November 26, 2007
Selamat pagi dunia…
Aku bangun di pagi ini, menemukan lingkaran badai menyelimut di atas badanku. Apakah aku tertidur dengan selimut badai tadi malam? Ah, rasanya tidak hanya tadi malam… sebelum tidur pun aku sudah disetubuhi badai. Kemarin juga sudah… kemarinnya lagi (kemarin lusa), pekan kemarin… dan entah sejak kapan aku sudah lupa. Mungkin sejak pertama kali aku sukses ‘meng-eak’ saat keluar dari rahim ibu ku. So, sambutlah, ini memang dunia badai…
Tapi sekalipun pada badai, ada harap yang aku titipkan. Aku berharap badai suatu saat mau merubah jasadnya menjadi kepompong sutra. Dan pada saat yang tepat, aku akan merobek kepompong itu dan keluar beserta sayap ku yang anggun. Halaaah… terlalu feminim. Aku kan cowok.
Jadi begini saja, aku berharap pada badai itu, mau menjadi alat fitness yang baik untuk melatih otot-ototku. Setiap ototku bertambah besar, maka bertambah kuatlah badai itu. Menyesuaikan. Pada akhirnya aku akan menjadi seorang yang perkasa di tengah badai. Huahahahaha…..
Pagi dunia……
Hah…. Ada cerita yang harus terus terajut biarpun jari telah letih. Menjalin beberapa benang aneka warna sekaligus, tercampur darah yang mengalir dari sela jari yang kadang tertusuk jarum. Pada akhirnya, rajutan itu akan menjadi kafanku sendiri. Kafanku sendiri!!!
Kalau indah, maka biarlah orang lain yang masih hidup mencontoh rajutan ku apa adanya. Asal jangan sampai membuat orang berpaling seraya berkata, "kain buruk seperti itu hanya cocok buat lap pel, bukan buat jasad manusia…"
Pagi dunia….
Pagi ini ada seonggok asa bertempur dengan sekarung duka. Kita lihat siapa yang menang!!!
November 25, 2007
Seorang sarjana komputer mencari istri yang selama ini dia idam-idamkan dengan kriteria. Karena dia sangat terobsesi dengan dunia TI, maka ia menerapkan sejumlah syarat yang juga "berbau" istilah TI.
Syarat-syarat itu adalah:
1. GUI MENARIK harus cantik hingga tidak bosan untuk selalu dipandangi tiap hari sepulang dari kantor.
2. ROBUST, handal dan tidak mudah capek.
3. ENERGI SAVER, pintar mengatur jadwal kapan harus istirahat setelah bekerja seharian mengurus rumah, tapi langsung ON ketika dibutuhkan.
4. NETWORK AVAILABLE, punya jaringan pertemanan yang luas biar nggak kuper.
5. PORTABLE, siap dibawa kemana saja mengikuti penempatan kerja suaminya.
6. RESPONSIVE, tau apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.
7. PLUG and PLAY, tidak perlu diajarkan cara penggunaannya saat ada barang/perabot baru di rumah.
8. ERGONOMIS, pas di tangan dan tidak bikin lelah … (apanya hayo?)
9. MULTITASKING, mampu mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, memasak di kompor sekaligus mencuci menggunakan mesin cuci dalam
waktu bersamaan.
10. MULTILINGUAL, bisa berbicara dalam minimal 2 bahasa, ketika berhadapan dengan suami dan ketika
berhadapan dengan mertua.
Setelah sekian lama, akhirnya dia menemukan sosok yang diidamkan tersebut. Puas rasanya mendapatkan istri idaman setelah melalui 1000 kota .
Tapi alangkah kagetnya dia ketika mendapati ternyata istrinya juga memiliki satu fitur tambahan, yakni MULTIUSER!
– dari suatu sumber –
Agak serius, silakan baca link berikut untuk pedoman menentukan kriteria pendamping kita http://andaleh.blogsome.com/2008/04/01/mengesampingkan-pertimbangan-dien-dalam-menentukan-pasangan/
November 17, 2007
Wawancara penting dalam sebuah Interview:
G : Kamu punya rumah nggak…..?
a : belum pak….
G : Wah kamu nggak bisa diterima disini
a : Lho kok begitu…… ..?
G : nanti kamu pasti mengajukan hutang ke perusahaan.
a : Ah.. tidak kok pak, sebenarnya orang tua saya sudah cukup
kaya.
G : Ya malah nggak diterima
a : Lho kok begitu…..?
G : Nanti kamu kerja cuma buat hiburan, cuma nongkrong saja.
–**–
G : Kamu punya motor nggak….?
b : Tidak pak.
G : Nggak diterima
b : Lho kok nggak diterima, kenapa pak ?
G : Nanti kamu pasti minta bantuan kredit.
b : Sebenarnya punya pak, tapi masih dikampung, gampang nanti
saya bawa ke sini.
G : Wah malah nggak diterima….
b : lho kok begitu pak?
G : Tempat parkirnya sudah penuh.
–**–
G : Kamu bener sudah lulus sarjana….. ?
c : sudah pak….
G : Nggak diterima, disini ini cari yang SMA saja, lebih nurut
dan bayarnya murah
c : Sebenarnya saya masih nyusun skripsi pak
G : Malah nggak diterima…. .
c : Lho bagaimana sih pak….?
G : Nanti kamu kerja cuma ngetik skripsi, kalau sudah lulus
pasti cari kerja ke perusahaan lain.
–**–
G : Kamu seneng becanda nggak ?
d : Tidak pak, saya serius kalau bekerja.
G : Nggak diterima…. .
d : waa……kok begitu pak?
G : Nanti teman teman kamu dan anak buah kamu pada stress.
d : Sebenarnya ya sedikit sedikit suka becanda pak.
G : Malah nggak diterima.
d : Lho kok……
G : Nanti kamu cuma email emailan yang lucu…….
–**–
G : Kamu tadi kesini naik apa ?
e : Naik mobil pak
G : Kamu nggak diterima
e : Sebabnya pak ?
G : Sekarang BBM naik terus, nanti kamu minta naik gaji terus
e : Wo, saya tadi mbonceng, kok
G : Tambah nggak diterima
e : Lho pak, lha kok … ?
G : Nanti kerjanya cuma numpang mobil kantor. Ngrepotin !
–**–
G : Anakmu banyak apa sedikit ?
f : Banyak pak
G : Kamu nggak diterima
f : Sebabnya pak ?
G : Kerja kamu nggak konsentrasi, cuma mikir bikin uanaaaaaak
terus
f : Lha wong cuma anak adopsi, kok pak.
G : Tambah ngga diterima
f : Lho pak, lha kok … ?
G : Bikin anak aja males2an, apalagi kerja
–**–
G : Kamu sudah ngerti kerja dan tugas kamu belum ?
h : Belum pak
G : Kamu nggak diterima
h : Sebabnya pak ?
G : Mau kerja kok nggak tahu tugasnya ?
h : Oo, kalau tugas saya sudah tahu kok pak
G : Tambah nggak diterima
h : Lho pak, lha kok … ?
G : Kamu cuma mau sok pinter disini, kan ?
–**–
G : Kamu tahu keadaan kantor sini belum ?
k : Belum pak
G : Kamu nggak diterima
k : Sebabnya pak ?
G : Mau kerja kok nggak tahu kantornya keadaannya gimana ?
k : Wo, sedikit2 sudah tahu kok pak
G : Tambah nggak diterima
k : Lho pak, lha kok … ?
G : Kamu senengnya bongkar2 arsip dan rahasia kantor, kan ?
–**–
G : Kamu sering sakit ?
m : Tidak pak
G : Kamu nggak diterima
m : Sebabnya pak ?
G : Pasti sering bolos, wong sering jalan2 main
m : Wah, sebenarnya ya sering pak
G : Tambah nggak diterima
m : Lho pak, lha kok … ?
G : Kantor ini tidak menerima karyawan sakit2an.
–**–
G : Kamu bisa main Internet ?
n : Tidak pak
G : Kamu nggak diterima
n : Sebabnya pak ?
G : Perusahaan tidak menerima orang BI (Buta Internet)
n : Wah, sebenarnya ya bisa pak
G : Tambah nggak diterima
n : Lho pak, lha kok … ?
G : Pasti nggak bakal kerja, kebanyakan main internet, kan ?
Ngabis2in pulsa!
–**–
G : Kamu waras nggak?
o : Lha, saya ya waras to Pak.
G : Nggak diterima…. …
o : Kenapa pak ?
G : Nanti kamu pasti nggak betah disini.
o : Itu dulu Pak, sekarang sudah agak edan.
G : Malah nggak diterima…. ..
o : Gimana sih ini pak…?
G : Nanti saya punya saingan….. …..
<Sebuah surat buat pengurus baru UKM Fajrul Islam, 2005-2006>
Sebuah karunia Allah kemarin-kemarin ini terlimpah pada kita, yaitu keberlangsungan suksesi kepemimpinan dakwah dengan damai. Pergantian estafet kepemimpinan ini ibarat bernafasnya organisasi kita. Pada suatu periode, ada waktunya ia menghembuskan udara lama untuk kemudian menghirup udara baru yang segar. Udara yang mengimprovisasi semangat, kreasi, dan kekuatan yang telah ada. Udara yang terlebih dahulu telah Allah saring dengan penyeleksian-Nya yang sangat cermat, mengerecutkan semua pilihan udara yang ada, kemudian menyisakan sekelompok molekul yang bersih sebagai bahan bakar organisasi kita.
Sesungguhnya dakwah ini digerakkan oleh orang-orang yang masih membiarkan diri sekali-kali terlena sapuan angin lembut dunia. Digerakkan oleh orang-orang yang masih mempartisi hati, sebagian ruang untuk-Nya, dan sebagian untuk dunia. Tapi rahmat Allah mengalahkan murka-Nya. Allah masih mengilhamkan kita untuk memberikan yang terbaik untuk dakwah ini. Sebagai penebus dosa yang berkesinambungan yang kita lakukan.
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".” <Al-Hujurat : 17>
Saudaraku, tiap kita adalah sebuah potongan puzzle. Pada tiap lekukan yang kita miliki, adalah kelebihan kita, atau bisa juga kekurangan kita. Lekukan yang menjorok ke dalam adalah kekurangan kita, sedangkan lekukan yang keluar adalah kelebihan kita. Di samping kita, ada puzzle lain yang menutupi area yang kosong dari diri kita, dan kita pun menutup area yang kosong dari dirinya.
Bila masing-masing kita tertempatkan dengan rapi, maka gambar yang kita susun itu akan terlihat dengan indah. Apabila ada bagian puzzle yang menyimpang, maka susunan gambar itu akan terlihat memiliki cacat. Biarkanlah Allah menyusun diri kita. Ia telah menulis susunan itu di kitab-Nya – Lauhul Mahfudz – sebelum kita lahir. Wajah dakwah ini akan tampak indah. Dan jangan ada di antara kita yang membuat wajah dakwah di kampus ini tampak cacat.
Saudaraku, pada setiap lembaga yang telah mengikrarkan diri berjuang di jalan Allah, terdapat kendala-kendala spesifik di dalam perjalanannya. Dan telah Allah anugrahkan pada tiap lembaga itu sebuah instrumen yang menggodok setiap permasalahan yang dimilikinya. Instrumen itu bernama syuro.
Sebenarnya tidak semua permasalahan dapat terangkat ke dalam Syuro apabila lembaga itu memiliki SDM-SDM yang konstruktif. SDM-SDM yang dengan gerakan berkelitnya, mampu memuaskan berbagai pihak internal lembaga itu dalam menyelesaikan permasalahan baik yang mengemuka maupun tersembunyi. Sehingga belum sempat diangkat ke dalam syuro, masalah telah selesai duluan.
Maka berlombalah kita untuk menjadi kader berkualitas terdepan, yang keberadaannya di tengah saudaranya adalah trouble solver.
Kecewa itu biasa. Tapi kalau dengan kecewa itu dapat menyelesaikan permasalahan dakwah, maka kecewalah! Tapi apa bisa? Berdakwah itu sendiri merupakan masalah. Maka bagi antum yang tidak mau memiliki masalah, jangan berdakwah! Bukankah adagium ‘jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum, tapi pikirkan apa yang telah antum berikan untuk dakwah’, itu sangat tidak asing di telinga kita.
Kalau lah kita tetap memiliki kecewa, jangan sampai kekecewaan itu membuat kita berbuat destruktif terhadap dakwah. Kekecewaan itu lahir dari harapan kita yang yang tak bersinggungan dengan realitas yang harus kita terima. Mungkin harapan itu adalah sesuatu yang baik, atau buruk. Tetapi yang jelas rupanya harapan yang tak terejawantah dalam realitas itu berada dalam wilayah ego kita.
Dakwah ini diisi oleh orang-orang yang tak sempurna. Tapi memang sengaja Allah setting begitu, agar tiap komponen jama’ah bisa saling mengisi. Dan dari itu semua kemudian lahirlah ukhuwah.
Selamat berjuang saudaraku. Tulisan ini tak fokus pada satu permasalahan. Tetapi poin-poin tersebut memang ingin ana sampaikan pada kalian semua. Agar ana memiliki jawaban ketika ditanya bukti cinta yang real pada kalian semua.
Depok 16 Juni 2005
Salah satu bumbu dalam pergaulan adalah kebiasaan mengejek, mengolok-olok, merendahkan, atau dalam bahasa gaul disebut ‘nge-ceng-in orang’. Kok disebut ‘bumbu dalam pergaulan’? Seharusnya disebut ‘bug dalam pergaulan’ ya?
Yah, diakui bahwa ejekan sendiri bisa jadi sebagai pemanis dalam pergaulan. Asal jangan ada yang tersinggung. Saling mengejek menjadi bumbu dalam pergaulan kalau memang dimaksudkan sebagai bahan candaan. Tapi bagaimanapun juga, tetap mempunyai kemungkinan untuk menumbuhkan perasaan sakit dalam hati. Ya, liat liat dulu lah ceng-cengannya gimana…
Kalau sifat air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sifat angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah, maka sifat cemoohan juga begitu, dari orang yang punya kelebihan kepada orang yang punya kelemahan.
Logikanya harusnya seperti itu, kan? Orang yang langsing akan mengejek orang yang gendut, orang yang lancar bicaranya akan mengejek orang yang gagap, orang yang ganteng akan mengejek orang yang jelek, dst. Bahan ejekan, tentu yang dianggap kekurangan pada objek yang diejek.
Lalu, mengapa Allah SWT SWT mengatakan bahwa bisa jadi yang diejek lebih baik dari yang mengejek?
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik…” Qs Al-Hujuraat:11.
Jadi, bisa terjadi salah sasaran, begitu ya? Memang bisa begitu!!!
Secara sadar/tidak sadar, kadang penonton sepak bola sering mengejek pemain. Kata-kata “halaah… Ronaldo… dasar gendut, gak bisa lari…”, atau ‘huh… Carlos, udah tua… bikin blunder mlulu…”. Kalau yang melontarkan itu Pele sih, mungkin bisa diperbandingkan. Lah, kalau yang menonton itu orang biasa, ya terjadi lah seperti yang Allah katakan, yang direndahkan lebih baik dari yang merendahkan.
Memang hal yang spesifik yang diejek, tapi dari hal yang spesifik itu sendiri rupanya yang diejek itu malah jauh lebih baik dari yang mengejek.
‘//———————————————-//’
Manusia punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa saja seseorang punya kelebihan berupa kecerdasan, tapi fisiknya tidak begitu baik. Atau sebaliknya.
Kecerdasan pun bermacam-macam. Misalnya di SMU ada anak yang jago matematika, tapi lemah di pelajaran ekonomi, sehingga masuk jurusan IPA. Atau ada yang jago logika, tapi hafalannya lemah. Ada yang IQ-nya tinggi tapi EQ-nya lemah, atau sebaliknya. Ada yang jago programming tapi buta networking, atau sebaliknya.
Intinya, kelebihan manusia itu spesifik!
Jadi, seharusnya tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi satu sama lain. Karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Begitu? Memahami firman Allah SWT di atas, mengapa Allah SWT – secara general – seolah-olah membagi manusia ada yang lebih baik dari yang lain?
Allah SWT. punya pandangan subjektif sendiri terhadap seseorang. Hadits ke-8 bab “Ikhlas dan Niat Dalam Segala Perilaku Kehidupan” buku ‘Riyadush-Sholihin’ karangan Imam Nawawi berbunyi,
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian, tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian.” (HR Muslim).
Juga pada surat Al-Hujuraat ayat 13, “…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…”
Dan ada beberapa dalil naqli lain yang menyiratkan hal serupa. Allah mengukur dari hati dan ketaqwaan seseorang. Allah punya timbangan sendiri sehingga Ia menilai mana yang lebih baik dari yang lain.
Ada sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana keimanan dan ketaqwaan mampu menutupi kelemahan spesifik seseorang. Ketika Ibnu Mas’ud sedang memanjat pohon, tersingkaplah betisnya. Seorang sahabat menertawakan betisnya yang kecil. Lalu Rasulullah berkata bahwa betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu memiliki bobot yang lebih besar dari gunung Uhud. Sontak sahabat yang menertawakan tersebut menyatakan penyesalannya.
Abdullah bin Mas’ud adalah seseorang sahabat yang ‘Pakar Qur’an/tafsir’ di zamannya, zaman Rasulullah dan sahabat!!!
‘//————————————————–//’
Suatu hari saat saya sedang berada di suatu perkumpulan. Saat itu saya menyindir anggota dewan yang meminta fasilitas laptop. Seorang ustadz yang berada di situ mengingatkan saya tentang Al-Hujurat ayat 11 ini. Saya jadi malu saat itu.
Saat itu, kalau dibilang saya mengkritik anggota dewan, kok nggak di hadapannya langsung? Jadinya, ya mengejek atau ghibah. Allahummaghfirlanaa wa lahum.
Pernah Bilal r.a dipanggil dengan sebutan ‘hai hitam!’. Bilal memang seorang sahabat mantan budak yang berkulit hitam. Mendengar panggilan seperti itu, Rasulullah berkata kepada sahabat yang memanggil Bilal dengan sebutan seperti itu, “Engkau masih memiliki prilaku jahiliyah!”.
Yah… selamat bergaul, hati-hati dalam ceng-ceng-an