July 11, 2009

Kebahagiaan Dalam Rumah Tangga

Doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk pasangan pasutri baru adalah agar pernikahan mereka diberkati. Kalau sekedar bahagia, maka kehidupan kumpul kebo pun bisa membahagiakan. Karena itu, keberkahan lah yang diharapkan hadir. Dan itu sudah mencakup kebahagiaan, kelanggengan, bermanfaatnya pernikahan untuk keluarga besar dan masyarakat, hadirnya generasi Islam yang sholeh, dan sebagainya.

Keberkahan didambakan. Tetapi menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga saja kadang terasa sulit.

Komunikasi

Yang sering kita dengar dianjurkan dalam rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan adalah komunikasi. Karena rumah tangga itu bukan kita sendiri yang menjalani, tapi ada organisme lain yang sebelumnya kita mengenalnya dari luar saja, yang kita harus bekerja sama dengannya untuk menghadirkan kebahagiaan dan ketentraman.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum : 21)

Kita punya definisi dan kriteria sendiri tentang kebahagiaan. Begitu juga dengan pasangan kita. Dengan mengkomunikasikan kriteria dan definisi bahagia yang kita punya, kita akan mudah bekerjasama dengan pasangan kita untuk menghadirkan kebahagiaan itu.

Hanya saja, kadang ada kriteria yang susah untuk dikomunikasikan. Tidak semua kriteria yang kita punya bisa kita definisikan. Dan dari upaya komunikasi itu pun, tidak selalu pasangan kita mengerti apa yang kita maksud. Dan dari tidak semua kriteria yang berhasil dimengerti oleh pasangan kita, tidak semuanya pula bisa diupayakan. Kadang ada kriteria yang berlawanan dengan kriteria yang dimiliki oleh pasangan kita.

Karena itu, komunikasi saja tidak cukup. Perlu qona’ah dan ridho. Merasa cukup dan menerima. Serta lapang dada. Itu akan melengkapi ketidak-sempurnaan kebahagiaan yang kita idamkan. Itu sangat perlu. Kalau tidak, yang hadir adalah rasa kecewa yang menjadi jalan masuk setan untuk megompori hubungan kita dengan pasangan kita.

Upgrade standar kebahagiaan kita!!

Seorang muslim seharusnya pikiran dan perasaannya telah ter-shibghoh oleh Islam. Begitu juga standar, kriteria, dan definisi kebahagiaannya, seharusnya selaras dengan Islam.

Seorang muslim yang mengarungi rumah tangga, yang standar kebahagiaannya sudah di-tuning dengan ghiroh Islamiah, maka akan bahagia dengan jumlah anggota keluarga muslim yang ada pada keluarganya. Akan bahagia dengan kesholehan anggota keluarganya. Akan bahagia manakala rumah tangga itu memiliki manfaat terhadap sekitar. Akan bahagia manakala rumah tangganya lebih memperkuat kerja dakwah Islam.

Kebahagiaan yang selaras dengan semangat Islam itu harusnya begitu dominan dalam dirinya. Karena dengan begitu, setiap kepahitan fitrah yang dirasakan apabila dibenturkan dengan kebahagiaan yang sudah di-upgrade kepada derajat kebahagiaan islami, maka akan menanglah kebahagiaan yang islami itu.

Ada contoh yang baik pada Khansa rha. Beliau dijuluki ibu para syuhada. Siapa yang tidak pedih anaknya tewas dibunuh orang. Fitrah seorang ibu, tentu akan sedih sekali. Dan bagaimana lagi bila semua anaknya yang berjumlah 4 orang tewas dibunuh orang? Tetapi kebahagiaan melihat anak-anaknya syahid mengalahkan kepedihan yang manusiawi itu. Ia malah bersyukur atas kematian putranya.

Maka, kebahagiaan yang sudah tercelup dengan sibghoh Islam, akan mengalahkan kerinduan seorang istri yang ditinggal suaminya untuk berdakwah. Akan mengalahkan rasa repot seorang ibu mengurus anaknya yang banyak namun sholeh/sholehah semua. Akan mengalahkan ego istri untuk berbelanja demi menghemat uang untuk diinfakkan.

Satu cerita lagi. Suatu ketika istri-istri Rasulullah meminta tambahan belanja. Mereka merasa tidak puas dengan uang belanja yang sedikit yang mereka terima. Tetapi Allah menggertak mereka. Mereka diminta memilih antara tambahan belanja dan kehidupan dunia yang menyenangkan vs Allah, Rasul, dan dunia akhirat. Mereka memilih pilihan yang kedua. Itulah contoh kebahagiaan yang ter-upgrade.

"Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, kalau kalian semua menghendaki kehidupan dunia dan kemewahannya, maka marilah saya akan memberikan kepada kalian kesenangan sementara, lalu saya akan menceraikan kalian dengan cara yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kalian menghendaki Allah dan Rasul Nya, serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan untuk wanita-wanita yang shalihat di antara kalian pahala yang besar."(Al-Ahzab 28-29)

Poligami dan Kebahagiaan

Sedikit selipan, dan karena untuk bahasan ini juga tulisan ini dibuat. Ada yang bilang bahwa poligami itu tidak membahagiakan. Benarkah?

Yang jelas standar kebahagiaan tiap orang itu berbeda. Dan poligami itu sendiri harus dilihat latar belakang motivasinya apa. Bukan tidak mungkin saran poligami itu datang sendiri dari seorang istri sebagai suatu kriteria kebahagiaannya. Kaget dengan hal itu?

Dan poligami yang lahir dari motivasi untuk maslahat umat atau dakwah, tentunya tidak akan membuat seorang istri sholehah tidak bahagia. Karena kebahagiaan seorang istri sholehah tentu ada pada maslahat umat/dakwah. Memang ada rasa sakit pada istri yang dipoligami, dan itu dibuktikan sendiri oleh istri-istri Rasulullah. Tapi rasa sakit dan cemburu itu tentu akan dikalahkan oleh rasa cinta kepada umat/dakwah yang dominan.

Apabila dalam poligami yang dilakukan oleh seorang suami ada motivasi-motivasi kebaikan, maka kesedihan seorang istri yang suaminya berpoligami akan dikalahkan oleh rasa bahagianya sendiri untuk melihat kebaikan yang akan hadir oleh poligami.

Jadi, jangan terlalu dini memvonis poligami itu tidak akan membahagiakan. Itu tergantung standar kebahagiaan dan motivasi poligaminya.

Allahu’alam bish-showab.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://andaleh.blogsome.com/2009/07/11/kebahagiaan-dalam-rumah-tangga/trackback/

  1. RASULULLAH SAW bersabda :

    “Akan datang suatu zaman dimana seorang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh orang wanita yang meminta perlindungan karena sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya jumlah wanita.”

    Kata-kata Rasulullah lebih dari 1400 tahun yang lalu itu kini sudah mulai kelihatan. Rata-rata diseluruh dunia hari ini jumlah wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Gejala ini menimbulkan penyakit sosial di tengah masyarakat yang semakin hari semakin parah.

    Perawan Tua / Sulit mendapatkan jodoh merupakan salah satu dari banyak masalah yang memerlukan jalan penyelesaian. Keinginan untuk menikah adalah Fitrah yang kalau tidak dipenuhi akan menimbulkan berbagai macam masalah sosial, lebih-lebih lagi jika manusianya itu tidak ber-Iman dan ber-taqwa. Dan akhirnya masalah pergaulan bebas, zina, pelacuran, kumpul kebo, anak zina dan lain-lain semakin semarak ditengah masyarakat kita.

    Salah satunya jalan yang bisa menyelesaikan masalah Perawan Tua dan janda adalah Poligami. Ia jalan yang selamat. Jalan yang menjamin manusia dari terjebak didalam dosa jika ianya dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat. Jalan yang banyak memberi kebaikan dan keuntungan jika ia-nya dilaksanakan atas dasar Iman dan Taqwa.

    Ironisnya, badan-badan agama atau LSM-LSM tidak ada yang menggunakan cara ini untuk menangani masalah penyakit sosial yang melanda masyarakat kita. Malah banyak yang ‘menentang Poligami dengan memburuk-burukkan orang yang meng-amalkannya, menyulitkan proses kearah poligami, dengan mewujudkan syarat-syarat yang memberatkan dsb. Sedangkan dalam masa yang sama, pintu-pintu maksiat dibiarkan terbuka seluas-luasnya.
    bukannya saya mendukung poligami yang membabi buta (hasrat sexual), tetapi setidaknya poligami bisa mengurangi masalah-masalah sosial seperti di atas

    Comment by acem — July 15, 2009 @ 4:33 pm

  2. Kalu bisa sih zic Belajar lah cinta dari Ali dan Fathimah, yg hanya menikah cuma sekali (non poligami),patut di jadikan contoh

    Tengkyu, Her. Insya Allah gw belajar dari rumah tangganya Rasulullah dan para sahabat. Termasuk rumah tangganya Ali ketika fase beliau r.a. belum berpoligami dan ketika berpoligami.
    Tulisan ini dibuat untuk mengomentari pernyataan orang bahwa kalo poligami gak mungkin bahagia.

    Comment by Heri — July 22, 2009 @ 4:22 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>