Allahu akbar… Allahu akbar…
Suara adzan isya’ mengudara dari sebuah musholla yang tidak jauh dari tempatkusedang menyantap sepiring nasi goreng. Tinggal beberapa suapan lagi, aku bergegas menghabiskan makan malamku itu. Panggilan dari musholla itu sangat penting.
Di tengah asyikku menyelesaikan makan malam, tiba-tiba terdengar bunyi memekakkan telinga. "Grooung… groooung… grooooung…". Segera aku menengok ke arah suara. Rupanya suara itu berasal dari bengkel yang berada 6 meter dari warung nasi goreng tempatku berada. Suara itu dikeluarkan oleh knalpot sebuah sepeda motor yang digeber gasnya. (Ya, itu bunyi knalpot motor digeber. Maaf kalau salah menuliskannya bunyi suaranya
).
Hati ku panas. Ada dua alasan yang membuat aku kesal. Pertama, tentu saja suaranya yang sangat mengganggu dan memekakkan telinga. Suara itu semakin lama semakin keras. Semakin keras suara itu, mungkin semakin membuat pemiliknya senang bukan main. Tapi kebalikannya denganku.
Kedua, karena suara itu mengganggu suara adzan yang sedang berkumandang. Penggeber gas motor itu sangat tidak sopan sekali kepada Allah SWT. Seharusnya dia mengerti adab ketika adzan dikumandangkan. Dan jauh lebih baik lagi apabila dia menjawab adzan itu.
Ya, memang orang yang di bengkel itu belum tentu seorang muslim. Andai kata dia seorang muslim, sangat disayangkan. Tapi kalau dia non muslim, sangat lebih baik apabila dia faham bahwa dalam Islam - agama mayoritas penduduk di mana ia hidup - ada adab dalam mendengarkan adzan, yaitu diam dan menjawab adzan. Untuknya, diam itu sudah cukup dan jangan membuat kegaduhan.
Saya pernah dalam sebuah perjalan dari daerah Sudirman Jakarta menuju Pasar Minggu menumpang bus metro mini 604. Di tengah perjalanan, naik lah seorang pengamen. Orang itu kemudian membawakan lagu diiringi gitar. Ketika sedang mengamen, terdengar suara adzan maghrib dari sebuah masjid di pinggir jalan. Spontan saja pengamen itu berhenti mengamen.
Subhanallah. Saya appreciate sekali dengan pengamen tersebut. Sikapnya yang sederhana itu patut menjadi pelajaran bagi para penumpang di dalam bus.
Mungkin karena kebodohan saya atau memang tidak ada, saya belum pernah mendapatkan hadits yang menyuruh kita diam apabila dikumandangkan adzan. Yang ada adalah hadits tentang menjawab adzan. Tetapi diam itu sendiri adalah adab ketika mendengar adzan. Karena untuk menjawab adzan, suara adzan itu harus terdengar jelas kalimat demi kalimatnya. Kalau dalam keadaan gaduh, adzan tidak begitu terdengar.
Adab mencerminkan akhlak kita. Ada adab dalam membaca Al-Qur’an, ada adab dalam berdo’a, juga ada adab dalam mendengar adzan. Perilaku kita semestinya sesuai dengan adab-adab tersebut untuk memperlihatkan pribadi yang berakhlak mulia.
Sedihnya, suara adzan di negara mayoritas berpenduduk Islam ini tidak saja dilecehkan oleh tindak-tindakan yang tidak sesuai dengan adab. Bahkan suaranya yang mengudara merdu tiap lima kali sehari itu juga mendapat gugatan dari sekelompok orang yang menganggap suara itu mengganggu masyarakat. Gilanya lagi, gugatan itu datang dari pemuda-pemudi Islam yang mengaku menjunjung tinggi toleransi.
Allahu’alam bish-showab.
Doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk pasangan pasutri baru adalah agar pernikahan mereka diberkati. Kalau sekedar bahagia, maka kehidupan kumpul kebo pun bisa membahagiakan. Karena itu, keberkahan lah yang diharapkan hadir. Dan itu sudah mencakup kebahagiaan, kelanggengan, bermanfaatnya pernikahan untuk keluarga besar dan masyarakat, hadirnya generasi Islam yang sholeh, dan sebagainya.
Keberkahan didambakan. Tetapi menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga saja kadang terasa sulit.
Komunikasi
Yang sering kita dengar dianjurkan dalam rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan adalah komunikasi. Karena rumah tangga itu bukan kita sendiri yang menjalani, tapi ada organisme lain yang sebelumnya kita mengenalnya dari luar saja, yang kita harus bekerja sama dengannya untuk menghadirkan kebahagiaan dan ketentraman.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum : 21)
Kita punya definisi dan kriteria sendiri tentang kebahagiaan. Begitu juga dengan pasangan kita. Dengan mengkomunikasikan kriteria dan definisi bahagia yang kita punya, kita akan mudah bekerjasama dengan pasangan kita untuk menghadirkan kebahagiaan itu.
Hanya saja, kadang ada kriteria yang susah untuk dikomunikasikan. Tidak semua kriteria yang kita punya bisa kita definisikan. Dan dari upaya komunikasi itu pun, tidak selalu pasangan kita mengerti apa yang kita maksud. Dan dari tidak semua kriteria yang berhasil dimengerti oleh pasangan kita, tidak semuanya pula bisa diupayakan. Kadang ada kriteria yang berlawanan dengan kriteria yang dimiliki oleh pasangan kita.
Karena itu, komunikasi saja tidak cukup. Perlu qona’ah dan ridho. Merasa cukup dan menerima. Serta lapang dada. Itu akan melengkapi ketidak-sempurnaan kebahagiaan yang kita idamkan. Itu sangat perlu. Kalau tidak, yang hadir adalah rasa kecewa yang menjadi jalan masuk setan untuk megompori hubungan kita dengan pasangan kita.
Upgrade standar kebahagiaan kita!!
Seorang muslim seharusnya pikiran dan perasaannya telah ter-shibghoh oleh Islam. Begitu juga standar, kriteria, dan definisi kebahagiaannya, seharusnya selaras dengan Islam.
Seorang muslim yang mengarungi rumah tangga, yang standar kebahagiaannya sudah di-tuning dengan ghiroh Islamiah, maka akan bahagia dengan jumlah anggota keluarga muslim yang ada pada keluarganya. Akan bahagia dengan kesholehan anggota keluarganya. Akan bahagia manakala rumah tangga itu memiliki manfaat terhadap sekitar. Akan bahagia manakala rumah tangganya lebih memperkuat kerja dakwah Islam.
Kebahagiaan yang selaras dengan semangat Islam itu harusnya begitu dominan dalam dirinya. Karena dengan begitu, setiap kepahitan fitrah yang dirasakan apabila dibenturkan dengan kebahagiaan yang sudah di-upgrade kepada derajat kebahagiaan islami, maka akan menanglah kebahagiaan yang islami itu.
Ada contoh yang baik pada Khansa rha. Beliau dijuluki ibu para syuhada. Siapa yang tidak pedih anaknya tewas dibunuh orang. Fitrah seorang ibu, tentu akan sedih sekali. Dan bagaimana lagi bila semua anaknya yang berjumlah 4 orang tewas dibunuh orang? Tetapi kebahagiaan melihat anak-anaknya syahid mengalahkan kepedihan yang manusiawi itu. Ia malah bersyukur atas kematian putranya.
Maka, kebahagiaan yang sudah tercelup dengan sibghoh Islam, akan mengalahkan kerinduan seorang istri yang ditinggal suaminya untuk berdakwah. Akan mengalahkan rasa repot seorang ibu mengurus anaknya yang banyak namun sholeh/sholehah semua. Akan mengalahkan ego istri untuk berbelanja demi menghemat uang untuk diinfakkan.
Satu cerita lagi. Suatu ketika istri-istri Rasulullah meminta tambahan belanja. Mereka merasa tidak puas dengan uang belanja yang sedikit yang mereka terima. Tetapi Allah menggertak mereka. Mereka diminta memilih antara tambahan belanja dan kehidupan dunia yang menyenangkan vs Allah, Rasul, dan dunia akhirat. Mereka memilih pilihan yang kedua. Itulah contoh kebahagiaan yang ter-upgrade.
"Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, kalau kalian semua menghendaki kehidupan dunia dan kemewahannya, maka marilah saya akan memberikan kepada kalian kesenangan sementara, lalu saya akan menceraikan kalian dengan cara yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kalian menghendaki Allah dan Rasul Nya, serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan untuk wanita-wanita yang shalihat di antara kalian pahala yang besar."(Al-Ahzab 28-29)
Poligami dan Kebahagiaan
Sedikit selipan, dan karena untuk bahasan ini juga tulisan ini dibuat. Ada yang bilang bahwa poligami itu tidak membahagiakan. Benarkah?
Yang jelas standar kebahagiaan tiap orang itu berbeda. Dan poligami itu sendiri harus dilihat latar belakang motivasinya apa. Bukan tidak mungkin saran poligami itu datang sendiri dari seorang istri sebagai suatu kriteria kebahagiaannya. Kaget dengan hal itu?
Dan poligami yang lahir dari motivasi untuk maslahat umat atau dakwah, tentunya tidak akan membuat seorang istri sholehah tidak bahagia. Karena kebahagiaan seorang istri sholehah tentu ada pada maslahat umat/dakwah. Memang ada rasa sakit pada istri yang dipoligami, dan itu dibuktikan sendiri oleh istri-istri Rasulullah. Tapi rasa sakit dan cemburu itu tentu akan dikalahkan oleh rasa cinta kepada umat/dakwah yang dominan.
Apabila dalam poligami yang dilakukan oleh seorang suami ada motivasi-motivasi kebaikan, maka kesedihan seorang istri yang suaminya berpoligami akan dikalahkan oleh rasa bahagianya sendiri untuk melihat kebaikan yang akan hadir oleh poligami.
Jadi, jangan terlalu dini memvonis poligami itu tidak akan membahagiakan. Itu tergantung standar kebahagiaan dan motivasi poligaminya.
Allahu’alam bish-showab.