September 29, 2009

Sesudah Kesulitan

Di musim kemarau, mentari pukul delapan sudah cukup terasa menyengat. Begitu lah yang dirasakan oleh Adi dan Indra yang sedang berada di sebuah metro mini menuju wilayah perkantoran Sudirman. Saat itu, bus yang mereka tumpangi sedang berada di sekitar Kalibata, salah satu daerah langganan macet di Jakarta.

Adi menghela nafas. Kemudian ia melontarkan keluhan, "Duh… sampe kapan sih harus begini. Apa orang-orang gak bosen dengan macet begini? Liat deh, itu ada mobil yang isinya cuma satu orang. Kenapa sih orang itu gak milih naek angkutan umum? Bikin macet aja."

Entah keluhan yang keberapa dari mulut Adi selama ia terjebak kemacetan. "Kenapa sih… kalo udah tau gak bakalan bisa menyelesaikan macet, kenapa masih ngotot jadi gubernur?" Keluhnya lagi.

Indra, yang duduk di samping Adi. Cuma tersenyum mendengar keluhan-keluhan itu.

Tak lama, di samping metro mini itu lewat lah bus lain yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Asap itu masuk ke dalam metro mini yang ditumpangi Adi, dan membuat Adi lagi-lagi melontarkan dumelannya.

Tak tahan dengan keluhan-keluhan temannya, Indra menegur Adi. "Buat apa sih ngeluh terus Di? Kayaknya hidup lu penuh dengan kesulitan-kesulitan aja." Ujar Indra sambil tertawa kecil.

"Iya sih… kalo dipikir-pikir. Kayaknya hidup gw penuh dengan kesulitan deh." Balas Adi.

"Halah.. lebay." Kali ini Indra tertawa lepas.

"Memang iya, Ndra. Ada-ada aja kesulitan dateng. Terakhir, gw diancem sama bos untuk gak boleh telat. Kalau telat, ada hukuman pengurangan gaji. Padahal gw beberapa hari ini telat karena motor gw rusak." Adi membela diri.

"Lho, yang laen aja bisa gak telat kok, Di."

"Ya, tapi kan gw terbiasa bawa motor. Sekalinya gak bawa motor, gw agak susah mengatur ulang jadwal berangkat ke kantor. Lagian, oke lah masalah telat itu karena gw sendiri. Gimana dengan masalah rusaknya motor gw gara-gara ditabrak lari mobil? Itu kan bukan salah gw. Dan masih banyak lagi masalah gw laennya. Banyak yang bukan karena keteledoran gw." Adi terus membela diri.

Indra menarik nafas panjang dan kemudian menghelanya. "Tapi bukan jadi alasan buat ngeluh, Di."

"Ya, tapi wajar dong kalo gw ngeluh."

"Gak lah."

"Lho, kok?"

"Gini deh. Misalnya lu jadi ikan yang hidup di kolam yang sempit banget. Lu sangat gak betah dengan kolam itu. Lalu suatu hari lu nemuin ada lubang sebagai jalan menuju kolam di samping yang jauh lebih luas. Lu harus melalui lubang itu untuk ke kolam yang lebih luas. Tapi lubang itu sempit banget, cuma lebih besar sedikit dari ukuran badan lu. Apa lu tetep akan menempuh jalan itu?"

"Mmm… Sebenernya gw lebih pantes diumpamakan sebagai burung merak yang indah, Ndra. Tapi kalo pun jadi ikan, mungkin ikan mas koki yang keren kali ya."

"Terserah deh. Tadinya gw mau mengumpamakan lu sebagai kecebong. Masih mending gw umpamakan sebagai ikan. Jadi lu mau gak melewati lubang itu. Ceritanya lu pengen bener tinggal di kolam sebelah."

"Ya… mau aja."

"Walaupun lubang itu sempit? Lu gak ngeluh?"

"Gak ngeluh dong. Kan gw udah tau bakalan dapetin tempat yang lebih baik. Lebih luas berkali lipat dari kolam pertama."

"Nah… kalo gitu, terhadap semua kesulitan, lu gak perlu ngeluh Di."

"Lah… kenapa Ndra? Maksudnya apa sih perumpamaan itu?"

"Semua kesulitan itu seperti lubang sempit itu, Di. Yang membawa pada kenikmatan dan kelapangan."

"Ya gw udah tau. Kalo kesulitan itu membawa kemudahan. Tapi mending gak ada kesulitan sama sekali dan gak perlu ada kemudahan, kalau jadinya impas."

"Kok impas?"

"Iya, memang ujung-ujungnya sih ada kemudahan. Tapi harus lewat kesulitan dulu. Seperti impas gitu kan? Mending gak ada kesulitan sekalian."

"Lho… bukan impas, Di. Kesulitan itu membawa keuntungan. Kadarnya lebih besar dari pada kesulitan yang lu derita. Seperti perumpamaan tadi, dapet tempat yang jauh lebih luas dari tempat sebelumnya. Untung kan?"

"Ya itu kan cuma ada dalam perumpamaan elu. Bukan di kehidupan nyata."

"Di kehidupan nyata juga, Di. Allah swt kok yang bilang itu."

"Ah, masa’?"

"Lu tau dong surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6."

"Iya tau. Setelah kesulitan ada kemudahan. Itu yang impas kata gw tadi."

"Lu salah memahaminya berarti. Di ayat itu bukan impas, tapi untung. Karena Allah menyebut Al-’usr, dan yusron. Al yang berdempetan dengan kata ‘usr (kesulitan) itu bentuk tunggal. Sedangkan kata yusron (kemudahan) tidak memakai Al, tidak berbentuk tunggal,  yang berarti kemudahan itu ada banyak. Jadi Allah menyebutkan setelah satu kesulitan itu ada banyak kemudahan. Bukan setelah satu kesulitan ada satu kemudahan. Gitu lho."

Adi terdiam sebentar. Kemudian ia menjawab, "Oh gitu… Tapi kok… kenapa gw belum ngerasain kelapangan-kelapangan itu ya?"

"Karena kemudahan-kemudahan itu gak membekas di hati lu, Di. Lu cuma meresapi kesulitan aja, dengan cara mengeluh. Tapi terhadap kemudahan dari Allah, lu biarkan lewat tanpa disyukuri. Kalau lu gak mengeluh dan banyak bersyukur, lu pasti nyadar kalo kehidupan lu dipenuhi oleh kemudahan." Balas Indra.

Adi lagi-lagi terdiam.

"Ya kan?" Kata Indra lagi, menagih pembenaran.

Tapi Adi tidak menjawab. Hanya diam. Dan akhirnya Indra melemparkan senyuman ke luar jendela.

******

Menafsirkan Surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, Ibnu Katsir menulis: "Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh "Al-’usri" (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh "yusran" berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak."

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: "Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Agar kita bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, maka perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (QS 93:11). Terhadap kesulitan, hendaklah berlaku ridho. Dengan itu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat lebih banyak daripada kesulitan.

****

Saya mem-posting tulisan ini pada selasa 29 September 2009. Tapi keesokan harinya, tanggal 30 September 2009, terjadi gempa di Sumatera Barat. Kampung halaman saya. Padang, kota yang saya punya bayak kenangan indah di sana, rusak parah.

Ya Allah… begitu cepat apa yang saya tulis menjadi ujian kembali bagi diri saya sendiri…..

Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Bersabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

September 15, 2009

Jangan Sia-siakan Kesempatan

Sejatinya, kesempatan baik itu ada dua jenis. Pertama, kesempatan baik yang apabila tidak termanfaatkan, tidak akan membuat orang yang mendapatkan peluang itu menjadi rugi. Kedua, kesempatan yang apabila tidak termanfaatkan, akan membuat orang yang mendapat kesempatan itu menjadi rugi.

Contoh kesempatan jenis pertama: seseorang berbelanja di tokok andaleh-mart. Karena nominal belanja mencapai seratus ribu rupiah, orang tersebut mendapatkan kesempatan untuk membeli 1 kg gula dengan harga murah hanya sebesar Rp 500. Tapi kesempatan itu tidak diambilnya. Dan orang tersebut tidak rugi apa-apa. Itu lah contoh kesempatan jenis pertama.

Kemudian, apabila ada seseorang berada dalam bahaya, maka kesempatan untuk keluar dari bahaya adalah kesempatan jenis kedua. Misalnya pada peristiwa penyanderaan oleh sekelompok penjahat, tersandera memiliki peluang untuk kabur. Tapi peluang itu tidak diambilnya atau gagal dimanfaatkan. Maka tersandera itu pun menjadi rugi.

Dalam hadits yang cukup kita kenal, bahkan hadits ini menjadi syair lagu bagi tim nasyid Raihan, terdapat nasihat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk menyegarkan ingatan kita, hadits itu berbunyi:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak.)

Kesempatan yang ada dalam hadits di atas adalah kesempatan jenis kedua. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia itu berada dalam keadaan merugi. Dan lima perkara itu menjadi jalan bagi manusia untuk keluar dari keadaan merugi. Yaitu dengan cara memanfaatkan masa muda, masa sehat, masa kaya, masa luang, dan masa hidup untuk beramal sholeh serta saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr:1-3)

*****

Kemudian, ada hadits riwayat Al-Hakim lainnya yang berhubungan dengan kesempatan jenis kedua.

"……Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku lalu berkata,’ Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, tetapi ia tidak diampuni,’ maka aku berkata, ‘Amin’. Lalu ketika aku menaiki tangga kedua dia berkata,’ Celakalah orang yang mendengar namamu disebut, tetapi ia tidak bersholawat atasmu.’ Maka aku berkata, ‘Amin’. Ketika aku menaiki anak tangga ketiga, ia berkata,’ Celakalah orang yang menjumpai kedua ibu bapaknya yang telah tua atau salah satu dari keduanya, tetapi mereka tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.’ Aku berkata,’Amin’." ( HR Hakim )

Pada hadits ini, ada tiga kesempatan yang apabila tersia-siakan maka orang yang mendapat kesempatan itu menjadi celaka. Yaitu kesempatan mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan, kesempatan bersholawat ketika nama Rasulullah disebut, dan kesempatan berbuat baik kepada kedua orang tua yang telah renta agar mendapatkan surga Allah swt.

*****

Segala kesempatan berbuat baik yang kita dapatkan haruslah dimanfaatkan dengan segera mungkin.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa," (QS Ali-Imran : 133)

Karena selain kesempatan itu mudah hilang, juga ada kemungkinan membatunya hati kita dikarenakan malas yang terpelihara untuk segera memanfaatkan kesempatan itu. Ini terjadi pada Ahli Kitab sebelum umat ini. Telah datang hidayah kepada mereka berupa Al-kitab, namun mereka menunda-nunda untuk memanfaatkan kebenaran itu sehingga hati mereka keras.

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS 57:17)

Tidak semua orang mendapatkan hidayah. Ketika hidayah itu datang, maka itu adalah kesempatan yang diberikan Allah swt pada kita untuk mengikuti petunjuk itu. Tetapi kalau kita bermalas-malasan mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan, maka hati kita kemungkinan akan membatu. Atau akhirnya kita tidak lagi memiliki kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, atau pun kehidupan untuk mengikuti hidayah yang telah Allah berikan.

*****

Kini, kita harus introspeksi atas peluang besar untuk mendapatkan ampunan yang sedang kita dapatkan, yaitu bulan Ramadhan. Bagaimana kita menjalankan aktifitas di bulan Ramadhan? Apakah dengan berleha-leha dan santai-santai saja atas berita baik tentang rahmat, ampunan, dan tertutupnya pintu neraka? Apakah kita membiarkan waktu menggerogoti kesempatan ini detik demi detik, hingga ketika Ramadhan ini berakhir kita gagal menyandang gelar muttaqin? Apakah ampunan Allah semakin menjauh karena kita sendiri yang menjauhinya?

Celaka… celaka lah kita bila gagal memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt. Belum tentu kita mendapatkan bulan Ramadhan tahun depan. Dan ya, memang, di bulan lain kita bisa mendapatkan ampunan. Tapi bila di bulan yang penuh ampunan saja kita gagal mendapatkan maghfiroh dari Allah, lalu bagaimana dengan di bulan yang biasa?

Allahumma innaka ‘afuwwun kariim. Tuhibbul ‘afwa fa’fuanna.
Asyhadu an laa ilaaha illallah. Astaghfirullah. Inni as’alukal jannah. Wa’audzubika minannaar.

—–

Menjelang hari raya idul fitri, Zico Alviandri dan keluarga mengucapkan minal aidin wal faidzin. Taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin, atas semua kesalahan yang kami sengaja atau punt tidak. :)

Aktifitas blogging mungkin berhenti sementara, dilanjutkan setelah Ramadhan. Kecuali kalau ada inspirasi yang sangat bagus untuk ditulis :D

September 9, 2009

Kecuali… Kecuali…

Generalisasi… Kita biasa gunakan ini untuk vonis dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kalau kita menemukan sifat yang sama pada mayoritas anggota suatu golongan, kita akan memukul rata bahwa sifat tersebut dimiliki oleh semua anggota golongan itu.

Biasanya kalau kita mendapat pengalaman tidak enak saat berinteraksi dengan seseorang, ada saja godaan untuk memvonis latar belakang golongan orang tersebut. Entah sukunya, ras, agama, jenis kelamin, atau yang lainnya.

Tentu saja vonis generalisasi macam ini akan mendapat protes. Misalnya kita ngedumel kesal, "Orang Padang memang pelit!!". Lalu akan ada yang protes dengan ucapan itu, "Enak saja… tidak semua orang Padang pelit. Tergantung orangnya masing-masing. Jangan main generalisasi begitu dong…" (Ya dong… saya orang Minang, menurut saya, saya gak pelit kok :p).

Mungkin yang lebih tepat adalah kata-kata: "pada dasarnya, tapi tidak semua." (Sekali lagi, pada dasarnya orang minang gak pelit kok!). Atau kita memerlukan kata "kecuali" saat menilai suatu golongan agar terhindar dari generalisasi. Contohnya: "Anggota dewan itu bukan koruptor. Mereka bersih kok. Ya… kecuali beberapa oknum anggota dewan." (Oh ya? Ada berapa persen tuh beberapa oknumnya? :D )

Ungkapan seperti ini Allah gunakan untuk menghukumi semua manusia.

Dapat kita temukan pada ayat yang sering kita baca: surat Al-Ashr. "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-’Ashr: 1-3)

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata: “Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152). (lihat sumber)

Allah menghukumi manusia sebagai orang yang merugi. Lalu kemudian Allah lengkapi dengan pengecualian pada orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Allah tidak menggeneralisasi semua manusia itu merugi walau pun kebanyakan manusia itu ingkar kepada Allah dan merugi.

Juga pada ayat yang sering kita baca. "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya" (QS At-Tiin (95):5).

Allah bercerita tentang tempat kembali manusia - makhluk yang telah Allah ciptakan dengan sangat baik, yaitu tempat yang sangat rendah: neraka. Ciptaan yang sangat baik berakhir pada tempat yang sangat rendah. Tapi di situ Allah berikan pengecualian untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Jadilah orang-orang yang beriman dan beramal saleh terhindar dari penghukuman general terhadap manusia.

Oke, sampai di sini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kebanyakan manusia itu merugi dan ingkar. "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS Ar-Rum : 8) Dan mereka akan berakhir pada tempat yang buruk: neraka. Kecuali, orang yang beriman. Mereka akan masuk surga.

Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa orang yang beriman akan menempati surga. Tetapi… tunggu dulu… rupanya hal ini juga ada pengecualiannya.

“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari)

Konteks ‘umatku’ di situ adalah umat Islam. Karena hanya orang yang beriman yang akan masuk surga. "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah, masuk surga.”" Jadi hanya orang yang beriman yang bisa digeneralisasi bahwa pada dasarnya mereka akan masuk surga.

Sayangnya memang masih ada pengecualian untuk itu. Walaupun pada akhirnya akan masuk surga juga, tapi akan ada umat Rasulullah saw yang singgah ke neraka terlebih dahulu. Itu lah orang yang enggan. Yaitu orang yang mendurhakai Rasulullah saw.

Tidak semua orang yang beriman akan langsung masuk surga. Di antara mereka akan ada yang melalui neraka sebelum masuk surga.

*****

Sekarang, posisi kita adalah sebagai manusia di bumi ini. Kebanyakan dari kita akan kembali ke neraka. Karena itu segera lah bergabung kepada golongan yang masuk pengecualian. Yaitu orang yang beriman.

Orang-orang yang beriman ini pada dasarnya akan masuk surga. Kecuali orang yang enggan, mereka akan masuk neraka terlebih dahulu. Karena itu berdoa lah agarjangan sampai kita tergabung pada golongan yang dikecualikan ini. Semoga. Amiin.

September 2, 2009

Memaafkan

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. "Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat."(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita." (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi."Berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT" (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

"Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43)."

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan."Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya".

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari - Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari "homo homini lupus".

September 1, 2009

Nama Orang Sunda + Batak

Filed under: Santai....

(Tulisan berikut ini tidak ada niatan merendahkan atau menghina suku tertentu.)

Nama orang sunda memiliki pola tersendiri. Misalnya, Titi Sumiati, Nana Suprihatna, Maman Abdurrahman, dan nama walikota Bandung: Dada Rosada, dsb. Kata seorang teman saya yang orang sunda, polanya itu terdengar "tek tek dung dung tek". :D . Nama di depan di sebut lagi di belakang.

Nah, bagaimana ya kalau nama orang sunda dan polanya ini dipadukan dengan marga orang Batak? Berikut ini utak-atiknya.

Ipul Sitompul
Yoyon Nasution
Yayan Siagian
Dadang Matondang
Aang Situmeang
Aan Siahaan
Tatak Simanjuntak
Tatan Panjaitan
Nanan Tambunan
Riri Sianturi
Lulu Napitupulu
Uung Marpaung
Wawan Pangaribuan
Dede Pardede
Lala Sinambela
Titi Rangkuti
Nanang Aritonang
Lilit Simanungkalit