Ada sebuah pendapat yang sangat ngawur mengatakan bahwa, “Karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, maka apabila kita sudah berakhlak baik, kita tidak perlu lagi sholat.” Pendapat itu merujuk pada firman Allah surat Al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” Menurut pendapat tersebut, tujuan sholat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Ketika seseorang tidak lagi mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tidak perlu lagi sholat.
Sebuah logical fallacy. Rasulullah saw saja yang Allah memujinya dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS 68 : 4), tetap melakukan sholat hingga bengkak kakinya. Para sahabat yang berada pada generasi terbaik tidak ada yang tercatat meninggalkan sholat karena merasa akhlaknya sudah baik.
Pendapat tersebut bisa keluar dari ketidak-seimbangan orientasi kebaikan, di mana kebaikan dalam hubungan terhadap manusia (hablum minannaas) yang dipresentasikan pada akhlakul karimah dipandang lebih utama daripada hablum minallah. Atau bisa jadi yang diperhatikan hanyalah habulum minannas dan menafikan hablum minallah.
Bentuk peremehan atas hablum minallah bisa dilihat dari pandangan bahwa seolah-olah bentuk perbuatan keji dan munkar itu hanyalah akhlak yang buruk terhadap sesama manusia. Padahal yang paling awal dikategorikan perbuata keji dan munkar adalah bentuk kedurhakaan kepada Allah SWT.
Atau pendapat tersebut lahir dari salah kaprah menyangka bahwa yang termasuk perbuatan keji dan mungkar adalah perbuatan yang dilarang oleh agama, atau melanggar norma kesusilaan dalam hubungan manusia saja (mis. berjudi, mabuk, berzina, dll). Tidak masuk dalam hitungannya bahwa yang termasuk perbuatan keji dan munkar adalah ketidak-taatan atas perintah Allah SWT (mis. sholat, zakat, puasa, dll). Padahal taqwa itu adalah mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dalam hal ini, Allah memerintahkan kita sholat untuk menyembah-Nya. Maka bentuk perbuatan keji dan munkar yang pertama kali adalah ketika kita tidak melakukan sholat. Lalu bagaimana disebut sudah lepas dari perbuatan keji dan munkar manakala akhlak kepada sesama manusia begitu baik namun ketaatan kepada Allah sangat tipis atau nihil?
Yusuf Qardhawi dalam karangannya “At-Taubah Illallah” (buku terjemahan Indonesianya berjudul “Taubat” karangan Pustaka Al-Kautsar, lihat hal. 114 & 115), menulis : “Pembagian pertama tentang dosa ada dua macam: Meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakanapa yang dilarang. Banyak orang mengira bahwa dosa itu hanya sekedar mengerjakan apa yang dilarang dan diharamkan semata. Mereka lupa bahwa kedurhakaan pertama terhadap Allah adalah meninggalkan apa yang diperintahkan dan bukannya mengerjakan apa yang dilarang. Ini merupakan kedurhakaan Iblis. Allah telah memerintahkannya untuk sujud kepada Adam yang telah diciptakan dengan Tangan Allah sendiri dan meniupkan dari Ruh-Nya. Namun Iblis membangkan perintah Allah ini.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam”. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah : 34).
Kedurhakaan kedua adalah mengerjakan apa yang dilarang Allah, yaitu merupakan kedurhakaan Adam…”
Jelas sekali, bahwa ajakan untuk meninggalkan sholat apabila merasa diri sudah memiliki akhlak yang baik atau merasa sudah meninggalkan perbuatan keji dan munkar, sesungguhnya merupakan ajakan untuk melakukan perbuatan keji dan munkar dalam bentuk yang lebih besar lagi. Bahkan ajakan tersebut adalah ajakan kepada kekafiran, karena sholat merupakan pembeda antara mukmin dan orang kafir.
Selanjutnya Yusuf Qardhawi menulis, “Begitulah kita melihat dosa dan kesalahan yang bisa dipilah antara meninggalkan perintah Allah, ataukah mengerjakan apa yang dilarang Allah. Apa yang diperintahkan Allah juga berbeda-beda derajatnya. Perintah-Nya yang paling besar adalah tauhid dan iman, sedangkan larangan-Nya yang paling besar adalah syirik dan kufur. Setelah itu disusul dengan berbagai macam kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang agung seperti mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan, menunaikan haji. Meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban dan syiar-syiar yang agung ini merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah. Tingkat dosanya juga berbeda-beda. Yang paling besar adalah sholat karena sholat merupakan sendi agama, tanda orang-orang mukmin dan pemisah antara orang mukmin dengan orang kafir. Meninggalkan sholat termasuk ciri orang-orang kafir.
“Dan apabia dikatakan kepada mereka, “Ruku’ lah”, niscaya mereka tidak mau ruku’ (Al-Mursalat : 48).
Mengerjakan sholat dengan malas-malasan dan hati yang berat merupakan ciri orang munafik.
“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, maka mereka berdiri dengan malas” (An-Nisa’ 142).
Allah menganggap celaka orang-orang yang menunda sholat dan melalaikannya hingga waktunya lewat.
“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya” (Al-Ma’un : 4-5)
Bahkan di antara imam-imam Muslimin ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggakan sholat sama dengan orang kafir dan keluar dari agama”
Orang yang berpendapat dan yang membenarkan bahwa tidak perlu sholat apabila tidak berbuat keji dan munkar, haruslah bertaubat dan menegakkan sholatnya lebih ketat lagi!!!

Huiiiiii ajeng link ya situs nya… bagus bro…
Comment by ajeng — December 16, 2008 @ 12:38 pm
mantaf,..
artikelnya bermanfaat bangett
Comment by subhan — January 6, 2009 @ 6:49 pm
Thankz zico zico yang rajin-rajin ya nulis artikel biar ane sering-sering baca hehehe
Btw krim nomor nt dong ke imel ane lost contact ma anak thilal laen, padahal waktu aksi jumat kemaren hendi nanyain gimana kabar iwan
Comment by dieyna — January 15, 2009 @ 12:17 pm