June 14, 2007

Tertancap Ke Bumi

Alkisah ada seseorang konglomerat terkaya di dunia ini yang baru saja membeli tanah yang amat luas. Ia bangga sekali dengan apa yang dimilikinya. Sehingga dia beranggapan bahwa daerah yang paling luas yang pernah dimiliki oleh seseorang adalah daerah kekuasaannya.

Untuk menikmati luasnya wilayah yang baru dimilikinya itu, ia memutuskan untuk berkeliling dengan menggunakan kendaraan. Ia memilih mobil mewah yang punya kecepatan yang tinggi. Ia ingin tahu, berapa banyak hari yang akan ia habiskan untuk mengelilingi wilayahnya itu.

Maka dimulailah perjalanan itu. Bersama beberapa supir pribadi dan rombongan, ia melintasi pegunungan, sungai-sungai, tepi laut, danau, dan daerah-daerah yang baru sekali itu ia lihat selama beberapa hari. Padahal ia telah dipacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tapi tetapi tidak juga kunjung ia temukan titik akhir perjalanan.

Pada akhirnya ia putuskan untuk kembali ke rumahnya. Ia sangat puas. Sangat puas. Ia merasa telah memiliki wilayah yang begitu luasnya. Dan ia sangat terkagum-kagum dengan keluasan wilayahnya itu. Ia begitu mencintai tanah yang teramat sangat luas tersebut.

Suatu hari konglomerat ini tertantang untuk menembus angkasa raya dengan satelit. Memiliki uang yang banyak membuat ia mudah mengatur semuanya. Maka pada hari yang telah ditentukan, ia bersiap untuk menuju angkasa luas dengan sebuah satelit.

Perhitungan mundur dilakukan. Saat mencapai hitungan nol, satelit meluncur ke atas. Dari ketinggian, ia bisa melihat-lihat luasnya bumi dan luasnya wilayah yang ia miliki. Masih ia terkagum-kagum dengan luasnya wilayah yang ia miliki.

Tetapi semakin tinggi satelit naik, semakin terlihat kecil wilayahnya. Terus begitu, semakin tinggi satelit naik, semakin kecil bumi terlihat. Bahkan wilayahnya bisa ia jangkau dengan jengkalnya. Hingga akhirnya ia hanya melihat bumi sebesar kelereng.

Di ketinggian itulah ia menyadari bahwa wilayah yang ia punya tidaklah seberapa. Kecil dibandingkan alam raya ini.

Saudaraku, perhatikanlah bagaimana kisah itu menjadi metafora bagi kehidupan kita. Apabila boleh diumpamakan tingginya ruhiyah seseorang dengan tingginya posisi seseorang di angkasa, maka semakin tinggi ruhiyah seseorang maka akan kehidupan dunia ini akan semakin terlihat kecil baginya.

Allah menyebut dengan kata “tsaqoltum ilal ardh” (terjemahan bebasnya: berat ke bumi) bagi orang mukmin yang malas pergi ke medan jihad ketika ada seruan untuk berjihad. (At-Taubah 38). Dan pada ayat itu, kepada orang-orang yang tertahan di bumi, Allah bertanya, “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni’matan hidup di dunia ini  diakhirat hanyalah sedikit.”

June 9, 2007

Moral

Filed under: Orat Oret

Apakah moral itu relatif?

Saya setuju, moral itu relatif. Kok???

Ya, moral adalah rumusan budaya setempat. Setiap tempat memiliki standard moral yang tidak sama. Suatu hal yang patut pada suatu daerah, belum tentu patut dinilai oleh masyarakat di daerah lain.

Misalnya saja, berjalan di depan orang yang lebih tua tanpa membungkukkan badan di tanah Batak adalah hal yang wajar-wajar saja. Tapi tidak demikian di Jogja. Hal itu akan dianggap suatu kesombongan. Itulah makanya menurut saya moral itu relatif.

Tapi budaya terus mengalami perkembangan sehingga standard moral pun akan mengalami perubahan.

Islam mengenal ‘urf atau adat kebiasaan. ‘Urf menjadi salah satu hukum dalam Islam. Tentu saja selama ‘urf tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Samakah ‘urf dengan moral? Itulah, karena menurut saya moral itu hasil budaya, dan benar atau salah moral itu dinilai oleh budaya setempat, maka ada keterkaitan antara ‘urf dan moral. ‘Urf adalah kebiasaan yang dianggap baik oleh suatu lingkungan tertentu. Begitu juga moral, yang adalah sikap tingkah laku seseorang yang dinilai oleh budaya. Duh… mulai membingungkan kan ya? Cape deeh. Tapi yang jelas, moral itu dekat artinya dengan akhlak. Sedangkan ‘urf adalah adat yang dianggap baik.

Jadi, kalau kita dinilai bermoral buruk karena tingkah laku kita oleh masyarakat, kemudian kita menjawab, “lho.. kan perangai saya ini tidak dilarang dalam Islam.” , tetap saja kita bersalah karena telah membuat orang sekitar kita tidak nyaman. Hati masyarakat harus ditenggang dengan cara mematuhi standard-standard moral yang berlaku.

Ingat bahwa moral itu relatif menurut budaya setempat. Bukan menurut individu. Karena yang menilai suatu prilaku itu moral atau immoral adalah masyarakat. Di sini, pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung" berlaku. Kalau kita melabrak, kita akan terkena hukum norma oleh masyarakat. Wajar saja.

Ada segelintir orang yang tidak suka dengan RUU APP, lalu mereka bilang “jangan paksakan standar moral kalian kepada saya! Setiap orang memiliki standar moral berbeda-beda.”

Oke, relatif sih relatif. Tapi relatifnya moral itu disandarkan pada penilaian publik suatu tempat, bukan penilaian perorangan.

Lalu, kalau moral itu relatif, berarti kita tidak dapat memaksakan konsep akhlak Islam kepada masyarakat, dong? Karena belum tentu konsep akhlak Islam itu sesuai dengan masyarakat.

Pada masyarakat yang baru di sentuh dakwah, saat kita memulai melakukan terobosan berupa pengenalan Islam kepada masyarakat tersebut, tentu saja kita harus mematuhi kaidah "tidak ada paksaan dalam beragama". Dalam artian, selain kita tidak memaksakan orang lain masuk agama Islam, kita juga tidak bisa semena-mena memaksakan standar akhlak kepada suatu lingkungan. (Sekali lagi, masyarakat tersebut baru diperkenalkan dengan Islam). Selisih standard yang ada akan menimbulkan resistensi di masyarakat tersebut.

Lalu? Budaya terus berkembang, dan menyeret serta moral yang dirumuskan oleh budaya tersebut. Pada perputaran waktu yang ditunggangi oleh perkembangan budaya itu, perlahan-lahan kita bisa mengubah paradigma masyarakat tentang moral ke arah rumusan akhlak yang dinginkan oleh Islam.

Maka ketika kita mengenalkan Islam pada suatu lingkungan, pertama kali kita harus merebut hati orang-orang yang berada di lingkungan itu. Bukan dengan memaksakan suatu peraturan-peraturan yang memugar kembali tatanan budaya yang ada dan standard-standard kepatutan yang berlaku di lingkungan tersebut. Tentu berat buat mereka. “Permudahlah jangan mempersulit”, begitu kata Rasulullah.

Setiap perilaku yang buruk, pasti akan berbenturan dengan fitrah manusia. Kalau kita meyakini bahwa Allah SWT tidak merumuskan suatu konsep akhlak kecuali itu semua adalah kebaikan dan selaras dengan fitrah manusia, maka kita yakin bahwa Islam sendiri tidak mengenal perilaku buruk tersebut.

Sesungguhnya konsep akhlak dalam Islam sangat dekat dengan fitrah manusia. Akhlak Islam itu indah, simple dan praktis. Akhlak Islam dekat dengan keadilan, tapi tidak mengabaikan kasih sayang. Islam tidak memerintahkan umatnya memberikan pipi kirinya apabila pipi kanannya di tampar. Tapi Islam – dengan mengusung nilai keadilan – memberikan kesempatan bagi yang dianiaya untuk membalas penganiayaan dengan setimbang. Dan Islam juga – dengan mengusung nilai kasih sayang – memberi apresiasi lebih kepada yang mau memaafkan. Sangat elegan!!!

Tidak terhitunglah banyaknya cerita orang-orang yang berbondong-bondong memeluk islam karena ketinggian ajaran akhlak Islam.

Setelah kita merebut hati masyarakat, kita masuk pada keresahan akan ketidakselarasan perilaku yang berkembang di masyarakat dengan fitrah manusia. Perlahan-lahan kita mengenalkan alternatif akhlak yang lebih fitri. Rabalah, bagaimana hati yang telah simpati itu – dengan izin Allah – akan bergetar mengakui keagungan akhlak Islam.

Dan pada akhirnya, standard moral yang relatif itu berubah juga sesuai dengan perubahan paradigma masyarakat.

Akhlak Islam itu sesuai dengan fitrah manusia, sama-sama sudah kita ketahui. Tapi mengapa di sebagian besar belahan bumi ini umat manusia lebih memilih akhlak yang antagonis? Dan semakin lama semakin jauh dengan fitrah. Yang sangat parah, pernikahan sesama jenis dilegalkan.

Itulah karena du’at belum bisa memenangkan hati mereka. Untuk ini, kita bisa memberi selamat atas kesuksesan orang-orang yang – entah harus bagaimana saya memberi label pada para teroris itu – … yang telah membuat stigma manusia kepada Islam menjadi buruk, yang telah menjauhkan manusia kepada du’at yang hendak mengenalkan akhlak Islam kepada mereka.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” Ali-Imran 159.