Kau menagih cintaku pada jalan memutar
jalan di mana banyak rambu kulanggar.
Memegang peta berdebu,
aku merangkak penuh ragu.
Aku memindai tumpukkan derita,
mengejanya persatu.
Pada setiap permukaannya,
aku mengharapkan salju.
Kau membelaiku dengan pucuk pecut Zabaniah yang disegerakan.
Aku mengerang keras, dan terbisikkan (70:19-21).
Di setiap bulir hujan yang turun,
aku menghitung tasbih.
Sendawaku berdarah,
tapi ‘alaa kulli hal alhamdulillah.
Masih, aku menapaki gulungan mendung membumbung ke angkasa.
Hingga ruh ku di puncak sana sempurna…..
