May 15, 2008

Kalau Kau Tulang Rusukku

Filed under: puisi

untuk istriku

Kalau kau tulang rusukku,
pastikan saja dirimu tak kan jauh dari ku

Sekalipun setetes hujan pecah di tengah kita,
dan angin menyekat dengan dingin,
tapi itu untuk sementara

Pada gerak bandul yang teratur,
kita di dua sisinya.
Sekalipun tempat kita terpisah,
dan waktu ikut memisah,
tapi kita kesatuan.

Kalau kau tulang rusukku,
tak kan mungkin terlepas dari badanku.

Maka peluk saja aku pasrah.
Sadar atau tidak kau,
bahwa takdir ini begitu membahagiakan.
Napasku harus menjadi napasmu, dan sebaliknya.
Karena begitulah dalam satu pelukan.

Kalau kau tulang rusukku,
maka jangan berontak atas getir di sekitar.
Karena jauhmu hanya kan sesaat.
Pada satu titik,
akan memelantingkanmu pada ku lagi.
Kau terikat dengan karet di badanku.

kalau kau tulang rusukku,
maka pengorbanan mati-matianku teramat sangat wajar. 
Cinta ini mengalir tanpa sadar.
Sekalipun kau tutup matamu,
kau tetap melihat ia berpendar.

Maka jangan terlalu jauh dariku.
Kalau sekedar pembuktian,
maka kelak kau akan puas dengan jawaban.
Tapi setiap detik yang mengisi
kekosongan ruang di antara kita,
kita akan kehilangan banyak hal.
Karena kebersamaan di kesempatan yang sebentar ini,
begitu berharga di setiap penggalan saat terkecil.

Kalau kau tulang rusukku.
Aku sangat mencintaimu.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://andaleh.blogsome.com/2008/05/15/kalau-kau-tulang-rusukku/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>