August 25, 2009

Menjaga Hati

Suatu hari terjadi percakapan antara saya dengan seorang senior di kampus, ketika saya masih di bangku kuliah. Di pembicaraan itu, senior saya mengkritik perilaku teman-teman mahasiswa aktivis dakwah yang suka menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan lawan jenis. Senior saya berkata, "Katanya jaga hijab… Yang perlu dihijab kan hati. Walau pun tidak melihat tapi hatinya bermain, kan sama saja bohong. Lebih baik hati yang dihijab." Seperti itu lah kira-kira.

Saat itu saya mangut-mangut. Ungkapan itu terdengar logis.

Berapa lama kemudian di sebuah pengajian, terdengar kritik dari seorang anggota pengajian (dia adalah senior saya yang lain) kepada para aktivis dakwah kampus yang menyepelekan hijab. "Mereka bilang ghodul qulub (menjaga hati) lebih penting, kemudian menyepelekan ghodul bashor (menjaga pandangan). Padahal yang benar ghodul bashor ilaa ghodul qulub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Jaga pandangan dulu untuk kemudian jaga hati!"

Nah lho… saya termangut-mangut lagi. Mana yang benar?

Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah penjagaan yang langsung di pusatnya: hati, daripada bersusah-susah menjaga pandangan. Tapi menurut senior kedua, tidak mungkin menjaga hati apabila tidak menjaga pandangan.

Sejauh mana kita bisa menjaga hati? Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah kita mengontrol langsung hati kita sendiri. Pertanyaannya, bisa kah kita mengontrol atau mengendalikan hati kita?

Bahwa kondisi hati mengendalikan kita, jelas sekali dalilnya. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Lalu, sekali lagi, sejauh apa kendali kita terhadap hati?

Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, "…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al-Muthofifin : 83)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”" (QS. An-Nuur : 30-31).

Karena itu, saya rasa pernyataan senior yang kedua lebih tepat: ghodul bashor ilaa ghodul quluub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Bagaimana mungkin kita menjaga hati sementara indera kita dibiarkan bermaksiat?

*****

Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

*****

Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.

Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.

Allahu’alam bish-showab.

Tulisan terkait:

N O D A

August 19, 2009

Ujian

Filed under: puisi

Kau menagih cintaku pada jalan memutar
jalan di mana banyak rambu kulanggar.
Memegang peta berdebu,
aku merangkak penuh ragu.

Aku memindai tumpukkan derita,
mengejanya persatu.
Pada setiap permukaannya,
aku mengharapkan salju.

Kau membelaiku dengan pucuk pecut Zabaniah yang disegerakan.
Aku mengerang keras, dan terbisikkan (70:19-21).

Di setiap bulir hujan yang turun,
aku menghitung tasbih.
Sendawaku berdarah,
tapi ‘alaa kulli hal alhamdulillah.

Masih, aku menapaki gulungan mendung membumbung ke angkasa.
Hingga ruh ku di puncak sana sempurna…..

August 12, 2009

Mengeja Nama

Filed under: Santai....

Dalam sebuah percakapan Telepon…

A : "Namanya siapa, Pak?"
B : "Alviandri"
A : "Tolong dieja hurufnya, Pak"
B : "Alfa…."
A : "Ya, terus…"
B : "Lalfa, Valfa, Ialfa, Alfa, Nalfa, Dalfa, Ralfa, Ialfa"

August 6, 2009

Hidup Bersamanya

Dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global”, Hermawan Kartajaya menulis sebuah kisah.

“Seorang teman pergi ke dokter internis, ahli penyakit dalam. Dia mendadak suka haus. Oleh dokter, ia divonis diabetes mellitus. Dokter geleng-geleng kepala. Sambil mengernyitkan dahi, dokter bertanya bagaimana bisa dalam usia kurang dari 40 tahun sudah terkena penyakit kronis ini. “Kamu bisa mati kalau tidak hati-hati. Ini penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Paling-paling Cuma bisa dilakukan pencegahan saja!”.

Lantas teman saya dianjurkan ke ahli gizi. Oleh ahli gizi, dia diharuskan untuk diet ketat. Mengetahui kalau dia kena diabetes, teman saya jadi murung. Tapi dia tetap berusaha keras untuk mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh ahli gizi itu.

Tiga bulan kemudian, dia pergi ke Singapura untuk check up. Kali ini dia pergi ke salah satu dokter ahli penyakit dalam yang praktek di Mt-Elizabeth Hospital. Hasilnya sama, diabetes mellitus. Tapi ada yang sangat berbeda. Si dokter Cuma ketawa dan menghibur, “ya, Anda memang sudah diabetes. Ini penyakit kronis. Yang penting you have to live with it!”. Maksudnya si dokter ingin mengatakan, ya mau apa lagi. Sudah terlanjur diabetes. Yang penting jangan terlalu dipikirkan penyakit itu. Tapi bagaimana caranya hidup produktif bersama diabetes!”

Cerita di atas ada lanjutannya, tapi saya potong sampai di situ. Pointnya tentang bagaimana memanjakan client. Cerita itu dimuat dalam buku marketing. Tulisan ini tidak membicarakan tentang pelayanan pada client, tapi ada pelajaran bagus dari cerita di atas.

Pelajaran itu ada pada kata-kata si dokter Singapura untuk menyambut musibah yang dialami oleh penderita diabetes pada cerita di atas. “Yang penting you have to live with it.” Becanda kah si dokter? Atau meremehkan? Atau malah mengejek?

Tidak, tapi dokter itu memang benar untuk menyambut musibah dengan ceria. Apalagi musibah seumur hidup seperti penyakit diabetes.

Dalam buku La Tahzan, Dr ‘Aidh Al-Qarni (siapa yang tidak tahu buku itu, dan siapa yang tidak kenal beliau?) pada tulisan yang berjudul “Pendapat Orang-Orang Bijak Tentang Sabar” menulis: “Konon Anusyirwan pernah mengatakan, “semua ujian di dunia ini bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama, yang bisa dicari jalan keluarnya, yakni guncangan jiwa. Dan kedua, yang tidak bisa dicari jalan keluarnya. Yang ini sembuh justru dengan menyambutnya.” Menurut kalangan bijak bestari, “jalan keluar yang tidak memberikan jalan keluar adalah kesabaran.””

Karena diabetes mellitus – menurut dokter – tidak bisa dicari jalan keluarnya, maka menyambutnya dengan kesabaran itu jauh lebih baik. Kesabaran malah menjadi “jalan keluar” dari musibah yang tidak ada jalan keluarnya.

Diabetes mellitus hanyalah satu contoh. Ada banyak jenis musibah yang bila menimpa seseorang, maka seseorang itu harus hidup bersamanya. Misalnya cacat permanen. Dari namanya saja – permanen, kita harus hidup bersama cacat itu sepanjang hayat. Tapi silakan googling, ada banyak cerita tentang orang cacat yang berprestasi. Ada kisah tentang seorang buta di negeri kita yang karya seninya berupa ilustrasi musik dipakai oleh game Mario Bross dan Final fantasy. Dia bernama Ramaditya. Dan masih banyak cerita orang cacat yang berprestasi lainnya.

Musibah yang kita harus hidup bersamanya bukan sebatas pada penyakit. Ada banyak derita lain. Yang paling menarik adalah…. persoalan asmara. Nah lho…

Dalam bukunya “Catatan seorang ukhti: 4, Karena Cinta Harus Diupayakan”, ada kisah yang menarik tentang rasa cinta yang membekas dan tak mau hilang. Itu menimpa pada seorang wanita yang sudah berkeluarga selama (kalau tidak salah) 5 tahun (maaf saya tidak punya bukunya, cuma pernah baca saja :-D ). Pada curhatnya dia mengaku tidak bahagia dalam rumah tangganya. Penyebabnya adalah perasaan cinta yang tidak bisa hilang kepada seorang lelaki yang bukan menjadi suaminya.

Menurut saya, perasaan cinta yang tidak bisa hilang itu seharusnya bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia. Kecuali kalau dipaksakan solusinya adalah hidup bersama orang yang dicintai. Tentu itu susah untuk diupayakan (kalau tidak mau dibilang tidak bisa). Dan selama wanita itu tidak hidup bersama pria yang dicintainya, ia tidak akan bisa bahagia.

Kalau perasaan itu sudah diupayakan untuk lenyap namun tidak kunjung hilang juga, maka kesabaran lah solusinya! Biarkan kesabaran - yang harus sudah ada sejak awal musibah - menemani perasaan itu, dan kita bisa fokus pada dunia nyata. Jangan biarkan perasaan itu tidak terkontrol oleh kesabaran hingga mengganggu dunia nyata kita.

Begitulah, ada banyak musibah lain yang kita harus hidup bersamanya. Bisa berupa kegagalan kita menggapai cita-cita dan kesempatan itu telah hilang. Mungkin kematian dari salah seorang yang kita cintai. Atau mungkin ada pembaca yang pada masa kecilnya pernah diperkosa (duh sadis banget contohnya). Biarkan musibah itu mengiringi kita, dan kita hadirkan kesabaran untuk melengkapinya. Selanjutnya, semua musibah itu tidak bisa menghalangi produktifitas kita.

Tetapi ingat, kesabaran harus sudah dihadirkan sejak awal musibah. ”Sesungguhnya yang namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Tetap semangat!!! :-)

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah (QS 70:5)