September 2, 2009

Memaafkan

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. "Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat."(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita." (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi."Berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT" (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

"Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43)."

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan."Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya".

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari - Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari "homo homini lupus".

18 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://andaleh.blogsome.com/2009/09/02/memaafkan/trackback/

  1. Assalamu’alaikum,
    Memaafkan memang lebih mulia. Allah SWT berfirman: “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” (QS an-Nisaa’ [4] : 149. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

    Comment by Dewi Yana — September 2, 2009 @ 1:04 pm

  2. Raihlah Jati Diri Manusia.. dan Mengembalikan Jati Diri Bangsa..

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    Comment by KangBoed — September 2, 2009 @ 1:53 pm

  3. tulisan yang sangat dalam maknanya

    Comment by KangBoed — September 2, 2009 @ 1:54 pm

  4. Selamat menunaikan ibadah puasa.

    Mohon maaf ya kalo deby punya salah?

    Sama sama. Mohon maaf juga kalau saya punya salah :)

    Comment by deby — September 3, 2009 @ 3:04 am

  5. artikel yg bermanfaat sekali, trimakasih mas sudah berbagi ilmu..
    kunjungan siang utk ttp menjaga silaturrahmi…

    salam, ^_^

    Yang benar datangnya dari Allah, kesalahan berasal dari saya sebagai manusia yang penuh khilaf

    Comment by Didien® — September 3, 2009 @ 4:19 am

  6. Kunjungan pertama nich
    “homo homini lupus” saya baru dengar kata ini

    Comment by Jajang — September 3, 2009 @ 2:07 pm

  7. selamat menunaikan ibadah puasa yaw…n kita harus saling memaafkan untuk sesama

    Comment by noersam — September 3, 2009 @ 4:56 pm

  8. Saya Maafkan Mas… :D

    Comment by deby — September 4, 2009 @ 7:32 am

  9. Memaafkan memang sulit. tetapi perbuatan itu wajib kita lakukan.

    Comment by BaNi MusTajaB — September 4, 2009 @ 9:23 pm

  10. sependek pengetahuan saya, tak satupun ayat didalam al qur’an yang mengajarkan untuk meminta maaf, yang ada adalah agar manusia memberi maaf. wa aafiina anin naas.

    Allahu’alam kalau dalam Al-Qur’an. Tapi dalam hadits, perintah itu nyata lho mas :)

    “Barangsiapa berbuat zhalim kepada saudaranya yang seiman dari hartanya atau sebagian dari itu, maka hendaklah ia menyelesaikannya pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari dimana dinar dan dirham tidak memberi manfaat apa-apa, kecuali kebaikan dan keburukan” (HR Bukhori)

    Silakan juga lihat buku Taubat karangan Yusuf Al-Qaradhawi terbitan pustaka Al-Kautsar :)

    Comment by arifin — September 5, 2009 @ 6:32 am

  11. memafkan dan saling bermaafan kenapa klau ramadhan dan lebaran aja ya

    Sah2 aja sih memanfaatkan momentum. Tapi kalo punya salah terus nunda minta maaf nunggu lebaran, itu baru salah :D

    Comment by zoel — September 8, 2009 @ 4:25 pm

  12. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllll

    Comment by KangBoed — September 8, 2009 @ 9:04 pm

  13. mari kita saling memaafkan yaaa

    Comment by KangBoed — September 8, 2009 @ 9:08 pm

  14. “Kebutuhan” kita untuk memaafkan orang yang bersalah pada kita lebih besar daripada keharusan kita memaafkannya. Kita “butuh” memaafkan orang lain karena memaafkan orang lain akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan di hati kita. Sakit hati yang selalu dipendam adalah api yang membakar jiwa dan kesehatan kita.

    Comment by Akhuka fillah — September 11, 2009 @ 10:27 am

  15. Selamat Idul Fitri
    1 Syawal 1430 H

    Taqobbalallahu minna wa minkum
    Taqoballah ya karim
    Minal idzin wal faizin
    Mohon Maaf Lahir Batin

    Comment by BaNi MusTajaB — September 25, 2009 @ 1:58 pm

  16. kunjungan perdana, salam kenal kawan:) artikel thausyiahnya bagus sekali, sy sampai terdiam sejenak, merenung ttg diri, trims ya kawan

    salam sukses selalu

    hill

    Komennya sempet ke filter spaminator, mas :)

    Comment by hill — October 2, 2009 @ 4:48 am

  17. Mungkin selama ini aku bukan orang yang cukup pandai memberi maaf pada orang lain. Ketika orang yang begitu menyakiti hatiku meminta maaf, aku cenderung menerima maafnya dengan mengosongkan hatiku dari jejak apapun yang pernah ditinggalkan orang itu padaku. Bahkan aku menihilkan kehadiran dan keterhubungannya dengan diriku. Jika orang itu sungguh-sungguh meminta maaf atas segala kesalahannya dia bisa memulai kembali berhubungan denganku dari awal. Menorehkan kembali jejaknya dalam diriku, tapi jangan berharap dia akan menuliskannya di atas lembaran kertas putih bersih. Memang aku akan menyodorkan kembali kertas kosong padanya, tapi kertas itu meninggalkan jejak hapusan yang mungkin saja tidak sepenuhnya bersih. Bagaimanapun, jejak-jejak itu tersimpan dalam kekosongan yang baru. Seperti menulis diatas kertas dengan bolpen tanpa tinta. Tidak terlihat tulisannya, tapi tekanannya terekam di situ. Kamu hanya tinggal mengarsir tekanannya dengan pensil, maka muncullah kembali jejak-jejak itu. Atau, timpa saja dengan tulisan baru. Toh mungkin masih bisa di hapus juga. Meski jika sering di hapus, kertasnya bisa benar-benar sobek dan rusak.

    Sejauh ini, aku memilih cara itu dalam menjalani kata: maaf dan memaafkan. Hapus, di tip-ex juga boleh, tapi jangan harap mendapatkan kertas yang benar-benar baru di kesempatan berikutnya. Setiap orang, termasuk juga aku hanya bisa mendapatkan selembar kertas saja. Besar kecil ruangnya, tergantung kita yang mengelola isinya. Persis seperti logika menulis atau menggambari selembar kertas A4. Mau di tulis dengan pensil, bolpen, spidol, itu semua kita yang memutuskan. Tapi kertasnya hanya selembar saja, karena di dunia ini, tidak banyak orang-orang yang mendapatkan kesempatan hidup kedua setelah mengalami pengalaman ‘near death experience’.

    Sejauh ini, baru sampai situ perjalanan maaf dan memaafkan yang bisa kulakukan. Aku bukan orang yang senang membalas kesalahan orang lain. Daripada membalas, aku lebih memilih untuk mencoba untuk mengerti posisi diriku dalam tindakan yang orang lain lakukan kepadaku dan setelah itu aku akan berusaha untuk menghapusnya dan menjadikannya lembaran kosong kembali. Hal ini pun belum tentu merupakan perjalanan maaf yang tepat dengan tujuan kebaikan dari maaf itu sendiri.

    Jadi sampai dimana perjalanan maaf dan memafkanku ini akan menuju? entah lah.. jangan-jangan perjalanan maaf itu seperti menuju garis cakrawala. Tidak akan benar-benar sampai pada maaf itu sendiri, kecuali mendekatinya..

    menjadi pemaaf itu sulit. tapi apa daya kita harus seperti itu, bagaimana tidak Tuhan kita pun Maha Pemaaf….

    Maaf Lahir dan Batin…

    Comment by [u] [s] — October 17, 2009 @ 1:24 am

  18. Logika kita takkan cukup untuk bisa memahami kenapa kita harus memaafkan orang yang telah melukai kita. Hati yang telah tergores dalam..takkan cukup membendung perih akibat luka itu. Namun kita perlu memaafkan untuk satu alasan : SEMBUH. Ya, hanya dengan memaafkan luka itu bisa sembuh, dan kita tak perlu memaafkan untuk orang lain, karena ketika kita memaafkan orang lain, maka pada saat itu pulalah kita telah mengobati luka yang ada dalam diri kita, mengasihi diri kita, dan sekaligus memberi kesempatan diri kita untuk kembali percaya pada kehidupan dan cinta.

    For everyone who read it,
    It’s not too easy to forgive someone hurt us. But it’s too precious to do..
    So do it..for our mind health, heart, and soul..as long as u still do it.
    Iklan Baris Gratis

    Comment by Pasang Iklan Gratis — October 23, 2009 @ 4:19 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>