedudukan kita sebagai mahasiswa di FMIPA UNAND ini, dan niatkan sebagai  pemenuhan atas amanat yang kita pikul. Jangan sampai kita menjadi pengkhianat dengan malas belajar.

Menjadi khalifah adalah tugas yang berat. Kebanyakan manusia saat ini telah menyimpang dari misi ia ciptakan. Manusia saat ini telah merusak bumi. Bukanlah pemakmur, tapi malah perusak.

Ozon yang bocor, pemanasan global, terumbu karang yang mulai punah, hingga sampah yang bertebaran di kampus tercinta kita ini adalah akibat dari ulah manusia yang lalai tentang hakikat ia dihidupkan.

Manusia yang bodoh. Memang benar seperti apa yang dikatakan Allah dalam Al-Qur’an. Padahal ia tak lebih kuat dari gunung yang menolak amanat untuk menjadi pemakmur bumi, padahal ia tidak lebih perkasa dari langit, tapi ia menjadi pemikul amanat untuk memakmurkan bumi ini. Dan akibat dari kelemahannya telah terlihat dewasa ini.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab:72).

 Untuk Ujian, Siapakah di Antara Kita yang Lebih Baik
Kehidupan sarat dengan kompetisi. Perlombaan adalah suatu yang mutlak terjadi dalam hidup. Mulai dari perlombaan untuk mencari nafkah, hingga lomba matematika yang akan diadakan oleh Himatika Unand (masih termasuk lomba juga khan.)

Dan Allah telah menciptakan kehidupan ini juga dalam rangka perlombaan. Ia telah mengadakan sayembara kepada manusia, untuk berlomba-lomba dalam menempuh amal yang baik. Allah akan menyeleksi kita dalam perlombaan ini.
Perlombaan ini akan menentukan sang pemenang, yang akan menyandang gerlar khoriul bariyyah (sebaik-baik makhluk) (QS 98:7), Sedangkan yang kalah akan menyandang gelar syarrul bariyyah (makhluk terburuk) (QS 98:6).

Hadiah bagi yang memenangkan perlombaan ini adalah tropi berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, tabanas berupa kekekalan (lebih kekaldari kekekalan energi), dan keridhoan Allah. Sedangkan bagi pecundang, akan mendapat hadiah hiburan berupa mandi sauna tiap hari di neraka jahannam. Lumayan kan hadiah hibburannya.

Dan pemenangnya ialah (teng ing eng…), orang-orang yang beriman yang sampai akhir hayatnya mereka tetap istiqomah terhadap keimanannya. Dan sang pecundang ialah orang-orang kafir. Horeeee! Selamat bagi pemenang.
Seleksi Allah sebagai maksud dari penciptaan kehidupan ini telah Allah katakana dalam Surat Al-Mulk ayat 2.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Itulah tujuan kita hidup. Bahkan Hawa pun tercipta di dunia ini dengan tujuan seperti diatas, bukan untuk menemani sang Adam. Kalau Hawa tercipta untuk menemani sang Adam, mengapa Hawa tidak ikut wafat ketika Adam a.s. wafat? Mengapa Hawa tidak menemani sang Adam di alam Baqa’? Begitu juga dirimu, tercipta untuk tiga hal di atas. Bukan untuk menemani aku lhooo.

Setelah kita mengatahui tujuan kita hidup, lalu timbul pertanyaan kembali, dengan apa kita hidup?

Kalau pertanyaan di atas diajukan kepada Entong, maka Entong sambil menahan kantuk akan menjawab bahwa ia tidur dengan bantal guling, kasur, selimut, dan khawayalan-khayalan peneman ia berkemul. Tapi tentu tidak seperti itu apabila pertanyaan itu diajukan kepada rekan muda yang lebih berakal.

Dengan Islam lah kita hidup. Islam adalah agama yang paripurna. Ia adalah jalan hidup yang diperintahkan oleh Allah.
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS 5:3)

Dengan syariat Islam-lah kita hidup. Aturannya menakup segala segi dalam hidup ini. Kehidupan bernegara dan bermasyarakat ia atur. Sampai kepada masuk ke dalam kamar kecil. Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Islam adalah system menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih saying dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar. Tidak kurang dan tidak lebih.”
Islam adalah agama keselamatan yang jaminan keselamatannya telah terpancar dari namanya. Agama yang bersih, damai, dan tunduk kepada Allah.

Singikirkan isme-ime lain buatan manusia. Dan mari kembali ke jalan Allah, bernaung pada Islam ya’lu walaa yu’la ‘alaih.

Dan pertanyaan terakhir, siapakah kita? Mari renungkan.

July 5, 2008

Mengangkat Beban

Kisah ini aku dapat ketika membaca suatu novel ilmiah ketika SMP, kemudian aku gubah untuk mendapatkan hikmahnya.

Sebutlah Adi dan Dodi sedang berwisata di pantai dalam acara sekolah. Ketika mereka tengah dalam candaan, ada tantangan dari Dodi kepada Adi. Dodi yang bertubuh besar dan gemuk menantang Adi yang bertubuh kecil untuk mengadakan kompetisi. Dodi mengangkat Adi, setelah itu gantian Adi mengangkat Dodi. Mereka akan mengukur siapa yang paling lama mengangkat temannya.

Dodi yakin seyakin yakinnya bahwa Adi tidak akan sanggup berlama-lama mengangkat badannya. Karena itu Dodi menantang Adi. Dan Dodi yakin juga bahwa Adi akan menolak tantangan itu.

Tapi Dodi salah. Rupanya Adi menyambut dengan baik, walau dengan syarat.

“Memangnya, syaratnya apa?” Tanya Dodi.

“Kamu mengangkat saya di atas pasir, sedangkan saya mengangkat kamu di laut.” Ujar Adi.

“Boleh.” Ujar Dodi.

Maka dimulailah pertarungan itu.

Alhasil, di luar dugaan. Adi berhasil lebih lama mengangkat Dodi yang tubuhnya lebih besar. Mengakui kekalahannya, Dodi bertanya, “apa rahasianya?”

“Jawabannya adalah, karena saya dibantu oleh gaya apung yang ada pada air laut. Sehingga ringan bagi saya untuk mengangkat kamu.” Ujar Adi. “Gaya itu ditemukan oleh Archimedes. Kalau kamu simak pelajaran fisika kemarin, kamu pasti paham.” Tambah Adi dengan senyuman.

*****

Hidup ini serupa dengan kompetisi di atas. Bahwasanya masing-masing kita memiliki tugas untuk mengangkat beban masing-masing. Beban yang diangkat tentu saja sesuai dengan kemampuan seorang manusia. Begitulah sunnatullah.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS 2:286).

Tetapi ada perbedaan antara seorang muslim yang bertaqwa dengan seorang kafir. Seorang muslim mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di air, sedangkan seorang kafir mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di atas pasir. Ada ‘gaya apung yang dimiliki oleh air’ yang membantu seorang muslim yang bertaqwa untuk mengangkat bebannya. Gaya apung itu adalah bantuan dari Allah SWT.

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Ath-Thalaq : 4.

Dengan bantuan ‘gaya apung’ inilah seorang muslim yang bertaqwa bisa mengangkat bebannya lebih lama. Sedangkan orang kafir yang tanpa bantuan gaya apung tersebut, berpotensi besar untuk menyerah, membanting bebannya lalu dia pun terjatuh.

Seorang muslim yang bertaqwa tidak akan mengenal akhir seperti itu.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS Ath-Thalaq : 2).

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47 : 7)

Allahu’alam bish-showab.

June 18, 2008

Sabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya

Dalam surat Al-Baqarah, Allah dua kali menggandengkan kata ”sabar” dengan keyakinan akan kembalinya kita kepada Allah SWT. Yang pertama ada pada ayat ke 45 & 46.

”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS 2: 45-46).

Dan yang berikutnya ada pada ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS 2 : 155-156). Arti Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un itu seperti yang sudah kita ketahui bersama: ”Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.” Kalimat itu dinamakan kalimat istirja’ yang disunatkan dibaca ketika mendapat musibah.

Kalimat tersebut tentu saja bukanlah sebuah mantra yang dibaca tanpa makna. Tapi kalimat itu sendiri adalah kalimat mendalam yang memberikan kesejukan, hiburan, kekuatan, dan sugesti ketika musibah datang. Sugesti itu tidak akan datang sendirinya tanpa kita memahami dan menghayati maknanya.

Kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya memang merupakan sebuah penyejuk. Dalam surat Az-Zumar ayat 10 Allah berfirman, ”… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Janji Allah tentang pahala tanpa batas ini tidak akan terealisasi kecuali setelah kita kembali pada-Nya. Selama kita masih di dunia, kematian menjadi batas bagi pahala yang kita dapat. Tapi setelah kita kembali pada-Nya, dalam kehidupan surga yang abadi (QS 98 ayat 8) , itulah saat yang mungkin pahala tanpa batas terealisasi.

Dan ingat juga tentang apa yang telah Allah janjikan bagi orang yang sabar,”Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl : 96)

Kita akan kembali pada Allah yang kekal, meninggalkan segala sesuatu yang akan lenyap. Karena itu, kenapa kita bersedih atas apa yang akan binasa? Kenapa kita tidak mengharapkan pahala yang kekal dan yang lebih baik dari yang kita kerjakan?

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

*****

Perhatikan surat Al-Baqarah ayat 153-157.

153 : ” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

154 : ” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

155 : ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Pada surat 154, cerita tentang orang yang gugur di jalan Allah menyelingi dua ayat yang berbicara tentang kesabaran. Ayat yang menyelingi itu bertutur tentang hidupnya orang yang telah gugur di jalan Allah, telah kembali pada-Nya, meskipun kita tidak menyadarinya. Mereka tetap hidup dengan berbagai kenikmatan yang Allah berikan.

Tentu saja ayat ini tidak sekedar menyelingi dari dua ayat yang berbicara tentang kesabaran, tapi ayat ini sangat relevan dan memiliki hubungan, juga dengan ayat 156 (telah dikutip di atas). Ayat ini bercerita bagaimana tentang keadaan orang-orang yang sabar yang telah kembali pada Allah. Karena tidak mungkin kita bisa hidup di jalan Allah hingga kemudian gugur di jalan-Nya tanpa ada kesabaran dalam mengarungi jalan Allah SWT.

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

*****

Karena kita akan kembali pada Allah, maka tidak ada alasan untuk tidak bersabar kalau memang surga pilihan kita.

”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS 3 : 142).

Dan agar kita kembali pada Allah dengan bersih tanpa dosa, maka bersabarlah.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah bersabda, ”Orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya, anaknya maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah Ta’ala tanpa membawa dosa.” (HR At-Tirmidzi, lihat Riyadush Sholihin bab Sabar).

Maka sabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

Allahu’alam bish-showab.

May 15, 2008

Kalau Kau Tulang Rusukku

Filed under: puisi

untuk istriku

Kalau kau tulang rusukku,
pastikan saja dirimu tak kan jauh dari ku

Sekalipun setetes hujan pecah di tengah kita,
dan angin menyekat dengan dingin,
tapi itu untuk sementara

Pada gerak bandul yang teratur,
kita di dua sisinya.
Sekalipun tempat kita terpisah,
dan waktu ikut memisah,
tapi kita kesatuan.

Kalau kau tulang rusukku,
tak kan mungkin terlepas dari badanku.

Maka peluk saja aku pasrah.
Sadar atau tidak kau,
bahwa takdir ini begitu membahagiakan.
Napasku harus menjadi napasmu, dan sebaliknya.
Karena begitulah dalam satu pelukan.

Kalau kau tulang rusukku,
maka jangan berontak atas getir di sekitar.
Karena jauhmu hanya kan sesaat.
Pada satu titik,
akan memelantingkanmu pada ku lagi.
Kau terikat dengan karet di badanku.

kalau kau tulang rusukku,
maka pengorbanan mati-matianku teramat sangat wajar. 
Cinta ini mengalir tanpa sadar.
Sekalipun kau tutup matamu,
kau tetap melihat ia berpendar.

Maka jangan terlalu jauh dariku.
Kalau sekedar pembuktian,
maka kelak kau akan puas dengan jawaban.
Tapi setiap detik yang mengisi
kekosongan ruang di antara kita,
kita akan kehilangan banyak hal.
Karena kebersamaan di kesempatan yang sebentar ini,
begitu berharga di setiap penggalan saat terkecil.

Kalau kau tulang rusukku.
Aku sangat mencintaimu.

May 12, 2008

Antara Ajakan Primer dan Sekunder

Filed under: Orat Oret

Menelusuri jalan dari Bakauheni menuju Bandar Lampung, saya menemukan begitu banyak poster-poster calon peserta pilkada Lampung yang sebentar lagi akan diselenggarakan terpasang di pinggir jalan. Entah berapa dana yang telah digelontorkan, tapi yang jelas di desa-desa yang dilintasi jalan lintas sumatera itu benar-benar tidak sepi dari wajah-wajah calon gubernur dan wakil gubernur. Pastinya, ada dana yang tergelontor tidak sedikit. Tapi, apakah sebegitu pentingnya memenangkan sebuah posisi gubernur hingga keping-keping uang yang begitu berharga bagi rakyat miskin menjelma wajah senyum yang terpampang di dekat gubug-gubug rumah pedesaan? Allahu’alam.

Melihat semua itu, ingatan saya tentang pilkada di Ibu kota yang lalu membayang kembali. Saat saya ikut-ikutan berpartisipasi untuk memenangkan calon yang saya harap bisa memberikan pencerahan kepada warga ibu kota yang mengidap kesenjangan sosial cukup parah. Saya harap agar benarlah sang calon yang saya dukung bila terpilih nanti merealisasikan pendidikan gratis agar wajah kumuh kemiskinan dan kebodohan bisa terangkat.

Saya yang tergabung dengan beberapa orang yang saya kenal di lingkungan kosan saya, mulai beraksi dari jauh-jauh hari untuk memenangkan sang calon. Agar batin terikat, kami mengadakan bakti sosial berupa bazar layanan kesehatan gratis. Sebenarnya baksos seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Bahkan setahun bisa dua kali. Walau pun tidak terkait dengan even pemilu atau pilkada. Jadi baksos kali ini hanyalah berupa pemeliharaan ikatan batin yang memang sudah terikat cukup kuat antara masyarakat dengan para aktifis suatu partai di lingkungan saya tinggal.

Makin dekat waktu pilkada, diadakan lagi baksos berupa bazar. Masing-masing RW di lingkungan saya diadakan baksos/bazar yang waktunya tidak bersamaan. Maka terasa makin dekat lah antara kader/aktifis partai itu dengan masyarakat. Belum lagi ungkapan dukungan yang saya dengar langsung dari mereka, bahwa mereka mempercayai 100% partai ini membela rakyat kecil.

Pada akhirnya pilkada dilaksanakan. Setelah siang, suara dihitung. Dan di lingkungan saya - yang masyarakatnya berbondong-bondong menghadiri layanan kesehatan gratis dan bazar sembako murah - jagoan kami kalah. Bahkan di suatu TPS di mana bazar tersebut dilaksanakan, jagoan kami kalah telak.

Mengetahui hasil tersebut, reaksi para kader partai itu berbeda-beda. Pada dasarnya kecewa, tapi ada yang menerimanya dengan dewasa. Tapi, ada juga yang mengejutkan saya ketika terlontar dari lisannya, "sudah lah, lain kali jangan ngadain bazar di sana lagi."

Maka pemandangan perjalanan Bakauheni - Bandar Lampung ini mengingatkan saya akan hal tersebut, ketika semarak pilkada terasa menyapa orang-orang yang masuk ke provinsi yang berada di kaki pulau sumatera.

Lontaran kekecewaan seorang teman itu benar-benar masih terngiang di telinga saya. Ia merasa dikhianati. Mungkin pikirnya, bagaimana sudah baiknya ia dan kawan-kawan kepada masyarakat. Tapi pada akhirnya masyarakat tak mau menuruti himbauannya untuk memilih pasangan calon gubernur tertentu.

Selintas memang terasa salah masyarakat. Karena ibarat lelaki yang mendamba seorang gadis, gadis itu telah memberi harapan pada lelaki tersebut. Tapi ada kisah yang menarik 14 abad yang lalu ketika seorang yang sangat sangat berpengaruh di lingkungannya berdiri di atas bukit Ash Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk Makkah, sehingga mereka berkumpul di sekitar orang tersebut. Ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Orang itu, Rasulullah SAW, berkata,”Wahai Bani Abdil Muththalib, wahai Bani Fihr, bagaimana pendapat kalian kalau saya beritakan bahwa ada sepasukan berkuda di balik bukit ini siap untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab,”Ya.”

Kata beliau lagi,”Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datangnya adzab yang sangat pedih.”

Tiba-tiba Abu Lahab menukas,”Celakalah kau selama-lamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Kejadian di atas, memperlihatkan bagaimana seorang Rasulullah yang menjadi kepercayaan orang-orang, sehingga bergelar Al-Amin, tetap tidak mendapat tempat di hati pihak tertentu bila membawa suatu seruan spesifik.

Jadi, tidak seharusnya kecewa berlebihan. Sebuah kebaikan belum tentu selalu berbalas dengan kebaikan. Sebuah kebaikan belum tentu efektif menjadi sarana untuk mencapai tujuan.

Tapi ada yang salah, ketika sebuah kebaikan dilaksanakan tanpa bertujuan agar mendapat ridho Allah SWT. Bahwasanya seorang da’i mencoba memikat hati umat, itu suatu keharusan. Tapi tentu saja percobaan itu dilakukan sebagai media untuk menyeru umat kepada Islam, agar Allah ridho. Bukan ditujukan agar umat mendengar seruan-seruan keduniaannya yang tak ada hubungannya dengan ridho Allah SWT.

Ajakan kepada suatu kelompok, atau ajakan untuk suatu tindakan politik, adalah ajakan sekunder, bahkan tersier. Yang primer tentu saja ajakan kepada Islam. Maka kekecewaan lebih “mending” ada ketika masyarakat tidak juga meninggalkan syirik apabila di sana masih beredar kepercayaan-kepercayaan syirik. Atau ibu-ibu muslimah yang menjadi pelanggan setia bazar masih ada saja yang belum menutupi auratnya dengan hijab yang pantas. Tapi kalau pesan yang diselipkan pada sebuah kebaikan bernama baksos adalah pesan sekunder dan mengesampingkan pesan primer, maka pesan itu rapuh tanpa pondasi.

Justru, pesan-pesan politik yang sekunder atau tersier itu, sangat tidak tertutup kemungkinan dimanfaatkan secara negatif oleh pihak-pihak tertentu. Lugasnya, bisa saja kepercayaan itu malah dijadikan lahan bisnis untuk kepentingan dunia semata bagi sementara pihak.

May 6, 2008

Bermain Dengan ADO.Net(5)

Filed under: Blogramming

Manipulasi Data - 2

Sebenarnya ada cara yang mudah untuk memanipulasi data. Kelewatan nih… Caranya dengan langsung menginput pada datagridview.

Tampilannya akan seperti ini.

”Selengkapnya..>>”

April 28, 2008

Bermain Dengan ADO.Net (4)

Filed under: Blogramming

Manipulasi Data

Bahasan selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan insert/update data ke dalam database. Kita masih menggunakan database yang sama, serta melanjutkan form yang sama.

Berikut ini tampilan form selanjutnya.

”Selengkapnya..>>”