Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Daya kritis.
Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. "Mengapa harus memberikan sesaji"? "Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria"? Atau bahkan, "Mengapa harus tunduk kepada orang tua"?
Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.
Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. "Kenapa patung"? Dan pertanyaan itu mengantarnya pada pengelanaan menakjubkan dalam mencari Tuhan. Ia lihat bintang dan takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia lihat Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia lihat mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.
Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Dan Ibrahim telah membuktikan. (QS 6: 74-83)
Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, ""Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.
Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan "apakah Tuhan itu ada", kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kreatifitas.
Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Dan Ibrahim a.s. begitu kreatif dalam membuat parodi ketika ia a.s. menghancurkan patung-patung kaumnya dan membiarkan sebuah patung besar. Dan patung itu dibuat seakan-akan menjadi pelaku karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti, kapak, pada patung terbesar itu.
Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata2 yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (QS 21:65)
Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis "bakar hidup-hidup" dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Pengorbanan
Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.
Mungkin tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., tapi mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.
Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan anak. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kepatuhan
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."" (QS 2:131)
Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.
Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia "lucu-lucunya". Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. " Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS 14:37)
Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar - istri Ibrahim a.s. - dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh Ibrahim a.s. meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin Tuhannya tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.
Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kekhawatiran yang Menyelamatkan
Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.
Kekhawatiran itu adalah kekhawatiran seorang bapak pada anaknya. Ibrahim a.s. khawatir bila anaknya sepeninggalnya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-QUr’an, "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS 2:132)
Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapannya yang diabadikan dalam Al-Qur’an: "Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS 2:133)
Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?
Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."" (QS 60:4)
—–
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H
Ada dua kenikmatan yang bertolak belakang di waktu malam: Kenikmatan di dunia gemerlap (dugem), begitu orang-orang menyebutnya; dan kenikmatan di sepertiga akhir malam yang dirasakan oleh pelaku tahajud. Kenikmatan yang pertama mudah dirasakan, sedangkan kenikmatan kedua perlu waktu dan perjalanan yang panjang untuk merasakan nikmatnya.
Di siang hari yang terik, ada dua kenikmatan yang juga bertolak belakang. Satu kenikmatan di cafe-cafe dan tempat makan, satu kenikmatan orang yang tengah menahan lapar dan dahaga dalam shoumnya.
Kenikmatan yang kedua sering tidak dimengerti oleh orang lain.
Saya pernah mendengar kisah tentang dialog seorang penikmat dunia dengan seorang sahabat Al-Qur’an (shohibul Qur’an), yang kurang lebih dialognya seperti ini: "Kenapa kamu menghabiskan waktu dengan Al-Qur’an? Lebih baik kamu mendalami ilmu-ilmu dunia agar wawasan kamu bertambah." Ujar si penikmat dunia.
"Wah, saya kalau sehari saja tidak membaca Al-Qur’an, rasanya hidup ini tidak nikmat." Ujar shohibul Qur’an
"Bagaimana mungkin?" Penikmat dunia tidak mengerti dan tidak percaya.
"Akan susah saya menerangkan kenikmatan itu kepada anda, seperti ibaratnya menerangkan kenikmatan pernikahan pada anak yang belum baligh." Pungkas shohibul Qur’an.
Maka tidak mengherankan apabila di suatu tempat masyarakatnya begitu antusias menyambut perda syari’at, sedangkan di tempat lain orang-orang terperangah dan tidak habis pikir bagaimana mungkin di zaman modern ini masih ada yang ingin hidup di bawah naungan syari’at. "Kembali ke zaman batu" pikirnya. Begitulah, ada kenikmatan yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang.
Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125 sudah menerangkan hal ini, "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."
Kelapangan dada dalam Islam lah yang dimiliki oleh pelaku tahajud, pecinta shoum sunnah, shohibul Qur’an, dan masyarakat yang menerima syariat. Kelapangan dada itu tidak dimiliki oleh pecinta dunia. Melihat kenikmatan-kenikmatan itu saja mereka sudah terasa sesak dadanya dan sulit untuk mereka mengerti bahwa ada kenikmatan di balik itu.
Ulama salaf pun berkata mengenai kenikmatan hidup di bawah naungan Islam: "Seandainya para raja itu tahu kenikmatan yang kami rasakan, tentu mereka akan merebutnya dengan pedang mereka."
Memang ada gap yang besar antara penikmat dunia dan pecinta akhirat. Yang pertama berada di wilayah lembah, sedangkan yang kedua ada di wilayah pegunungan. Untuk ke lembah, tak terlalu besar energi terkuras. Tapi untuk beralih ke wilayah pecinta akhirat, ada tebing tinggi yang perlu ditaklukan. Ada jalan yang mendaki dan sukar. Al-Aqobah. Allah menyebutnya dalam surat Al-balad: "Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar." (QS Al-Balad (90) : 11)
Tetapi setelah berada di pegunungan tinggi itu, maka ungkapan seperti ini terasa masuk di akal:
“Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat “ (H.R. Abu Dawud)
Tak perlu bersusah payah untuk menguraikan berbagai kebaikan yang didapat dari sebuah nikmat. Tetapi bila datang sebuah musibah, hanya sedikit orang yang bisa mengambil hikmah di baliknya.
"Kenapa ya Allah?" Sebenarnya untuk apa pertanyaan seperti itu? Bukan Ia yang akan ditanyai, tapi manusia. "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai" (QS 21:23). Kalau tidak mampu menjabarkan hikmah yang didapat dari musibah, tak cukupkah berbaik sangka kepada Allah? ("Aku tergantung dengan prasangka hamba-Ku," Hadits Qudsi). Sehingga bila kita yakini Allah memberikan kebaikan di balik musibah, maka Allah akan menuruti prasangka kita - insya Allah.
Wajar bila manusia tidak mengerti kebijaksanaan Allah dibalik musibah. Karena manusia hanya diberi sedikit pengetahuan (QS Al-Isra’:85). Tapi yang keterlaluan adalah bila manusia mencoba menggurui Allah SWT. "Kok rusak sih, ya Allah? HP ini kan untuk keperluan dakwah juga!" "Ya Allah, terlalu cepat Engkau memanggil dia." Atau bahkan memvonis Allah ta’ala. "Engkau sudah tak sayang aku lagi, ya Allah…" Ah… manusia memang sering keterlaluan.
Subhanallah, Maha Suci Allah. Allah Maha Suci dari berbagai keburukan. Tak pantas ia dituduh begini begitu hanya karena kebodohan kita tak mampu memaknai musibah.
Dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin menjelaskan tentang iman kepada qadar yang baik dan buruk: "Tiada keburukan dalam perbuatan Allah. Semua amal perbuatan Allah adalah baik dan bijaksana. Akan tetapi, keburukan itu pada apa-apa (objek) yang dilakukan dan apa-apa yang diberi ketentuan. Oleh sebab itu, Nabi Shalallahu Alaihi wa salam bersabda, "Sesuatu yang buruk tidak ditujukan kepada-Mu." (HR Muslim)"
*****
Manusia cuma bisa mencoba menyelidiki latar belakang kebijaksanaan atas suatu keputusan Allah swt, dengan segala keterbatasan ilmunya. Tapi manusia tidak akan bisa memastikan hasil penyelidikan itu.
Perintah sholat 5 waktu sedikit banyak akan membebani seorang muslim. Begitu juga perintah zakat, puasa, haji, jihad, silaturahim, dsb. Tetapi orang yang beriman tak pernah berhenti menarik hikmah di balik semua perintah itu. Contohnya pada sholat subuh, orang-orang akan menguraikan betapa sholat subuh itu baik untuk kesehatan, bisa berfungsi sebagai kontemplasi, dsb. Sungguh pun begitu, tetap tidak akan bisa menjawab secara pasti mengapa Allah memerintahkan sholat subuh.
Pada akhirnya, husnuzhon billah (berbaik sangka pada Allah) adalah muara penghambaan yang hakiki. Baik hukum syar’i (sholat, puasa, zakat, dsb) maupun hukum kauni (setiap peristiwa yang Allah kehendak pada manusia) pasti ada kebijaksanaan Allah swt di balik itu semua.
Masih dalam syarah Aqidah Al-Wasithiyah, "Perhatikan kebijaksanaan Allah dalam hukum kauni-Nya, dimana Dia ta’ala menimpakan berbagai musibah besar kepada manusia untuk berbagai tujuan yang mulia. Seperti firman Allah ta’ala,
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada jalan yang benar)" (QS Ar-Ruum: 41)."
Dalam ayat ini ada sanggahan atas ucapan orang yang mengatakan "Sesungguhnya hukum-hukum Allah itu bukan atas dasar kebijaksanaan, tetapi sekedar karena kehendak-Nya."
*****
Keimanan menghasilkan ketenangan. Dalam menjalakan hukum syar’i, iman yang kuat menjalaninya dengan mantap karena keyakinan bahwa itu semua telah Allah gariskan dengan kebijaksanaan-Nya. Dalam menerima setiap peristiwa (hukum kauni), segalanya baik karena ada keyakinan bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap perbuatan-Nya. "Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya. Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Dan masih dalam Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Sholih Utsaimin menjelaskan: "Firman Allah ta’ala "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (At-Tiin:8); mencakup hukum kauni dan syar’i. Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana dengan hukum kauni dan hukum syar’i. Dia Ta’ala juga teliti terhadapnya. Maka masing-masing dari dua hukum itu sejalan dengan hikmah ‘kebijaksanaan’.
Akan tetapi sebagian hikmah itu kita mengetahuinya dan sebagian lagi kita tidak mengetahuinya, karena Allah ta’ala berfirman:
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit." (QS Al-Isra’: 85)
Kemudian hikmah ‘kebijaksanaan’ itu ada dua macam:
1. Kebijaksanaan dalam kondisi sesuatu sesuai dengan kenyataan dan keadaannya. Seperti keadaan sholat. Seperti keadaan sholat. Dia adalah ibadah besar yang didahului dengan bersuci dari hadats dan najis dan dialaksanakan dengan gerakan tertentu berupa berdiri, duduk, ruku’, dan sujud. Juga seperti zakat. Dia adalah ibadah demi Allah dengan menunaikan sebagian harta yang berkembang pada umumnya kepada orang yagn sangat membutuhkan ekpadanya. Atau pda kaum muslimin ada hajat kepada mereka serti sebagian orang-orang mu’allaf.
2. Kebijaksanaan dalam suatu tujuan hukum. Di mana semua hukum Allah ta’ala memiliki tujuan-tujuan mulia dan buah-buah yang terpuji."
Begitulah. Di dalam perintah sholat, semua syarat dan rukunnya adalah bentuk kebijaksanaan Allah swt. Dan kebijaksanaan Allah juga terdapat dalam tujuan Allah memerintahkan sholat kepada manusia.
Hikmah kebijaksanaan itu ada yang dikabari-Nya, seperti dalam firman-Nya: "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179) Dan juga ada yang tidak dikabari, namun orang yang berakal mampu menjabarkannya dengan baik.
Husnuzhon-lah kepada Allah swt. Tak perlu nada protes menjerit, "Kenapa ya Allah?"
Sebelumnya mohon maaf bila tulisan ini tidak berkenan. Niat saya untuk kebaikan
—- *** —-
Nafas Luki terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Dan seseorang tengah mendekatinya. Saat melihat orang tersebut, Luki berteriak, "Aduh… Siapa lagi kamu?"
"Aku Rika. Ingin menuntut atas kezholiman yang kau lakukan semasa kau hidup." Jawab orang itu.
"Ah… Tidak… Celaka aku." Luki kembali berteriak.
Orang yang datang pada Luki itu adalah orang yang ke-2130 yang menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki semasa hidup. Saat ini yaumil hisab, hari pembalasan. Semua kasus dan masalah dipersidangkan secara adil. Termasuk siapa yang pernah dizholimi, berhak menuntut keadilan atas pelaku kezholiman.
Luki sebenarnya jarang menghina orang. Hanya 3% orang yang telah menuntutnya karena penghinaan. Untuk menggunjing orang, agak banyak. Ada 10%. Tapi yang dominan adalah kezholiman atas aktifitas merokok, sebesar 80%. Ya. Kebanyakan orang yang telah datang pada Luki adalah orang yang dirugikan karena asap rokok Luki.
Luki memang suka merokok sembarangan semasa hidupnya. Dia tidak merasa canggung untuk menghembuskan asap rokok memenuhi ruangan angkutan umum sekalipun di angkot itu ada orang lain selain dirinya. Di tempat terbuka seperti pasar, taman, dan lainnya, ia juga sering membuat orang mengipas-ngipas mukanya untuk menghalau asap rokok yang dikeluarkan Luki. Orang-orang itu merasa terzholimi.
Kalau ada yang menegur, kadang memang Luki bersikap sopan dengan langsung mematikan rokoknya. Tapi kadang ia juga cuek, sehingga membuat orang yang tidak diindahkan oleh Luki itu merasa makin terzholimi.
Luki sempat berdalih, bahwa kezholimannya tidak begitu parah karena cuma menghadirkan gangguan bagi yang terkena asap rokok. Tapi dalihnya tertolak, karena bukan cuma asap, tapi juga racun yang dikandung oleh asap rokoknya yang membuat orang terzholimi. Sedikit atau banyak, ia tetap menebar racun pada orang-orang. Dan itu kezholiman.
Maka akhirnya orang-orang itu pada hari pembalasan ini menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki. Dan kini di hadapan Luki, berdiri seorang wanita sedang menuntutnya.
"Atas masalah apa kamu menuntutku?" Tanya Luki.
"Karena rokok!" Jawab wanita itu.
"Hei… Aku tak pernah merokok di dekatmu!"
"Memang tidak pernah. Tapi suatu hari kamu pernah naik metro mini dan kemudian duduk di sebelahku. Saat itu kamu membawa bau rokok yang sangat menyengat sehingga membuatku mual. Itu karena kamu sebelumnya merokok. Andai kata bau yang menempel di badan dan pakaianmu itu disebabkan rokok orang lain, tidak akan menjadi masalah."
Dan orang yang terzholimi itu akhirnya mendapatkan keadilan. Sebagian pahala Luki dipindahkan untuknya untuk menebus kezholiman.
Kezholiman itu terjadi saat Luki berumur 30 tahun. Dan Luki wafat di usia 62 tahun. Ia berhenti merokok di usia 60 tahun. Berarti ada rentang 30 tahun lagi yang di rentang itu akan ada orang-orang yang menuntut Luki atas kezholimannya merokok.
Sedangkan pahala terakhir yang dipindahkan ke orang yang terzholimi adalah pahala yang dilakukan Luki saat ia berusia 58 tahun. Ada kemungkinan Luki termasuk orang yang bangkrut.
***
Lagi, seseorang menghampiri Luki.
"Kezholiman apa yang aku lakukan padamu?" Tanya Luki.
"Rokok." Jawab orang itu.
"Aku tak pernah merokok di dekatmu."
"Memang tidak pernah. Semasa hidup aku ditakdirkan suka mual dengan bau rokok. Suatu ketika di dalam perjalanan, aku singgah di sebuah rumah makan untuk makan dan buang air. Ketika masuk ke dalam wc yang disediakan rumah makan itu, aku dibekap oleh bau rokok yang pekat. Dan kamu adalah orang yang berada di wc itu sebelumnya. Kamu buang air besar sambil merokok. Dan baunya tinggal di wc itu ketika aku menggunakannya. Racunnya pun masih berkeliaran bercampur udara di dalam wc itu."
Luki terhenyak. Saldo amalnya dalam posisi kritis. Ia diambang kebangkrutan.
"Celaka aku… celaka aku…." Nafasnya terengah-engah ketakutan. Dan tak berapa lama kemudian… ia terjaga dari tidurnya.
Masih dalam keadaan terengah-engah, tatapannya beradu pada jam dinding di kamarnya. Pukul 1.30 malam. Jam dinding itu berhias kotak rokok bekas yang ia koleksi setelah isinya ia konsumsi. Melihat hiasan kotak rokok itu, Luki merinding.
— ** —-
Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan di dunia ini, adalah sangat berharga. Karena itu semua akan mendapatkan balasan dari Allah swt. Allah telah mengabarkannya dalam QS Al Zalzalah ayat 7: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". Allah mengabarkan hal itu agar kita termotivasi untuk beramal dan tidak meremehkan setiap bentuk perbuatan baik.
Begitu juga dengan keburukan, sekecil apa pun bentuknya akan ada balasannya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS 99:8)
Termasuk kezholiman yang kita lakukan pada orang lain, apa pun bentuknya, seremeh apa pun kadarnya, akan diadili oleh Allah swt di hari pengadilan. Bahkan ada kemungkinan di mana kezholiman kita itu menghabiskan seluruh amal baik kita dan membuat kita menjadi orang yang bangkrut.
Dalam suatu hadits, dikabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka, para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)
Khusus untuk perokok, perlu kiranya anda introspeksi. Apakah aktifitas merokok anda sudah menzholimi sekian banyak orang? Jangan sampai hal yang kita anggap remeh itu malah menjadi penyesalan di akhirat kelak.