October 25, 2007
*Guru TK : supaya sampai ke ujung jalan
*PLATO : untuk mencari kebaikan yang lebih baik
*POPE : hanya Tuhan yang tau
*POLISI : beri saya lima menit dengan bebek itu, saya akan tahu kenapa
*ARISTOTELES : karena merupakan sifat alami dari bebek
*SADDAM HUSEIN : ini merupakan tindakan tidak beralasan dari pemberontak dan kami akan menjatuhkan 50 ton gas syaraf pada bebek itu
*KAPTEN JAMES T.KIRK : karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi
*MARTIN LUTHER KING, JR : saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua bebek menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa
*MACHIAVELLI : poin pentingnya adalah bebek menyebrang jalan! siapa yang peduli kenapa! akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi bebek itu
*FREUD : fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan bebek itu menunjukkan ketidaknyaman seksual kalian yang tersembunyi
*GEORGE W.BUSH : kami tidak peduli kenapa bebek itu mnyeberang! kami cuma ingin tau apakah bebek itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami
atau melawan kami. tidak ada pihak tengah di sini!
*DARWIN : bebek telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengann cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.
*EINSTEIN : Apakah bebek itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak di bawah bebek itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri
*NELSON MANDELA : Tidak akan pernah lagi bebek ditanyai kenapa menyebrang jalan! dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati
* THABO MBEKI : kita harus mencari tau apakah memang benar ada kolerasi antara bebek dan jalan
*MUGABE : Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, bebek miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan bebek² veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada bebek, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan inggris yang berjanji akan mereformasi jalan itu. Kami tidak akan berhenti sampai bebek yang tidak punya jalan itu punya jalan untuk diseberangi dan punya kemerdekaan untuk menyeberanginya!
*ISAAC NEWTON : Semua bebek di bumi ini kan menyebrang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika bebek berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan
* Juru Bicara ZANU : bebek tidak pernah menyebrang jalan. ini merupakan pemalsuan yang kompleks. Kami sama sekali tidak punya bebek seperti yang selama ini orang di dunia sangka. Semua bebek dibeli dan dikonsumsi oleh orang2 yang telah lama menderita dengan cuma-cuma ketika kami mengirim teman2 kami untuk memeriahkan acara SALE terbesar di duni yang diselenggarakan oleh musuh kami yang jahat dan pengecut!
* JACOB ZUMA : Saya benar2 curiga jika hal ini dipertanyakan dengan niat busuk untuk menjebak saya, kirim Scorpions untuk mengrebek pelarian bebek itu dan tangkap bebek itu sebelum pengadilan menuntut saya telah menyodomi bebek yang meyebrang jalan menujuku yang lari dari limpahan cahaya! Awuleth’ umshini wam’……!! !!
Pengertian Ijab bi Nafsi
Dalam bahasa Arab, ijab mengandung beberapa arti:
- Rasa senang, tertarik, atau kagum. A’jabahul amru artinya ‘sesuatu itu telah menjadikannya senang.’ U’jiba bihi artinya ia menjadi terikat dengannya.
“…Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…” Albaqarah 221
- Kemegahan, kemuliaan dan kebesaran. A’jabahul-amru artinya merasa megah, mulia atau besar dengan sesuatu. Seorang mujib berarti orang yang merasa megah, agung, dan besar ketika memiliki sesuatu, baik kebaikan atau keburukan.
Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikit pun (At-Taubah : 23).
Imam Ghozali dalam kitabnya ihya ulumuddiin pada penjelasan tentang ‘ujub mengatakan: “Ujub adalah mengagung-agungkan suatu nikmat dan senang dengan keadaannya dengan melupakan Sang Pemberi Nikmat.”
Kesimpulannya, I’jaab bin-nafsi yaitu rasa senang dan bahagia, baik pada diri pribadi, kata-kata atau perbuatan yang dilakukannya tanpa memperhitungkan orang lain. Sam saja baik kesenangan itu karena suatu kebaikan atau keburukan, yang terpuji atau tercela. Jika dalam rasa senangnya itu disertai sikap mengejek atau merendahkan perbuatan orang lain, maka hal tersebut disebut ghuruur atau sangat ‘ujub. Dan bila rasa senangnya disertai dengan merendahkan pribadi orang lain maka hal itu dinamakan takabbur atau sangat ‘ujub sekali.
Al-Qur’anul Kariim, Sunnah Nabawiyah dan para salafush-sholih telah banyak mencela orang-orang yang ujub (mu’jib) ini. Di antaranya ayat-ayat dalam Al-Qur’an:
Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa’at kepadamu sedikit pun (At-Taubah : 23).
Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. (Al-Hasyr : 2)
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Al-Kahfi : 103-104
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairoh ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Seorang mengelok-elokkan diri dalam pakaiannya yang bagus, berarti ia ‘ujub dengan dirinya. Maka Allah akan menenggelamkan ke dalam bumi dan ia menjerit di dalamnya sampai hari kiamat.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi dari Abi Tsa’labah bahwa Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah kebajikan dan cegahlah kemungkaran sampai jika kamu menyaksikan kekikiran telah dituruti, hawa nafsu ditaati, dunia didahulukan, bangganya (ujub) seseorang terhadap pendapatnya sendiri, maka peliharalah dirimu dan tinggalkanlah urusan manusia.
Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:
“Ada tiga yang akan mencelakakan, kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang ditaati dan ujubnya seseorang dengan dirinya.” (Hadits Hasan Lighoirihi).
Ibnu Mas’ud berkata: “Kecelakaan itu ada dalam dua perkara, rasa ‘ujub dan putus asa.”
Faktor-faktor penyebabnya ujub:
- Latar Belakang Kehidupan.
Seorang yang terbiasa hidup di bawah asuhan orang tua yang memiliki sikap suka dipuji, disegani, baik dalam kebaikan maupun kebatilan, kebal terhadap kritik.
- Sanjungan dan Pujian di Hadapannya yang Tidak Memperhatikan Adab Islam.
“Jika salah seorang dari kalian harus memuji kawannya, maka hendaklah ia berkata “Aku mengira fulan, dan hanya Allah yang berhak menilai, dan tidak sepatutnya seseorang menyucikan sesuatu mendahului penilaian Allah, aku mengira dia itu — jika telah mengetahuinya – begini dan begini”” (HR Bukhari dan Muslim)
- Berteman dengan Orang yang Ujub
- Terlena oleh Kenikmatan dan Melupakan Allah Maha Pemberi Nikmat
- Lalai atau Jahil Terhadap Hakikat Diri
- Lalai akan Dampak yang timbul akibat membanggakan diri
Dampak Buruk akibat membanggakan diri:
- Terhadap Pribadi
- Terjerat dalam perangkap sikap angkuh, bahkan sombong
- Terhalang dari restu Allah
- Gugur Saat menghadapi Ujian
- Dijauhi dan Dibenci Manusia
Fenomena Ijab bi Nafsi
- Menganggap Diri Suci
- Sulit Menerima Nasihat
- Senang Mendengarkan Cacat2 dan Aib Orang Lain, terutama rekannya sendiri
- Rasa bangga akan kemampuannya berbicara, kebagusan kata-katanya serta kefasihan lidahnya
- Rasa suka cita bahagia dan senang ketika manusia membicarakan amal-amalnya dan kegiatan-kegiatannya.
- Keyakinan akan dirinya yang telah memiliki ketenaran dari sudut ilmu dan kepribadian yang sempurna
Cara mengatasi Ujub:
- Selalu mengingat Hakikat Jiwa Manusia
Orang-orang yang ujub seharusnya sadar bahwa kalau bukan karena rahmat Allah, mereka bukan apa-apa. Mereka diciptakan dari tanah yang diinjak-injak oleh kaki, kemudian dari air (mani) yang tabu untuk dilihat. Kemudian setelah meninggal dunia, mereka akan dikembalikan lagi ke tanah.
- Senantiasa mengingat Hakikat Kehidupan Dunia dan Akhirat
- Senantiasa mengingat Luasnya Nikmat-nikmat dan Karunia-Nya.
—
Suatu hari teman saya, Ihsan, mengirim surat kepada saya tentang surat seorang akhwat yang mengkritik kondisi MIPA Unand saat itu. Saat itu tahun 2003 (atau 2002? Sudah lupa). Lupa lagi isi surat akhwat tersebut. Tapi balasan saya kepada Ihsan seperti ini:
—
Dewasa di Jalan Dakwah
Untuk Ihsan Iswaldi
Di Fakultas FMIPA
Di atas bukit Limau Manis, bukit yang bangga akan banyaknya pejuang-pejuang Allah yang menginjaknya.
Sejatinya, ketika kita mengikrarkan untuk setia dalam dakwah, baik itu di dalam hati atau kita ucapkan, maka Allah telah siapkan tugas-tugas yang akan kita emban, beserta tribulasi-tribulasi yang akan kita hadapi baik dari internal maupun eksternal.
Dan – seiring meningkatnya cinta Allah kepada kita atas ikrar kita tadi – pada semua rancangan itu telah Allah gantungkan bantuan tepat di depan mata kita. Sehingganya seorang du’at yang memiliki tashowur haroki yang cerdas dapat menggapai bantuan-bantuan itu untuk kemudian – tanpa terpeleset dari jalan yang licin ini – terlepas dari rentetan ujian yang telah Allah siapkan.
Hal ini berlaku juga pada konteks kelembagaan. Pada setiap lembaga yang telah mengikrarkan diri berjuang di jalan Allah, terdapat kendala-kendala spesifik di dalam perjalanannya. Pada lembaga ini, semua permasalahan dapat digodok dalam sebuah institusi bernama Majlis Syuro, di mana di atas institusi itu Allah meletakkan tangan-Nya.
Sebenarnya tidak semua permasalahan dapat terangkat ke dalam Syuro apabila lembaga itu memiliki SDM-SDM yang konstruktif. SDM-SDM yang dengan gerakan berkelitnya, mampu memuaskan berbagai pihak internal lembaga itu dalam menyelesaikan permasalahan baik yang mengemuka maupun tersembunyi. Sehingga belum sempat diangkat ke dalam syuro, masalah telah selesai duluan.
Akhi, ana coba untuk menganalisa lembar curhat seorang akhwat yang telah antum kirimkan ke ana melalui tulisan ini.
1. Masalah nomor satu itu menurut ana adalah masalah internal akhwat tersebut. Tapi Allahu’alam kalau itu merupakan representasi dari keadaan akhwat kebanyakan. Sebenarnya dia cukup melakukan autokritik terhadap dirinya, sejauh mana dia memiliki kemauan untuk mengetahui kabar saudarinya. Karena begitu ia bangun dari tidurnya di pagi hari, sudah jadi kemestian untuk memikirkan keadaan saudarinya baik yang berada di sekitarnya maupun nun jauh di sana sebagai syarat masuk ke dalam golongan Muhammad saw. Ana yakin, dengan semangat itu, dia mampu menghalau rintangan yang menjadi kendala ukhuwah tanpa dia harus mengeluh.
Kita anggap saja hal itu sudah dipenuhinya, hanya dia menginginkan sarana yang lebih memadai lagi untuk mengikat hati dengan saudarinya. Mungkin akhwat itu di Padang tinggal dengan orang tuanya, bukan di wisma. Itu pun dia terlalu sibuk untuk sekali-kali singgah ke wisma akhwat yang ada. Dan juga di halaqoh dia tidak ada anak farmasinya. Dan lokal kuliah farmasi di gedung C jarang terjadi berdekatan dengan lokal kuliah Biologi.
Kalau memang perlu diadakan lagi sarana tambahan untuk mengikat ukhuwah, pikirkanlah! Tapi menurut ana yang perlu ditambah itu kemauan berukhuwah. Habisnya terlalu enak sih mengkambing hitamkan kesibukan.
2. Keadaan idealis yang diinginkan, memang juga tidak ana dapati dulu. Ana menginginkan tersebarnya salam di antara ADK. Sembari memulai dari ana dahulu, ana terus mengkritisi ikhwah yang kalau bersua tidak memberi salam. Begitu juga dengan ucapan ana-antum, yang menurut ana ucapan itu memiliki kontribusi untuk mengikat hati. Karena dengan panggilan yang berbeda dari orang ‘ammah, ana merasa bersaudara dengan antum.
Yah, ana rasa kondisi tersebut belum terwujud ketika ana pergi. Tapi yang harus ana perbuat adalah menciptakan kondisi ideal dimulai dari ana sendiri. Karena Allah sengaja membuat kondisi tidak ideal, agar ana menjadi pelopor bagi pembentukan kondisi yang ideal itu.
Katakan pada ukhti tersebut, agar perasaan itu dijadikan acuan untuk bersikap konstruktif bagi dakwah ini. Bukan malah lari dari dakwah. Anti memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor bagi pembentukan keadaan ideal!
3. Kita semua, baik yang telah tergabung dalam dakwah maupun yang belum, adalah objek dakwah. Ingat ketika Rasulullah mengatakan bahwa agama adalah nasihat, bahkan Allah-pun adalah objek nasihat. Begitu juga Rasul-Nya. Apalagi kita… Itulah makanya kita bergabung dalam dakwah ini, agar kebutuhan kita sebagai objek dakwah dapat terpenuhi dengan taujih-taujih up to date dari saudara kita.
Satu orang berguguran di jalan dakwah, menjadi tanggung jawab antum di hadapan Allah selaku pemimpin, Ihsan. Antum harus benahi kalau itu menyangkut kesalahan kebijakan/kinerja. Tapi yang jelas, bagi ADK-ADK MIPA yang kecewa, ana harap jangan menjatuhkan diri. Karena sekali lagi, itu adalah tugas yang diberikan Allah untuk antum untuk membenahi keadaan ini sejauh yang bisa antum perbuat. Lakukanlah manuver yang memuaskan semua orang dan menyelesaikan masalah. Dalam dakwah antum bertugas menjadi trouble solver bukan sebatas pengeluh!
Saran ana, aktifkan tatsqif sekali sebulan + minta pada ADK yang produktif untuk memberi taujihnya (khusus untuk ADK) dalam bentuk tulisan untuk disebar luaskan kepada ADK yang ada.
4. Ana meloncat kepermasalahan Nomor 5. Kecewa itu biasa. Tapi kalau dengan kecewa itu dapat menyelesaikan permasalahan dakwah, maka kecewalah! Tapi apa bisa? Berdakwah itu sendiri merupakan masalah. Maka bagi antum yang tidak mau memiliki masalah, jangan berdakwah! Ana juga orang yang kecewa, dan telah salah melakukan reaksi atas kekecewaan itu. Tapi ana tidak mau itu berulang di Gunadarma. Keadaan Gunadarma rupanya – di beberapa sisi – lebih buruk di banding MIPA. Bayangkan, ADKnya saja sekitar 200-an. Padahal mahasiswa Gunadarma itu sekitar 35.000-an orang (terbanyak se-asia tenggara). Busyet dah, berapa persennya coba?
Antum semua boleh kecewa, tapi jangan sampai karena kekecewaan itu melakukan tindakan destruktif bagi dakwah.
Ana teringat kata ust. Rahmadi, ‘jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum, tapi pikirkan apa yang telah antum berikan untuk dakwah’. Karena dakwah ini dijalankan secara berjamaah, maka kita tidak bisa berbuat ma nan ka lamak di awak se.
Kalau antum ditempatkan di luar FSI, jangan merasa diusir dari FSI. Karena dakwah ini bukan cuma milik FSI! Dia milik FKI-R, milik BEM, dsb. Dan kenapa antum, karena antum dinilai memiliki kapabilitas untuk mengurus dakwah di luar sana. Intinya kan berdakwah, bukan di mana berdakwahnya. (Jawaban ana atas kaduan antum tentang seorang akhwat yang merasa dikucilkan dari FSI karena ditempatkan di FKI-R. Semoga beliau tidak lagi mengeluh).
5. Konsolidasi mutlak diperlukan bagi jamaah. Tapi banyak kisah tentang kreatifitas sahabat. Ana lupa nama sahabat itu, tapi seorang sahabat yang karena perjanjian harus dipulangkan ke Mekkah (tidak boleh hijrah ke Madinah), ia malah lari kesebuah daerah (dan tidak kecewa atas kebijakan Rasulullah yang tidak menerimanya di Madinah). Di daerah itu ia melebarkan sayap dakwah, hingga ketika futuh Mekkah, ia menyumbangkan pasukan dalam jumlah yang signifikan.
Sahabat itu tidak merasa ditinggal atau dibiarkan berjalan sendiri oleh Allah. Antum yang duduk di lembaga formal, bisa deh seperti sahabat itu.
6. Oke deh, acara bergebyar luar biasa. Tapi kalau kelak kita adu bangga-banggaan di hadapan Allah, ingin tidak yang kita banggakan adalah ukhuwah yang lebih kuat di banding fakultas lain? Ingin tidak seandainya ADK hukum & fakultas lain itu tahu bagaimana hangatnya ukhuwah yang ada di MIPA, ia meninggalkan acara gebyar itu lalu bergabung dengan kehangatan ADK MIPA? “Andai raja-raja itu tahu apa yang kita rasakan di jalan dakwah ini, pasti mereka akan merebutnya dengan pedang-pedang mereka”
Jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum. Tapi pikirkanlah apa yang antum berikan untuk dakwah. Kalau kecewa itu dapat menyelesaikan masalah dakwah ini, kecewalah! Tapi lebih baik antum menjadi seorang du’at yang kreatif konstruktif, yang mampu memberikan penyelesaian masalah. Pada semua lembaga dakwah, terdapat masalah. Dan memang Allah sengajakan keadaan tidak sempurna itu, agar kita menjadi pelopor untuk membenahinya.
Alhamdulillah ada ukhti yang mau mengemukakan masalah dan memberikan beberapa solusi, kalau tidak bisa-bisa masalah-masalah ini dianggap sesuatu yang tidak perlu repot-repot dipikirkan.
Selamat berjuang sahabatku. Saat ini kita hanya bisa bekerja bersama, karena masa-masa bekerja sama itu telah lewat. Kita saling mendoakan saja. Untuk FSI, ana tidak mendoakan agar masalah-masalah itu berkurang, tapi ana mendoakan agar orang-orang tukang kecewa itu berkurang, dan bertambah orang-orang penyelesai masalah.
Jangan badung di jalan dakwah, ya! Emang shinchan?
Wassalamualaikum wr. wb.
Zico Alviandri
FTI Gunadarma 51402113.
Seseorang bertanya kepada Rasulullah: “Beritahu aku tentang iman.” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim. Hadits Arba’in no 2).
Iman kepada Qadha dan Qadar merupakan salah satu rukun iman dalam Islam.
Allah swt telah mencatat di Lauh Mahfudz seluruh takdir makhluk.
Nabi bersabda:
“Pertama kali yang diciptakan Allah swt adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!”. Ia menjawab: “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah semua yang terjadi sampai hari kiamat!”(Hasan melalui jalan Imam Ahmad).
Allah berfirman: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah (Qs. Al-Hajj: 70).
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”(Qs. Al-Hadid: 22)
karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak mengenai manusia, maka tidak akan mengenainya.
“.. Ketahuilah jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat, dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi, dia berkata “Hadits ini hasan sahih”. Terdapat di Hadits Arba’in no 19)
Allah swt telah mencatat dalam Lauh Mahfudz, semua apa yang dikehendaki-Nya. Sedangkan apabila Allah menciptakan janin sebelum ditiupkan ruh kepadanya, Maka Allah swt mengutus kepadanya seorang Malaikat yang diperintahkan untuk mencatat empat perkara: yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalnya, serta celaka atau bahagia. (Seperti yang terdapat pada hadits riwayat Bukhari no 3208, 3332, 6594,7454, dan Muslim no 2643).
Kemudian yang harus diketahui oleh setiap muslim, bahwa kita wajib mengimani qadha’ dan qadar baik buruk, manis, dan pahit. Qadha dan Qadar adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh seseorang pun dari makhluk-Nya. Kewajiban kita mengimani dan beramal sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah swt, tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya.
Meskipun segala sesuatu yang ada telah Allah takdirkan, akan tetapi Allah tetap memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk taat kepada-Nya, serta taat kepada Rasul-Nya, dan melarang mereka durhaka kepada-Nya.
Manusialah yang benar-benar melakukan satu perbuatan, sedangkan Allah swt yang menciptakan perbuatan mereka itu. Manusia mempunyai kekuasaan atas perbuatan mereka, serta mereka pun mempunyai keinginan. Tetapi Allah-lah yang menciptakan mereka serta menciptakan kekuasaan (kemampuan) dan keinginan mereka itu, sebagaimana Allah berfirman:
“Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam” (Qs. At-Takwir: 28-29).
———————————–
Allah swt telah menetapkan sesuatu kebaikan untuk kita. Kemudian, kita lah yang menentukan apakah kita akan mengambil kebaikan itu atau tidak.
Aliran-aliran sesat yang berhubungan dengan takdir:
1. Aliran Jabriyah: berasal dari kata Jabr (terpaksa), yaitu semua dipaksa dan tidak ada kekuasaan dan kebebasan dalam dirinya. Mereka berpandangan bahwa manusia dalam segala perbuatan, gerak-gerik dan tingkah lakunya adalah terpaksa, tidak memiliki kekuasaan dan kebebasan. Dan semua itu adalah perbuatan Allah.
2. Qadariyah adalah aliran yang sesat dan termasuk ahlul bid’ah. Berasal dari kata ‘qadar’. Artinya ketentuan Ilahi. Aliran ini tidak mengakui adanya qadar tersebut dan mengatakan manusialah yang menentukan nasibnya sendiri dan dialah yang membuat perbuatannya, terlepas dari kodrat serta iradat Ilahi.
October 24, 2007
Koneksi String adalah sebuah string yang berisi informasi server database, nama database, dan informasi lainnya.
Koneksi string ini dipakai oleh objek yang akan menghubungkan program dengan database. Setelah terkoneksi, baru bisa dilakukan pengambilan data, modifikasi data, dll.
Macam-macam bentuk koneksi string bisa dilihat di http://www.connectionstrings.com/.
October 2, 2007
Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.
Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.
Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.
Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:
1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha’ bin Yasar: "Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau." (HR Sa’id bin Manshur)
2. Memberi wangi-wangian pada auratnya
‘Aisyah berkata, "Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)
3. Mandi bersama istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana)." (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)
4. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh".(HR Ahmad)
5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah." (HR Ibnu Asakir)
6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, "Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya." (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)
7. Membelai istri
"Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya." (HR Ahmad)
8. Mencium istri
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya."(HR ‘Abdurrazaq)
Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa." (HR Ahmad)
9. Tiduran di Pangkuan Istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur’an." (HR ‘Abdurrazaq)
10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).
11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan." (HR. Ibnu Sunni)
12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu." (HR Nasa’i)
13. Bermesraan walau istri haidh
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya." (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)
14. Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata,
"Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu."
Ia (Ummu Kultsum) berkata, "Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah." (HR Ahmad)
15. Segera menemui istri jika tergoda.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, "Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu." (HR Tirmidzi)
Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba.
– dari eramuslim –