Demarketisasi!!!
Pada pemerintahan Megawati, kelompok mahasiswa yang sering berdemonstrasi meminta Mega turun dari jabatannya, tidak begitu yakin bahwa Megawati akan mendengar tuntunan mereka dan kemudian lengser keprabon. Atau anggota MPR mendengar tuntutan mereka dan kemudian mengadakan Sidang Istimewa untuk menjatuhkan Megawati Sukarno Putri. Lalu, mengapa mereka masih terus berdemonstrasi?
Oke, tuntutan idealisme adalah salah satunya. Megawati saat itu jelas-jelas tidak berpihak pada reformasi dan malah makin menyuburkan praktek KKN. Dan salah satu prestasinya adalah penjualan Indosat dengan harga murah kepada pihak asing. Kita sama-sama tahu lah, Indosat adalah aset yang sangat berharga selain keberadaannya yang vital sebagai salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Bayangkan, pembicaraan rakyat Indonesia akan mudah disadap oleh pihak asing, dalam hal ini Singapura yang menguasainya.
Hmm.. Megawati sepintas seperti sebuah Trojan Horse dalam istilah komputer. Atau dalam dunia perwayangan Yunani kuno, seperti Patung Kuda yang dihadiahkan kepada kota Troja yang berfungsi sebagai alat masuk musuh ke dalam kota. Ya sama saja, Trojan Horse juga namanya :-p.
Lalu adakah alasan lain? Ya ada, dan itu yang mencapai target. Yaitu demarketisasi!!! Alasan Mahasiswa mengadakan gelombang demonstrasi saat itu adalah untuk melakukan demarketisasi terhadap Megawati. Agar saat pemilu pilpres popularitas Megawati telah anjlok jlok jlok.
Proses demarketisasi sangat diperlukan, untuk membuka mata masyarakat akan kegagalan Megawati sebagai presiden. Mungkin dengan adanya kebijakan-kebijakan Mega saat itu, sudah otomatis men-demarketisasi dirinya sendiri dan seharusnya mahasiswa tidak perlu berpanas-panas ria turun ke jalan mendemarketisasi pemerintahan Megawati. Tapi Megawati bukanlah pihak yang lemah. Pemilu tahun 99 saja memperoleh 35 persen suara. Perlu usaha yang lebih keras lagi untuk meruntuhkan Megawati dari hati asyarakat. Hasilnya? Tercapai sudah! Meski sempat masuk ke putaran ke dua dan suara yang diperolehnya saat putaran kedua hanya beda tipis dengan perolehan SBY-JK.
Well… ada tugas demarketisasi lain menanti!!
Saat kamu merasa bahwa sebuah pemimpin telah gagal, dan pemimpin tersebut dengan pede tidak peduli terhadap kegagalannya bahkan hendak mencalonkan diri lagi, maka tindakan yang harus kamu lakukan adalah mendemarketisasi, membuka mata dan telinga orang-orang agar tahu bahwa pemimpin itu telah gagal.
Nah, bayangkan, pemimpin yang telah menghadirkan banjir hebat bagi Jakarta, dengan pedenya mengusung slogan "serahkan jakarta pada ahlinya." Ngocol banget gak tuh. Untuk orang ini harus harus harus didemarketisasi!!!
Entah apa yang dikepala pasangan banjir ini, berani-beraninya mengaku sebagai ahlinya Jakarta. Padahal prestasinya hancur-hancuran.
Busway, underpass, dan pembangunan jalan-jalan lain? Kita tidak menafikan prestasi di bidang infrastruktur. Tapi toh prestasi itu tak lepas dari kebobrokan di dalamnya. Dua pasangan itu seperti tidak peduli dengan lingkungan. ‘Prestasi’nya itu memanjakan pengguna kendaraan bermotor di tengah-tengah kampanye untuk menghemat emisi dan menjaga lingkungan. Kita tahu, salah satu efek rumah kaca yang menipiskan ozon disebabkan oleh gas karbondioksida yang dihasilkan oleh kendaraan. Apa tak punya cara lain untuk menghindari macet sekaligus menjaga lingkungan?
Pembangunan infrastruktur yang kasar terhadap lingkungan itu juga berbuah banjir besar. Apa yang kurang pelajaran dari banjir tahun 1992? Bukankah saat itu gebernurnya Bang Yos juga. Dan Foke pun hidup saat itu. Bukankah seekor keledai tak jatuh pada lubang yang sama dua kali?
Pengerjaan kanal barat dan kanal timur yang bisa sedikit banyak menyelamatkan warga Jakarta dari banjir tak lebih prioritas dari sebuah alat transportasi bernama BusWay.
Sebaiknya wakil gubernur jakarta saat ini mengakui bahwa banjir yang terakhir itu cukup menjadikan bukti bahwa dia sama sekali bukan ahlinya dalam mengurus Jakarta. Juga kemacetan yang tak juga menemukan jawaban. Wajah Ibukota yang semakin ganas dengan penggusuran-penggusuran yang mengacuhkan konsep win-win solution.
Belum lagi masalah Tata Kota… Ah masih banyak lagi prestasi buruk pemerintahan Sutiyoso-Foke ini.
Cukup!!! Saya ngikut kandidat baru saja… "Ayo Benahi Jakarta!!!"
Kembali ke masalah demarketisasi, tadi pagi saat bus 640 yang saya tumpangi melintas di Kalibata, terlihat poster-poster yang bertuliskan "Bosen Macet? Ayo Benahi Jakarta." Itu salah satunya. Kata-kata yang lain… lupa nih. Tapi lumayan kreatif untuk membuka mata warga Jakarta akan masalah yang ada yang tidak terselesaikan oleh "sang ahli" tersebut.
Sebenarnya kata "Ayo Benahi Jakarta", tanpa embel-embel "Bosen Macet?","Nata Kota Kok Bikin Sengasara", dsb. sudah cukup sebagai demarketisasi. Tapi supaya lebih membuka mata warga, memang bagus apabila sebelum kata "Ayo Benahi Jakarta" itu ditambahkan kata-kata yang mengetengahkan masalah yang ada. Baru diakhiri dengan slogan optimis, "AYO BENAHI JAKARTA!!!"
May 29, 2007
