July 29, 2008

Arti Hidup

Tulisan ini aku buat ketika aku menjabat sebagai Bidang I Divisi Kerohanian Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) Unand pada tahun 2002. Tulisan ini untuk buletin “Ihtisaban” yang diterbitkan oleh Himatika. Rencananya buletin Ihtisaban ini akan diterbitkan berkala. Tapi jadinya ini adalah tulisan pertama dan terakhir :D . Aku keburu pindah ke Gunadarma.

ARTI HIDUP

“Tong, bangun tong. Udah jam sembilan. Lu mau kuliah nggak?” Gelombang suara ibunya Entong yang sedang menyeterika pakaian ruang tengah memantul-mantul pada dinding rumahnya yang sebagian terbuat dari kayu, lalu masuk ke telinga entong yang tengah berkemul sambil memeluk guling kurus di atas kasur tipis, yang banyak terdapat relief kepulauan di sana-sini. 
Entong tersentak. Matanya sedikit terbuka, namun dirinya masih urung untuk bangun. Matahari yang cerah tidak diizinkan olehnya untuk memasuki kamarnya – yang berukuran 3x3 meter – melalui jendela.
“Ah, Emak berisik ah. Mate aye berat banget nak..” Jawab Entong sambil mengelap iler di pipinya yang masih berfasa cairan yang mengalir pada saat ia tidur tadi.
“Pegimane sih, lu? Tiap hari kerjanya molor mlulu. Bangun tidur makan, terus tidur lagi. Sekolah kagak mau, ngaji kagak mau. Hidup lu tuh mau diapain sih?”
“Emak… emak. Justru ini namanya menikmati hidup mak. Kecil disuka, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itulah hidup, mak.”
“Lu bener-bener nggak ngerti arti hidup ya Tong. Makanya denger ceramah pak Ustadz, kalo tujuan hidup tuh untuk…”
“Aaaah…. emak kuno. Brisik ah. Orang lagi nikmatin hidup kok diganggu. Urus kehidupan emak sendiri deh.”
Setelah Entong berteriak seperti itu, suasana rumah menjadi hening. Hanya tik-tok jam yang menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit memenuhi ruangan tengah tempat ibunya Entong bekerja.

Ilustrasi di atas mengisahkan tentang seorang anak yang sedang mencoba menikmati hidup – begitu menurut anak tersebut. Ia menganggap masa mudanya harus diisi dengan foya-foya. Adakah di antara rekan muda yang menyerupai Entong, tokoh anak pada cerita di atas?

Rekan muda, sekalian, ketika tengah membaca ilustrasi di atas, insya Allah rekan muda memang hidup bukan? Coba periksa lagi jantungnya, nafasnya, denyut darahnya, dompetnya… Entong yang berada pada cerita di atas pun tengah hidup ketika ia membantah kata-kata emaknya sambil menikmati selimut kumpel plus apek ditambah bau iler, yang menaungi badannya yang bertelanjang dada (dan bau juga).

Hanya saja, adakah kita syukuri hidup kita ini? Kehidupan adalah nikmat yang jarang disyukuri oleh manusia. Padahal aktifitas ini merupakan pintu gerbang bagi berbagai nikmat lain yang ia dapatkan di dunia ini.

Bagaimana rasanya hidup? Apakah merasa betah? Memang beginilah hidup: penuh suka yang di situlah kita mempersembahkan kesyukuran kita kepada-Nya, dan penuh duka yang di situ kita menunjukkan kesabaran kita sebagai ungkapan kebesaran jiwa di hadapan-Nya.

Tapi apa yang dirasakan Entong tentang hidup memang beda. Ada rekan muda yang sependapat?

Berapa lama kita hidup? Insya Allah apabila pembaca adalah seorang mahasiswa, maka bisa ditaksir usia kita antara 18-25 tahun. Kalau cleaning service atau pelayan café sempat membaca bulletin ini, maka silakan jawab sendiri. Emang penulis pikirin? Tapi yang jelas, bilangan yang terus bertambah yang kita rayakan setiap tahun itu adalah sebuah perjalanan untuk menghabiskan sisa umur kita. Jangan pernah berbangga dengan bilangan itu. Kecuali kalau bilangan itu sebanding dengan yang telah kita dapatkan dan manfaat yang telah kita buat selama hidup ini.

Oke, sebuah pertanyaan lagi, sebenarnya mengapa kita hidup? Pernah kah kita renungkan masalah ini?

Sebenarnya jawabannya simple saja. Kita hidup karena Allah telah menghidupkan kita. Hanya saja jawabannya akan berbeda ketika pertanyaan ini diajukan kepada orang-orang atheis atau kafir Quraisy. Sehingga Allah berfirman untuk mengingatkan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 28.

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”

Jawaban mereka yang salah terhadap pertanyaan “mengapa kita hidup” itu telah menyebabkan mereka kafir. Mereka lupa bahwa Allah lah yang telah menghidupkan mereka.

Hal ini seperti yang dialami oleh penganut Darwinisme, yang berpendapat bahwa manusia berasal dari keturunan kera. Dengan ilmu pengetahuan yang serampangan, mereka mengadakan penelitian dan penilitian untuk menguatkan dugaan mereka.

Hanya pada akhirnya peneilitian dan penelitian yang mereka lakukan semakin melemahkan dugaan mereka, dan mencapai keruntuhannya. Tapi dasar mereka merasa bangsawan (bangsa hewan), maka jadilah mereka baruak-baruak gadang nan ndak tahu diuntuang. Andai mereka tahu bahwa ndak ka jadi urang bagai barauk-baruak itu do.

Sedangkan kaum kafir Quraisy, mereka telah melupakan dzat yang menghidupkan mereka. Kehidupan mereka tanpa arah. Yang mereka sembah adalah berhala-berhala seperti hubal, lata, manat, yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Sehingganya Allah menegur mereka seperti dalam firman di atas.

Dan kita pun bisa berkedudukan sama seperti mereka, ketika kita lupa bahwa kita telah dihidupkan oleh Allah, sehingganya kita tidak lagi tahu apa tujuan Allah menghidupkan kita.

Lalu apa tujuan hidup kita? Dengan maksud apa Allah menghidupkan kita? Adakah rekan muda yang sependapat dengan Entong di atas mengenai tujuan hidup?
Setidaknya ada tiga tujuan Allah menghidupkan kita di dunia ini, yaitu:

 Untuk beribadah kepada Allah
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-dzariat : 56)

Firman di atas menegaskan bahwa kehidupan kita ini tiada lain bertujuan untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Maka segala tindak tanduk kita melenceng dari tujuan kita dihidupkan apabila tidak kita bingkai dengan ibadah kepada Allah. Mulai dari bangun tidurnya kita hingga kita kembali ke tempat tidur, harus frame dengan ‘ubudiyah.

 Untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Dalam firman-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 61, Allah berfirman:

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…”. Dan dalam Al-Baqoroh ayat 30 Allah berirman, “…Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.…”

Setiap kita mengemban misi kekhalifahan. Siapa pun, dari seorang budak, seorang cacat, hingga seorang bangsawan. Semuanya dihidupkan oleh Allah dengan tujuan agar mereka mengolah bumi ini. Semua aktifitas kita tidak boleh menyimpang dari misi ini. Belajarlah, memanfaatkan kedudukan kita sebagai mahasiswa di FMIPA UNAND ini, dan niatkan sebagai  pemenuhan atas amanat yang kita pikul. Jangan sampai kita menjadi pengkhianat dengan malas belajar.

Menjadi khalifah adalah tugas yang berat. Kebanyakan manusia saat ini telah menyimpang dari misi ia ciptakan. Manusia saat ini telah merusak bumi. Bukanlah pemakmur, tapi malah perusak.

Ozon yang bocor, pemanasan global, terumbu karang yang mulai punah, hingga sampah yang bertebaran di kampus tercinta kita ini adalah akibat dari ulah manusia yang lalai tentang hakikat ia dihidupkan.

Manusia yang bodoh. Memang benar seperti apa yang dikatakan Allah dalam Al-Qur’an. Padahal ia tak lebih kuat dari gunung yang menolak amanat untuk menjadi pemakmur bumi, padahal ia tidak lebih perkasa dari langit, tapi ia menjadi pemikul amanat untuk memakmurkan bumi ini. Dan akibat dari kelemahannya telah terlihat dewasa ini.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab:72).

 Untuk Ujian, Siapakah di Antara Kita yang Lebih Baik
Kehidupan sarat dengan kompetisi. Perlombaan adalah suatu yang mutlak terjadi dalam hidup. Mulai dari perlombaan untuk mencari nafkah, hingga lomba matematika yang akan diadakan oleh Himatika Unand (masih termasuk lomba juga khan.)

Dan Allah telah menciptakan kehidupan ini juga dalam rangka perlombaan. Ia telah mengadakan sayembara kepada manusia, untuk berlomba-lomba dalam menempuh amal yang baik. Allah akan menyeleksi kita dalam perlombaan ini.
Perlombaan ini akan menentukan sang pemenang, yang akan menyandang gerlar khoriul bariyyah (sebaik-baik makhluk) (QS 98:7), Sedangkan yang kalah akan menyandang gelar syarrul bariyyah (makhluk terburuk) (QS 98:6).

Hadiah bagi yang memenangkan perlombaan ini adalah tropi berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, tabanas berupa kekekalan (lebih kekaldari kekekalan energi), dan keridhoan Allah. Sedangkan bagi pecundang, akan mendapat hadiah hiburan berupa mandi sauna tiap hari di neraka jahannam. Lumayan kan hadiah hibburannya.

Dan pemenangnya ialah (teng ing eng…), orang-orang yang beriman yang sampai akhir hayatnya mereka tetap istiqomah terhadap keimanannya. Dan sang pecundang ialah orang-orang kafir. Horeeee! Selamat bagi pemenang.
Seleksi Allah sebagai maksud dari penciptaan kehidupan ini telah Allah katakana dalam Surat Al-Mulk ayat 2.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Itulah tujuan kita hidup. Bahkan Hawa pun tercipta di dunia ini dengan tujuan seperti diatas, bukan untuk menemani sang Adam. Kalau Hawa tercipta untuk menemani sang Adam, mengapa Hawa tidak ikut wafat ketika Adam a.s. wafat? Mengapa Hawa tidak menemani sang Adam di alam Baqa’? Begitu juga dirimu, tercipta untuk tiga hal di atas. Bukan untuk menemani aku lhooo.

Setelah kita mengatahui tujuan kita hidup, lalu timbul pertanyaan kembali, dengan apa kita hidup?

Kalau pertanyaan di atas diajukan kepada Entong, maka Entong sambil menahan kantuk akan menjawab bahwa ia tidur dengan bantal guling, kasur, selimut, dan khawayalan-khayalan peneman ia berkemul. Tapi tentu tidak seperti itu apabila pertanyaan itu diajukan kepada rekan muda yang lebih berakal.

Dengan Islam lah kita hidup. Islam adalah agama yang paripurna. Ia adalah jalan hidup yang diperintahkan oleh Allah.
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS 5:3)

Dengan syariat Islam-lah kita hidup. Aturannya menakup segala segi dalam hidup ini. Kehidupan bernegara dan bermasyarakat ia atur. Sampai kepada masuk ke dalam kamar kecil. Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Islam adalah system menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih saying dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar. Tidak kurang dan tidak lebih.”
Islam adalah agama keselamatan yang jaminan keselamatannya telah terpancar dari namanya. Agama yang bersih, damai, dan tunduk kepada Allah.

Singikirkan isme-ime lain buatan manusia. Dan mari kembali ke jalan Allah, bernaung pada Islam ya’lu walaa yu’la ‘alaih.

Dan pertanyaan terakhir, siapakah kita? Mari renungkan.

July 5, 2008

Mengangkat Beban

Kisah ini aku dapat ketika membaca suatu novel ilmiah ketika SMP, kemudian aku gubah untuk mendapatkan hikmahnya.

Sebutlah Adi dan Dodi sedang berwisata di pantai dalam acara sekolah. Ketika mereka tengah dalam candaan, ada tantangan dari Dodi kepada Adi. Dodi yang bertubuh besar dan gemuk menantang Adi yang bertubuh kecil untuk mengadakan kompetisi. Dodi mengangkat Adi, setelah itu gantian Adi mengangkat Dodi. Mereka akan mengukur siapa yang paling lama mengangkat temannya.

Dodi yakin seyakin yakinnya bahwa Adi tidak akan sanggup berlama-lama mengangkat badannya. Karena itu Dodi menantang Adi. Dan Dodi yakin juga bahwa Adi akan menolak tantangan itu.

Tapi Dodi salah. Rupanya Adi menyambut dengan baik, walau dengan syarat.

“Memangnya, syaratnya apa?” Tanya Dodi.

“Kamu mengangkat saya di atas pasir, sedangkan saya mengangkat kamu di laut.” Ujar Adi.

“Boleh.” Ujar Dodi.

Maka dimulailah pertarungan itu.

Alhasil, di luar dugaan. Adi berhasil lebih lama mengangkat Dodi yang tubuhnya lebih besar. Mengakui kekalahannya, Dodi bertanya, “apa rahasianya?”

“Jawabannya adalah, karena saya dibantu oleh gaya apung yang ada pada air laut. Sehingga ringan bagi saya untuk mengangkat kamu.” Ujar Adi. “Gaya itu ditemukan oleh Archimedes. Kalau kamu simak pelajaran fisika kemarin, kamu pasti paham.” Tambah Adi dengan senyuman.

*****

Hidup ini serupa dengan kompetisi di atas. Bahwasanya masing-masing kita memiliki tugas untuk mengangkat beban masing-masing. Beban yang diangkat tentu saja sesuai dengan kemampuan seorang manusia. Begitulah sunnatullah.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS 2:286).

Tetapi ada perbedaan antara seorang muslim yang bertaqwa dengan seorang kafir. Seorang muslim mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di air, sedangkan seorang kafir mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di atas pasir. Ada ‘gaya apung yang dimiliki oleh air’ yang membantu seorang muslim yang bertaqwa untuk mengangkat bebannya. Gaya apung itu adalah bantuan dari Allah SWT.

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Ath-Thalaq : 4.

Dengan bantuan ‘gaya apung’ inilah seorang muslim yang bertaqwa bisa mengangkat bebannya lebih lama. Sedangkan orang kafir yang tanpa bantuan gaya apung tersebut, berpotensi besar untuk menyerah, membanting bebannya lalu dia pun terjatuh.

Seorang muslim yang bertaqwa tidak akan mengenal akhir seperti itu.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS Ath-Thalaq : 2).

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47 : 7)

Allahu’alam bish-showab.