November 23, 2008

Bersumpah Tidak Dengan Nama Allah Pada Lirik Lagu

Filed under: Orat Oret

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR Tirmidzi]. Pada hadits lain dari Ibnu Umar ra, "Rasulullah saw. Bersabda, ‘Setiap sumpah yang diucapkan tidak dengan nama Allah, termasuk perbuatan syirik.’" (Shahih, HR Hakim [1/18] dan Silsilah al-Ahadatis ash-Shahihah [2042]) 

Kita semua tentu sudah sering mendengar lagu ungu yang berjudul “Demi waktu” dan “Dengan Nafasmu”. Pada kedua lagu tersebut, terdapat lirik yang agak kontroversial. Seorang muslim harusnya memprotes lirik tersebut.

Pada lagu Demi Waktu, dari judulnya saja sudah kontroversial. Karena menggunakan kata “demi”. Biasanya kata “demi” dipergunakan untuk bersumpah. Bahkan kemungkinan besar kata-kata ini diambil dari ayat pertama surat Al-‘Ashr. 

Lagu kedua, terdapat juga kata “demi” yang maksudnya sangat mendekati sumpah, “demi nafas yang telah kau hembuskan dalam kehidupanku, Ku berjanji… ”.

Kata demi, memang bisa saja artinya adalah “untuk”. Tapi lazim juga digunakan untuk sumpah. Untuk mengetahui maksud penggunaannya, harus didengarkan secara lengkap keseluruhan kalimat hingga bisa diambil kesimpulan. Atau tanyakan langsung kepada pengucapnya untuk lebih jelasnya. Silakan lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya ada 5 arti dari kata “demi”.

Allahu’alam, saya tidak tahu apakah Ungu menggunakan kata “demi” untuk sumpah atau dalam artian “untuk”. Kalau saya ikuti cita rasa bahasa saya, maka terasa seperti sumpah. 

Dulu dalam sebuah forum diskusi di internet, ada yang membahas tentang lagu “Demi Waktu” ini, menggugat kenapa Ungu bersumpah bukan dengan nama Allah. Dan jawaban saya waktu itu adalah tidak boleh seorang muslim bersumpah dengan nama selain Allah. Tapi kata demi sendiri bisa bermakna untuk. Dan saya tidak mengambil kesimpulan apakah kata demi tersebut dimaksudkan untuk sumpah atau maksud lain.

Semoga saja ada personel Ungu membaca artikel ini. Atau anda yang membaca, mau menyampaikannya kepada personel band Ungu. Semoga mereka bisa lebih berhati-hati, terutama dalam pemilihan diksi pada syair yang mereka buat. Artikel ini dipublish agar kita semua bisa mengambil pelajaran, tanpa maksud meng-ghibah.

Mengembalikan File Yang Disembunyikan Virus

Filed under: Orat Oret, Blogramming

Suatu saat flashdisk saya terkena virus. Semua file yang berekstensi *.doc hilang entah kemana. Hingga menimbulkan kedukaan yang mendalam di hati saya (bahasanya biasa aja dooong).

Singkat cerita, virus di flashdisk saya berhasil dibersihkan. Tetapi saya masih kehilangan file-file yang penting. Tapi mau bagaimana lagi? Rencananya roh-roh file yang hilang tersebut akan dihadirkan lagi menggunakan program file recovery, tapi belum sempat dilaksanakan. Masih kurang sesajen.

Surprise!! Saat flashdisk saya dibaca oleh komputer kawan, rupanya file2 tersebut terbaca. Hanya saja di-hidden. Berita gembira, rupanya file2 tersebut dibuat tidak tampak oleh virus. Padahal hampir saja saya menghubungi komisi orang hilang atau kontras.

Ketika file tersebut ingin saya pulihkan dari status hidden, saya klik kanan – properties, rupanya file tersebut ter-deep freeze hidden, dalam kata lain tidak bisa dipulihkan hiddennya. Waduh…Tampaknya file-file yang disembunyikan itu dibuat menjadi file system oleh virus.

Kemudian, saya setting computer saya agar bisa membaca file yang hidden, melalui tools\folder options\view di windows explorer. Tapi rupanya belum terbaca juga. Saya un-check ‘Hide protected operating system files’, tetap tidak terbaca. Keanehan terjadi, rupanya setelah saya klik tombol OK, item tersebut kembali checked. Entah kenapa. Jangan-jangan, computer saya masih ada virusnya????

Akhirnya saya pakai cara bodoh (sebenarnya, karena saya merasa bodoh, maka cara apa pun yang saya lakukan tetap namanya cara bodoh. Huh… menghina diri sendiri). Saya pinjam komputer kawan saya itu, lalu saya buka file yang hidden. Kemudian saya save-as dengan nama yang lain (file yang terbaru tidak hidden). Lalu file yang hidden itu saya delete.

Capek juga. Ada lumayan file bertipe doc di flashdisk saya. Hhhh….

Akhirnya saya tanya teman, bagaimana caranya agar file yang ghaib itu bisa pulih. O la la, rupanya dia tahu. Caranya seperti ini:

1.Buka command prompt.
2.Tuju folder yang memuat file yang mati suri.
3.Lalu ketikkan attrib –s –h *
4.Berhasil.

Wah… saya baru tahu caranya. Mungkin pembaca sudah dulu tahu ya. Ya… begini lah saya. Kampungan. Wekekekeke……..

November 17, 2008

Hisab

Allah berfirman dalam surat Al-Insyiqaq :

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (Al-Insyiqaq : 7-8)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini: “Maksudnya ia akan dihisab dengan lancar dan tanpa kesulitan. Seluruhnya amalnya tidak akan diperiksa secara teliti. Sebab orang yang dihisab secara teliti, pasti binasa. “

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dihisab dengan rinci, ia pasti disiksa.” ‘Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah berfirman : “Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” Beliau menjawab, “Itu bukan berarti dihisab, tetapi hanya diperlihatkan amalnya. Barangsiapa hisabnya dirinci pada hari kiamat, ia pasti disiksa.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung orang mukmin yang dihisab dengan mudah tanpa dirinci. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan orang kafir.

“…Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 13 : 18)

‘//———–

Hari penghisaban membuat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang merugi dan yang beruntung. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (QS 56 : 3).

Selanjutnya orang-orang yang beruntung itu Allah bagi lagi menjadi dua bagian, hingga terdapat tiga kelompok seperti yang disebutkan pada surat Al-Waaqi’ah ayat ke 7, “dan kamu menjadi tiga golongan”. Golongan pertama adalah Ashabul Maymanah (golongan kanan, ayat ke 8) , Ashabul Masy’amah. (golongan kiri, ayat ke 9), dan Assaabiquunas-saabiquun (yang paling dahulu beriman. ayat ke 10). Golongan yang terakhir lah golongan yang terbaik.

Berdasarkan cara penghisaban, juga terdapat tiga golongan. Untuk golongan yang baik, dihisab dengan mudah tanpa rinci. Dan untuk golongan yang buruk, dihisab dengan hisab yang detail dan buruk. Terakhir adalah golongan yang terbaik, yaitu yang masuk surga tanpa hisab.

Terdapat dalam Riyadush-Sholihin Bab Yakin dan Tawakal, hadits riwayat Ibnu Abbas yang ringkasnya seperti berikut:
“Rasulullah saw bersabda:.. …Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal….” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya ketika dihadirkan hadits tentang hisab tanpa rinci untuk orang mukmin, itu sudah sangat melegakan kita. Karena apabila dirinci perbuatan kita, maka akan kita temui kedurhakaan-kedurhakaan yang besarnya tidak sebanding dengan amal baik yang kita lakukan. Tapi semua termaafkan oleh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Adanya kabar tentang sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, patut menjadi motivasi untuk kita. Bobot amalan kita dipengaruhi oleh motivasi. Oleh karena itu, jangan pesimis memandang hadits tersebut. Kalau timbul keraguan dan pertanyaan apakah kuota tujuh puluh ribu seperti yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut sudah penuh atau belum, mengingat kita hidup di akhir zaman dan telah berlalu berjuta umat muslim sebelum kita? Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Allah karena Allah yang mengetahui. Keraguan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan hadits tersebut menjadi motivasi kita. Berbuatlah sebatas kemampuan kita.

Agar hisab mudah, Umar bin Khattab r.a. sudah memberikan tips dengan ucapannya yang terkenal “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.”

Muhasabah adalah sarana yang ampuh untuk memperbaiki diri.

Juga ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah dengan redaksi hadits yang berbunyi:
“Aku mendengar Rasulullah saw berdoa di dalam sebagian sholatnya: “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo” (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”).
Setelah Nabi saw beranjak, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu hisab yang mudah?” Nabi saw menjawab “Buku catatan amalnya dilihat lalu dilewati begitu saja. Barangsiapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia binasa” (HR Ahmad).

Semoga Allah memudahkan kita pada amalan yang memasukkan kita pada golongan orang yang masuk surga tanpa hisab.

Allahu’Alam bish-showab.