December 3, 2011
Terima kasih sudah menemaniku selama 5 tahun, dari 2006, blogku tersayang. Sejak Maret 2006 saya menulis di blog ini. Sekarang sudah saatnya untuk meninggalkan blog ini karena blogsome sendiri yang mengusir saya
. Saya mendapat pengumuman dari blogsome bahwa blogsome akan tutup per 7 Desember.
Terima kasih buat semua yang sudah pernah mampir di blog ini. Terima kasih buat semua yang sudah menulis komentar di sini.
Blog ini dipindahkan ke http://zicoofficial.wordpress.com. Tulisannya dipindahkan satu per satu. Satu postingan per hari.
Sampai berjumpa di blog saya yang baru
September 5, 2011
Langkah kaki Ihsan sudah sampai pada halaman Masjid Lailatul Qadar. Duduk di atas sebuah anak tangga teras masjid, Ihsan membuka kedua sepatunya lalu beranjak naik ke teras. Ihsan kemudian melangkah menuju tempat mengambil air wudhu. Tapi sebelum sampai ke sana, langkah Ihsan terhenti di depan majalah dinding yang berada pada salah satu sudut beranda masjid.
Di mading masjid Lailatul Qadar itu terdapat daftar acara I’tikaf yang diselenggarakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ihsan mengamati daftar itu. Acara kajian dhuha dan qiyamul lail diisi oleh ustadz-ustadz ternama di kotanya. Bangkit gairah di hati Ishan untuk menuntaskan Ramadhan tahun ini dengan I’tikaf sepuluh hari penuh.
Tiba-tiba sebuah bayangan terbentuk pada kaca mading itu. Terlihat bayangan itu makin mendekat ke arah mading. Dan setelah dekat, Ihsan merasakan tepukan agak kuat di pundaknya disertai suara keras yang mencoba mengejutkan Ihsan. “DAAARR..”
“Gak kaget Bud. Kalo mau ngagetin orang, pake jurus anti bayangan dulu. Ente udah keliatan gerak-geriknya sama ane di kaca.” Ujar Ihsan.
“Hehe… setidaknya udah bisa mukul pundak ente.” Jawab orang yang memukul pundak Ihsan.
“Ente ngapain ke sini?” Tanya Ihsan.
“Ada syuro panitia I’tikaf. Antum jadi I’tikaf di sini kan? Insya Allah rame tapi tetep khusyu’ seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Ihsan tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Insya Allah. Ane udah ambil cuti supaya bisa I’tikaf sepuluh hari terakhir.” Ujarnya.
“Ente gak pulang kampung?”
“Enggak. Insya Allah lebaran di sini.”
“Orang tua gimana? Mereka gak masalah?”
“Enggak kok.”
“Sip…”
Dialog itu berakhir dan bertepatan pula dengan suara adzan Ashar berkumandang. Mereka berdua menuju tempat pengambilan air wudhu’.
I’tikaf sepuluh hari penuh sudah menjadi tekad dan keinginan Ihsan sejak lama. Tak pernah ia merasakan I’tikaf sepuluh hari penuh. Selalu terkendala dengan pulang kampung. Bila ia pulang ke kampung, tak dapat ia melakukan I’tikaf dengan khusyuk. Selain tidak ada masjid yang punya tradisi I’tikaf di kampungnya itu, juga masakan orang tuanya menggodanya untuk berbuka dan sahur di rumah.
Tahun ini Ihsan sudah mengambil cuti dari jauh-jauh hari agar bisa I’tikaf selama sepuluh hari terakhir.
*****
Matahari makin dekat ke ufuk barat. Ini hari ke 20 Ramadhan. Setelah matahari terbenam, maka malam ke 21 pun dimulai. Rasulullah mengabarkan adanya malam lailatul qadar, malam yang memiliki derajat keistimewaan lebih baik dari 1000 bulan, yang terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Di kamar kosnya, Ihsan menyiapkan beberapa helai pakaian, handuk, peralatan mandi, tak lupa Al-Qur’an dan buku bacaan. Barang-barang itu disusun rapi pada sebuah tas ransel. Ihsan benar-benar mempersiapkan I’tikaf tahun ini dengan matang.
Setelah semuanya siap, Ihsan dengan langkah pasti menuju pintu untuk keluar menuju Masjid Lailatul Qadar. Tapi sebelum sampai di pintu, telepon genggamnya berdering dari saku celana. Ihsan dengan sigap mengambil telepon genggam itu. Terlihat di layer, nomor itu dari telepon rumah ibunya di kampung. Ihsan menekan tombol untuk menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.” Ucapnya.
“Wa’alaikum salam. Ihsan, kamu lagi ngapain?”
Ihsan hapal betul suara itu. Suara ibunya.
“Aku lagi siap-siap mau ke masjid, Bu. Mau I’tikaf.”
“Oo.. Kamu sehat?”
“Sehat bu. Ibu bagaimana? Bapak sehat?”
“Sehat. Sehat semuanya di sini. Kamu tanggal berapa pulang ke kampung?”
“Saya rencananya gak pulang bu. Mau lebaran di sini saja.”
“Lho.. bagaimana kamu ini. Kamu gak kepengen kumpul dengan kakak dan adik-adikmu lebaran kali ini?”
“Ngg… Nggak dulu bu. Saya ingin lebaran di sini. Saya mau mencoba suasana lebaran di sini. Tahun ini saya mau I’tikaf sepuluh hari penuh. Maaf ya bu.”
“Lalu kapan kamu pulang? Pas hari raya?”
“Ngg.. Saya gak pulang bu. Mungkin… awal tahun depan saya pulang, insya Allah. Tapi lebaran kali ini saya gak pulang.”
“Pulang lah Ihsan! Belum tentu bapak dan ibumu masih hidup sampai tahun depan. Lebaran kali ini anak-anak Ibu yang ada di rantau semuanya pulang. Kalau kamu tidak pulang, kita gak kumpul lengkap. Jarang-jarang keluarga kita kumpul semua. Ibu ingin lebaran kali ini kita semua kumpul lengkap. Pulang ya!”
"Aduh bu… Saya udah susun rencana…”
“Untuk ibu dan bapak kamu, kamu ubahlah rencana kamu.”
Ihsan terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung.
“Sudah dulu. Sudah mau maghrib di sini. Cepat kabari kami kamu mau pulang tanggal berapa. Assalamu’alaikum.” Putus ibu Ihsan.
“Wa’alaikum salam…”
*****
“Ane bingung ustadz…”
Ihsan terlibat dialog dengan seorang ustadz peserta I’tikaf. Selepas tarawih, Ihsan meminta ustadz itu untuk berkonsultasi. Bersandar pada salah satu sisi tembok masjid, Ihsan menceritakan tentang rencananya yang terancam batal.
“Ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini ke orang tua sebelumnya?” Tanya ustadz itu.
“Belum ustadz. Ane pikir, orang tua ane akan menerima begitu saja rencana ane.”
Sang ustadz mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kapan ente terakhir pulang mengunjungi ortu ente?”
“Mmm… Lebaran tahun lalu.”
“Udah setahun. Ente belum pernah pulang setelah lebaran tahun lalu?”
Ihsan menggelengkan kepalanya.
“Berapa jam sih perjalanan ke kampung ente?”
“Dua belas jam perjalanan darat, ustadz.”
“Ooo…”
“Jadi bagaimana ustadz? Ana ingin bersikeras untuk I’tikaf full tahun ini. Ana ingin menolak permintaan orang tua ane. Tapi bagaimana ya bilangnya?”
“Ehem.. Kalau orang tua sudah menyuruh pulang… Tampaknya ada yang sudah dipersiapkan buat ente di kampung.” Sang ustadz tersenyum nakal.
“Maksudnya ustadz?”
“Ya ente lihat saja lah nanti apa yang telah dipersiapkan orang tua ente. Mudah-mudahan dia sholehah.” Sang ustadz tertawa.
“Ih.. Ane dijodohin, gitu?”
“Hehehe… Sepertinya sih begitu. Soalnya ente belum menikah juga sampai sekarang. Mungkin orang tua ente cemas.”
“Ah… Bisa aja ustadz. Ustadz, gimana niiih? Ana harus bilang apa?”
“Pulang lah, Ihsan! Patuhi permintaan orang tua kamu. Kamu bisa I’tikaf di sini sampai melewati malam 27. Setelah itu pulang lah. Ente kan bisa I’tikaf di kampung, kalau ente mau.”
“Berarti ana gak full dong I’tikafnya? Sayang ustadz, dua belas jam perjalanan itu bisa ane pergunakan untuk menyelesaikan tiga sampai empat juz bacaan Al-Qur’an. Itu dengan istirahat. Kalau tanpa istirahat, mungkin bisa khatam.”
“Ente harus pahami prioritasnya. Bahkan seorang yang hendak berjihad, tapi memiliki orang tua yang perlu diasuhnya, tidak diperkenankan berjihad oleh Rasulullah. Lagi pula, 12 jam itu ente senantiasa dalam kebaikan manakala mematuhi permintaan orang tua. Dalam 12 jam itu apa ente tidak bisa tilawah di mobil?”
“Kepala ana pusing kalau baca buku di mobil.”
“Oh.. ya minimal muroja’ah hafalan. Ente setel mp3 murotal. Gak sia-sia kan?”
“Ya sih.. tapi ana ngejer target tiga kali khatam Qur’an. Kalau waktu 12 jam gak terpakai untuk tilawah, bisa-bisa target ane gak kesampaian.”
“Yaaa… kembali ke hal yang lebih prioritas tadi, Ihsan. Orang tua juga punya hak untuk ente kunjungi. Apalagi sudah setahun. Semua ini salah ente.”
“Salah ane?”
“Ya… Pertama, ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini pada orang tua. Ente jangan pernah berpikir bahwa orang tua akan cuek bila anak-anaknya tidak bersama mereka saat lebaran. Justru saat-saat lebaran itu mereka melepas rindu dengan anak-anaknya. Kedua, ente sudah satu tahun tidak pulang. Ini masalah. Betapa cueknya ente kepada orang tua. Andaikan dalam setahun mereka sudah dikunjungi tiga atau empat kali, mereka mungkin bisa maklum. Jadi ente harus camkan, orang tua juga punya hak atas diri ente.”
“Orang tua ane punya hak atas diri ane.” Ihsan mengulang dengan pelan.
“Ya. Penuhilah hak mereka. Dikunjungi, dihubungi lewat telepon, bahkan dikirimi uang belanja.”
Ihsan mengangguk.
Ustadz melanjutkan, “Persiapan untuk I’tikaf Ramadhan ini bukan puma sekedar persiapan pakaian, atau pun kesehatan. Tapi persiapkan agar tidak ada hal-hal yang bisa mengganggu I’tikaf. Salah satunya adalah orang tua. Ente harus komunikasikan dengan orang tua dari jauh hari. Kalau ente sering mengunjungi mereka, kan gak susah untuk minta izin supaya bisa I’tikaf sepuluh hari penuh.”
“Ya ustadz.”
“Ya begitu. Sekarang semuanya terserah ente. Ya mudah-mudahan orang tua ente masih bisa diminta kemaklumannya. Tapi kalau tidak, sebaiknya pulang saja.”
“Insya Allah ustadz.”
Dialog itu terhenti. Sang ustadz sudah beranjak dari duduknya. Tinggallah Ihsan yang agak lama merenungi sikapnya yang tidak acuh dengan keberadaan orang tuanya selama ini. Ia mulai menyadari kesalahannya. Pulang hanya setahun sekali saja rupanya sudah merupakan sebuah kesalahan. Ihsan mulai mengubah rencana. Setelah beberapa menit, ia beranjak ke tempat pengambilan air wudhu untuk melanjutkan tadarusnya.
“Robbirhamhuma kama robbayani shighoro..” Ihsan berdoa lirih untuk kedua orang tuanya.
July 26, 2011
Semenjak menjadi tema yang kontroversial, kopi luwak menjadi trending topic dalam diskursus dan obrolan masyarakat. Alhamdulillah MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa kopi luwak halal, dan menjualnya juga halal. Luwak memakan kopi beserta kulit tanduk yang keras yang masih membungkus kopi. Ketika keluar dari tubuh Luwak, kulit tanduk itu tetap utuh. Ini sama seperti mutiara yang tertelan binatang, lalu keluar dengan utuh. Mutiara itu dihukumi sebagai benda yang terkena najis – bukan benda najis. Begitu juga kopi yang telah keluar dari tubuh Luwak, dihukumi sebagai benda yang terkena najis. Begitu najis dibersihkan, barang itu telah suci kembali.
Saya mencoba menawarkan pada teman-teman yang berkunjung ke blog ini, kopi luwak bermerk Komo. Kopi luwak ini berasal dari Aceh & Sumatera Utara. Kalau teman ingin memesan, akan dikirim dari Aceh.
Kopi luwak merk Komo ini berjenis Arabica. Sumatra’s Arabica Premium Grade. Ada tiga jenis: Arabica Gayo, Lintong, dan Mandheling.

Asli 100% Luwak Liar
Premium Grade (Bersertifikat)
Ijin Dinkes
Packing Alumunium Foil
Harganya (untuk pemesanan berbentuk bubuk atau pun biji, harganya sama. Belum termasuk ongkos kirim dari Aceh menggunakan JNE)
- 100 gram: Rp 200.000
- 250 gram: Rp 400.000
- 1 KG : 1.400.000
Bagi yang berminat, silakan email ke andaleh@yahoo.com atau andaleh@gmail.com
Ditunggu ya
May 24, 2011
Kalau ada sesosok ayah yang namanya terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya. Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya, kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya mendidik Luqman Al-Hakim?
Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun begitu, ia mendapat gelar "Al-Hakim" karena kebijaksanaannya. Dan Allah swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji"". (QS Luqman : 12)
Perhatikan petuah tentang syukur darinya. Bila Luqman adalah seorang bangsawan, wajar kalau ia senantiasa bersyukur. Tapi posisinya hanya sebagai budak, dan itu pun ia mampu memahami syukur lebih baik daripada orang yang memiliki kedudukan jauh lebih baik darinya. Keadaan seperti itu tak akan dimiliki kecuali oleh orang yang bisa menyerap hikmah pada setiap keadaan yang dirasakannya.
Cerita tentang Luqman ada pada ayat 12 sampai 19. Dibuka dengan pengenalan terhadap Luqman sebagai orang yang telah diberi hikmah. Sebagai garansi bahwa apa yang diajarkannya adalah ajaran yang luhur. Tujuh ayat petuah Luqman pada anaknya terdiri dari 3 ayat perintah (ayat 14, 17, 19) dan 3 ayat larangan (ayat 13, 15, 18). Tiga ayat pertama berbicara tentang aqidah, tiga ayat terakhir berbicara tentang ubudiyah, dakwah, dan akhlaq. Di tengah-tengahnya adalah ayat yang berpesan untuk senantiasa muroqobatullah. Ayat pertama yang bercerita tentang pengajaran Luqman pada anaknya (ayat 12), disebutkan "wa huwa ya’izhuh". Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.
"Ya bunayya…" Begitu panggilan lembut Luqman pada anaknya. Sudah seharusnya seorang ayah memiliki kata-kata yang spesial buat anaknya yang mencerminkan betapa dalam kasih sang ayah kepada anak. Kata-kata yang memiliki muatan cinta dapat melunakkan hati. Sedangkan kata-kata yang terkesan menyepelekan bisa memantik api permusuhan sang anak pada orang tuanya. Sapaan "Eh… tong…" adalah panggilan yang menjauh dari ajaran kasih sayang Luqman. Bila kita tidak ingin anak kita berkata "cih.." pada kita, maka menjauhlah dari panggilan yang merendahkan si anak.
Hati yang dibuka dengan cinta, siap dijejalkan ajaran aqidah yang mendasar. Ajaran aqidah harus meresap dalam hati sang anak. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah hati yang lembut. Sedangkan hati yang keras hanya mementalkan setiap petuah yang datang. Aqidah adalah ajaran yang pertama-tama Rasulullah sampaikan pada umat manusia di awal kenabiannya. Aqidah lah tema yang Rasulullah perintahkan pada Muadz bin Jabal r.a. untuk diajarkan pada penduduk Yaman. Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi SAW mengirim Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berkata kepadanya: “Engkau akan mendatangi orang-orang dari kaum Yahudi dan Nasrani. Maka hal pertama yang harus engkau dakwahkan kepada mereka adalah bahwa mereka hanya beribadah kepada Allah saja.” (Muttafaq Alaih)
Setelah si anak memiliki pemahaman tentang aqidah, maka kesadaran muroqobatullah akan mudah dibangkitkan. Karena ia tahu bahwa wajar apabila Allah senantiasa mengawasinya. Tetapi bila sang anak tak mengenal Allah dengan baik dan kemudian sudah dikenalkan dengan muroqobatullah, mungkin ia akan berfikir "Ada urusan apa Allah mengawasi saya?" Wal’iyadzu billah.
Kesadaran akan pengawasan Allah ini lah yang bisa membuat sholatnya ihsan, tak takut untuk beramar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa berakhlaqul karimah di tengah manusia.
Apa yang diajarkan Luqman ini berhubungan dengan ayat lain di dalam surat yang sama. Larangan Luqman pada anaknya agar tidak menyekutukan Allah (ayat 13), bersinggungan dengan ayat ke-11. Luqman berkata bahwa orang yang menyekutukan Allah itu adalah orang yang zhalim. Secara bahasa, azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Syirik disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya, menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah, atau melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah. Dan pada ayat ke-11 Allah menantang orang-orang yang zhalim itu agar memperlihatkan apa yang telah diciptakan oleh sembahan-Nya.
Luqman melarang sang anak agar tidak mentaati orang tua apabila mengajak dan memaksa menyekutukan Allah (ayat 15). Sedangkan pada ayat 21 Allah bercerita tentang keadaan orang yang jauh dari apa yang diajarkan Luqman pada anaknya, yaitu tentang orang yang mengikuti ajaran nenek moyang mereka yang turun menurun padahal syetan menyeru mereka ke neraka melalui ajaran itu.
Cerita tentang Luqman ini mungkin hanya sedikit di singgung dalam Al-Qur’an, tetapi kita bisa mengambil pelajaran yang dalam. Kita semua bisa mengambil hikmah pelajaran dari sedikit cerita ini, mengembangkannya sesuai dengan kondisi yang masing-masing kita alami. Jadilah ayah yang hebat seperti Luqman. Kriterianya bukan lah ayah yang jagoan, ayah yang pintar masak, ayah yang ternama di masyarakat, tetapi ayah yang kata-katanya bisa membekas pada hati sang anak dan ayah yang memilih materi yang tepat untuk diajarkan pada anaknya. Allahua’lam bish-showab.
May 11, 2011
Bila kita mengklaim sesuatu, maka kita harus menyiapkan bukti yang mendukung klaim itu. Karena sesuatu dikenal dari cirinya. Maka bila kita - misalnya - mengaku sebagai orang yang pekerja keras, harus dibuktikan bahwa kita memiliki sifat-sifat pekerja keras.
Begitu pula seorang yang mengaku muslim, tentu saja harus dibuktikan bahwa ia memiliki sifat-sifat seorang muslim. Seperti memahami makna dua kalimat syahadat dan mengimplementasikan syahadat itu dalam perilakunya.
Sebagian dari sifat-sifat seorang muslim tergambar dalam firman Allah pada Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71. “Dan orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana. (At-Taubah: 71). Sifat-sifat ini harus lah diperiksa oleh setiap orang yang mengaku mukmin, termasuk diri kita.
Seseorang yang tidak memiliki kepedulian menolong sesama, tidak tergerak hatinya untuk menolong ketika melihat seorang muslim membutuhkan bantuan, maka orang tersebut tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin yang Allah firmankan. Bahkan seorang muslim yang zholim pun wajib kita berikan pertolongan. Rasulullah saw bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zholim atau yang dizholimi. Mereka berkata : “Ya Rasulullah kami menolong yang dizholimi, bagaimana kami menolong yang menzholimi ?”. Beliau menjawab : “Ambil tangannya (cegah kezholimannya)”.
Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya." (HR Muslim)
Karakter inilah yang diharapkan oleh Allah dalam Al-Ma’idah ayat 2. "…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)
Sifat mukmin lain dalam At-Taubah 71 adalah amar ma’ruf nahi munkar. Ini juga termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Karena orientasi mukmin adalah akhirat, maka perlu ada bantuan dari mukimin yang lain untuk menyokong agar sampai di tujuan dengan selamat. Menolong mukmin yang menzholimi - seperti hadits di atas - pun termasuk dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.
Sifat ini yang Allah mau dalam Qur’an surat Ali-Imron ayat 104. "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran :104)
Dalam At-Taubah ayat 71 ini, kita menemukan perintah sholat dan zakat disebut secara beriringan. Aktifitas sholat dan zakat adalah aktifitas yang memenuhi baiknya "hablum minallah wa hablum minan naas" (hubungan kepada Allah dan hubungan dengan manusia). Sholat mewakili kesholehan vertikal, sedangkan zakat melambangkan kesholehan horizontal. Di beberapa tempat Allah swt menggandengkan perintah sholat dan zakat. Itu karena kekuatan hubungan yang lengkap: horizontal dan vertikal, adalah sifat seorang mukmin.
Mendirikan sholat dan membayar zakat adalah dua karakter orang mukmin yang Allah gambarkan dalam awal surat Al-Mukminuun. Orang mukmin itu beruntung, kata Allah (QS 23:1). Yaitu yang khusyu’ dalam sholatnya (QS 23:2), dan juga memelihara sholatnya (QS 23:9). Orang mukmin yang beruntung itu juga tak lupa membayar zakat (QS 23:4). Itu lah orang yang dijanjikan Surga Firdaus oleh Allah swt (QS 23:10-11).
Sifat selanjutnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-nya. Cara menta’ati Allah swt adalah dengan sikap "sami’na wa atho’na", dan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya secara kaffah (menyeluruh).
Sikap "sami’na wa atho’na" (kami dengar dan kami ta’at) Allah inginkan dalam surat An-Nur ayat 51. "Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." Sikap itu mencerminkan ruhul istijabah (semangat menyambut seruan) yang tinggi. Berbeda dengan jawaban orang yang tidak beriman dari kalangan Bani Israil yang menjawab seruan dengan "Sami’na wa ashoina" (Kami mendengar tetapi tidak mentaati) (QS 2:-93)
Selain itu dalam rangka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya, kita harus ber-Islam secara kaffah (menyeluruh). Dengan begitu, kita mentaati semua perintah Allah - menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya - secara keseluruhan tanpa menyeleksi dan meninggalkan sebagian perintah dengan sengaja. “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs al-Baqarah: 208).
Taat secara keseluruhan lah yang Allah inginkan. Allah mencela orang yang ta’at dengan tidak utuh (setengah-setengah). “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Alloh dengan berada di tepi (setengah hati); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kekafiran). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al – Hajj : 11)
Begitulah watak orang mukmin seperti yang tercantum dalam QS At-Taubah ayat 71. Semoga kita bisa mentadabburinya. Allahua’lam bish-showab.
April 26, 2011

Sebuah amplop putih berisi undangan menjadi pembicara sebuah seminar berada di tanganku. Dengan hati-hati aku robek amplop itu untuk mengeluarkan isinya, sebuah kertas HVS yang terlipat. Saat kubuka kertas itu aku menemukan namaku, Adi Saputra, sebagai pembicara dengan topik "Al-Qur’an menolak Pluralisme" di salah satu baris di antara deretan huruf-huruf yang membentuk isi surat.
Aku menghadapkan wajahku pada orang di depanku. "Baik. Insya Allah bisa." Ujarku sambil tersenyum.
"Makasih banyak, bang. Makasih banyak." Senyum orang di depanku lebih lebar. Terasa seperti senang mendengar kesediaanku.
"Siapa aja pembicara yang diundang?"
"Dari LSM Kajian Pluralisme Indonesia, ada Pak Hendrawan."
"Oh… Langsung ketua umumnya nih, yang turun?"
"Bukan bang, bukan Pak Hendrawan Ketum LSM KPI. Saya dapat rekomendasi dari Ketumnya untuk mengundang seorang anggota baru LSM itu yang baru dua bulan berada di Indonesia setelah menyelesaikan S2 di Texas. Namanya memang mirip dengan nama ketumnya."
"Oh begitu. Yah, nama Hendrawan memang pasaran sih. Hahaha…" Candaku diikuti tawa kurir pengantar undangan.
"Baik bang, saya mohon diri dulu. Ada rapat acara pukul 2 siang nanti."
"Ya, silakan. Terima kasih undangannya ya, Mas… Siapa namanya?" Tanyaku.
"Saya juga Hendrawan pak. Tapi bukan saya yang jadi pembicara. Saya masih mahasiswa kok." Dia nyengir.
"Hah? Ya ampun. Hahahaha…" Kini tawaku lebih keras dari sebelumnya. Tapi jadi merasa tidak enak hati setelah terlanjur mencandai nama Hendrawan.
"Mari bang…"
"Ya.. Mari."
Aku menarik nafas panjang. Hendrawan… Mungkin nama itu benar pasaran. Tapi ada satu entitas unik yang memakai nama Hendrawan yang melekat dalam hati. Setiap mendengar nama Hendrawan, rasa penasaranku bangkit dan kerinduanku mengharu biru. Cukup lama nama Hendrawan hadir sebagai pelengkap doa Robithoh yang sering kulantunkan pada pagi atau sore hari tanpa pernah lagi bertemu muka dengan pemilik nama itu selama 12 tahun. Aku rindu pada pemilik nama pasaran itu.
*****
Saat itu, 12 tahun yang lalu, di sebuah musholla sederhana di tepi kompleks sekolah, aku hadir di tengah lingkaran kecil yang sedang menyimak kajian keislaman yang dibawakan oleh seorang alumni. Ada sebuah dialog yang begitu berkesan dan mengisi hati.
"Doa-doa di Al-Ma’tsurat itu doa Rasulullah ya kak?" Tanyaku yang sedang mengamati sebuah buku kecil berjudul Al-Ma’tsurat Wazhifah Kubro.
"Ya." Jawab Alumni pengisi kajian. "Rasulullah rutin membacanya pagi dan sore. Karena Rasulullah tauladan kita, kita juga harus amalkan dong."
"Doa Robithoh juga doa Rasulullah?" Kali ini yang bertanya adalah orang di sebelahku. Bernama Hendrawan.
"Bukan. Itu doa yang diajarkan oleh Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Kita kan diperbolehkan membaca doa apa saja redaksinya selama itu baik. Bahkan kita boleh berdoa dengan bahasa Indonesia. Nah, doa Robithoh ini memang bukan doa yang pernah Rasulullah lafalkan. Tapi doa ini begitu indah dan sangat baik. Dan tentu saja boleh kita amalkan."
Hendrawan manggut-manggut.
"Iya Kak, kata-katanya indah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu hati ini telah berhimpun dalam taat padamu…" Aku mengeja halaman Doa Robithoh yang kubuka. "Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, abadikanlah kasih sayangnya… "
"Kamu bisa bayangkan wajah saudara kamu ketika membaca doa itu. Supaya lebih khidmat." Ujar kakak Alumni.
"Begitu ya kak? Aku mau membayangkan wajah Adi supaya dia gak gampang futur." Ujar Hendrawan sedikit tertawa nakal.
"Oke, ana juga bayangin wajah antum, Hen." Jawabku.
"Bagus. Kalian saling mendoakan ya! Biar ketua dan sekretaris Rohis tetap kompak."
"Hehehehe…" Aku dan Hendrawan dan anggota pengajian lain cengengesan.
*****
Ruangan ini cukup luas. Berukuran 20x10 meter. Peserta seminar yang hadir pun cukup banyak. Ada sekitar seratusan bangku yang terisi oleh manusia. Terlihat dari wajahnya, para peserta cukup antusias mengikuti seminar kali ini.
Dan setelah 20 menit pembicara pertama menghabiskan waktu yang dijatah panitia untuk memaparkan pandangannya tentang "Al-Qur’an Mengajarkan Pluralisme", kini giliranku memaparkan topik "Al-Qur’an Menolak Pluralisme Agama." Sebuah makalah sudah siap di tangan. Aku pun memulai pembicaraan setelah tahmid dan sholawat.
"Nama saya Adi Saputra. Saya aktif sebagai ketua Yayasan Cinta Quran. Mulai akrab dengan Al-Qur’an sejak SMA ketika bergabung dengan Rohis SMA 83.
Ya saya pernah aktif di Rohis SMA. Bahkan berlanjut di Rohis kampus. Kalau Pak Hendrawan tadi bilang bahwa Rohis-Rohis SMA merupakan tunas permusuhan dengan perbedaan dan pluralisme, mungkin saja itu pengalaman beliau pribadi. Karena dulu ketika menjabat Ketua Rohis SMA 83, Pak Hendrawan ini sekretaris saya. Saya akrab sekali dengan dia, dulu. Saya tidak menyangka setelah 12 tahun berpisah akhirnya kami disatukan dalam acara seminar ini. Saya berterima kasih banyak pada panitia."
Suasana sedikit gaduh di selingi tawa dan tepukan tangan kecil. Aku melihat Hendrawan yang disampingku tertawa. Tiba-tiba tangannya membuka hendak merangkulku. Aku sambut rangkulan itu. Setelah berangkulan, wajahnya bergerak mendekati mikrofon.
"Ya saya juga kangen dengan Pak Adi. Saya juga berterima kasih pada panitia."
Aku menahan haruku. Dengan menahan sesak di dada, aku melanjutkan pemaparan makalah yang akan membantah pemaparan Hendrawan tentang pluralisme yang telah disampaikan sebelum giliranku.
*****
Acara seminar memasuki masa istirahat pas ketika adzan zhuhur berkumandang. Aku hanya bisa menyempatkan berbincang sedikit dengan Hendrawan menanyakan kondisinya, kerja dimana, dan tinggal dimana, serta bertukar nomor HP sebelum kemudian aku bergegas menuju masjid kampus.
Setelah mengikuti sholat zhuhur berjama’ah dan dilanjutkan sholat sunnah ba’diyah, aku yang bersiap meninggalkan kampus ini - karena tugasku menjadi pembicara sudah kutunaikan - didatangi seseorang yang juga menjadi pembicara pada sesi pagi tadi, Hendrawan.
"Sudah sholat, Hen?" Tanyaku.
"Sudah Di. Benar-benar perjumpaan yang tidak diduga." Dia memandangiku sejenak dan melanjutkan kalimatnya, "Dan kamu tidak berubah. Tetap istiqomah di jalan dakwah." Hendrawan tersenyum. Seperti bangga. Atau mengejekku?
"Kamu sendiri bagaimana Hen? Aku tidak menyangka kamu menjadi pendukung liberalisme sekarang." Tanyaku.
"Panjang ceritanya, Di. Setelah aku ikut orang tuaku pulang kampung ke Magelang, kita masih saling kirim kabar kan, dan kamu tahu kan aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada dana?"
Aku mengangguk.
"Tahun kedua aku di Magelang, Allah melapangkan rezki orang tuaku. Usaha orang tuaku mulai memperlihatkan kesuksesan hingga terkumpul dana untuk melanjutkan kuliahku. Aku memilih IAIN Semarang.
Awalnya aku aktif di dakwah kampus. Tapi setelah semester tiga, aku mulai mengurangi kegiatan dakwah kampus. Itu karena aku tak bisa menahan rasa cintaku pada seorang gadis yang sekarang menjadi istriku. Aku berpacaran, dan teman-teman aktifis dakwah tak bisa lagi menerimaku.
Aku mulai jauh dari dakwah. Lulus kuliah, aku meneruskan baktiku di kampus, menjadi asisten dosen. Beberapa saat mengajar di kampus, aku mendapat beasiswa melanjutkan studi di luar negeri. Dan di luar sana aku banyak berinteraksi dengan pemikiran liberal.
Dulu saat menjadi mahasiswa dan asisten dosen, aku memang dikepung pemikiran-pemikiran seperti itu. Kondisiku yang jauh dari lingkungan aktifis dakwah membuat filterku rusak dan sedikit demi sedikit menikmati diskusi liberalisme.
Memang kadang ada pertentangan batin. Hati kecilku tak setuju dengan pikiran-pikiran ini. Tapi lingkungan telah terlanjur menyeretku lebih dalam."
Ia diam. Dan dalam diam itu, aku menyerobot pembicaraan.
"Kamu tahu, sampai sekarang kamu masih aku doakan. Doa Robithoh yang aku ucapkan pagi dan petang itu, aku maksudkan agar Allah meneguhkan hati kamu dalam dakwah. Wasyroh suduroha bi faidil imani bika."
"Terasa, Di. Aku beberapa kali bermimpi kita membaca Doa Robithoh bersama." Potong Hendrawan. Aku terperanjat mendengar pengakuannya.
"Aku tidak bohong. Setelah bermimpi seperti itu aku berdoa agar kita dipertemukan dan kamu bisa menyelamatkan aku dari lingkungan yang buruk. Alhamdulillah doaku terkabul. Kita bertemu lagi, Di."
"Kalau hati kamu menolak pemikiran sesat itu, kenapa kamu bertahan dalam lingkungan yang buruk?"
"Pertemuan ini ikhtiarku untuk keluar dari lingkungan yang buruk. Kamu tahu siapa yang merekomendasikan kamu jadi pembicara di seminar ini? Aku. Aku yang merekomendasikan kamu. Selama ini aku mencari tahu tentang kamu lewat internet. Dan ketemu. Dan pas sekali momennya saat aku ditawari menjadi pembicara seminar ini."
Aku menatap sahabatku itu erat-erat.
"Aku sudah diangkat jadi PNS. Jadi, aku tidak lagi mengkhawatirkan nafkahku kalau aku murtad dari kelompok liberalis." Ujar Hendrawan disambung dengan tawanya. Aku juga ikut tertawa.
"Kamu mau kalau mulai ngaji lagi dari materi ma’rifatulloh?" Tanyaku.
"Siapa takut?" Kami tertawa bahagia. Doa Robithohku tak sia-sia. Allah masih melekatkan hati kami dalam dakwah, Insya Allah.
–
Dimuat di islamedia pada 25 April 2011
Gambar diambil dari http://abuahmad180690.wordpress.com/
April 4, 2011
Sebuah buku berjudul: "Bank Syariah, Dari Teori ke Praktek", karangan Muhammad Syafi’i Antonio, dengan terang-terangan mengutip ayat-ayat kitab suci non muslim. Padahal buku itu adalah buku ekonomi syariah, ajaran Islam yang suci dan agung.
Kutipan itu ada pada halaman 43 dan 45, Bab IV: Riba dalam Perspektif Agama dan Sejarah. Halaman 43 Muhammad Syafi’i Antonio mengutip kitab umat Yahudi Testament (Perjanjian Lama) dan Talmud. Pada halaman 45 dikutip kitab milik umat Nasrani Perjanjian Baru. Semua itu dikutip untuk memperkuat argumentasi tentang mudharat riba. Di kesempatan lain, Muhammad Syafi’i Antonio juga sering mengajak umat agama lain konsisten menerapkan ajaran agama mereka meninggalkan riba dengan mengutip ayat-ayat kitab suci umat itu.
Bertahun-tahun buku itu beredar. Cetakan pertama tahun 2001. Tapi tidak pernah terdengar hujatan dari umat Islam untuk buku tersebut. Padahal buku itu masih terlihat berada di rak toko-toko buku sampai saat ini. Umat Islam seperti mengerti dan menerima pengutipan itu. Tidak ada yang mempersoalkan.
Tapi hal yang berbeda didapat oleh Nasril Djamil, anggota legislatif dari PKS. Dalam pandangan fraksi-fraksi di Komisi Hukum DPR terhadap RUU Peradilan Anak, seperti yang dilaporkan oleh inilah.com, Nasir Djamil juga mengutip ayat Injil. "Perlakuan terhadap anak-anak menjadi cerminan kesetiaan umat Kristiani terhadap Tuhan sebagaimana dalam Mathius 18 ayat 5."
Setelah berita itu turun, hujatan datang bertubi-tubi dari sebagian umat Islam. Berbagai prasangka bermunculan, dari menyamakan syariat Islam dengan ajaran agama lain sampai Nasir Djamil tidak mempercayai Al-Qur’an lagi. Padahal dari redaksi statement Nasir Djamil yang dikutip inilah.com, jelas sekali Nasir Djamil mengutip ayat itu sebagai penguat argumentasi dan sasaran pembicaraan adalah umat kristiani, bukannya umat Islam. Nasir Djamil tidak sedang menggunakan ayat-ayat Injil untuk mendakwahi umat Islam agar memperlakukan anak-anak dengan baik.
Tapi seperti itulah, sebagian umat terburu-buru dan begitu mudah menghukumi hanya karena Nasir Djamil adalah seorang politikus. Bahkan hujatan tak kalah keras juga datang dari anggota pergerakan Islam yang anti demokrasi, mereka menuduh PKS telah menggadaikan aqidah demi suara. Wal ‘iyadzu billah.
Islam adalah agama yang lapang. Walau pun Umar bin Khattab pernah dilarang oleh Rasulullah mendalami Injil demi pemurnian agama Islam yang sedang diturunkan saat itu, tapi dalam kesempatan lain Rasulullah tak melarang umat Islam menyampaikan perkataan Bani Israil. Kuncinya adalah tidak membenarkan dan tidak mendustakan.
“Janganlah membenarkan apa yang dikatakan oleh Ahli Kitab dan jangan pula mendustakannya." (HR Abu Dawud [3644], Ahmad [IV/136], ath-Thabrani dalam al-Kabiir [XXII/874-879], al-Baihaqi [II/10], Ibnu Hibban [6257] dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [124]). “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Sampaikanlah riwayat dari Bani Israil tanpa harus merasa keberatan. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, silahkan menempati tempat duduknya di Neraka.” (HR Bukhari [3461]).
Islam melapangkan umatnya mengambil hikmah di mana saja. Kadang-kadang cerita Israiliyat disitir dalam sebuah kitab yang ditulis oleh ulama untuk diambil hikmahnya. Pikiran dan hati yang sempit lah yang tak bisa melihat kelapangan ini.
Pluralisme dan Terbuka
Umat Islam harus berhati-hati ketika mendengar kata "Pluralisme". Fatwa MUI - dan sudah menjadi kesepakatan umat Islam - telah final bahwa ajaran pluralisme agama adalah ajaran yang sesat. Tapi pluralisme agama yang sesat itu adalah sebagai suatu faham.
Sering orang bilang bahwa yang diperbolehkan itu adalah menerima pluralitas, bukan menerima pluralisme. Tapi kenyataannya dalam laman Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online (http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/), tidak ditemukan kata pluralitas. Yang ada adalah kata pluralisme. Islam dengan lapang menerima pluralisme dalam artian ini.
plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);
– kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat
Lalu ada seorang politikus partai Islam yang menyebut kata pluralisme dalam suatu maksud yang baik. Tanpa memandang konteks kata yang dipakai, hujatan pun datang menganggap politikus itu telah menggadaikan aqidah demi simpati masyarakat. Wal ‘iyadzu billah.
Yang paling baik adalah umat Islam harus menghindari penggunaan kata Pluralisme ini. Mengambil ibrah dari peristiwa saat Yahudi mengolok-olok para sahabat yang memanggil Rasulullah dengan panggilan “Raa’ina”. Saat itu Yahudi memelintir panggilan itu dengan "Ru’uunah” yang berarti kebodohan yang sangat. Lalu Allah swt memerintahkan umat Islam mengganti panggilan mereka kepada Rasulullah dengan "Unzhurna" yang memiliki arti yang sama dengan "Raa’ina" (QS Al-Baqarah : 104). Maka sudah seharusnya umat Islam menghindari pemakaian kata pluralisme dan menggantinya dengan keragaman atau kata lain yang mengandung arti yang sama. Agar umat Islam tidak terjebak dalam permainan retorika kaum yang sesat.
Tapi sekali lagi, memperhatikan konteks penggunaan kata "pluralisme" itu adalah sebuah keharusan. Agar umat Islam tidak zholim karena salah menghukumi.
Juga pada kata terbuka. Saat kata itu diimplementasikan dengan menerima kalangan non muslim - yang tidak memerangi umat Islam - untuk bekerja sama dalam kebaikan, sebagian umat Islam buru-buru melontarkan tuduhan bahwa umat non muslim itu telah diangkat sebagai wali dan wala’ wal baro pun rusak.
Kalau hati dan pikiran yang lapang yang dipakai, tentu akan terlihat jelas bahwa interaksi dengan non muslim itu adalah sekedar interaksi yang wajar dalam tolong menolong dalam kebaikan. Dan di daerah mayoritas non muslim - yang tak memerangi umat Islam, umat Islam wajar berkompromi dengan salah satu calon pemimpin disana demi mendapatkan penguasa dengan sikap yang koperatif dan akomodatif terhadap umat Islam.
Yang Sempit dan Lapang Memandang Pancasila
Hikmah, dimana pun ditemukan adalah milik umat Islam yang hilang, begitu bunyi pepatah. Saat founding father bangsa ini merumuskan sebuah ajaran penuh hikmah bernama pancasila, maka itu adalah milik umat Islam. Saat orde baru memang terjadi "penuhanan" terhadap Pancasila, tapi bukan Pancasila itu sendiri yang menghendaki dituhankan. Orde baru lah yang menuhankan dirinya dan menjadikan Pancasila sebagai alat pukul yang diarahkan pada umat Islam. Wajar terjadi permusuhan dan anggapan Pancasila adalah thoghut saat itu.
Tapi saat Pancasila sudah lepas dari tangan tirani, selayaknya hati dan pikiran yang lapang menyadari bahwa Pancasila punya kesesuaian dengan ajaran Islam. Dan jangan pernah mau Pancasila digunakan untuk menolak penerapan syariat Islam. Justru umat Islam bisa menjadikan Pancasila sebagai alasan penerapan syariat Islam.
Dibutuhkan kelapangan hati dan pikiran dalam memandang Pancasila dengan objektif. Hati yang sempit menyebabkan mudah terlontarnya tuduhan tak pantas kepada muslim lain yang menerima Pancasila. Padahal muslim itu hanya memandang Pancasila sebagai ajaran yang sarat hikmah, dan bukan sebagai pengganti ajaran Islam. Wal ‘iyadzu billah.
Kelapangan dalam Keragaman
Hidup dalam negeri yang punya keragaman suku dan agama, dituntut kedewasaan dan sikap yang fleksibel tanpa melanggar hal yang prinsip. Tuntutan menghadirkan wajah Islam yang damai adalah tuntutan yang haq meski kadang terlontar dari pemikir sepilis (sekuler, pluralis dan liberalis). Tentu wajah Islam yang damai bukan wajah Islam ala sepilis yang penuh penyimpangan.
Umat Islam - walau dalam komunitas yang berbeda - adalah yang paling pertama yang berhak mendapatkan senyum dari wajah Islam yang damai. Sering kali ada tuduhan bahwa sekelompok orang melakukan pembelaan buta terhadap tokohnya, padahal kenyataannya kelompok lain lah yang melontarkan tuduhan buta dan sempit.
March 24, 2011
Muka Rohmat memerah. Duduk di salah satu tangga jalan masuk masjid kampus, ia membaca surat keputusan ketua Forum Rohis Peduli (FRP) berulang-ulang dengan diterangi matahari senja.
"Tidak bisa ditolerir… Tidak bisa ditolerir…" Gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Di surat itu, terbaca jelas SK pembentukan panitia rihlah yang mengikut-sertakan beberapa akhwat dalam kepanitiaan.
Rohmat memegang dahinya yang licin karena berminyak. Berfikir keras, mempertimbangkan sesuatu. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah handphone. Setelah mencari nomor yang hendak dihubunginya di phone book, Rohmat mendekatkan handphone ketelinganya.
Sebuah saluran terhubung. Tuuuutt….
"Assalamu’alaikum…" Suara orang di suatu tempat, menjawab panggilan telepon.
"Wa’alaikum salam. Akh Heri, ini Rohmat. Sudah dapat SK Kepanitiaan rihlah dari si Luqman?" Kali ini suara Rohmat.
"Sudah. Kenapa memangnya akh?"
"Gak bisa ditolerir!! Ana kan sudah bilang, kalau rihlah jangan ajak akhwat. Khawatir timbul fitnah."
"Iya, tapi ini sesuai keputusan syuro akh, Insya Allah hal-hal yang potensial menimbulkan fitnah akan diminimalisir."
"Minimalisir bukan berarti tidak ada sama sekail kan? Ah, payah si Luqman. Tidak bisa begini caranya. Lama-lama FRP ini ikut-ikutan menyimpang seperti Rohis kampus."
"Menyimpang bagaimana akh? Antum jangan berlebih-lebihan. Ini sudah jadi keputusan syuro…"
"Keputusan syuro, keputusan syuro. Sama saja jawaban kalian dengan jawaban anak-anak Rohis. Syuro cuma jadi legitimasi penyimpangan. Tidak bisa begini caranya. Sampaikan pada Luqman, ana cabut dari FRP. Wadah ini sudah tidak bisa diharapkan lagi…"
Tuuut… Tuut.. Tuut… Rohmat menyudahi pembicaraannya.
*****
Pukul 12.30 siang di kampus Universitas Bangun Mulia adalah waktu pergantian satu mata kuliah ke mata kuliah berikutnya. Dan saat-saat itu adalah saat di mana masjid kampus penuh dengan mahasiswa yang hendak menunaikan sholat zhuhur. Saat di mana para aktifis Rohis bertemu dan melepas canda. Begitu juga dengan para aktifis Forum Rohis Peduli, mereka memanfaatkan waktu sekitar 12.30 sebagai tempat bertemu dan saling mengakrabi.
Tapi sebuah pemandangan aneh tampak di mata para aktifis Rohis. Luqman dan Rohmat, dua pentolan Forum Rohis Peduli, berpapasan di depan masjid. Luqman memberi salam dan mengulurkan tangan, tapi Rohmat mengabaikan salam dan uluran tangan Luqman.
Beberapa aktifis Rohis yang melihat pemandangan itu terperangah.
"Walah, ada apa lagi ini?" Tanya salah seorang dari mereka berbisik-bisik.
"Jangan-jangan pecah lagi…"
"Yaa… pecah lagi? Jadi FRPP dong… Forum Rohis Peduli Peduli."
Tawa pecah di tengah kerumunan aktifis Rohis.
*****
Forum Rohis Peduli adalah sebuah organisasi yang mewadahi beberapa mantan pengurus Rohis yang kecewa dengan kepengurusan saat ini.
Semuanya bermula saat terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis. Sebelum Muktamar Rohani Islam Universitas Bangun Mulia yang ke 15, muncul desas-desus Adi dekat dengan seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan Adi. Mahasiswi itu bukan anggota Rohis. Seseorang aktifis Rohis pernah memergoki Adi dan mahasiswi itu sedang bersama-sama di sebuah toko buku.
Kisah kepergoknya Adi dan mahasiswi itu berkembang menjadi cerita yang liar. Ada cerita bahwa Adi berpacaran. Tapi ada juga yang bilang bahwa walau pun tidak berpacaran, seorang aktifis Rohis tidak pantas berdua-duaan dengan wanita non muhrim. Klarifikasi dari Adi sendiri, bahwa ia dan temannya itu tanpa janjian bertemu di sebuah toko buku. Dan keduanya sama-sama hendak membeli beberapa buku kuliah yang sama. Makanya Adi dan temannya itu terlihat beberapa waktu berjalan beriringan. Tapi dengan tujuan hendak mencari buku dan mendiskusikan buku mana yang sebaiknya dibeli. Itu saja.
Terpilihnya Adi menjadi ketua Rohis mendapat protes yang keras dari beberapa aktifis. Termasuk Rohmat yang adalah kandidat kuat ketua Rohis. Permasalahan ini tidak tuntas karena pemrotes bersikeras ingin agar Adi turun dari posisi ketua, sedangkan Adi dan pengurus yang lain bersikeras menjalankan amanat Muktamar yang dalam AD/ART Rohani Islam Universitas Bangun Mulia adalah tempat pengambilan keputusan tertinggi.
Masalah yang tidak tuntas ini mulai ditumpuk dengan masalah lain saat pemilihan ketua BEM sudah dekat. Hasil musyawarah, Rohis mendukung seorang calon ketua BEM yang bukan anggota Rohis.
"Dani itu anak Rohis juga lho waktu SMA. Dan sampai sekarang dia masih terlibat dalam acara-acara alumni Rohis SMA-nya. Memang dia memilih aktif di BEM saat baru masuk kuliah, daripada aktif di Rohis. Tapi pengalamannya di BEM, dan statusnya sebagai alumni aktifis Rohis SMA, ditambah dengan pengaruh dan dukungan dari teman-teman fakultasnya, saya rasa menjadi alasan yang kuat untuk mendukung Dani. Lagi pula akhlak Dani di BEM sangat baik." Begitu ungkap Adi, menyampaikan alasan musyawarah mendukung Dani.
Dan saat ditanya mengapa bukan Luqman yang naik menjadi ketua BEM, Adi menjawab, "Luqman itu visioner. Wawasannya tentang keorganisasian cukup luas. Makanya ia ditempatkan membawahi bidang keorganisasian. Ia sangat dibutuhkan Rohis." Begitu jawab Adi.
Tapi alasan ini tidak diterima oleh Rohmat, Luqman dan beberapa aktifis Rohis lainnya yang semakin membuat kegaduhan. Pendapat mereka, Rohis harus mengusung anggotanya menjadi ketua BEM seperti yang sudah-sudah di tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak percaya anggota luar Rohis memimpin BEM dan mengkhawatirkan BEM menjadi alat legalisasi kemaksiatan di kampus. Akhirnya sejak saat itu, setiap keputusan Rohis selalu mendapat kritik keras dari beberapa aktifisnya. Tidak pernah ada keputusan yang bebas kritik.
Hiruk pikuk ini berujung dengan pecahnya organisasi Rohani Islam. Pemicunya adalah diturunkannya Luqman dari Ketua Bidang Keorganisasian Rohani Islam. Sudah lima kali rapat penting Luqman tidak hadir. Akhirnya Luqman, Rohmat, dan dua puluh aktifis lainnya lintas angkatan membentuk sebuah wadah bernama Forum Rohis Peduli.
Wadah ini berjalan sendiri. Meski ada rasa saling menghormati di antara aktifis Rohis dan FRP. Mereka masih mau untuk sholat berjamaah, dan menerima imam sholat walaupun bukan dari organisasinya.
Wadah ini solid, hingga sebuah keputusan yang membuat kekesalan Rohmat kembali meledak.
*****
Sore itu hujan mengurung dan menyatukan tiga kelompok di ruangan masjid yang cukup luas. Ada kelompok aktifis Rohis, dan ada Adi di sana. Ada kelompok FRP, ada Luqman di sana. Dan ada kelompok Rohmat yang bersiap menetaskan sebuah wadah baru.
Jenuh dengan hujan yang turun, Adi memandangi kedua kelompok yang berjauhan itu. Adi berinisiatif menyatukan mereka. Dengan percaya diri Adi mendatangi bergantian kedua kelompok itu. Agak dipaksa, akhirnya Adi, Rohmat, dan Luqman bersatu juga dalam satu lingkaran. Hanya mereka bertiga, di tengah ruangan masjid.
"Ana benar-benar masih berharap antum semua kembali ke Rohis. Luqman, andai antum menjelaskan alasan ketidak hadiran antum dalam syuro-syuro penting, dan alasannya syar’i, Insya Allah ana terima. Tapi, ana mohon yang lalu kita lupakan saja dan kita membangun dakwah ini kedepan tanpa menengok masa lalu."
"Tidak bisa." Rohmat bersuara agak keras. Bersaing dengan suara tetes hujan yang jatuh ke bumi. "Kecuali antum mengakui noda masa lalu antum dengan teman sekelas antum, dan bersedia mengundurkan diri dari Rohis."
"Afwan akh, posisi ketua ini adalah amanat Muktamar. Ana tidak bisa begitu saja meninggalkan amanat ini. Apalagi alasannya adalah sesuatu yang dituduhkan pada ana padahal tuduhan itu sangat lemah," Adi tegas.
"Kalau begitu, memang kita tidak pernah bisa bersatu. Terima saja itu. Kita fastabiqul khoirot saja." Suara Luqman kali ini.
"Ayo laah… Ana tidak mengerti, antum semua keluar dari Rohis membentuk wadah baru. Dan setelah wadah itu terbentuk, antum pun pecah lagi. Gak capek kita begini terus?"
"Ini masalah prinsip soalnya. Sudah lah, benar kata Luqman. Kita bekerja saja. Mudah-mudahan Allah akan menunjukkan siapa yang benar di antara kita." Jawab Rohmat.
Adi menarik nafas berat.
"Atau… mungkin kita bisa buat acara bersama? Ayo dong… Rohis dengan Mahasiswa Pecinta Alam saja bisa, masa kita tidak bisa?" Dengan tersenyum Adi mencetuskan idenya.
"Acara apa?" Tanya Luqman.
"Ya.. seperti… mungkin seminar Ekonomi Syariah. Sekalian ada pertunjukan nasyid." Jawab Adi.
"Nasyid?" Luqman bertanya lagi.
"Iya…"
"Siapa aja grup nasyid yang mengisi acara itu?"
"Ya… bisa Azzam12, Nuansa Warna…"
"Nuansa Warna?"
"Iya…"
"Ah… nasyid tidak semangat itu akh. Nasyid seperti itu malah melenakan. Lebih baik mendengar murottal daripada nasyid seperti itu. Kalau Azzam12, masih bisa diterima."
"Tapi kan seminar itu untuk umum, akh. Kalau orang umum, nasyid seperti Azzam12 susah diterima."
"Tidak bisa. Itu melenakan. Justru dipertanyakan nilai syar’i-nya."
"Ya… ya sudah. Mungkin tanpa nasyid saja kali ya." Ujar Adi, tidak mau berdebat lebih jauh.
"Acara seminarnya untuk ikhwan dan akhwat?" Kali ini Rohmat bertanya.
"Iya lah… Untuk umum."
"Wah… Kalau begitu harus ada hijab antara laki-laki dan wanita."
"Dipisah saja mungkin akh. Orang umum akan kaget dengan hijab itu"
"Tidak bisa. Kalau sekedar dipisah, masih ada kemungkinan lirik-lirikan antara laki-laki dan perempuan. Harus ada kain atau sesuatu untuk menghijab!"
Adi terbengong dan habis akal. Akhirnya ia mengangguk-angguk dan bergumam, "Yah… mungkin sudah ditakdirkan kita berlomba-lomba dalam kebajikan pada grupnya masing-masing.
February 10, 2011

Bersyukur adalah salah satu ciri keistimewaaan seorang mukmin. Rasulullah saw pernah bersabda, "Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya." (HR Muslim) Bersama
kesabaran, rasa bersyukur merupakan attribute yang melekat pada kepribadian seorang mukmin yang menjadikannya istimewa.
Salah satu manfaat yang didatangkan oleh rasa syukur adalah, dengan rasa syukur seseorang mampu dengan tepat mengukur potensi dirinya. Tidak overestimate, dan juga tidak underestimate. Sebab, apabila seseorang tidak bersyukur, maka ada dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin dia akan sombong. Atau kalau tidak sombong, maka dia merasa inferior. Kedua-duanya buruk dan merugikan diri sendiri.
Kesombongan membuat seseorang terlalu percaya diri dengan kemampuannya. Rasa seperti ini memiliki resiko yang sangat besar, yaitu dirinya akan merasa selalu gagal karena target-target kehidupan yang dipasangnya terlalu tinggi. Hal ini yang mengundang perasaan tidak merasa cukup (tidak qona’ah). Misalnya seseorang yang sombong itu adalah seorang mahasiswa, ia akan mematok target indeks prestasi (ip) yang muluk-muluk tingginya. Bukan karena hasil pengukuran diri atau hasil percaya diri yang pas, tapi karena rasa percaya diri yang berlebihan dan kesombongan. Kalau mahasiswa itu tidak mencapai targetnya, bisa mengundang rasa putus asa yang berbahaya.
Watak sombong ini juga membuat seorang sering mengeluh atas nikmat yang ia dapat. Ini karena ia merasa berhak mendapatkan lebih dari yang ia terima. Seorang karyawan yang overestimate atas dirinya sering mengeluh atas gajinya dan selalu merasa tidak cukup. Seorang pejabat yang sombong akan sering complain terhadap pelayanan orang lain kepada dirinya. Rasa sombong membuat seseorang menuntut lebih, menginginkan apa yang ia terima sesuai dengan standar pengukuran dirinya, dimana dirinya telah berlebihan dalam mengukur diri sendiri (overestimate).
Sebaliknya, inferior atau rasa rendah diri membuat seseorang meremehkan dirinya sendiri. Resikonya, pencapaiannya akan selalu rendah dalam hidup. Ia terlempar dalam persaingan hidup.
Rasa rendah diri membuat seseorang memasang target yang terlalu rendah. Seorang mahasiswa yang rendah diri, akan merasa cukup dengan Indeks Prestasi (IP) di bawah 3. Bukan karena hasil pengukuran dirinya yang pas, tapi karena underestimate dalam mengukur diri sendiri. Inferior menyebabkan seseorang hidup dalam motivasi yang redup dan minim prestasi.
Rasa syukur mengantarkan seseorang mengenali dirinya. Seorang yang bersyukur mengerti bahwa Tuhan memberikan banyak potensi yang bisa ia gali. Setiap objek yang ia syukuri mengantarkannya pada pengenalan potensi yang ia miliki. Dan dengan pengenalan potensi ini, ia bisa meraih pencapaian berikutnya. Allah swt sendiri tak segan untuk menambahkan nikmat bagi orang yang bersyukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS Ibrahim : 7)
Pengenalan potensi ini sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt dalam surat Adh-Dhuha ayat 11, Allah memerintahkan manusia menyebut-nyebut nikmat pemberian-Nya dalam rangka bersyukur. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya." Mengingat nikmat Tuhan jauh lebih baik daripada mengeluh atas apa yang gagal diraih. Dengan menyebut nikmat Tuhan, maka timbul kesadaran akan potensi yang dimiliki. Dan kita bisa fokus untuk memanfaatkannya.
Rasulullah juga mengajarkan wirid pagi untuk mengingat-ingat nikmat Tuhan. Seperti: "Allahumma inni asbahtu minka fi ni’matin wa ‘afiyatin wa sitrin; fa’atimma ni’mataka ‘alayya wa ‘afiyataka wa sitraka fi’d-dunya wa’l-akhiroh" (Ya Allah sesungguhnya aku berpagi hari dalam nikmat, kesehatan, dan perlindungan dari Mu. Maka sempurnakanlah nikmat, kesehatan dan perlindungan-Mu padaku di dunia dan akhirat).
Pengenalan potensi ini memudahkan seseorang memasang target yang pas dalam hidupnya. Tidak muluk-muluk, dan tidak juga terlalu rendah. Selain itu rasa syukur membantu seseorang untuk siap menghadapi kegagalan, dan siap juga meraih kesuksesan. Karena orang yang bersyukur mengembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan. Ia tahu bahwa setiap kenikmatan yang ia dapatkan berasal dari Tuhan. Begitu juga dengan kegagalan. Semua itu telah ditulis di Lauhul Mahfuzh.
"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadiid: 22-23)
Tidak ada ratap, dan tak ada pula euforia. Tidak ada iri, dan tidak ada pula merendahkan orang lain. Seorang yang bersyukur fokus pada potensi diri, dan memandang Sang Maha Pemberi.
Pada akhirnya, kehidupan yang sehatlah yang diraih akibat bersyukur. Itulah kondisi istimewa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Ya Allah, ajarkan aku untuk senantiasa beryukur atas semua nikmat yang telah Kau anugerahkan padaku. Ya Allah, ampuni ketidak-sempurnaanku mensyukuri nikmat-nikmat Mu. Dan sempurnakanlah nikmat-Mu padaku di dunia & akhirat. Amiin
January 14, 2011
Suatu hari seorang bapak memberi wejangan kepada seorang anak laki-lakinya yang baru saja mendaftar di Sekolah Dasar. "Ingat mas, kamu itu harus rajin belajar supaya kamu pintar!!" Begitu pesan sang bapak. Kemudian si anak mematuhi perintah bapaknya. Selama beberapa tahun ia mendapat peringkat yang baik di kelas.
Hingga saat si anak memasuki usia remaja, dan ia mulai mengenal rasa suka terhadap wanita, ia mulai menterjemahkan lain petuah bapaknya. Sesuai dengan kondisi terkini, pikirnya, rajin belajar supaya pintar adalah belajar untuk menggoda dan merayu wanita agar wanita bisa terpikat dengan dirinya. Jadilah ia belajar menggoda dan memikat wanita dengan dalil perintah bapaknya.
Sah kah logika anak tersebut?
Kita tentu saja setuju, bahwa logika tersebut sangat ngawur dan ngaco. Perintah bapaknya punya konteks tersendiri, sedangkan si anak memalingkan konteks tersebut. Kalau mau benar, harusnya diperhatikan kondisi-kondisi yang muncul saat perintah itu keluar. Seperti penyebab perintah itu muncul, dan keterangan lain dari bapak dan ibunya soal perintah tersebut.
Sebenarnya kisah tersebut adalah metafora bagi kalangan liberal yang hendak menggugat Al-Qur’an dengan alasan zaman. Al-Qur’an menurut mereka adalah produk budaya yang berlakunya harus disesuaikan dengan usia dan kondisi zaman. Dengan basis pemikiran ini, kaum liberal mengadopsi metode hermeneutika. Menafsirkan Al-Qur’an sesuai konteks zaman dan budaya. Mencoba membuat Al-Qur’an menyerah oleh perkembangan zaman. Na’udzubillahi min dzalik.
Teori hermeneutika agak rumit dicerna oleh kalangan awam. Kalau kita ingin menerangkan tentang hermeneutika kepada masyarakat, mungkin kita akan kesulitan memilih kata-katanya. Tapi metafora seperti di atas rasanya cocok. Dan satu hal lagi, masyarakat biasanya akan melihat dari produk yang dihasilkan. Kenyataannya, metode hermeneutika ini menghasilkan tafsir yang sangat ngawur tentang jilbab: "Bahwa Jilbab adalah hasil budaya dan tidak wajib. Batasan aurat adalah bagian tubuh yang membuat kita malu apabila terlihat." Begitulah hasil tafsir metode hermeneutika tentang jilbab dirangkum dari berbagai pendapat liberalis.
Amat tepat metode yang telah ada selama ini: Al-Qur’an ditafsir dengan ayat Al-Qur’an lain, dengan hadits, dengan perkataan sahabat, ulama, dan lughoh (bahasa). Metode ini mengantarkan penafsir pada kesimpulan yang tepat sesuai dengan keinginan Allah swt. Apabila produk tafsir dari metode tersebut dirasa tidak sesuai dengan zaman, maka tandanya zaman yang sudah tidak sesuai dengan keadaan ideal yang diharapkan oleh Al-Qur’an. Umat Islam harus buru-buru mengoreksi kehidupannya agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Al-Qur’an.
Degradasi keimanan itu sesuatu yang pasti terjadi. Rasulullah pernah bersabda: :“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksiannya salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Bukhari nomor 2509, 3451, dan 6065; Muslim nomor 1533) Lalu kalau metode tafsir Al-Qur’an kita paksakan sesuai dengan peradaban yang telah terdegradasi keimanannya, kesholehannya, maka tentu saja hasil tafsrinya akan terdegradasi ketepatannya. Sungguh tafsir ini yang membuat umat makin terpuruk dan celaka tak mampu bangkit.
Begitulah jebakan liberal yang sangat rapuh tapi membahayakan. Logika mereka sesungguhnya rapuh. Hanya saja dibungkus oleh retorika dan diksi yang memukau. “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (Q.s. an-Nisa’: 76).
October 8, 2010
Kreatifitas dibutuhkan untuk mendobrak kejemuan. Termasuk untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, karena keimanan itu fluktuatif, naik dan turun. Hati manusia yang berada di "dua jari Allah swt", kadang mengalami rasa giat, dan kadang mengalami kejenuhan.
Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib berpesan: "Hiburlah hatimu sedikit demi sedikit, sesungguhnya hati itu apabila tidak suka, menjadi buta. Sesungguhnya hati itu bisa bosan sebagaimana fisik juga bisa bosan, maka carilah untuknya keindahan hikmah (kebijaksanaan)."
Tapi tulisan ini bukan bermaksud mengajak kita kreatif untuk mengada-adakan ibadah yang baru yang tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Bukan itu. Tapi kreatif untuk mengakali mood yang turun, agar dalam futur kita tidak terlalu jauh dari Allah swt.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang futur tetap dalam keadaan diatas sunnah, maka ia akan mendapat hidayah. Dan barang siapa yang futur tidak diatas sunnah, maka ia akan celaka”.(Hadits riwayat Imam Abu Dawud). Secara Etimologi arti futur adalah diam setelah giat dan lemah setelah semangat.
Sudah cukup banyak artikel yang membahas tentang futur. Dan yang bisa saya tuangkan hanyalah beberapa tetes ide yang mengalir di kepala saya, dan beberapa berasal dari pengalaman saya.
Bahan bacaan di kala futur
Saat hati melemah, ada baiknya selektif memilih bahan bacan. Bahan bacaan yang bisa membangkitkan gelora untuk berjuang di jalan Allah, berbuat sesuatu untuk menolong keadaan umat Islam yang sedang terpuruk, memang baik. Tapi apakah bahan bacaan itu cocok untuk hati kita yang sedang lemah?
Tiap orang berbeda, tetapi disaat rasa bosan menyerang, saya lebih memilih bahan bacaan yang akan membangkitkan semangat beribadah kepada Allah swt. Bacaan-bacaan seperti fadhilah/keutamaan sholat tahajud, membaca Al-Qur’an, shoum sunnah, sholat sunnah, juga bacaan tentang keadaan saat sakaratul maut, keadaan dalam qubur, dan di akhirat; adalah bacaan yang saya pilih saat hati melemah. Saya menghindari bacaan yang akan banyak membuat saya memeras otak dan berfikir lebih rumit. Bacaan-bacaan seperti itu bisa optimal saya lahap kalau semangat saya sedang naik.
Sekali lagi, tiap orang bisa berbeda keadaannya. Butuh eksplorasi atas diri kita sendiri.
Mencari jalan untuk membangkitkan harapan kepada Allah.
Saya pernah tinggal di sebuah daerah, di mana bila saya hendak pergi kemasjid yang dekat dengan rumah, ada sebuah jalan yang melewati kuburan. Tapi jalan utama menuju ke masjid itu tidak melewati kuburan. Dan saya lebih sering menghindari kuburan untuk mencapai masjid.
Jalan yang melewati kuburan itu kadang saya lalui kalau saya terkena futur. Tidak, saya tidak hendak meminta-minta pada kuburan agar hati saya semangat lagi. Tapi saya cuma memanfaatkan rasa penakut saya, agar ketika melewati kuburan, timbul harapan kepada Allah swt agar dihindarkan dari kejadian yang seram-seram. Ketika melintas di dekat kuburan itu hati saya akan banyak berdzikir kepada Allah swt dan mengakui kesalahan-kesalahan saya.
Yah, itu memang cara yang agak aneh. Padahal seharusnya saat melintasi kuburan, saya mengingat kematian, mengingat adzab kubur dan susahnya kehidupan di sana, dari pada memanfaatkan rasa takut saya. Karena dengan mengingat adzab kubur itu seharusnya bisa membangkitkan harapan kepada Allah swt.
Ada banyak cara lain untuk membangkitkan harapan kepada Allah swt. Mudahnya, benturkan saja diri kita dengan apa yang kita khawatirkan.
Terkadang ada saat-saat kita terlingkupi dalam comfort zone. Semua nyaman. Finansial, jauh dari masalah. Karir, jelas terlihat jalannya. Kesehatan prima. Keadaan seperti ini bisa memancing rasa tidak memerlukan Allah swt dalam diri kita. Bahaya!!! Dan lebih berhaya lagi apabila hati melemah saat terlena dengan keadaan nyaman.
Oleh karena itu bisa diterima kalau ada yang bilang musibah itu adalah nikmat. Karena melalui musibah, ada kenikmatan yang Allah berikan - kalau kita mau meraih kenikmatan itu. Yaitu kenikmatan rasa memerlukan Allah swt.
Ada taujih yang selalu terngiang dalam pikiran saya. Taujih yang saya terima saat i’tikaf di masjid Al-Madani di Padang pada akhir 1999 dan awal tahun 2000. Dalam taujih itu, para pendengar diminta untuk mencari tantangan. "Cobalah jalan ke hutan sendirian, dan bekali diri kita hanya dengan sebuah pisau. Di situ kita akan merasa sangat memerlukan Allah swt. Selama ini mudah sekali kita mendapat makanan. Kalau tidak ada makanan di rumah, di luar banyak yang menjual. Tapi kalau di hutan, kita akan merasa kesulitan sehingga tumbuh rasa harap kepada Allah swt.
Atau coba jalan-jalan ke Muara (daerah pantai di Padang), kayuh sebuah perahu ke tengah laut. Di tengah laut itu, dirikan sholat sunnah 2 rakaat. Saat itu resapi, bagaimana kita sangat bergantung kepada Allah swt. Bisa saja ada ombak besar menghantam perahu kita sehingga kita jatuh ke laut. Di situ kita dilingkupi kecemasan sehingga kita berharap kepada Allah swt."
Redaksi taujihnya tidak mungkin sama, tapi intinya seperti itulah. Taujih itu yang memotivasi saya untuk kreatif ketika dilanda futur.
September 16, 2010
Sebuah metafora lama masih segar dalam ingatan kita. Alkisah seorang guru memberikan sebuah game untuk para muridnya. Di depan kelas, ia bentangkan sebuah karpet. Kemudian di tengah karpet tadi diletakkan sebuah Al-Qur’an. Sang guru membuat sayembara kepada muridnya: Siapakah yang bisa mengambil Al-Qur’an tanpa menginjak karpet?
Beberapa anak telah mencoba, tetapi gagal. Pada akhirnya sang guru itu menjawab sendiri. Caranya adalah dengan menggulung karpet itu. Karpet digulung hingga Al-Qur’an terjangkau oleh tangan.
Kemudian sang guru memberi penjelasan kepada murid: "Maka begitulah cara para orientalis mengambil Al-Qur’an dari hati umat muslim. Orang-orang kafir itu tidak berani untuk menginjak-injak hati umat muslim untuk merampas Al-Qur’an dengan paksa. Mereka akan mendapatkan perlawanan dengan sangat keras. Mereka akan menggulung sedikit demi sedikit kecintaan umat muslim tentang agamanya yang luas, dan setelah kecintaan itu tersisa sedikit, Al-Qur’an bisa dienyahkan dari pikirannya."
Seperti itu kira-kira metafora yang mungkin sering kita dengar.
*****
Seorang preman pemabuk yang hidupnya bergelimpangan dengan maksiat, namun di KTPnya tertulis agamanya adalah Islam, jangan coba-coba membanting Al-Qur’an di hadapannya. Preman itu akan marah besar. Sekalipun terbiasa dengan maksiat, namun masih ada rasa penghormatan yang tinggi pada simbol-simbol agamanya.
Wajar apabila Panglima Militer Amerika Serikat di Afghanistan, Jenderal David Petraeus, sangat ketakutan dengan rencana Terry Jones yang ingin membakar Al-Qur’an pada peringatan 9 tahun peristiwa 911. "Itu bisa membahayakan pasukan dan itu bisa membahayakan upaya keseluruhan," katanya.
Tapi coba bawa wacana tentang ibadah bersama antara umat Islam dan umat agama lain di hadapan Preman itu, ia tidak akan meresponnya dengan serius. Atau ia akan menganggap masalah itu terlalu berat untuk dipikirkan. Padahal antara membanting Al-Qur’an dengan penyimpangan ajaran Al-Qur’an sama-sama pelecehan yang serius atas kitab yang diturunkan oleh Allah untuk umat Islam. Bedanya, yang satu yang dilecehkan adalah simbol, dan yang satu adalah intinya.
Golongan orang kafir yang tidak senang dengan umat Islam (QS 2:120) lebih banyak menggunakan metode ‘penggulungan’ ini. Mereka menggulung kecintaan umat Islam pada agamanya. Mereka menggulung pemahaman umat Islam atas agamanya. Mereka menggulung penerapan umat Islam pada agamanya.
Bahwa dunia ini dijadikan indah pada pandangan manusia (QS 3:14), orang-orang itu sangat menyadari hal ini. Maka mereka membawa segala bentuk bayangan fatamorgana kepada umat Islam. Mereka membawa film yang menanyangkan artis-artis cantik dan aktor-aktor tampan. Mereka memberi hutang kepada negeri berpenduduk muslim agar rakyatnya konsumtif. Mereka tawarkan berbagai hobi dan kesenangan. Tujuannya adalah agar kecintaan umat Islam pada agamanya terampas. "Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik." Setelah umat Islam mencintai kesenangan kehidupan dunia, maka tidak ada tempat untuk mencintai agamanya. "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya" (QS 33:4)
Mereka juga ikut serta dalam diskusi keislaman dengan membawa pemahaman-pemahaman yang asing. Mereka perkenalkan hermeneutika, metode tafsir yang cocok untuk mengubah perintah dan larangan Allah. Mereka kacaukan aqidah umat dengan ide yang terdengar manis: "Semua agama sama, sama-sama mengajarkan kebaikan". Dengan cara-cara itu mereka menggulung pemahaman umat Islam.
Mereka juga menggulung penerapan umat Islam atas ajaran agamanya. Pada titik ekstrim, seperti di Turki saat awal keruntuhan khilafah Turki Utsmani, mereka melarang adzan & sholat menggunakan bahasa Arab. Tapi ada banyak cara yang terlihat lembut dan elegan. "Serahkan urusan negara pada kaisar, dan serahkan urusan agama pada pendeta" adalah ajaran agama tetangga. Ajaran itu tidak dikenal dalam Islam. Ajaran seperti itu membuat ajaran Islam yang sangat luas dalam ranah muamalah menjadi ide usang yang tidak bisa diterapkan. Mereka biarkan manusia dengan hawa nafsunya membuat hukum sendiri antar sesama manusia, sedangkan aturan Allah swt yang agung terpinggirkan.
"Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (QS 6:119)
*****
Rasulullah tahu, karena itu ia mengadu kepada Allah: "Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan."" (QS 25:30).
Non muslim tentu saja akan mengacuhkan Al-Qur’an. Tetapi sebagian dari umat Islam sendiri, rupanya dikeluhkan oleh Rasulullah. Sekali lagi, mereka tidak mengacuhkan simbol. Umat Islam akan meletakkan mushaf tinggi-tinggi, kalau bisa di atas lemari untuk mengagungkan Al-Qur’an. Apabila Al-Qur’an jatuh atau terkena kaki, mereka mencium Al-Qur’an untuk menebus rasa bersalah. Kitab Al-Qur’an mereka oleskan parfum agar wangi. Sedemikian besar penghormatannya.
Tapi ajarannya tidak dijunjung tinggi-tinggi. Hafalan Qur’an sebagian umat Islam sangat timpang dibanding hafalan lagu-lagu populer. Tidak ada Al-Qur’an di otak mereka. Apabila apa yang mereka pahami dari Al-Quran itu "jatuh" karena terlupa atau tidak diterapkan, mereka tidak punya rasa menyesal yang dalam. Dan umat Islam sebagai etalase dari ajaran Al-Qur’an, tidak membuat ajaran Al-Qur’an itu tercium wangi oleh umat lain. Umat lain malah bertanya-tanya kebingungan, "seperti ini kah yang diajarkan Al-Qur’an kepada mereka?"
*****
Saat ini umat Islam sedang digulung, dari berbagai aspek yang mereka miliki. Termasuk kelapangan ukhuwah Islamiyah. Dengan ukhuwah yang sempit, umat Islam saling bertikai sendiri. Jadi, mereka yang memusuhi agama ini tidak perlu "menginjak" umat, tapi mereka merekayasa agar umat saling menginjak satu sama lain.
Tergulung itu tidak terasa, tidak seperti diinjak. Itulah makanya umat Islam diam saja dengan fenomena "tergulung" ini. Mereka lebih punya respon apabila terinjak oleh sesama saudaranya.
June 23, 2010
I am thinking therefore I am (Rene Descartes)
Berani menjejakkan kaki di permukaan bumi tanpa mengenal jati diri, itu perbuatan yang sangat riskan. Bisa saja kita survive, tapi kita akan kehilangan banyak hal. Karena hidup itu memiliki mimpinya sendiri, maka salah satu yang akan sulit kita raih adalah impian (visi) tersebut. Karena hidup memiliki misi tersendiri, maka kehidupan yang tidak mengenal jati dirinya, akan melalaikan misi itu..
The Human, in Islamic Paradigm
Manusia adalah makhluk yang paling mencengangkan di alam semesta ini. Manusia dianugerahi akal. Bahkan akal tersebut digunakannya lagi untuk kerja rekursif: memikirkan hakekat dirinya sendiri, hakekat eksistensinya yang unik di jagad raya.
Maka berbagai disiplin ilmu ikut andil mempelajari manusia. Mulai dari filsafat, psikologi, sosiologi, teologi, ekonomi, dsb. Berbagai disiplin ilmu itu memandang manusia dari berbagai sudut dimana disiplin ilmu itu berdiri, dan menggunakan kacamata egocentris: memandang manusia berdasarkan bingkai disiplin ilmu tersebut. Sehingganya, tak satu pun yang utuh menjabarkan manusia secara sempurna.
Andai kata kita mencoba memahami diri kita sendiri menggunakan akal yang kita miliki, maka keterbatasan yang menjadi sifat mutlak manusia akan membenturkan kita untuk mendapatkan jawaban yang utuh mengenai teka-teki yang hebat ini. Tapi Allah SWT, yang telah menciptakan manusia dengan tangan kanan-Nya sendiri – dan semua tangan Allah adalah kanan, telah memberikan petunjuk mengenai manusia yang tertuang dalam wahyu. Dasar yang tepat dalam berteori tentang eksistensi manusia.
Manusia memiliki tiga unsur: hati, akal dan jasad. Hati membentuk keputusan yang bersumber dari keyakinan (Qs 75:14), memiliki kehendak (Qs 18:29) dan kebebasan memilih (Qs 90:10). Akal Allah berikan, mampu membentuk pengetahuan (Qs. 17:36). Sedangkan jasad adalah unsur yang melakukan amal (Qs. 9:105).
Dengan akal, hati, dan jasad manusia dapat beribadah.
Untuk apa manusia diciptakan?
Perspektif Islam menjawab semua ini.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukmin:115)
1. Untuk beribadah kepada Allah SWT
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariat : 56).
Semua ciptaan Allah selaras menyembah-Nya. Hal ini adalah sebuah sunnatullah. Sejalan dengan itu, manusia pun pada hakikatnya diciptakan untuk menyembah Allah swt. Hanya saja pada penyembahan itu, manusia memiliki freewill apakah dia hendak menyembah-Nya atau tidak. Kebebasan kehendak itu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (An-Nur:41)
2. Untuk menjadi khalifah di Bumi
“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…” (Qs. Hud:61).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…” (Qs. 2:30).
Sejatinya, manusia adalah makhluk pembangun yang cerdas untuk bumi ini. Tetapi, kita malah melihat kerusakan di mana-mana. Ozon yang bocor, pemanasan global, hingga terumbu karang yang terancam punah.
Manusia telah menyetujui untuk memikul amanat yang ditawarkan oleh Allah. Hanya saja, kebodohan dan kezaliman yang lekat pada manusia telah memalingkannya dari misi yang utama ini.
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. (Qs. Al-Ahzab:72).
3. Sebagai ujian, siapakah di antara kita yang lebih baik amalnya.
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Mulk:2).
Allah telah menggelar kompetisi di bumi ini, yang kelak akan menentukan gelar khoirul bariyyah (sebaik-baik makhluk, Qs 98:7), dan syarrul bariyyah (makhluk yang buruk Qs 98:6).
Sifat-sifat Manusia
Beberapa berikut ini adalah watak dasar manusia. Manusia memiliki watak yang kebanyakan buruk. Lalu Islam datang untuk meng-upgrade watak-watak manusia, sehingga meninggalkan watak yang buruk dan memiliki watak yang baik sebagai identitas seorang mukmin.
Sifat dasar manusia itu antara lain:
- Tergesa-gesa (17:11, 21:37)
- Berkeluh kesah (70:19, 90:4)
- Gelisah (70:20)
- Tak mau berbuat baik (70:21)
- Pelit (17:100)
- Kufur (14:34)
- Pendebat (18:54)
- Pembantah (100:6)
- Zalim (14:34)
- Jahil (33:72)
Coba periksa adakah sifat-sifat tersebut pada diri kita?
Sesungguhnya sifat-sifat tersebut adalah sifat dasar manusia. Seorang mukmin seharusnya telah ter-upgrade wataknya, tidak lagi memiliki sifat-sifat dasar tersebut.
—
Ditulis semasa kuliah
June 15, 2010
Bagaimana cara menjadi muslim yang terbaik? Mungkin orang akan menyuguhkan kriteria ubudiyah yang tinggi: Sholat malam tak pernah putus, puasa senin kamis tak pernah tertinggal, minimal sekali dalam sebulan harus khatam Al-Qur’an, dsb. Tapi kenyataannya Rasulullah tidak selalu mengajukan kriteria seperti itu. Kadang Rasulullah mengajukan kriteria: “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan." (HR Muslim) Dan pernah juga Rasulullah menyebut kriteria lain: "Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya". (HR Tirmidzi)
Ternyata bagi seorang suami, media untuk menjadi muslim yang terbaik itu sangat dekat: pada "tulang rusuknya". Keberhasilan menjadi muslim yang terbaik berbanding lurus dengan akhlak kepada istri. Semakin baik akhlak seorang suami kepada istri, semakin baik ia di mata Allah swt.
Hikmah kriteria ini adalah akan terbentuknya keluarga yang utuh dan harmonis dalam naungan ridho Allah swt. Ketika seorang suami berusaha menjadi yang terbaik dengan cara menyempurnakan akhlaknya kepada istri, diharapkan akan ada respon yang baik dari istri yaitu pelayanan yang sempurna kepada suami. Dan ini akan menambah rasa kasih sayang di antara mereka. Anak-anak pun akan mendapat ketauladanan yang indah dari akhlak ayahnya. Di samping itu, hubungan orang tua yang mesra sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang besar dalam keluarga yang utuh jelas punya peluang untuk mendapat didikan yang lebih baik daripada anak yang besar dalam keluarga yang broken home.
Kalau mau ditarik lebih jauh hikmah dari kriteria ini, akan berdampak pada masyarakat, negara, dan dunia. Karena kumpulan keluarga yang muslim akan membentuk masyarakat yang damai. Masyarakat yang damai akan membentuk negara yang sejahtera. Dan seterusnya. Semua itu berpangkal pada akhlak seorang suami sebagai pribadi muslim. Itulah hikmah kriteria "akhlak kepada istri", dampaknya bisa luar biasa.
*****
Bagaimana menjaga keutuhan keluarga? Biasanya akan dijawab: dengan cinta. Memang banyak pasangan yang sudah punya modal cinta saat membangun rumah tangganya, tapi kenyataannya tetap banyak terjadi perceraian dan perselingkuhan. Cinta sudah selayaknya ada dalam rumah tangga, tapi kalau anda sudah menikah, rasanya anda akan sepakat bahwa akhlak lah yang menopang keutuhan rumah tangga.
Saya menemukan artikel yang menyebutkan bahwa hormon cinta hanya bertahan selama 4 tahun. Penelitian tentang itu diungkapkan oleh para peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis.
Sependek itu. Tapi saya yakin, durasi bertahannya rasa cinta akan berbeda pada tiap orang. Yang jelas, cinta itu bisa hilang!!!
Karena itu akan sangat riskan apabila rumah tangga hanya didasari oleh rasa cinta. Karena saat cinta itu hilang, maka ambruk lah bangunan rumah tangga itu. Bahkan walau pun masih ada cinta di antara pasangan suami istri, namun kalau dalam keseharian mereka tidak mampu saling menunjukkan akhlak yang baik dalam hubungannya, maka rumah tangga itu tetap terancam rubuh. Bahkan akhlak yang buruk itu mempercepat musnahnya cinta.
Kasih sayang bisa bersemi di atas akhlak yang kokoh. Bila suami memperlakukan istri dengan baik, dan istri membalas dengan pelayanan yang menyenangkan, maka saat itu lah do’a seorang pria yang minta dikaruniai istri dan anak-anak yang menjadi ‘cahaya mata’ (qurrota a’yun) terwujud.
Akhlak adalah benteng keutuhan rumah tangga.
****
Akhlak itu harus dimiliki oleh kedua pasangan, bukan hanya suami saja. Akhlak seorang istri kepada suami adalah saat ia menaati suaminya. Dan itu menjadi kewajiban yang tak boleh disepelekan. "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Al-Baqarah: 228).
Rasulullah bersabda, "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud, Al-Hakim)
Bahkan penyebab wanita banyak menjadi penghuni neraka adalah karena akhlaknya yang buruk kepada suami. Seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw: "Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami’". (HR Bukhori)
Perkara yang mungkin sepele: mengabaikan kebaikan suami, bisa berakibat sangat fatal. Dalam suatu sabda Rasulullah saw: “…dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
Berterima kasih atas kelebihan pasangan, dan sabar atas kekurangannya. Itu merupakan kunci akhlak dalam rumah tangga. "Tahu berterima kasih" bukan cuma diharuskan untuk istri, bahkan sikap itu harus dimunculkan oleh suami manakala terbersit ketidak-puasan terhadap istrinya. Allah berfirman, "…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS An-Nisa : 19) Begitulah tips yang diberikan oleh Allah kepada suami untuk mempertahankan rumah tangganya: bersabar dan memperhatikan kebaikan yang dimiliki oleh pasangan.
*****
Salah satu akhlak seorang suami yang mengokohkan rumah tangganya adalah ekspresi yang tidak terus terang saat menemukan kekurangan istri. Ia menyembunyikan kekecewaannya sehingga bisa menjaga perasaan istrinya. Seperi saat merasakan ada yang kurang dari masakan istrinya, seorang suami bisa menunjukkan akhlak yang baik saat ia malah memuji masakan itu.
Berdusta dalam rumah tangga - selama dalam kerangka kebaikan - diperbolehkan. Ummu Kultsum rha. berkata, ""Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya." (HR Muslim)
Ada cerita yang penuh hikmah tentang suami yang berekspresi normal saat melihat ketidak-sempurnaan istrinya, yang diceritakan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”.
Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”
Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.
Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.
Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.
*****
Berkata ulama salaf: "Seorang suami yang sholih, bila dia mencintaimu maka bersyukurlah kepada Allah. Bila dia tidak menyukaimu, maka dia pasti tidak akan menzholimimu." (Seperti dikutip dari tulisan ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di milis nashihah)
—
Untuk Istriku, mohon maaf atas segala kekurangan akhlakku, selama pernikahan kita. Tapi aku akan terus berusaha menyempurnakannya.
June 10, 2010
"Bu, Arina kerasukan lagi. Dari tadi dia nangis keras jerit-jerit." Suara Mbok Minah yang terdengar dari gagang telepon mengagetkan Ranti.
"Hah? Sejak kapan?" Tanya Ranti.
"Dari tadi, Bu. Sekitar setengah jam yang lalu. Aduh… saya bingung, Bu. Saya gak tahu harus gimana lagi. Setannya gak mau keluar keluar."
"Udah panggil Pak Risman?"
"Eri udah kerumahnya, Bu. Tapi Pak Risman lagi gak ada di rumah."
"Saya segera pulang, Mbok." Ranti menyudahi percakapan.
Setelah me-lock komputernya, Ranti segera berdiri dan merapikan tas. Semua pasang mata yang ada di ruangan itu mengarah padanya. Ranti merasa tidak enak. Sejak Arina anaknya sering kerasukan, Ranti sudah beberapa kali izin pulang atau izin keluar sebentar. Rumah Ranti memang dekat dari kantor. Tapi tetap saja ada waktu yang tersita untuk urusan pribadinya.
"Izin lagi, Ran?" Tanya atasannya yang posisinya berada di kubikel di depan Ranti duduk.
"Iya Pak. Arina kerasukan lagi. Saya sebentar saja kok."
"Laporan pelanggan yang…"
"Sembilan puluh persen selesai Pak. Kalau tidak selesai sore ini, saya bersedia lembur kok. Permisi, Pak!" Ranti memotong pertanyaan atasannya. Kemudian tanpa mempedulikan izin atasannya, atau apakah masih ada yang ingin disampaikan oleh atasannya, Ranti bergegas meninggalkan ruangan menuju lantai basemen, tempat mobilnya diparkir.
*****
”Selengkapnya..>>”