October 20, 2009
Puisi ini aku buat untuk anakku, Raudhatur Rahmah, yang berulang tahun ke-1 tanggal 21 Oktober 2009. Selamat ulang tahun, sayang

I
Itu dunia anakku, gengamlah!
Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!
Buaian hanya sementara
Selanjutnya kertas dan pena
Kau hadirkan pada mereka
Keilmuan seluas samudra
Hadirkan cahaya sibak gulita
Kau tembus bumi, merobek angkasa
Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.
Itu cakrawala anakku, rengkuhlah
Kau milik zamanmu, bersiagalah
Pelukan bunda hanya sementara
Selanjutnya keringat dan air mata
Kau suguhkan pada mereka
Hujjah dan qoulan syadida
Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa
Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka
Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga
Hingga kau diterima dalam ridho-Nya
II
Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik
Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik
Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik
Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik
Aku bukan pemikul beban yang terpaksa
Tapi aku penggembala penuh cinta
Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa
menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia
III
Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban
Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban
Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban
Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban
Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.
Selamat ulang tahun yang kesatu, Raudhah anakku sayang….
Klik untuk melihat foto-foto Raudhah
August 19, 2009
Kau menagih cintaku pada jalan memutar
jalan di mana banyak rambu kulanggar.
Memegang peta berdebu,
aku merangkak penuh ragu.
Aku memindai tumpukkan derita,
mengejanya persatu.
Pada setiap permukaannya,
aku mengharapkan salju.
Kau membelaiku dengan pucuk pecut Zabaniah yang disegerakan.
Aku mengerang keras, dan terbisikkan (70:19-21).
Di setiap bulir hujan yang turun,
aku menghitung tasbih.
Sendawaku berdarah,
tapi ‘alaa kulli hal alhamdulillah.
Masih, aku menapaki gulungan mendung membumbung ke angkasa.
Hingga ruh ku di puncak sana sempurna…..
May 15, 2008
untuk istriku
Kalau kau tulang rusukku,
pastikan saja dirimu tak kan jauh dari ku
Sekalipun setetes hujan pecah di tengah kita,
dan angin menyekat dengan dingin,
tapi itu untuk sementara
Pada gerak bandul yang teratur,
kita di dua sisinya.
Sekalipun tempat kita terpisah,
dan waktu ikut memisah,
tapi kita kesatuan.
Kalau kau tulang rusukku,
tak kan mungkin terlepas dari badanku.
Maka peluk saja aku pasrah.
Sadar atau tidak kau,
bahwa takdir ini begitu membahagiakan.
Napasku harus menjadi napasmu, dan sebaliknya.
Karena begitulah dalam satu pelukan.
Kalau kau tulang rusukku,
maka jangan berontak atas getir di sekitar.
Karena jauhmu hanya kan sesaat.
Pada satu titik,
akan memelantingkanmu pada ku lagi.
Kau terikat dengan karet di badanku.
kalau kau tulang rusukku,
maka pengorbanan mati-matianku teramat sangat wajar.
Cinta ini mengalir tanpa sadar.
Sekalipun kau tutup matamu,
kau tetap melihat ia berpendar.
Maka jangan terlalu jauh dariku.
Kalau sekedar pembuktian,
maka kelak kau akan puas dengan jawaban.
Tapi setiap detik yang mengisi
kekosongan ruang di antara kita,
kita akan kehilangan banyak hal.
Karena kebersamaan di kesempatan yang sebentar ini,
begitu berharga di setiap penggalan saat terkecil.
Kalau kau tulang rusukku.
Aku sangat mencintaimu.
November 26, 2007
Selamat pagi dunia…
Aku bangun di pagi ini, menemukan lingkaran badai menyelimut di atas badanku. Apakah aku tertidur dengan selimut badai tadi malam? Ah, rasanya tidak hanya tadi malam… sebelum tidur pun aku sudah disetubuhi badai. Kemarin juga sudah… kemarinnya lagi (kemarin lusa), pekan kemarin… dan entah sejak kapan aku sudah lupa. Mungkin sejak pertama kali aku sukses ‘meng-eak’ saat keluar dari rahim ibu ku. So, sambutlah, ini memang dunia badai…
Tapi sekalipun pada badai, ada harap yang aku titipkan. Aku berharap badai suatu saat mau merubah jasadnya menjadi kepompong sutra. Dan pada saat yang tepat, aku akan merobek kepompong itu dan keluar beserta sayap ku yang anggun. Halaaah… terlalu feminim. Aku kan cowok.
Jadi begini saja, aku berharap pada badai itu, mau menjadi alat fitness yang baik untuk melatih otot-ototku. Setiap ototku bertambah besar, maka bertambah kuatlah badai itu. Menyesuaikan. Pada akhirnya aku akan menjadi seorang yang perkasa di tengah badai. Huahahahaha…..
Pagi dunia……
Hah…. Ada cerita yang harus terus terajut biarpun jari telah letih. Menjalin beberapa benang aneka warna sekaligus, tercampur darah yang mengalir dari sela jari yang kadang tertusuk jarum. Pada akhirnya, rajutan itu akan menjadi kafanku sendiri. Kafanku sendiri!!!
Kalau indah, maka biarlah orang lain yang masih hidup mencontoh rajutan ku apa adanya. Asal jangan sampai membuat orang berpaling seraya berkata, "kain buruk seperti itu hanya cocok buat lap pel, bukan buat jasad manusia…"
Pagi dunia….
Pagi ini ada seonggok asa bertempur dengan sekarung duka. Kita lihat siapa yang menang!!!
April 13, 2006
Di sini, saat dzauq terhampar di kalbuku
Aku memintal gundah-gundah kerinduan
Melemparkannnya ke atas pada-Mu dan memanjatnya
Hingga terlihat kecilnya bumi
Ada ragaku tertinggal di bawah sana
Tampak kusam, dan begitu pantasnya tercambuk
Tapi kini aku di sini, Tuhan
Membawa sekeranjang kesadaran
Menjemput maghfiroh-Mu
Aku hambu-Mu
Engkau Tuhanku
Di sudut ruangan
Ku renung hikmah Ramadhan
Adakah ini bulan kesempatan
‘tuk pinta ampunan
kujajaki sepi
bersama renungan ayat suci
dalam keagungan asma-Nya
bergetar jiwa yang berlumur dosa
kiranya ku pun bisa mengingatMu Tuhan
di lautan dosa
di padang nestapa
di benua hina
Tuhanku bantulah aku melihat suci
Mataku nanar di silau dosa kini
Dengan apa aku bisa bersihkan diri
Dari lumpur berceceran di tubuh ini
Ku ingin bertaubat
Dan bersihkan hasrat
Dibuat waktu SMP
Bilakah ia genap?
Di hadapan, duri cantik menari
Bergerombol meluncur menyerbu hati
Aku ganjil sendiri
Bilakah ia genap?
Sedang jalan tak terbilang panjang
Banyak lubang bentang merintang
Samar terlampau acap jatuhkan
Tiada kawan bantu bangkitkan.
Bilakah ia genap?
Kerap kelam diliputi awan
Tiada tempat hujan curahkan
Pendam sendiri, tiada tercerahkan.
Bilakah ia genap?
April 3, 2006
Maafkan aku
Tak mampu menari cantik di panggung irodah-Mu
Meski berhias tata lampu cerlang indah
Dan dilatih oleh pelatih kenamaan semesta alam
Maafkan aku
Lalai ikuti alur panggung-Mu
Manja ikuti sorak manusia
Maafkan aku
Dan jangan terburu Kau cabut
Lampu yang temani aku menari
Tak terkejar lagi bayangmu
Saat sebuah langkah tlah mendahuluiku
Makin mengaburkan nyata dirimu
Kecuali sekantung iradat-Nya
Hadirkan jasadmu padaku.
Tak apa sayapmu mengepak
Karena kita berbaju qudrat berbeda
Pada garis yang tak sama
Kecuali kalau memang sebuah titik
Telah menunggu pertemuan kita.
Untuk seseorang…
Padang, awal semester 4 di Math Unand
Bersamamu akhi
Kita tlah jalin pelangi
Dalam untaian warna pribadi
Bersamamu akhi
Kuingin lagi pelangi
Sambil memandang Ilahi
Berteman bidadari
Pelayan muda-mudi
Akhi…
Jangan sampai ada
Warna terjatuh karena itu lebih rekatkan lagi
Dengan do’a robithoh
Bersamamu akhi
Kurindu pelangi
Di na’im abadi
Mengenang Ikhwan2 yang melekat di hati
Masih kusisakan
Sebuah ruang di hatiku
Di tempati daun kering
Yang gugur di sela rumput hijau
Masih kusisakan
Seberkas tatapanku
Memandang pada para penghuni
Sinar lampu temaram
Masih kusisakan pendengaranku
Pada asa pendendang kecil
Di atas riuhnya bis kota
Sedang hatiku menggeliat,
Tanganku masih menunggu di atas tekad
Indraku terus sampai
namun tanganku tak kunjung sampai
Kaku, ku masih di lantai ayahku
Namunku masih menunggu
Mereka berada di sebagian nikmat kudapat
Tuhan
Pada hadapanku
Terhampar rumpun-rumpun bunga
Bersama dayunya
Angin menerbangkan aroma merah jambunya padaku
Di celah tatapanku saat ku memegang sebuah sapu
Tuhan
Hampir terlepas sapu ini
Dan ku petik sekuntum
Karena pada masa ini
Aku berpijak pada asap
Menghirup warni gemerlap
Hingga lidahku gagap
Menyebut nama-Mu
Tuhan
Tersadar aku
Bunga itu hanya akan menghiasi kuburku.
Dalam kurungan sejuta nuansa dosa
Aku tak mengenal diriku lagi
Bahkan setelah pada puncak keindahan
Ku kan hadir lagi
Di nuansa dosa ini kembali
Aku tak berdaya
Kecuali menagih janjiMu Ilahi
Membuka pinta taman-Mu
Bercumbu lagi di bukit keindahan
Di kurungan sejuta nuansa dosa
Aku tak mengenal diriku lagi
Hanya Kau yang masih tahu
Bentukku itulah…
Dan jangan berlalu setelah tahu
Karena yang kuharapkan
sempurnaNya cahyaMu
melambungkanku dari keterpurukan
Di kurungan sejuta nuansa dosa
Ku hampir menjerat leherku
Hanya saja adalah nyata
Putik-putik rahmat-MU
Karena itu
Jangan kembalikan hamba
Kepada kurungan sejuta nuansa dosa
Setelah kita bercumbu
Di puncak keindahan
Bimbangku kau tak bimbang
paruku terbakar
Bimbangku kau tak bimbang
hidungku menghitam
Bimbangku kau tak bimbang
kulitku membahang
Bimbangku kau tak bimbang
di jam makanmu
bumi merayap dalam pusara