April 28, 2009

Jantan

Jantan memiliki arti yang sama dengan pria. Tapi jantan lebih digambarkan dengan keperkasaan, kekuatan, dan keberanian. Sifat tersebut dalam kehidupan memang selalu dilekatkan pada pria. Dan secara kodratnya, pria lebih perkasa daripada wanita – yang digambarkan dengan sifat kelembutan.

Saat yang paling jantan dalam kehidupan pria adalah ketika ia menjemput sendiri ‘mitsaqon gholizo’. Kenapa bisa disebut saat yang paling jantan? Apa hubungannya dengan mitsaqon gholizo? Mari kita bahas dulu tentang mitsaqon gholizo.

Mitsaqon gholizo bermakna ikatan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT tiga kali menyebut kata ini. Pertama dalam Al-Ahzab ayat 7, perjanjian antara Allah dan Rasul-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”.

 Kemudian pada An-Nisa 154, antara Allah SWT dan Bani Israil. “Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”

Dan terakhir pada An-Nisa ayat 21, perjanjian antara suami dan istri. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Allah menggunakan kata mitsaqon gholizo dalam pernikahan, sebagaimana Allah menggunakannya untuk perjanjian antara Ia dan Rasul-Nya, serta Ia dan Bani Israil.

Mitsaqon gholizo adalah perjanjian yang sangat serius. Untuk Bani Israil, Allah sampai mengangkat gunung Thursina ke atas kepala mereka. Coba bayangkan, jangankan gunung, apa rasanya kalau ada yang mengancam atau menginterogasi kita dengan cara mengangkat sebuah batu besar di atas kepala kita? Tentu kita merasa ketakutan. Dan begitulah proses perjanjian mitsaqon gholizo.

Dan untuk Nabi, Allah tidak kalah kerasnya mengancam. Bahkan seorang kekasih-Nya pun diancam seperti ini: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (QS Al-Haaqqah : 44-48).

Bukan main konsekuensi dari mitsaqon gholizo ini. Karena itu, wajar bila disebut saat yang paling jantan bagi seorang pria adalah saat ia menjemput sendiri mitsaqon gholizo, ketika ia datang ke rumah orang tua seorang gadis untuk menikahinya.
Khusus untuk pernikahan, wanita lah yang mengambil perjanjian yang kuat dari seorang pria yang teruji kejantanannya. Tapi bukan berarti konsekuensinya kecil. Dalam buku fiqh prioritas, Yusuf Qardhawi membuat bab yang berjudul “Mengutamakan Hak-Hak Manusia Atas Hak-Hak Allah”.

Hak manusia memang lebih utama dipenuhi. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa para ulama berpendapat, “Sesungguhnya hak-hak Allah Ta’ala dibangun atas dasar toleransi, sementara hak-hak manusia dibangun atas dasar kepastian (ketat).” Dan dalam hadits disebutkan bahwa seorang yang mati syahid, sebuah amal yang sangat besar pahalanya, terhalang masuk surga karena ada hak manusia yang tidak terpenuhi, misalnya hutang atau lebih parah lagi pencurian. Seorang pencuri ketika bertaubat, insya Allah dihapuskan dosanya oleh Allah. Tapi tidak cukup di situ, selama ia belum meminta maaf kepada manusia, urusannya belum selesai.

Tanpa terangkat sebuah gunung ke atas kepalanya, atau ancaman pemotongan urat jantung, seorang pria membuat ikatan dengan seorang gadis untuk beberapa misi yang sangat sulit. Misi yang sulit itu adalah : Menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Hanya yang jantan lah yang bisa menjalankan misi tersebut!

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)

Jelas misi ini sangat sulit. Menjaga diri sendiri dari api neraka saja sangat sulit. Pada misi yang ia hampiri sendiri ini, seorang pria harus melindungi tidak cuma dirinya, tapi juga keluarganya dari api neraka.

Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan ia akan dimintakan pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya ini. Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin… Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka…” (Shahih Muslim No.3408)

Dan dalam An-Nisa : 34, Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”

Belum lagi, apa yang dipimpinnya, kadang ‘menjadi musuh’ bagi dirinya (lihat QS At-Taghabun (64) : 14). Sangat-sangat tidak mudah menjaga diri dari api neraka yang dikelilingi oleh kenikmatan. Wajar disebut jantan bagi seorang yang berani mengambil peran memimpin diri dan orang lain dari api neraka.

April 20, 2009

Guncangan

Suatu hari sewaktu saya masih di bangku SMU, pernah terjadi gempa bumi. Dan setelah gempa bumi itu reda, kawan saya tidak sengaja menemukan seekor ular yang hendak dan hampir keluar dari sebuah lubang yang ada di halaman sekolah. Kami mengerubungi lubang itu dengan perasaan penasaran campur takut.

Tampaknya gempa bumi yang menyebabkan ular itu hendak keluar. Ular itu sepertinya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sehingga harus keluar dari lubang sarangnya. Ular juga butuh keselamatan. Apa lagi mungkin dia tidak ikut asuransi sehingga kalau cedera tidak ada proteksi untuk pengobatan dirinya. (halaah…)

Fenomena ini, sebenarnya bisa menjadi permisalan bagi kehidupan kita. Untuk menampakkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati, perlu ada guncangan pada hati kita.

Dalam keadaan tenang, mungkin kita tidak akan pernah menyangka bahwa kita memiliki sifat yang mudah berkeluh kesah, dengki, dendam, dan sifat buruk lainnya. Tetapi ketika kita mendapat guncangan, mendapat masalah dalam hidup, maka itu akan memancing watak-watak buruk untuk tampil dalam perilaku kita.

Ketika saya mengikuti acara kemah yang diadakan oleh organisasi keislaman di kampus saya dulu, ada teman yang mengatakan pada saya bahwa watak asli seseorang akan terlihat di alam, ketika acara kemah seperti ini. Akan terlihat mana yang pekerja keras, mana pengeluh, mana yang manja.

Watak-watak tersebut terpancing keluar oleh guncangan, yaitu berupa kehidupan yang tidak nyaman. Di alam bebas atau di hutan, kita harus survive. Ketika lapar tidak ada pembantu untuk memasakkan makanan. Harus kita sendiri memasak makanan dengan peralatan seadanya. Ketika tidur, begitu tidak nyaman. Harus mendirikan perlindungan berupa tenda yang tidak cukup baik melindungi dari nyamuk dan hujan.

Misal di kantor kita ada pegawai baru yang terlihat periang, mungkin perlu ada ujian berupa beban kerjaan yang stressful untuk melihat apakah dia periang dalam setiap keadaan. Perlu ada konflik dengan pegawai lain untuk melihat apakah ia pemaaf dan tidak pendendam atau sebaliknya.

Guncangan itu sunnatullah (QS 2:155). Dan guncangan itu adalah hal yang baik. Berikut ini manfaat guncangan:

1. Sebagai jalan menuju surga dan pembuktian iman.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 214 yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Yakin lah ketika kita mendapatkan guncangan yang hebat dalam hidup, maka itu adalah sebuah jalan menuju ke surga. Balasan bagi orang yang beriman adalah surga, dan iman itu sendiri perlu pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut : 2)

Dari dua ayat ini, Allah memperingatkan kita agar kita tidak mengira bahwa pernyataan iman kita akan mulus mengantarkan kita pada surga. Tidak!! Ada guncangan untuk itu semua. Dan ketika guncangan itu datang, kabar baik, Allah telah merespon pernyataan kita dan telah membentangkan jalan untuk ke surga. Insya Allah :)

(Silakan buka buku ‘Menuju Jamaatul Muslimin’ karya syeikh Husain bin Muhammad bin Ali Jabir. Ada bab tentang tabiat jalan. Yang bercerita tentang berbagai guncangan kepada pembela kebenaran.)

2. Kesempatan untuk membersihkan diri.

Seperti yang sudah disebutkan, guncangan membuat ‘ular-ular’ yang bersembunyi pada lubang di hati kita untuk keluar. Saat itu lah kesempatan kita membunuh ular-ular itu dan membersihkan hati kita dari binatang jahat tersebut.

Saat kita telah menyatakan beriman, lalu Allah menurunkan ujian pada kita. Kadang kala terjadi seperti Surat Al-Ankabut ayat 10, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.”

Guncangan malah membuat kita melakukan kesalahan. Tapi masih ada kesempatan. Atas kesalahan yang kita perbuat, kita bisa bertaubat dan mengambil pelajaran untuk tidak mengulanginya lagi. Allah memperlihatkan aib kita melalui ujian agar kita bisa memperbaiki diri.

Yang perlu diperhatikan, apabila kita menemukan diri kita mudah berkeluh kesah kalau ada masalah, jangan kita menyangka seperti ini: “Ah, kalau ada masalah memang bawaan saya begitu. Tapi kalau saya mendapat nikmat, insya Allah saya mudah bersyukur sih. Memang kelemahan saya itu di ujian yang tidak enak, tapi kalau ujian yang enak, insya Allah saya lulus.”

Perhatikanlah surat Al-Ma’arij ayat 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,”

Allah menyanding sifat keluh kesah dan kikir sebagai suatu kesatuan. Maka menjadi warning, kalau kita mudah mengeluh dalam keadaan tidak enak, dijamin dalam keadaan yang enak akan menjadi kikir. Sama saja, tidak lulus ujian juga.
Jadi, insya Allah suatu guncangan dalam hidup bisa membersihkan dua penyakit sekaligus, yaitu bila kita belajar tidak berkeluh kesah, sekaligus juga akan membersihkan penyakit kikir. Insya Allah.

3. Dalam barisan dakwah, guncangan menjadi seleksi yang membersihkan dari anasir yang lemah.

Salah satu kisah tentang seleksi ini ada pada kisah Bani Israil yang Allah ceritakan pada surat Al-Baqarah 246-251. Awalnya mereka meminta melalui salah seorang nabi mereka agar Allah mengangkat seorang raja agar mereka bisa berperang. Nabi itu menggertak, jangan-jangan mereka tidak jadi berperang setelah Allah menurunkan perintah perang. Lalu mereka membantah dan beralasan.

Kekhawatiran nabi itu terwujud. Allah memerintahkan mereka berperang, tapi hanya sedikit saja dari mereka yang menyambut perintah itu. Ada apa?

Ada guncangan pada egoisme mereka. Raja yang mereka minta untuk memimpin mereka berperang, adalah orang yang mereka anggap tidak memiliki kekayaan yang cukup. Harga diri mereka terguncang, karena mereka menganggap masing-masing dari mereka lebih berhak menjadi pemimpin dari pada Thalut, raja baru yang telah Allah anugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Sebuah guncangan yang mengarah pada rasa gengsi yang tinggi. Dan mereka pun terseleksi. Hanya sedikit yang menyambut perintah perang.

Seleksi berlanjut. Thalut membawa keluar pasukan yang sedikit itu. Perjalanan panjang dan melelahkan mengundang dahaga. Lalu mereka menjumpai sebuah sungai yang airnya bisa melepas haus. Tapi Thalut malah menyampaikan bahwa Allah hendak menguji mereka untuk tidak meminum air sungai tersebut kecuali sekedar mencedukkan tangan. Sebuah guncangan lagi untuk mereka. Dan lagi-lagi mereka terseleksi. Sebagian besar dari mereka membandel meminum air dari sungai itu, dan kemudian tiba-tiba mengaku tidak mampu melawan Jalut, musuh yang akan dihadapi. Mental orang-orang yang meminum air sungai itu drop akibat ketidak-patuhan. Hanya sedikit dari mereka yang menuruti perintah Allah yang melanjutkan perjalanan.

Pasukan yang tinggal sedikit tersisa itu kemudian sekali lagi merasakan guncangan saat mereka berhadapan dengan Jalut dan tentaranya yang perkasa. Tapi mereka adalah orang yang cerdas yang mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa do’a “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Allah kekalkan redaksi doa mereka dalam Al-Qur’an agar kita menjadikannya doa ketika menghadapi guncangan.

Kisah ini happy ending. Mereka memenangi pertempuran. Dan Jalut terbunuh oleh salah seorang dari mereka yang bernama Daud a.s., yang kemudian menjadi Nabi. Begitulah kwalitas dari barisan yang sudah terseleksi ketat oleh berbagai guncangan. Mereka mampu mengalahkan pasukan yang lebih kuat. Dan keyakinan mereka adalah keyakinan yang baja yang mencerminkan pembuktian keimanan yang sangat dalam: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Itulah antara lain manfaat guncangan yang Allah hadirkan pada kita. Jangan kira itu buruk, tapi itu baik bagi kita kalau kita mau bersabar.

—–

artikel terkait, http://andaleh.blogsome.com/2008/06/18/sabarlah-kita-akan-kembali-pada-nya/