May 15, 2008

Kalau Kau Tulang Rusukku

Filed under: puisi

untuk istriku

Kalau kau tulang rusukku,
pastikan saja dirimu tak kan jauh dari ku

Sekalipun setetes hujan pecah di tengah kita,
dan angin menyekat dengan dingin,
tapi itu untuk sementara

Pada gerak bandul yang teratur,
kita di dua sisinya.
Sekalipun tempat kita terpisah,
dan waktu ikut memisah,
tapi kita kesatuan.

Kalau kau tulang rusukku,
tak kan mungkin terlepas dari badanku.

Maka peluk saja aku pasrah.
Sadar atau tidak kau,
bahwa takdir ini begitu membahagiakan.
Napasku harus menjadi napasmu, dan sebaliknya.
Karena begitulah dalam satu pelukan.

Kalau kau tulang rusukku,
maka jangan berontak atas getir di sekitar.
Karena jauhmu hanya kan sesaat.
Pada satu titik,
akan memelantingkanmu pada ku lagi.
Kau terikat dengan karet di badanku.

kalau kau tulang rusukku,
maka pengorbanan mati-matianku teramat sangat wajar. 
Cinta ini mengalir tanpa sadar.
Sekalipun kau tutup matamu,
kau tetap melihat ia berpendar.

Maka jangan terlalu jauh dariku.
Kalau sekedar pembuktian,
maka kelak kau akan puas dengan jawaban.
Tapi setiap detik yang mengisi
kekosongan ruang di antara kita,
kita akan kehilangan banyak hal.
Karena kebersamaan di kesempatan yang sebentar ini,
begitu berharga di setiap penggalan saat terkecil.

Kalau kau tulang rusukku.
Aku sangat mencintaimu.

May 12, 2008

Antara Ajakan Primer dan Sekunder

Filed under: Orat Oret

Menelusuri jalan dari Bakauheni menuju Bandar Lampung, saya menemukan begitu banyak poster-poster calon peserta pilkada Lampung yang sebentar lagi akan diselenggarakan terpasang di pinggir jalan. Entah berapa dana yang telah digelontorkan, tapi yang jelas di desa-desa yang dilintasi jalan lintas sumatera itu benar-benar tidak sepi dari wajah-wajah calon gubernur dan wakil gubernur. Pastinya, ada dana yang tergelontor tidak sedikit. Tapi, apakah sebegitu pentingnya memenangkan sebuah posisi gubernur hingga keping-keping uang yang begitu berharga bagi rakyat miskin menjelma wajah senyum yang terpampang di dekat gubug-gubug rumah pedesaan? Allahu’alam.

Melihat semua itu, ingatan saya tentang pilkada di Ibu kota yang lalu membayang kembali. Saat saya ikut-ikutan berpartisipasi untuk memenangkan calon yang saya harap bisa memberikan pencerahan kepada warga ibu kota yang mengidap kesenjangan sosial cukup parah. Saya harap agar benarlah sang calon yang saya dukung bila terpilih nanti merealisasikan pendidikan gratis agar wajah kumuh kemiskinan dan kebodohan bisa terangkat.

Saya yang tergabung dengan beberapa orang yang saya kenal di lingkungan kosan saya, mulai beraksi dari jauh-jauh hari untuk memenangkan sang calon. Agar batin terikat, kami mengadakan bakti sosial berupa bazar layanan kesehatan gratis. Sebenarnya baksos seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Bahkan setahun bisa dua kali. Walau pun tidak terkait dengan even pemilu atau pilkada. Jadi baksos kali ini hanyalah berupa pemeliharaan ikatan batin yang memang sudah terikat cukup kuat antara masyarakat dengan para aktifis suatu partai di lingkungan saya tinggal.

Makin dekat waktu pilkada, diadakan lagi baksos berupa bazar. Masing-masing RW di lingkungan saya diadakan baksos/bazar yang waktunya tidak bersamaan. Maka terasa makin dekat lah antara kader/aktifis partai itu dengan masyarakat. Belum lagi ungkapan dukungan yang saya dengar langsung dari mereka, bahwa mereka mempercayai 100% partai ini membela rakyat kecil.

Pada akhirnya pilkada dilaksanakan. Setelah siang, suara dihitung. Dan di lingkungan saya - yang masyarakatnya berbondong-bondong menghadiri layanan kesehatan gratis dan bazar sembako murah - jagoan kami kalah. Bahkan di suatu TPS di mana bazar tersebut dilaksanakan, jagoan kami kalah telak.

Mengetahui hasil tersebut, reaksi para kader partai itu berbeda-beda. Pada dasarnya kecewa, tapi ada yang menerimanya dengan dewasa. Tapi, ada juga yang mengejutkan saya ketika terlontar dari lisannya, "sudah lah, lain kali jangan ngadain bazar di sana lagi."

Maka pemandangan perjalanan Bakauheni - Bandar Lampung ini mengingatkan saya akan hal tersebut, ketika semarak pilkada terasa menyapa orang-orang yang masuk ke provinsi yang berada di kaki pulau sumatera.

Lontaran kekecewaan seorang teman itu benar-benar masih terngiang di telinga saya. Ia merasa dikhianati. Mungkin pikirnya, bagaimana sudah baiknya ia dan kawan-kawan kepada masyarakat. Tapi pada akhirnya masyarakat tak mau menuruti himbauannya untuk memilih pasangan calon gubernur tertentu.

Selintas memang terasa salah masyarakat. Karena ibarat lelaki yang mendamba seorang gadis, gadis itu telah memberi harapan pada lelaki tersebut. Tapi ada kisah yang menarik 14 abad yang lalu ketika seorang yang sangat sangat berpengaruh di lingkungannya berdiri di atas bukit Ash Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk Makkah, sehingga mereka berkumpul di sekitar orang tersebut. Ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Orang itu, Rasulullah SAW, berkata,”Wahai Bani Abdil Muththalib, wahai Bani Fihr, bagaimana pendapat kalian kalau saya beritakan bahwa ada sepasukan berkuda di balik bukit ini siap untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab,”Ya.”

Kata beliau lagi,”Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datangnya adzab yang sangat pedih.”

Tiba-tiba Abu Lahab menukas,”Celakalah kau selama-lamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Kejadian di atas, memperlihatkan bagaimana seorang Rasulullah yang menjadi kepercayaan orang-orang, sehingga bergelar Al-Amin, tetap tidak mendapat tempat di hati pihak tertentu bila membawa suatu seruan spesifik.

Jadi, tidak seharusnya kecewa berlebihan. Sebuah kebaikan belum tentu selalu berbalas dengan kebaikan. Sebuah kebaikan belum tentu efektif menjadi sarana untuk mencapai tujuan.

Tapi ada yang salah, ketika sebuah kebaikan dilaksanakan tanpa bertujuan agar mendapat ridho Allah SWT. Bahwasanya seorang da’i mencoba memikat hati umat, itu suatu keharusan. Tapi tentu saja percobaan itu dilakukan sebagai media untuk menyeru umat kepada Islam, agar Allah ridho. Bukan ditujukan agar umat mendengar seruan-seruan keduniaannya yang tak ada hubungannya dengan ridho Allah SWT.

Ajakan kepada suatu kelompok, atau ajakan untuk suatu tindakan politik, adalah ajakan sekunder, bahkan tersier. Yang primer tentu saja ajakan kepada Islam. Maka kekecewaan lebih “mending” ada ketika masyarakat tidak juga meninggalkan syirik apabila di sana masih beredar kepercayaan-kepercayaan syirik. Atau ibu-ibu muslimah yang menjadi pelanggan setia bazar masih ada saja yang belum menutupi auratnya dengan hijab yang pantas. Tapi kalau pesan yang diselipkan pada sebuah kebaikan bernama baksos adalah pesan sekunder dan mengesampingkan pesan primer, maka pesan itu rapuh tanpa pondasi.

Justru, pesan-pesan politik yang sekunder atau tersier itu, sangat tidak tertutup kemungkinan dimanfaatkan secara negatif oleh pihak-pihak tertentu. Lugasnya, bisa saja kepercayaan itu malah dijadikan lahan bisnis untuk kepentingan dunia semata bagi sementara pihak.

May 6, 2008

Bermain Dengan ADO.Net(5)

Filed under: Blogramming

Manipulasi Data - 2

Sebenarnya ada cara yang mudah untuk memanipulasi data. Kelewatan nih… Caranya dengan langsung menginput pada datagridview.

Tampilannya akan seperti ini.

”Selengkapnya..>>”