November 25, 2009

Ketauladanan Ibrahim a.s.

 
Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Daya kritis.

Dengan potensi ini, manusia menguji validitas suatu kebiasaan di masyarakat. "Mengapa harus memberikan sesaji"? "Mengapa harus berpantun-pantun menyambut mempelai pria"? Atau bahkan, "Mengapa harus tunduk kepada orang tua"?

Manusia pada fitrahnya memiliki daya kritis. Tapi sedikit yang memanfaatkannya. Dan lebih sedikit lagi yang memanfaatkan potensi itu menuju keselamatan.

Ibrahim memiliki keteladanan dalam memanfaatkan daya kritis dengan selamat. "Kenapa patung"? Dan pertanyaan itu mengantarnya pada pengelanaan menakjubkan dalam mencari Tuhan. Ia lihat bintang dan takjub pada kerlapnya. Cuma, Tuhan tidak pantas tenggelam. Dan bintang tidak memenuhi kriteria. Kemudian ia lihat Bulan. Indah. Namun sama saja, tenggelam. Kemudian ia lihat mentari, lebih besar. Tapi ia pun terbenam.

Pencarian yang jujur akan mendapatkan bimbingan Tuhan. Dan Ibrahim telah membuktikan. (QS 6: 74-83)

Banyak yang menyia-nyiakan daya kritis. Adzar, bapak Ibrahim, menjadi model orang seperti itu. Ringan jawabannya, ""Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (QS 21:53). Tapi jawaban ringan dan tak mau repot itu tak kan pernah mengantarnya pada kebenaran.

Yang lainnya, daya kritis malah membuatnya jauh dari kebenaran. Pertanyaan "apakah Tuhan itu ada", kalau disertai dengan kejujuran dan kemauan menerima kebenaran, hasilnya akan seperti Ibrahim a.s. Tapi kalau diiringi dengan kesombongan, maka kebodohan lah hasilnya. Bagaimana tidak bodoh bila kagum terhadap lebah yang mengkreasikan sarangnya dengan konsep yang elegan, namun terhadap alam semesta yang jauh lebih luar biasa kompleks malah berpendapat itu terjadi dengan sendirinya. Innalillahi…

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kreatifitas.

Kalau seniman disebut kreatif karena membuat patung, tapi Ibrahim a.s. kreatif karena menghancurkan patung. Dan Ibrahim a.s. begitu kreatif dalam membuat parodi ketika ia a.s. menghancurkan patung-patung kaumnya dan membiarkan sebuah patung besar. Dan patung itu dibuat seakan-akan menjadi pelaku karena Ibrahim a.s. mengalungkan barang bukti, kapak, pada patung terbesar itu.

Seorang pendebat yang kreatif akan membuat lawannya mengeluarkan kata2 yang membuat dirinya mati kutu sendiri. Dan kreatifitas itu dimiliki Ibrahim a.s. Lawan debatnya terpaksa mempermalukan tuhannya (berhala) sendiri. "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (QS 21:65)

Kalau mereka menghendaki kebenaran, Ibrahim a.s. sudah membuka peluang yang besar untuk mengarahkan mereka pada Islam. Tapi mereka malah bersikap emosional. Vonis "bakar hidup-hidup" dihadapi Ibrahim a.s. Dan Allah swt memberikan pertolongan-Nya.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Pengorbanan

Inilah puncak bukti cinta sepanjang hidup beliau a.s. Diabadikan dalam kitab-kitab para Rasul. Secara ritual, Allah swt membakukannya dalam ibadah qurban setiap tahun. "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." Begitu firman Allah dalam QS 22:37. Meneladani bukti cinta terbesar ini adalah jalan ketaqwaan dan sarana mendapatkan cinta Allah swt.

Mungkin tak sampai menjadi ‘khalilullah’ (kekasih Allah) seperti Ibrahim a.s., tapi mendapat kecintaan-Nya adalah prestasi yang sangat membahagiakan.

Anak lebih dicintai dari harta. Bahkan kita rela mengeluarkan begitu banyak harta demi kebahagiaan anak. Tapi Allah tidak meminta kita mengorbankan anak. Sangat jauh level kita untuk sampai pada ujian seperti itu. Allah meminta kita mengorbankan harta kita. Maka bayang-bayang perilaku Ibrahim a.s. sudah kita potret. Dan kecintaan-Nya layak kita harapkan.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kepatuhan

"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."" (QS 2:131)

Selain peristiwa pengorbanan Ismail a.s., Nabi Ibrahim a.s. punya banyak kepatuhan lain yang luar biasa yang bila dinilai secara objektif ia sangat layak mendapat predikat khalilullah.

Tanyakan pada perantau yang meninggalkan anak dan istrinya. Betapa pedih ketika kerinduan itu datang. Apalagi bila anak yang ditinggalkan sedang memasuki usia "lucu-lucunya". Maka para perantau itu harus meneladani ketawakalan Ibrahim a.s. saat ia meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan yang tidak memiliki tanam-tanaman. " Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS 14:37)

Keluarga Ibrahim a.s. adalah keluarga yang penuh ketauladanan. Siti Hajar - istri Ibrahim a.s. - dalam paniknya bertanya pada Ibrahim a.s. apakah perintah Allah-lah yang menyuruh Ibrahim a.s. meninggalkan ia dan anaknya di lembah tandus. Puas dengan jawaban Ibrahim a.s. bahwa itu adalah perintah Allah swt, Hajar berpasrah diri. Yakin Tuhannya tidak akan menyia-nyiakannya. Meski di lembah tandus yang tak bertanaman dan hanya tinggal ia dan anaknya.

Benar-benar kepatuhan yang luar biasa.

Apa yang kurang dari keteladanan Ibrahim a.s.?

Kekhawatiran yang Menyelamatkan

Bahkan pada ujung usianya, Ibrahim a.s. tidak henti memancarkan mata air ketauladanan. Pada kekhawatiran yang alami dan manusiawi, ia bungkus semua itu dengan ketauhidan.

Kekhawatiran itu adalah kekhawatiran seorang bapak pada anaknya. Ibrahim a.s. khawatir bila anaknya sepeninggalnya menyimpang dari Islam. Karena itu ia berpesan seperti yang ada dalam Al-QUr’an, "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS  2:132)

Bukan kekurangan materi yang dikhawatirkan Ibrahim a.s. atas anaknya, tapi hilangnya ketauhidan. Ia ingin anaknya selamat dalam tauhid kepada Allah swt. Dan kelak kekhawatiran itu diadopsi pula oleh Ya’qub a.s. dengan ucapannya yang diabadikan dalam Al-Qur’an: "Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS 2:133)

Apa yang kurang dari ketauladanan Ibrahim a.s.?

Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. sarat dengan ketauladanan. Karena itulah Allah swt berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."" (QS 60:4)

 
—–
 
Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H :)

28 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://andaleh.blogsome.com/2009/11/25/ketauladanan-ibrahim-as/trackback/

  1. Gravatar Image

    tidak ada yang kurang, Beliau penegak tauhid yang kaffah.

    menarik
    nambah lagi dah pengetahuanya
    :-)

    Comment by Usup Supriyadi — November 25, 2009 @ 4:04 am

  2. Gravatar Image

    salam sobat
    pengorbanan nabi Ibrahim AS,,
    perlu diteladani kita semua,,
    makna dari pengorbanan tersebut.

    Comment by NURA — November 25, 2009 @ 8:33 am

  3. Gravatar Image

    Kita cuma bisa mengikutinya dengan berkorban kambing, mudah-mudahan itu bisa mendorong kita kepada pengorbanan yang lebih besar.

    Comment by bukan facebook — November 25, 2009 @ 8:49 am

  4. Gravatar Image

    Terus terang saja, saya sudah tahu sebelumnya kelima point keteladanan Ibrahim a.s. ini. Tapi, anda membahasnya dalam landasan naqli dan aqli yang begitu dalam, sarat hikmah, dan begitu mempesona. Saya merasa mendapat sebuah suguhan tausiyah yang sangat menggugah, Sobat. Trims :)

    Segala kebaikan berasal dari Allah swt :)

    Comment by Khery Sudeska — November 25, 2009 @ 10:06 am

  5. Gravatar Image

    Salam kenal
    Nice blog.. keep istiqomah

    Comment by Brothers5 — November 25, 2009 @ 11:53 am

  6. Gravatar Image

    wah menarik sekali. terima Kasih atas penjelasannya.
    Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H

    Comment by Deka — November 25, 2009 @ 1:05 pm

  7. Gravatar Image

    itulah beliau…dan mengajarkan kita arti dari sebuah pengorbanan yang tulus Insya Allah

    met istirahat sob.. :D

    Comment by Hariez — November 25, 2009 @ 5:13 pm

  8. Gravatar Image

    sungguh tauladan yang baik dan patut dicontoh.

    Comment by agung chandra prasetya — November 25, 2009 @ 7:31 pm

  9. Gravatar Image

    kisah yang mencerahkan…nice posting..

    Comment by BaNi MusTajaB — November 25, 2009 @ 9:27 pm

  10. Gravatar Image

    postingan yang mencerahkan
    terima kasih… jadi nambah pengetahuan ne

    Comment by yangputri — November 26, 2009 @ 4:28 am

  11. Gravatar Image

    Makasih pencerahannya bro…
    Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H

    Comment by HumorBendol — November 26, 2009 @ 5:43 am

  12. Gravatar Image

    wow…
    benar-benar inspiratif mas

    Comment by Financial Adviser — November 26, 2009 @ 5:52 am

  13. Gravatar Image

    namanya juga nabi, tidak ada yang kurang

    Comment by Mr. Handsome — November 26, 2009 @ 4:47 pm

  14. Gravatar Image

    Nabi ibrahim memang pantas untuk dijadikan panutan.

    Comment by Edi Psw — November 27, 2009 @ 12:47 am

  15. Gravatar Image

    tadi pagi denger ceramah ini

    Comment by kyra.curapix — November 27, 2009 @ 10:35 am

  16. Gravatar Image

    selamat malam….wakh panjang yang……hmmmm selamat idul adha ya teman

    Comment by JR — November 27, 2009 @ 1:08 pm

  17. Gravatar Image

    Assalaamu’alaikum

    Mudahan kita dapat meneladani ketaatan dan kepatuhan kedua insan mulia ini dalam menuruti perintah Allah tanpa sangsi. SELAMAT HARI RAYA AIDIL ADHA BUAT Zico, isteri dan si comel yang menyejukkan hati itu. Salam mesra dari Malaysia.

    Comment by Siti Fatimah Ahmad — November 27, 2009 @ 2:38 pm

  18. Gravatar Image

    O, ya… Mumpung masih hangat. Selamat Idul Adha, Sobat. Semoga keteladanan Ibrahim as. (dalam hal ini pengorbanan) benar2 dapat kita tiru sebaik2nya, karena Allah. Dan, semoga pengorbanan yang pernah kita lakukan diterima disisi Allah Swt. Amin…

    Selamat Hari Raya Idul Adha :)

    Comment by Khery Sudeska — November 28, 2009 @ 4:48 pm

  19. Gravatar Image

    mantap artikelnya mas..

    like this

    Comment by FaLLa — November 30, 2009 @ 4:59 am

  20. Gravatar Image

    met idul adha 1430 H
    semo9a pen9orbanan nabi ibrahim n=menjadisuri tauladan ba9i kita umtuk ikhlas berkorban

    Comment by wi3nd — November 30, 2009 @ 6:52 am

  21. Gravatar Image

    saya setuju,
    banyak hal yang bisa diteladani dari bapaknya Para nabi a.s.

    di Al Quran keteladanan dari nabi ibrahim disebutkan dalam
    dua ayat di satu surat..

    jadi inget nasyidnya raihan…
    belajar dari Ibrahim…

    Comment by rama — November 30, 2009 @ 9:19 am

  22. Gravatar Image

    Ulasan yang menarik & mencerahkan.
    Selamat Idul Adha, semoga kita senantiasa bergerak dalam koridor-Nya.

    Comment by alisyah — November 30, 2009 @ 12:22 pm

  23. Gravatar Image

    wah blon update nih mas zico..?
    met idul adha yah

    Comment by Financial Adviser — November 30, 2009 @ 8:24 pm

  24. Gravatar Image

    mas…met idul adha yah
    oia…segera update, ditunggu tulisan inspiratifnya

    Iyah belum diupdate. Kekurangan inspirasi :( (

    Comment by berita unik — November 30, 2009 @ 8:25 pm

  25. Gravatar Image

    nunut ngebaca, mas..
    kok kayanya mas zico cocok jadi khatib salat ied adha ya ;)

    Walah… saya bisa gemeteran, sampe2 suara gemeternya terdengar microphone :D

    Comment by hafid algristian — December 11, 2009 @ 6:33 pm

  26. Gravatar Image

    Salam hangat untuk para sahabat
    Semoga kita selalu bersemangat
    Merangkai kata menyusun kalimat
    Persaudaraan bloger indonesia semakin kuat

    sedj

    Comment by sedjatee — January 13, 2010 @ 12:50 am

  27. Gravatar Image

    paragraph awal menarik. mengajak untuk berpikir kritis. mengkritisi apa yang ada di luar keyakinan kita memang lebih mudah. sedang sebaliknya sulit. memang sulit. termasuk mengkritisi kisah nabi ibrahim yang masuk ke dalam wacana kita.
    Ibrahim berani menghancurkan patung-patung. beranikah kita mengkritisi pemberhalaan atas konsep ketuhanan kita saat ini? beranikah kita melihat dari sisi luar yang sama sekali berbeda tentang kisah ibrahim yang punya anak dari budaknya sendiri, kemudian berencana untuk mengorbankan anak tersebut?

    Comment by bud — May 14, 2010 @ 1:12 pm

  28. Gravatar Image

    KETKA KITA BLM DIHDPKAN DLM SUATU UJIAN MUNGKIN KITA BS BERBICARA TP KETIKA UJIAN ITU MENGHAMPIRI KITA BIASANYAAAAAA……..SUBANA ALAH HNY ORANG YG BERIMAN YG MAMPU MENGHDPNYA MAKA MEMOHONLAH AGAR ALLAH SENANGTIASA MEMBUKA HATI&PIKIRAN KITA AGAR MNJD HAMBA PILIHAN ALLAH,AMIEN.

    Comment by ARIE YUNI — August 19, 2010 @ 7:15 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>