Manipulasi Data
Bahasan selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan insert/update data ke dalam database. Kita masih menggunakan database yang sama, serta melanjutkan form yang sama.
Berikut ini tampilan form selanjutnya.
”Selengkapnya..>>”Manipulasi Data
Bahasan selanjutnya adalah bagaimana kita melakukan insert/update data ke dalam database. Kita masih menggunakan database yang sama, serta melanjutkan form yang sama.
Berikut ini tampilan form selanjutnya.
”Selengkapnya..>>”Ada cerita dari bibiku. Dia punya anak yang masih berumur sekitar 4 tahun. Namanya Deon.
Suatu hari bibiku menonton acara gosip di televisi. Anaknya yang masih kecil itu mengomentari, "Ibu gak boleh nonton gosip. Dosa, lho. Nanti dimarahin Allah!!"
Subhanallah… anak sekecil itu… Bibiku mungkin agak terkesima mendengarnya. Siapa sangka anak sekecil itu sudah mengerti masalah ghibah, bahkan sudah bisa mengingatkan ibunya.
Sejurus kemudian, Deon pun mengambil sebuah vcd Power Rangers, untuk kemudian mengganti acara gosip di televisi dengan tayangan film Power Rangers yang diputar dari vcd player.
Halah halaaah…. Ngingetin sih ngingetin… ujung-ujungnya Power Rangers juga.
Di sebuah kelas, seorang guru membagikan sebuah kertas mewarnai yang berisi gambar pemandangan beserta satu kotak crayon kepada anak-anak murid TK-nya. Untuk pembagian crayon, mereka tidak diberikan 12 jenis pinsil warna yang komplit. Tapi paling banyak hanya 8 warna. Tiap anak mendapat pensil warna berbeda-beda. Sengaja untuk memancing kreativitas anak.
Di antara murid-murid tersebut, terdapat 2 anak yang spesial di antara mereka. Kedua-duanya hanya memiliki warna hitam, putih, merah, kuning, dan biru. Kedua anak tersebut berbeda sikapnya saat bekerja mewarnai kertas tesebut.
Salah seorang dari mereka uring-uringan tidak mau mewarnai. "Bagaimana bisa mewarnai?", pikirnya. "Gambar matahari yang ada pada kertas tersebut, seharusnya diwarnai dengan warna oranye. Tapi aku tidak mendapati warna oranye di kotak crayon yang dibagikan. Gambar pepohonan seharusnya diwarnai dengan warna hijau. Tapi tidak ada warna hijau. Selain itu, tidak ada warna biru muda. Yang ada warna biru tua. Padahal aku ingin langit diwarnai dengan warna biru muda"
Anak tersebut begitu idealisnya. Ia tidak bisa menerima kekurangan-kekurangan yang ada. Akhirnya, alih-alih mewarnai, ia hanya merajuk diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya bisa iri atas teman lain yang memiliki pinsil warna yang lengkap.
Anak yang lain malah asyik mewarnai. Memang, warna yang tersedia tidak komplit. Tapi itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan keasyikan dari aktifitas mewarnai. Ia cukup cerdas mengakali kekurangan warna tersebut. Untuk mewarnai gambar matahari, mula-mula ia beri warna kuning. Lalu warna kuning itu ia timpa dengan warna merah. Hasilnya, warna oranye yang cerah untuk matahari.
Begitu juga untuk warna pepohonan, mula-mula ia beri warna biru, lalu ia campurkan dengan warna kuning sehingga membentuk warna hijau. Lalu untuk warna langit, mula-mula ia beri warna biru tua. Setelah itu ia goreskan pinsil warna putih sehingga warna birunya sedikit memudar.
Saudaraku, setidaknya itu menggambarkan penyikapan insan atas apa yang diterimanya. Ada manusia yang sulit menerima kekurangan-kekurangannya. Ia menghabiskan waktunya untuk mengeluh karena tidak memiliki apa yang orang lain miliki. Ia mengeluh karena istri yang dimilikinya tidak cantik, atau gaji yang diterimanya tidaklah memadai, atau pekerjaan yang digelutinya tidak menyenangkan, dsb.
Insan model tersebut, adalah insan yang berkata, "Ah, andai gajiku lebih besar lagi, tentu aku bisa berinfak". "Ah, andai istriku cantik, tentu mudah untuk ghodul bashor." "Ah, andai pekerjaanku tidak terlalu sibuk, tentu aku bisa menghafal Al-Qur’an."
Orang seperti ini tidak bisa bahagia atas apa yang dimilikinya. Ia tidak mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya. Dalam cerita di atas, orang seperti ini jauh berbeda dengan sikap anak yang kedua.
Bandingkan dengan sikap anak yang kedua. Ia adalah profil orang yang mampu menyusun sendiri kebahagiaan dirinya atas apa yang ia miliki. Ia tidak peduli dengan apa yang tidak dimilikinya, dan tidak peduli atas apa yang orang lain miliki. Orang seperti ini kebahagiaannya tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Dengan apa yang dimilikinya, ia mampu menciptakan kebahagiaan.
Kebahagiaan terbentuk bukan tergantung dari keberadaan materi, tapi tergantung dari keberkahan materi. Sebuah materi menjadi berkah manakala ia memberikan manfaat bagi pemiliknya.
Aktivitas orang tipe kedua juga tidak bisa didikte oleh keterbatasan. Apabila ia ingin bersedekah tapi benar-benar tidak punya barang untuk disedekahkan, maka ia bisa melakukan sholat dhuha, atau ia bisa menawarkan tenaganya untuk membantu orang lain. Minimal, ia memiliki senyum untuk disedekahkan kepada orang lain.
"Bagi masing – masing ruas dari anggota tubuh salah seorang diantara kalian harus dikeluarkan sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)
Saudaraku, susunlah kebahagian sendiri atas apa yang kita miliki.
Pekerjaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar bukanlah pekerjaan yang mudah. Sangat banyak rintangannya. Banyak yang tidak suka dinasehati untuk berbuat kebaikan. Dan jauh lebih banyak lagi yang tidak suka perbuatan buruknya dilarang. Maka jadilah orang-orang itu memusuhi perbuatan amar ma’ruf nahi munkar, dan terlebih lagi memusuhi yang pelakunya.
"Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri." QS Al-A’raf : 7
Ayat di atas mengutip kata-kata pamungkas dari orang-orang yang memusuhi amar ma’ruf nahi munkar. Nah, kalau disamakan dengan zaman sekarang, istilahnya orang-orang yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar itu diejek atau dituduh dengan kata "MUNAFIK". Begitulah kata mereka yang tidak senang kemaksiatannya digugat.
Masalahnya kadang mereka membuktikan dengan tokoh-tokoh yang mahsyur sebagai da’I yang terbukti melakukan perbuatan keji yang sering da’i tersebut larang dalam ceramah-ceramahnya. Berbekal nama-nama itu, orang yang tidak senang kepada dakwah menyerang semua juru dakwah dengan kata "MUNAFIK".Saat ini kejahatan yang membuat pelakunya paling gerah untuk digugat adalah kejahatan pornografi dan pornoaksi. Dan yang paling sering mengumbar kata-kata "MUNAFIK" itu adalah para pelaku kejahatan ini. Seharusnya, tuduhan mereka itu menjadi peringatan bagi kita yang concern terhadap pornografi.
Berikut rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh penyeru anti pornografi dan pornoaksi.- Ibda’ binafsika wad’u ghoiruka.
Artinya kira-kira: Mulai lah dari dirimu sendiri, dan serulah orang lain. Kaidah dalam dakwah ini menekankan agar kita memulai terlebih dahulu amal soleh yang kita kerjakan, dan untuk kemudian kita seru orang lain agar mengerjakan amal tersebut. Orang yang tidak menghiraukan kaidah ini, mendapat murka dari Allah SWT."Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." Ash-Shaff 2 & 3.
Selain itu, ada pepatah mengatakan, Faaqidisy-syai’ laa yu’thiih (Orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan bisa memberikannya). Kaitannya dalam dakwah bukan hanya dalam masalah apakah penyerunya memiliki ilmu yang bisa ditransfer kepada orang lain atau bukan, tapi juga apakah penyerunya memiliki kebiasaan suatu amal atau tidak. Apakah orang tersebut memiliki imunitas dari pornografi dan pornoaksi atau tidak. Kalau tidak, rasanya sulit membuat orang lain mengikutinya apabila ia sendiri gandrung kepada pornografi dan pornoaksi.Rambu pertama ini adalah rambu dasar yang harus dipatuhi oleh seluruh penyeru dakwah. Dan agar orang-orang yang memusuhi penyeruan anti pornografi tidak lagi memiliki tambahan bukti orang-orang yang dibilang munafik, maka setiap penyeru anti pornografi harus mematuhi kaidah ini.
- Hindari Hal Yang Mendekati Zina.Rambu ini merupakan lanjutan dari rambu pertama. Pornografi dan pornoaksi itu adalah aktivitas perzinahan.
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : "Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti." (Hadis Shahih Muslim No. 2282)Maka setiap orang yang menyerukan penolakan anti pornografi dan pornoaksi haruslah menghindari setiap bentuk zina. Bahkan harus menghindari hal-hal yang mendekati zina.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Al-Isra 32.Jadi, janganlah penyeru anti pornografi dan pornoaksi itu malah gemar menonton foto/video porno, yang mengakibatkan ia jatuh pada zina mata. Jangan mengumbar pembicaraan – sekalipun bercanda – yang bertemakan hal-hal yang porno, yang menyebabkan ia jatuh pada zina lidah. Bahkan ikut mendengarkan hal-hal porno pun, ia telah jatuh pada zina telinga. Dan tangan dan kakinya, jangan pula berbuat aktivitas yang disebut pornoaksi. Bahkan, jangan sampai membayang-bayangkan hal-hal yang porno hingga jatuh pada zina hati.
- Ghodul Bashor.Menundukkan pandangan dari memandang lawan jenis adalah tuntunan Islam. Jadi, bukan saja pornografi dan pornoaksi yang dilarang untuk dilihat. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."” An-Nuur : 30. Juga lihat ayat ke-31.
Ghodul bashar atau menundukkan pandangan adalah sebuah aktivitas menghindari zina. Karena pandangan adalah pendahuluan dari perbuatan zina.Kondisi du’at (penyeru dakwah) biasanya dijadikan barometer bagi kondisi lingkungannya. Ada ungkapan yang mengatakan, “Kalau da’inya saja sholatnya di rumah, gimana umatnya? Pada gak sholat kali.”. Dan ungkapan serupa yang bisalah disebut turunan dari pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Maka seorang penyeru anti pornografi dan pornoaksi harus menjaga perangainya agar tidak jatuh kedalam dosa-dosa kecil seperti memandang lawan jenis, agar umat yang disayanginya tidak jatuh kepada hal yang lebih besar lagi. Yaitu menikmat pornografi.- Menjaga Adab Dalam Pergaulan Antar Lawan Jenis.
Pornoaksi adalah sebuah aksi yang menerabas adab dalam pergaulan lawan jenis. Seorang penyeru anti pornografi dan pornoaksi memang haram untuk melakukan aktivitas pornoaksi. Tapi lebih dari itu, ia juga dituntut untuk memberikan teladan dalam bergaul yang benar antar lawan jenis.Antara lain tuntunan Islam dalam pergaulan ialah menghindari berdua-duaan dengan non muhrim, tidak lemah lembut yang berlebih-lebihan dalam berdialog dengan lawan jenis, dan tetap ghodul bashor.
Yang paling penting harus dijaga adalah, jangan sampai pacaran. Karena aktivitas pacaran itu melabrak banyak rambu yang telah Allah tetapkan dalam pergaulan. Bila du’atnya saja pacaran, mungkin umatnya akan terbiasa berzina.- Menjaga Aurat.
Sering orang mempertanyakan batasan pornografi. Kalau ada undang-undang yang melarang pornografi, maka orang-orang yang ingin menghambat peraturan itu akan menghalang-halanginya dengan mengatakan bahwa batasannya tidak jelas.Islam telah terlebih dahulu mengatur batasan tersebut. Bagi muslim, bila telah mencapai kondisi mukallaf atau dengan kata lain baligh, maka ia wajib menutup auratnya untuk tidak dipertontonkan kepada orang lain.
Seorang du’at yang menyeru kepada anti pornografi, haruslah yang pertama dalam memberikan ketauladanan sikap yang benar. Bila ia menyeru anti pornografi, tapi ia sendiri membuka auratnya, khawatirnya Allah akan menuntutnya sesuai surat Ash-Shaff : 2 & 3 di atas.Mungkin itu beberapa hal yang harus diperhatikan bagi penyeru anti pornografi dan pornoaksi. Itu semua menyangkut pertolongan Allah atas seruannya. Karena maksiat itu menghijab pertolongan Allah SWT. Kalau ada koreksi dan tambahan, saya sangat senang sekali.
Allahu’alam bish-showab.
Dari koran tempo (http://www.korantempo.com/korantempo/2008/03/16/wawancara/krn,20080316,26.id)
Memimpin Minus Pengawal
Ia menyemir sepatu sendiri.
Ia memulai hari dengan bersujud. Bersarung cokelat kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam, Hidayat Nur Wahid, 48 tahun, ditemani putra bungsunya, Hubaib Shidiq, 9 tahun, keluar dari kamar tidur menuju musala di samping kanan rumah dinasnya. Di musala berukuran 3 x 6 meter itu telah menunggu dua staf pribadi Hidayat yang juga akan salat subuh bersama, pukul 04.45 WIB Rabu lalu.
Pukul 05.10, seusai salat subuh, Hidayat dan Hubaib beranjak ke lantai 2 rumahnya. Di bangunan utama rumah dinas Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu terdapat satu kamar tidur utama dan dua kamar tidur anak. Di depan ketiga kamar itu ada ruang berukuran 3 x 4 meter untuk ruang keluarga. Selama 15 menit Hidayat dan Hubaib melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di situ.
Sejak Kastian Indriawati, 45 tahun, istrinya, meninggal pada 22 Januari lalu, Hidayat menjadi orang tua tunggal bagi Inayah Dzil Izzati (kelas V Pesantren Gontor), Ruzaina (kelas III SMP Pesantren Anyer, Banten), Allaâ ‘Khoiri (kelas I Pesantren Gontor), dan Hubaib Shidiq (kelas IV sekolah dasar di Pondok Gede, Bekasi). Di tengah kesibukannya sebagai Ketua MPR, guru, dan anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat berusaha menyempatkan diri menyiapkan keperluan sekolah Hubaib, satu-satunya anak yang tinggal bersamanya.
Pukul 05.55, Hidayat melepas Hubaib ke sekolah, diantar sopir keluarga mengendarai mobil pribadi Innova warna hitam. Sejak istrinya tiada, Hidayat ingin selalu melepas, nguntapke, Hubaib berangkat sekolah.
Pukul 06.00, berkaus putih, celana olahraga panjang hitam, dan sepatu putih, Hidayat menuju lapangan bulu tangkis yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah dinasnya menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX warna biru. Bersama staf pribadinya dan beberapa staf pribadi menteri di kompleks Widya Candra, pagi itu Hidayat main empat set langsung dengan dua kali istirahat masing-masing lima menit.
Hidayat selalu bermain cantik di tiap set. Smash dan permainan net menunjukkan kepiawaiannya bermain tepok bulu. Walhasil, pria kelahiran Klaten ini selalu memenangi pertandingan.
Bulu tangkis adalah hobinya selain sepak bola. Minimal tiap Selasa dan Rabu dia selalu menyempatkan diri memukul shuttle cock. Dia suka badminton sejak remaja. Di samping rumah orang tuanya di Kadipaten Lor RT 03 RW 08, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, ada lapangan badminton yang biasa dipakai keluarga dan warga sekitarnya.
Kebiasaan itu diteruskan Hidayat saat 13 tahun belajar di Madinah, Arab Saudi. Bersama teman-teman pelajar dari Indonesia dia membuat lapangan bulu tangkis di samping kontrakan.
Pukul 07.50, Hidayat menyudahi badminton. Menenteng tas raket, ia berjalan kaki menuju rumah dinasnya. Sesampai di rumah, Hidayat meminta izin kepada Tempo membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Dua puluh lima menit kemudian Hidayat ke lantai 2 menuju meja makan yang letaknya di bawah kamar tidur utama. Ruang makan menyatu dengan ruang keluarga, bersebelahan dengan ruang tamu dan ruang rapat.
Seperti di ruangan lainnya, di ruangan seukuran lapangan bulu tangkis ini tidak ada aksesori yang tergolong mewah. Hanya ada televisi 21 inci dan akuarium berukuran 1 x 0,5 meter yang dihuni seekor ikan arwana. Di dinding tergantung satu lukisan bunga, foto Hidayat bersama para pemimpin MPR, serta foto-foto mendiang istrinya.
Menu sarapan kali itu nasi uduk, kering tempe, ayam dan telur goreng, sambal, dan kerupuk. Buahnya jeruk dan lengkeng, minumannya jus jambu dan air mineral. Tapi Hidayat hanya mengambil kering tempe, ayam goreng, sambal, dan kerupuk sebagai teman nasi uduk.
Hidayat agaknya penggemar kerupuk. Sekali makan, lebih dari tiga kali ia merogoh kaleng krupuk dari plastik itu. Ia mengaku tidak punya pantangan jenis makanan tertentu. Tapi masakan tradisional Jawa, seperti pecel, botok, sambal goreng, sayur lodeh, dan tentu saja kerupuk, paling ia gemari.
Untuk bekerja hari itu Hidayat memilih kemeja batik lengan panjang biru dengan motif kawung putih dan celana hitam. Hidayat jarang mengenakan jas. Dia lebih sering mengenakan batik, kecuali untuk acara kenegaraan yang mewajibkan jas.
Hidayat mengaku tak punya merek pakaian favorit. Istrinyalah yang biasanya menyediakan pakaiannya. Batik yang ia kenakan hari itu, misalnya, bahannya dibelikan Kastian dan dijahit di Pondok Gede, dekat rumah pribadinya.
Mendiang Kastian pula yang membelikan jam tangan Tissot yang dikenakan Hidayat, juga telepon seluler Nokia–bukan Communicator. Kastian membelikannya saat berhaji, beberapa hari sebelum meninggal. "Ini kenang-kenangan terakhir almarhumah (istri saya)."
Pukul 09.10, Hidayat bersiap ke kantor PKS.
Tanpa istrinya, kini Hidayat menyiapkan sendiri semua keperluannya. Memilih baju dan celana sampai menyemir sepatu. Sepatu yang dikenakannya hari itu sepatu Bata hitam yang terletak di samping tangga menuju lantai 2. Sepatu itu sudah tak mengkilap sehingga Hidayat perlu menyemirnya dulu. Ia tidak banyak memiliki koleksi sepatu atau sandal.
Setelah bersepatu, Hidayat memeriksa semua lampu ruangan. Lampu yang tidak dipakai dimatikannya.
Pukul 09.25, Hidayat masuk ke mobil Toyota Kijang LGX warna biru menuju kantor DPP PKS. Rencananya, pukul 10.00 akan ada deklarasi pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat. Karena untuk kepentingan partai, Hidayat tak menggunakan Camry, mobil dinas Ketua MPR. Hidayat duduk di kursi belakang. Di depan ada sopir dan ajudannya.
Meski pejabat negara, Hidayat jarang dikawal dan kerap bepergian tanpa voorrijder. Ia merasa aman dan nyaman tanpa mereka karena merasa tak punya musuh, sehingga tidak khawatir keamanannya terancam.
Tapi, tanpa voorrijder, ditambah lalu lintas yang kerap macet, perjalanannya jadi lebih lama. Dari Widya Candra menuju Mampang Prapatan pagi itu perlu 30 menit. Di perjalanan, Hidayat sempat menunjukkan tukang potong rambut langganannya. Letaknya di deretan warung Padang dan warung Tegal di pinggir Jalan Mampang Prapatan Raya. Sebulan sekali dia potong rambut di situ. "Ongkosnya Rp 9.000 sekali cukur."
Pukul 10.00, Hidayat tiba di kantor PKS. Deklarasi ditunda karena Presiden PKS Tifatul Sembiring dipastikan datang pukul 10.30. Di situ Hidayat bertemu dengan Ketua Majelis Syura Hilmi Aminuddin, Ketua Dewan Syariah Surahman, serta pengurus PKS Jawa Barat.
Hidayat belum pernah belajar politik secara formal. Tapi ia lahir dari keluarga aktivis. Kakeknya tokoh Muhammadiyah dan Masyumi di Prambanan, Jawa Tengah. Ibunya aktivis Aisyiyah–organisasi perempuan Muhammadiyah. Dan ayahnya, meski berlatar belakang Nahdlatul Ulama, menjadi pengurus Muhammadiyah. Kastian juga penggiat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Hidayat menimba ilmu berorganisasi di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang Madinah. PPI Madinah adalah salah satu organisasi yang menolak penerapan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi di masa Orde Baru. Beberapa kali petugas kedutaan dan menteri kabinet Soeharto membujuk agar PPI Madinah mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, tapi tak mempan.
Hidayat kembali ke Indonesia pada 1993 dan mengajar di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang. Ketika reformasi bergulir, bersama-sama aktivis muslim ia mendirikan Partai Keadilan. Kini, setelah berganti menjadi Partai Keadilan Sejahtera, partai yang semula hanya menerima anggota dari kalangan Islam itu mulai membuka diri untuk nonmuslim.
Tapi rekrutmen partainya, kata Hidayat, tetap taat pada jenjang pengkaderan. Untuk menentukan calon di parlemen, PKS akan melihat siapa yang akan diwakili calon itu. Jika penduduk yang akan diwakili mayoritas selain Islam, wakilnya bisa saja dari nonmuslim juga. Hidayat hanya 20 menit berada di kantor PKS. Ia buru-buru menuju gedung MPR/DPR untuk menerima delegasi dari PPI.
Pukul 11.00, Hidayat tiba di gedung MPR/DPR. Tapi tamu yang ditunggunya dari PPI batal datang. Hidayat meneruskan pekerjaan dengan memeriksa beberapa dokumen dan menekennya.
Pukul 13.00, Hidayat menerima delegasi dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association Turki. Mereka mencari cara mempererat hubungan Indonesia dengan Turki.
Pukul 14.00, Hidayat menerima kunjungan rombongan Presiden National Endowment for Democracy Carl Gersham. Carl meminta Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi menularkan pengalamannya ke negara-negara di Timur Tengah. Hidayat menolak. Alasannya, "Rusaknya demokrasi di Timur Tengah karena sikap politik Amerika Serikat yang berstandar ganda."
Ia mencontohkan pemilu di Palestina. Khalayak, kata Hidayat, tahu pemilu Palestina sangat demokratis. Tapi karena rayuan Israel, negara-negara Barat termasuk Amerika tidak mengakui hasil pemilu itu. Menurut dia, Timur Tengah akan demokratis jika Amerika demokratis. "Jadi jangan Indonesia diminta mengajarkan demokrasi ke Timur Tengah. Mereka (Timur Tengah) melihat perilaku Amerika sendiri."
Meski banyak menerima tamu, Hidayat selalu tepat waktu untuk salat. Begitu azan berkumandang, dia bergegas berwudu. Pukul 15.25, Hidayat salat asar. Di ruangannya tersedia perlengkapan salat, termasuk peci yang bagian atasnya sedikit robek.
Pukul 15.40, Hidayat bersiap-siap kembali ke rumah dinasnya karena pukul 16.30 ia akan menerima Hanung Bramantyo, sutradara film Ayat-ayat Cinta yang lagi populer.
Pukul 15.45, Hidayat memasuki Camry, mobil dinasnya. Kali ini memang untuk kepentingan tugasnya sebagai Ketua MPR. Tapi tetap tanpa voorrijder. Hidayat jarang dikawal voorrijder kecuali kalau ada acara yang mendesak segera didatangi, tak boleh telat, dan lalu lintas macet.
Untuk acara yang bisa diatur jadwalnya dan tidak mendadak, dia pergi tanpa voorrijder. "Semua tergantung bagaimana kita mengatur waktu saja." Mobil Camry dengan pelat bernomor RI-5 itu pun mengarungi samudra kemacetan bersama mobil-mobil lainnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Pukul 16.25, Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sepuluh menit berselang, tamu yang ditunggu, Hanung, datang. Hidayat menyambut Hanung di ruang tamu, mengenakan baju putih bermotif kotak-kotak pendek dan celana hitam. Hanung meminta pendapat Hidayat tentang film Ayat-ayat Cinta sekaligus saran untuk film Ahmad Dahlan–pendiri Muhammadiyah–yang akan dibikinnya.
Meski hanya tiga kali menonton film seumur hidupnya, Hidayat mengkritik beberapa lafal bahasa Arab dalam adegan Ayat-ayat Cinta yang grammar-nya tidak benar. Lokasi shooting yang tidak sesuai dengan kondisi Mesir dikritik. Hidayat juga mempertanyakan mengapa Hanung menonjolkan sisi poligami dalam film itu, padahal dalam novelnya tidak.
Soal rencana membuat film Ahmad Dahlan, Hidayat menyarankan agar dalam film itu juga disinggung soal K.H. Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Menurut Hidayat, keduanya teman yang akrab dan satu guru saat menempuh pendidikan di Madinah.
Kiai Hasyim dan Ahmad Dahlan, kata Hidayat, satu kapal dalam perjalanan dari Pulau Jawa ke Arab Saudi. Meski berbeda pandangan tentang beberapa hal soal khilafiah, mereka berdua saling menghargai. Hidayat menerima Hanung selama dua jam, hingga pukul 18.35.
Pukul 18.45, Hidayat berangkat ke Warung Buncit untuk memenuhi undangan peringatan Maulid Nabi di Pesantren Assalafi Daarul Islah, Jalan Buncit Raya. Kali ini dia mengenakan baju koko putih dan celana hitam. Untuk keperluan ini dia menggunakan mobil pribadi Toyota Kijang LGX biru, tanpa pengawal dan voorrijder.
Akibatnya, dia terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Mampang, dan Buncit Raya. Sejam lebih bertarung dengan kemacetan, Hidayat tiba di lokasi pukul 20.05. Di acara itu Hidayat sempat berceramah selama 30 menit.
Pukul 21.35, Hidayat kembali ke rumah dinasnya. Perjalanan lancar karena sudah malam. Dua puluh menit kemudian Hidayat sampai di rumah dinasnya. Sebelum tidur pada 23.00, Hidayat membaca semua surat yang masuk dan menutup hari dengan membaca Al-Quran. ERWIN DARIYANTO
“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
"Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." (HR. Turmudzi).
Mungkin hadits pertama lebih populer di kalangan wanita muslim dibanding hadits kedua. Begitu juga sebaliknya, hadits kedua lebih populer di kalangan pria muslim dibanding hadits pertama.
Hadits pertama terasa memberikan perlindungan kepada wanita dari pandangan-pandangan berlandaskan nafsu. Memberikan perlindungan kepada wanita solehah agar tidak tersingkir dari peluang dinikahi hanya karena hitungan duniawi. Itulah mengapa hadits pertama lebih populer di kalangan wanita mukmin. (Mungkin… Saya belum pernah mengadakan survey ilmiah).
Ayat lain yang memberikan perlindungan yang sama ada pada QS Al-Baqarah 221.
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…"
Peringatan "engkau akan celaka" pada hadits peratama adalah peringatan yang serius dari Rasulullah terhadap pria mukmin. Mengesampingkan pertimbangan keimanan saja sudah menjadi sebuah kecelakaan yang serius. Dan lebih serius lagi karena terjadi untuk membangun sebuah lembaga bernama pernikahan.
Apabila menikah itu menggenapkan separuh dien, karena selama membujang itu dien kita belum ‘genap’, lalu bagaimana mungkin dien itu ditambal oleh dunia yang dalam pandangan Allah tidak lebih bernilai dari sayap nyamuk? Bukankah seharusnya dien itu pun ditambal dengan dien pula sehingga genap, yaitu pernikahan yang berlandaskan keimanan!!! Bisakah pernikahan berlandaskan nafsu menambal dien yang belum genap dari seorang bujangan?
Begitu pula hadits yang kedua, juga memberikan perlindungan kepada pria mukmin dari penolakan yang tidak berlandaskan pertimbangan agama. Sehingga hadits tersebut lebih populer di kalangan pria mukmin.
Sama seperti hadits pertama, atas pengabaian pertimbangan agama, ada ancamannya. Kali ini berupa "fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." Bila pada hadits pertama ancaman hanya pada pria itu sendiri, di hadits kedua ancamannya lebih besar lagi.
Bisa dimengerti mengapa ancaman pada hadits kedua lebih besar lagi. Bila seorang pria mukmin yang menikah karena alasan dunia yang ada pada seorang gadis yang tidak begitu baik agamanya, pria tersebut - bila keimanannya baik - masih bisa membimbing keluarganya kepada keimanan. Meskipun usahanya akan mendapat hambatan karena agama yang kurang baik dari istri.
Tapi bila seorang wanita tidak dilepas kepada seorang pria yang baik agamanya, lalu akhirnya jatuh kepada pria yang tidak baik agamanya, maka keluarga yang dibentuknya akan dibawah bayang-bayang buruknya agama sang kepala keluarga. Pada akhirnya, sulit untuk membentuk keluarga yang islami.
Bahayanya jauh lebih besar dari yang pertama.
Ala kulli hal, memang fitrah manusia kadang tidak bisa lepas total dari sebuah pertimbangan. Tentang kecenderungan terhadap yang cantik, atau kaya, atau baik keturunan. Rasulullah tidak melarang kita menikahi yang cantik, kaya, bangsawan. Tapi Rasulullah hanya memerintahkan agar menyertakan penilaian dien atas sebuah pertimbangan, dan menjadi penilaian yang dominan. Tanpa itu, kecelakaan menghampiri.
- Salah Kaprah -
Yang tidak boleh terjadi, penggunaan yang tidak benar atas dua hadits pada awal tulisan. Bagi pria, hadits tidak boleh menolak orang yang akhlaknya baik, tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksakan pinangannya. Padahal pria tersebut juga harus mengamalkan hadits pertama terlebih dahulu.
Dan bagi wanita, tidak boleh ada cibiran atas nama hadits kedua bila seorang pria menikah dengan seorang wanita yang cantik. Merasa akhlak & diennya lebih baik dari wanita yang dinikahi pria idolanya, lalu menuding si pria telah meninggalkan hadits pertama.
Allahu’alam bish-showab.