Daya kritis.
Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. "Mengapa harus memberikan sesaji"? "Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria"? Atau bahkan, "Mengapa harus tunduk kepada orang tua"?
Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.
Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. "Kenapa patung"? Dan pertanyaan itu mengantarnya pada pengelanaan menakjubkan dalam mencari Tuhan. Ia lihat bintang dan takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia lihat Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia lihat mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.
Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Dan Ibrahim telah membuktikan. (QS 6: 74-83)
Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, ""Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.
Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan "apakah Tuhan itu ada", kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kreatifitas.
Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Dan Ibrahim a.s. begitu kreatif dalam membuat parodi ketika ia a.s. menghancurkan patung-patung kaumnya dan membiarkan sebuah patung besar. Dan patung itu dibuat seakan-akan menjadi pelaku karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti, kapak, pada patung terbesar itu.
Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata2 yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (QS 21:65)
Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis "bakar hidup-hidup" dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Pengorbanan
Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.
Mungkin tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., tapi mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.
Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan anak. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kepatuhan
"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."" (QS 2:131)
Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.
Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia "lucu-lucunya". Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. " Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS 14:37)
Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar - istri Ibrahim a.s. - dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh Ibrahim a.s. meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin Tuhannya tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.
Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?
Kekhawatiran yang Menyelamatkan
Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.
Kekhawatiran itu adalah kekhawatiran seorang bapak pada anaknya. Ibrahim a.s. khawatir bila anaknya sepeninggalnya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-QUr’an, "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS 2:132)
Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapannya yang diabadikan dalam Al-Qur’an: "Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS 2:133)
Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?
Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."" (QS 60:4)

tidak ada yang kurang, Beliau penegak tauhid yang kaffah.
menarik
nambah lagi dah pengetahuanya
:-)
Comment by Usup Supriyadi — November 25, 2009 @ 4:04 am
salam sobat
pengorbanan nabi Ibrahim AS,,
perlu diteladani kita semua,,
makna dari pengorbanan tersebut.
Comment by NURA — November 25, 2009 @ 8:33 am
Kita cuma bisa mengikutinya dengan berkorban kambing, mudah-mudahan itu bisa mendorong kita kepada pengorbanan yang lebih besar.
Comment by bukan facebook — November 25, 2009 @ 8:49 am
Terus terang saja, saya sudah tahu sebelumnya kelima point keteladanan Ibrahim a.s. ini. Tapi, anda membahasnya dalam landasan naqli dan aqli yang begitu dalam, sarat hikmah, dan begitu mempesona. Saya merasa mendapat sebuah suguhan tausiyah yang sangat menggugah, Sobat. Trims
Comment by Khery Sudeska — November 25, 2009 @ 10:06 am
Salam kenal
Nice blog.. keep istiqomah
Comment by Brothers5 — November 25, 2009 @ 11:53 am
wah menarik sekali. terima Kasih atas penjelasannya.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H
Comment by Deka — November 25, 2009 @ 1:05 pm
itulah beliau…dan mengajarkan kita arti dari sebuah pengorbanan yang tulus Insya Allah
met istirahat sob..
Comment by Hariez — November 25, 2009 @ 5:13 pm
sungguh tauladan yang baik dan patut dicontoh.
Comment by agung chandra prasetya — November 25, 2009 @ 7:31 pm
kisah yang mencerahkan…nice posting..
Comment by BaNi MusTajaB — November 25, 2009 @ 9:27 pm
postingan yang mencerahkan
terima kasih… jadi nambah pengetahuan ne
Comment by yangputri — November 26, 2009 @ 4:28 am
Makasih pencerahannya bro…
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H
Comment by HumorBendol — November 26, 2009 @ 5:43 am
wow…
benar-benar inspiratif mas
Comment by Financial Adviser — November 26, 2009 @ 5:52 am
namanya juga nabi, tidak ada yang kurang
Comment by Mr. Handsome — November 26, 2009 @ 4:47 pm
Nabi ibrahim memang pantas untuk dijadikan panutan.
Comment by Edi Psw — November 27, 2009 @ 12:47 am
tadi pagi denger ceramah ini
Comment by kyra.curapix — November 27, 2009 @ 10:35 am
selamat malam….wakh panjang yang……hmmmm selamat idul adha ya teman
Comment by JR — November 27, 2009 @ 1:08 pm
Assalaamu’alaikum
Mudahan kita dapat meneladani ketaatan dan kepatuhan kedua insan mulia ini dalam menuruti perintah Allah tanpa sangsi. SELAMAT HARI RAYA AIDIL ADHA BUAT Zico, isteri dan si comel yang menyejukkan hati itu. Salam mesra dari Malaysia.
Comment by Siti Fatimah Ahmad — November 27, 2009 @ 2:38 pm
O, ya… Mumpung masih hangat. Selamat Idul Adha, Sobat. Semoga keteladanan Ibrahim as. (dalam hal ini pengorbanan) benar2 dapat kita tiru sebaik2nya, karena Allah. Dan, semoga pengorbanan yang pernah kita lakukan diterima disisi Allah Swt. Amin…
Comment by Khery Sudeska — November 28, 2009 @ 4:48 pm
mantap artikelnya mas..
like this
Comment by FaLLa — November 30, 2009 @ 4:59 am
met idul adha 1430 H
semo9a pen9orbanan nabi ibrahim n=menjadisuri tauladan ba9i kita umtuk ikhlas berkorban
Comment by wi3nd — November 30, 2009 @ 6:52 am
saya setuju,
banyak hal yang bisa diteladani dari bapaknya Para nabi a.s.
di Al Quran keteladanan dari nabi ibrahim disebutkan dalam
dua ayat di satu surat..
jadi inget nasyidnya raihan…
belajar dari Ibrahim…
Comment by rama — November 30, 2009 @ 9:19 am
Ulasan yang menarik & mencerahkan.
Selamat Idul Adha, semoga kita senantiasa bergerak dalam koridor-Nya.
Comment by alisyah — November 30, 2009 @ 12:22 pm
wah blon update nih mas zico..?
met idul adha yah
Comment by Financial Adviser — November 30, 2009 @ 8:24 pm
mas…met idul adha yah
oia…segera update, ditunggu tulisan inspiratifnya
Comment by berita unik — November 30, 2009 @ 8:25 pm
nunut ngebaca, mas..
kok kayanya mas zico cocok jadi khatib salat ied adha ya
Comment by hafid algristian — December 11, 2009 @ 6:33 pm
Salam hangat untuk para sahabat
Semoga kita selalu bersemangat
Merangkai kata menyusun kalimat
Persaudaraan bloger indonesia semakin kuat
sedj
Comment by sedjatee — January 13, 2010 @ 12:50 am
paragraph awal menarik. mengajak untuk berpikir kritis. mengkritisi apa yang ada di luar keyakinan kita memang lebih mudah. sedang sebaliknya sulit. memang sulit. termasuk mengkritisi kisah nabi ibrahim yang masuk ke dalam wacana kita.
Ibrahim berani menghancurkan patung-patung. beranikah kita mengkritisi pemberhalaan atas konsep ketuhanan kita saat ini? beranikah kita melihat dari sisi luar yang sama sekali berbeda tentang kisah ibrahim yang punya anak dari budaknya sendiri, kemudian berencana untuk mengorbankan anak tersebut?
Comment by bud — May 14, 2010 @ 1:12 pm
KETKA KITA BLM DIHDPKAN DLM SUATU UJIAN MUNGKIN KITA BS BERBICARA TP KETIKA UJIAN ITU MENGHAMPIRI KITA BIASANYAAAAAA……..SUBANA ALAH HNY ORANG YG BERIMAN YG MAMPU MENGHDPNYA MAKA MEMOHONLAH AGAR ALLAH SENANGTIASA MEMBUKA HATI&PIKIRAN KITA AGAR MNJD HAMBA PILIHAN ALLAH,AMIEN.
Comment by ARIE YUNI — August 19, 2010 @ 7:15 am