February 14, 2009

Ketika Seruan Nabawi Dicemooh

Filed under: Orat Oret

Di kota Depok terdapat sebuah poster besar yang menampilkan foto walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail. poster tersebut menyampaikan pesan untuk kembali ke jati diri bangsa dengan makan menggunakan tangan kanan.

Tentu saja banyak orang akan bertanya-tanya, apa hubungannya “jati diri bangsa” dengan “makan menggunakan tangan kanan”? poster tersebut tidak menampilkan jawabannya.

Tidak cuma pertanyaan yang serius ingin bertanya, ada juga yang mengejek. Di internet saya pernah menemukan tulisan lain yang menilai bahwa seruan itu tidak bermanfaat. Ada juga sebuah email yang masuk ke-inbox saya memasukkan poto poster tersebut dalam rangkaian spanduk-spanduk lucu/konyol dari caleg. Di email tersebut terdapat komentar, “ Pak … Memangnya dulu makan pake’ kaki ya … ?  Trus yang kidal gimana dong … ?” Sebuah nada ejekan.

Mungkin masih banyak orang lain yang menertawakan seruan tersebut. Menganggapnya sebagai seruan useless yang tidak jelas. Padahal, sangat disayangkan apabila ada seorang muslim yang ikut menertawakan seruan itu.

Seorang muslim seharusnya sadar bahwa seruan tersebut adalah seruan yang nabawi. Seruan dari Rasulullah yang menyukai segala sesuatunya dimulai dari tangan kanan. Ingatlah ancaman Rasulullah terhadap siapa yang mengabaikan sunnahnya :
“Barangsiapa mengabaikan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Mutafaq’alaih)

Terdapat dalam Riyadush Sholihin, bab “Sunnat mendahulukan yang kanan”, beberapa hadits yang menyerukan agar umat mengutamakan tangan kanan.

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw. selalu mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan dalam segala hal. Seperti bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hafshah ra ia berkata: “Rasulullah saw mempergunakan tangan kanan untuk makan, minum, dan memakai pakaian. Dan mempergunakan tangan kiri untuk selain itu.” (Hr Abu Daud).

Ada lagi cerita yang seharusnya menjadi peringatan bagi seorang muslim yang sempat mengejek seruan tersebut. Dalam riwayat muslim, ada seorang laki-laki makan di hadapan Rasulullah saw dengan tangan kirinya. Kemudia beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Ia menjawab, “Saya tidak dapat makan dengan tangan kanan.” Beliau bersabda lagi, “Tidak, sebenarnya kamu bisa. Yang menyebabkanmu tidak mau menggunakan tangan kanan karena kesombonganmu.” Akhirnya laki-laki tersebut tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. (HR Muslim).

Bagaimana dengan kidal?

Saya pernah punya beberapa teman yang kidal. Salah satu teman saya di bangku SMP, mengaku dia kidal. Untuk melempar bola basket ke dalam keranjang, ia cenderung menggunakan tangan kiri. Memang, kekuatannya ada pada tangannya.

Saya juga pernah bertemu dengan siswa cerdas yang kidal ketika bimbel. Ia menulis dengan tangan kiri. Ketika menjawab soal di papan tulis, ia juga menulis dengan tangan kiri. Memang sering dicandai “gak sopan” oleh kawan-kawannya. Tapi ia mengerti itu becanda.

Mereka semua adalah muslim. Dan tidak ada halangan bagi mereka untuk makan dengan tangan kanan. Seorang yang kidal tidak akan kesusahan makan menggunakan tangan kanan. Kalau terbiasa makan dengan tangan kanan, maka tidak ada masalah.

Seseorang yang kidal juga tidak akan punya masalah apabila mendahulukan sesuatu dengan sebelah kanan. Tidak susah kok memakai sepatu didahulukan dengan tangan kanan, mandi dimulai dengan membasuh anggota tubuh bagian kanan, dsb.

Kidal sebenarnya masalah di mana kekuatan tangan lebih dominan, atau lebih leluasa melakukan sesuatu. Tapi sebenarnya apabila dibiasakan, maka tangan kanan pun bisa luwes juga melakukan pekerjaan tertentu.

Kita bisa mengambil contoh pada Rafael Nadal. Petenis dunia itu bukanlah seorang yang kidal. Namun pelatihnya, Toni Nadal, membiasakan dirinya untuk menggunakan tangan kiri. Pada akhirnya, Rafael Nadal terbiasa menggunakan dua tangannya ketika bermain Tenis. Dan itu adalah kelebihan dirinya. Juga banyak pesepakbola yang melatih kedua kakinya agar sama kuatnya. Kemampuan menggunakan kedua kaki yang sama kuat itu amat bermanfaat di lapangan hijau.

Islam tidak merendahkan orang yang punya bakat kidal. Islam menuntut umatnya menggunakan tangan kanan apabila makan, dan juga mendahulukan sebelah kanan dalam memulai sesuatu, bukan untuk mendiskriminasi orang yang kidal. Lagian, tidak susah kok melaksanakan itu semua bagi orang kidal. Jadi, tidak ada diskriminasi, dan jangan sampai kita menjadi orang yang sombong seperti hadits di atas, apalagi mengejek seruan makan menggunakan tangan kanan apabila kita muslim. Karena itu adalah perintah Rasulullah saw.

Apabila seorang diantara kamu makan maka makanlah dengan tangan kanannya, apabila ia minum maka minumlah dengan tangan kanannya.  Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR Muslim, no 5233)

Jati Diri Bangsa.

Sebenarnya seruan tersebut hadir untuk mengajak masyarakat Indonesia kepada jati dirinya: yaitu masyarakat yang punya etika, tata tertib, beradat, dan sopan santun. Maka kalau seruan itu diejek juga oleh segelintir masyarakat, benar-benar pengejek itu sudah meninggalkan budaya sopan santun yang dimiliki masyarakat Indonesia. Terutama karena ejekannya.

Sewaktu kecil, etika makan saya benar-benar digodok oleh keluarga. Ketika menggunakan tangan kiri, saya dikoreksi. Tidak cuma masalah tangan, cara duduk ketika makan pun sering dikoreksi. Apabila duduk di kursi, adalah tidak sopan untuk menaikkan salah satu kaki ke kursi. Apabila makan di lantai, maka makan harus bersila. Hal hal kecil tersebut benar-benar dijaga.

Dan saya akui bahwa masyarakat sekarang mulai meninggalkan hal hal kecil tersebut. Jangankan hal kecil, hal besar dalam etika pun terabaikan. Kita tentu sering menemukan perokok yang tidak tahu etika merokok di depan umum. Itu adalah hal besar dalam etika yang terabaikan.

Maka tidak heran, bila seruan yang baik yang terdapat dalam poster besar di Kota Depok itu dicemooh. Rupanya perjuangan untuk mengembalikan jati diri bangsa, yaitu masyarakat yang punya adat dan etika serta sopan santun, adalah perjuangan yang begitu berat di tengah masyarakat yang bergeser menjadi pragmatis, hedonis dan individualis.

Photobucket

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://andaleh.blogsome.com/2009/02/14/ketika-seruan-nabawi-dicemooh/trackback/

  1. Masyarakat skg memang aneh,orang mengajak kpd yang benar malah dicemooh tapi itulah da’wah tidak akan mulus pasti ada kerikil2nya..yang pasti jangan pantang menyerah bersabar dan berdoa..
    Saya selalu mengajarkan anak saya(usia 3,5bln) untuk selalu mendahulukan yg kanan dari memakai baju,celana dll sampai mandi saya dahulukan yg kanan.Hal yg kecil dimulai sejak msh kecil agar dia ingat dan terbawa sampai dia besar…

    Comment by Bunda Raudhah — February 16, 2009 @ 5:52 am

  2. opo tah wong2 iki….
    kok sesama muslim yang sangat baik agamanya begitu, seperti tidak ada lagi hal penting yang harus dilakukan..

    masih banyak orang2 muslim yang fasik n krisis moral diluar sana..

    Allahuakbar…!!!

    Comment by miyuu — May 28, 2009 @ 7:02 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>