October 6, 2009

Benci Kemunafikan Tapi Bangga Dengan Kebejatan

Filed under: Orat Oret

"Munafik!" Terlontar tudingan itu dari lisan seseorang yang membela icon kemaksiatan. "Munafik!" Tertulis vonis itu pada komentar berita di portal, milis, blog, dan berbagai tempat di dunia maya, sebagai pembelaan atas gugatan yang menyerang kemungkaran.

Kalau yang dimaksud adalah apa yang terucap tidak sama dengan apa yang diperbuat, maka kemunafikan memang pantas dibenci. Ia haram mendompleng idealisme.

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS 61: 2-3)

Tapi apa ganti dari kemunafikan? Kebanggaan atas kebejatan kah?

"Sudah, ngaku aja kalo lu juga suka!" Kalimat itu menyempurnakan vonis munafik. Mengajak para penggugat kemungkaran untuk mengakui bahwa dirinya pun bejat dan tak pantas menggugat kemaksiatan.

Maka begitulah gaya pemuja kemungkaran. Memeluk erat kebejatan dan simbol-simbolnya, dan kemudian menciptakan tameng berupa "tuduhan munafik" yang akan mereka layangkan pada setiap pencerca kebejatan. Seperti pemabuk yang menjinjing ringan botol arak dan berjalan di tengah kampung. Ketika orang kampung mengingatkannya bahwa isi botol itu terlarang, ia balik berteriak, "Hey sadarlah. Kalian pun mabuk!!"

Tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan. Bahkan ketika diri ini memang bejat, maka menutupi kebejatan diri - disertai dengan penyesalan - adalah sebuah keselamatan dan bisa menjadi jalan untuk berubah.

Abu Hurairah ra, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Semua umatku akan ditutupi segala kesalahannya kecuali orang-orang yang berbuat maksiat dengan terang-terangan. Masuk dalam kategori berbuat maksiat terang-terangan adalah bila seorang berbuat dosa di malam hari kemudian Allah telah menutupi dosanya, lalu dia berkata (kepada temannya): Hai Fulan! Tadi malam aku telah berbuat ini dan itu. Allah telah menutupi dosanya ketika di malam hari sehingga ia bermalam dalam keadaan ditutupi dosanya, kemudian di pagi hari ia sendiri menyingkap tirai penutup Allah dari dirinya. (HR Muslim)

Seorang mukmin tak mungkin bangga dengan kebejatan. Karena konsekuensi iman menuntut begitu. Bahkan pada kadar iman yang paling rendah, tidak ada ruang untuk bersikap biasa-biasa saja atau acuh pada kemaksiatan. Ubah! Atau gugat! Atau kau membencinya, dan itu derajat yang amat rendah pada strata keimanan. Di luar sikap itu, tidak ada iman!!!

Dari Abu Said Al-Khudri ra: Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Sudah jelas, tidak ada alasan untuk bangga dengan kebejatan selama iman ini ada di dada.

Dan begitu pula dengan icon-icon kemaksiatan. Tak kan pernah sudi seorang mukmin menyukainya, atau pun sekedar bersikap biasa saja atau tak acuh padanya. Tak ada alasan menyambutnya bila icon kemaksiatan itu datang ke negeri seorang mukmin.

Tersulut rasa benci orang kampung dulu dengan kemaksiatan. Maka mereka usir pelaku zina dari nagari (kampung). Tak pantas pezina hadir di tengah kampung hidup bersama warga.

Maka begitulah seharusnya sikap seorang mukmin: pada semangat yang sama dengan orang kampung dulu. Tak ada alasan bagi pezina - apalagi seseorang yang menjadi icon pezina - untuk disambut datang ke negeri ini. Yang kedatangannya membuat sorak sorai pecinta zina bergemuruh seantero negeri. Terobati haus kerinduannya pada bintang zina yang selama ini cuma bisa ia pelototi dari layar televisi atau monitor komputer.

Wahai muslim, kalau masih ada iman di hatimu, tak ada alasan untuk bungkam ketika simbol kebejatan menyapa saudara-saudaramu di negerimu. Penerimaannya semakin memudahkan terpeliharanya kebejatan di sekitarmu. Ketika kedatangannya diterima, maka aksi zinanya lebih mudah dijual. Dan anak-anakmu, keponakanmu, antusias mencari tahu tentangnya. Dan adik-adik perempuan mu yang masuk remaja berpotensi mengidolakannya ketika popularitas dan uang telah menjadi prioritas, atau tuhan, dalam kehidupan.

 
"Munafik. Padahal lu suka kan? Gw juga suka, tapi gw gak munafik kayak lu. Semua juga suka, kalee…" Maa lakum, kaifa tahkumun (QS 68:36)? Bagaimana bisa begitu, apa dasar kamu menghakimi seperti itu? Lantas yang bagaimana munafik itu sebenarnya?

Ibnu Mas’ud r.a., sahabat Rasulullah saw, memberikan deskripsi perbedaan orang mukmin dan munafik. “Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.”

Lalu siapa sebenarnya yang pantas padanya disematkan gelar "munafik"?

 
—-
 
Btw, mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan. Terkait : Rambu Rambu Untuk Para Da’i Penyeru Anti P0rnografi & P0rnoaksi
July 29, 2009

Saat Adzan Berkumandang

Filed under: Orat Oret

Allahu akbar… Allahu akbar…

Suara adzan isya’ mengudara dari sebuah musholla yang tidak jauh dari tempatkusedang menyantap sepiring nasi goreng. Tinggal beberapa suapan lagi, aku bergegas menghabiskan makan malamku itu. Panggilan dari musholla itu sangat penting.

Di tengah asyikku menyelesaikan makan malam, tiba-tiba terdengar bunyi memekakkan telinga. "Grooung… groooung… grooooung…". Segera aku menengok ke arah suara. Rupanya suara itu berasal dari bengkel yang berada 6 meter dari warung nasi goreng tempatku berada. Suara itu dikeluarkan oleh knalpot sebuah sepeda motor yang digeber gasnya. (Ya, itu bunyi knalpot motor digeber. Maaf kalau salah menuliskannya bunyi suaranya :-) ).

Hati ku panas. Ada dua alasan yang membuat aku kesal. Pertama, tentu saja suaranya yang sangat mengganggu dan memekakkan telinga. Suara itu semakin lama semakin keras. Semakin keras suara itu, mungkin semakin membuat pemiliknya senang bukan main. Tapi kebalikannya denganku.

Kedua, karena suara itu mengganggu suara adzan yang sedang berkumandang. Penggeber gas motor itu sangat tidak sopan sekali kepada Allah SWT. Seharusnya dia mengerti adab ketika adzan dikumandangkan. Dan jauh lebih baik lagi apabila dia menjawab adzan itu.

Ya, memang orang yang di bengkel itu belum tentu seorang muslim. Andai kata dia seorang muslim, sangat disayangkan. Tapi kalau dia non muslim, sangat lebih baik apabila dia faham bahwa dalam Islam - agama mayoritas penduduk di mana ia hidup - ada adab dalam mendengarkan adzan, yaitu diam dan menjawab adzan. Untuknya, diam itu sudah cukup dan jangan membuat kegaduhan.

Saya pernah dalam sebuah perjalan dari daerah Sudirman Jakarta menuju Pasar Minggu menumpang bus metro mini 604. Di tengah perjalanan, naik lah seorang pengamen. Orang itu kemudian membawakan lagu diiringi gitar. Ketika sedang mengamen, terdengar suara adzan maghrib dari sebuah masjid di pinggir jalan. Spontan saja pengamen itu berhenti mengamen.

Subhanallah. Saya appreciate sekali dengan pengamen tersebut. Sikapnya yang sederhana itu patut menjadi pelajaran bagi para penumpang di dalam bus.

Mungkin karena kebodohan saya atau memang tidak ada, saya belum pernah mendapatkan hadits yang menyuruh kita diam apabila dikumandangkan adzan. Yang ada adalah hadits tentang menjawab adzan. Tetapi diam itu sendiri adalah adab ketika mendengar adzan. Karena untuk menjawab adzan, suara adzan itu harus terdengar jelas kalimat demi kalimatnya. Kalau dalam keadaan gaduh, adzan tidak begitu terdengar.

Adab mencerminkan akhlak kita. Ada adab dalam membaca Al-Qur’an, ada adab dalam berdo’a, juga ada adab dalam mendengar adzan. Perilaku kita semestinya sesuai dengan adab-adab tersebut untuk memperlihatkan pribadi yang berakhlak mulia.

Sedihnya, suara adzan di negara mayoritas berpenduduk Islam ini tidak saja dilecehkan oleh tindak-tindakan yang tidak sesuai dengan adab. Bahkan suaranya yang mengudara merdu tiap lima kali sehari itu juga mendapat gugatan dari sekelompok orang yang menganggap suara itu mengganggu masyarakat. Gilanya lagi, gugatan itu datang dari pemuda-pemudi Islam yang mengaku menjunjung tinggi toleransi.

Allahu’alam bish-showab.

February 14, 2009

Ketika Seruan Nabawi Dicemooh

Filed under: Orat Oret

Di kota Depok terdapat sebuah poster besar yang menampilkan foto walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail. poster tersebut menyampaikan pesan untuk kembali ke jati diri bangsa dengan makan menggunakan tangan kanan.

Tentu saja banyak orang akan bertanya-tanya, apa hubungannya “jati diri bangsa” dengan “makan menggunakan tangan kanan”? poster tersebut tidak menampilkan jawabannya.

Tidak cuma pertanyaan yang serius ingin bertanya, ada juga yang mengejek. Di internet saya pernah menemukan tulisan lain yang menilai bahwa seruan itu tidak bermanfaat. Ada juga sebuah email yang masuk ke-inbox saya memasukkan poto poster tersebut dalam rangkaian spanduk-spanduk lucu/konyol dari caleg. Di email tersebut terdapat komentar, “ Pak … Memangnya dulu makan pake’ kaki ya … ?  Trus yang kidal gimana dong … ?” Sebuah nada ejekan.

Mungkin masih banyak orang lain yang menertawakan seruan tersebut. Menganggapnya sebagai seruan useless yang tidak jelas. Padahal, sangat disayangkan apabila ada seorang muslim yang ikut menertawakan seruan itu.

Seorang muslim seharusnya sadar bahwa seruan tersebut adalah seruan yang nabawi. Seruan dari Rasulullah yang menyukai segala sesuatunya dimulai dari tangan kanan. Ingatlah ancaman Rasulullah terhadap siapa yang mengabaikan sunnahnya :
“Barangsiapa mengabaikan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Mutafaq’alaih)

Terdapat dalam Riyadush Sholihin, bab “Sunnat mendahulukan yang kanan”, beberapa hadits yang menyerukan agar umat mengutamakan tangan kanan.

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw. selalu mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan dalam segala hal. Seperti bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Hafshah ra ia berkata: “Rasulullah saw mempergunakan tangan kanan untuk makan, minum, dan memakai pakaian. Dan mempergunakan tangan kiri untuk selain itu.” (Hr Abu Daud).

Ada lagi cerita yang seharusnya menjadi peringatan bagi seorang muslim yang sempat mengejek seruan tersebut. Dalam riwayat muslim, ada seorang laki-laki makan di hadapan Rasulullah saw dengan tangan kirinya. Kemudia beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Ia menjawab, “Saya tidak dapat makan dengan tangan kanan.” Beliau bersabda lagi, “Tidak, sebenarnya kamu bisa. Yang menyebabkanmu tidak mau menggunakan tangan kanan karena kesombonganmu.” Akhirnya laki-laki tersebut tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. (HR Muslim).

Bagaimana dengan kidal?

Saya pernah punya beberapa teman yang kidal. Salah satu teman saya di bangku SMP, mengaku dia kidal. Untuk melempar bola basket ke dalam keranjang, ia cenderung menggunakan tangan kiri. Memang, kekuatannya ada pada tangannya.

Saya juga pernah bertemu dengan siswa cerdas yang kidal ketika bimbel. Ia menulis dengan tangan kiri. Ketika menjawab soal di papan tulis, ia juga menulis dengan tangan kiri. Memang sering dicandai “gak sopan” oleh kawan-kawannya. Tapi ia mengerti itu becanda.

Mereka semua adalah muslim. Dan tidak ada halangan bagi mereka untuk makan dengan tangan kanan. Seorang yang kidal tidak akan kesusahan makan menggunakan tangan kanan. Kalau terbiasa makan dengan tangan kanan, maka tidak ada masalah.

Seseorang yang kidal juga tidak akan punya masalah apabila mendahulukan sesuatu dengan sebelah kanan. Tidak susah kok memakai sepatu didahulukan dengan tangan kanan, mandi dimulai dengan membasuh anggota tubuh bagian kanan, dsb.

Kidal sebenarnya masalah di mana kekuatan tangan lebih dominan, atau lebih leluasa melakukan sesuatu. Tapi sebenarnya apabila dibiasakan, maka tangan kanan pun bisa luwes juga melakukan pekerjaan tertentu.

Kita bisa mengambil contoh pada Rafael Nadal. Petenis dunia itu bukanlah seorang yang kidal. Namun pelatihnya, Toni Nadal, membiasakan dirinya untuk menggunakan tangan kiri. Pada akhirnya, Rafael Nadal terbiasa menggunakan dua tangannya ketika bermain Tenis. Dan itu adalah kelebihan dirinya. Juga banyak pesepakbola yang melatih kedua kakinya agar sama kuatnya. Kemampuan menggunakan kedua kaki yang sama kuat itu amat bermanfaat di lapangan hijau.

Islam tidak merendahkan orang yang punya bakat kidal. Islam menuntut umatnya menggunakan tangan kanan apabila makan, dan juga mendahulukan sebelah kanan dalam memulai sesuatu, bukan untuk mendiskriminasi orang yang kidal. Lagian, tidak susah kok melaksanakan itu semua bagi orang kidal. Jadi, tidak ada diskriminasi, dan jangan sampai kita menjadi orang yang sombong seperti hadits di atas, apalagi mengejek seruan makan menggunakan tangan kanan apabila kita muslim. Karena itu adalah perintah Rasulullah saw.

Apabila seorang diantara kamu makan maka makanlah dengan tangan kanannya, apabila ia minum maka minumlah dengan tangan kanannya.  Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya” (HR Muslim, no 5233)

Jati Diri Bangsa.

Sebenarnya seruan tersebut hadir untuk mengajak masyarakat Indonesia kepada jati dirinya: yaitu masyarakat yang punya etika, tata tertib, beradat, dan sopan santun. Maka kalau seruan itu diejek juga oleh segelintir masyarakat, benar-benar pengejek itu sudah meninggalkan budaya sopan santun yang dimiliki masyarakat Indonesia. Terutama karena ejekannya.

Sewaktu kecil, etika makan saya benar-benar digodok oleh keluarga. Ketika menggunakan tangan kiri, saya dikoreksi. Tidak cuma masalah tangan, cara duduk ketika makan pun sering dikoreksi. Apabila duduk di kursi, adalah tidak sopan untuk menaikkan salah satu kaki ke kursi. Apabila makan di lantai, maka makan harus bersila. Hal hal kecil tersebut benar-benar dijaga.

Dan saya akui bahwa masyarakat sekarang mulai meninggalkan hal hal kecil tersebut. Jangankan hal kecil, hal besar dalam etika pun terabaikan. Kita tentu sering menemukan perokok yang tidak tahu etika merokok di depan umum. Itu adalah hal besar dalam etika yang terabaikan.

Maka tidak heran, bila seruan yang baik yang terdapat dalam poster besar di Kota Depok itu dicemooh. Rupanya perjuangan untuk mengembalikan jati diri bangsa, yaitu masyarakat yang punya adat dan etika serta sopan santun, adalah perjuangan yang begitu berat di tengah masyarakat yang bergeser menjadi pragmatis, hedonis dan individualis.

Photobucket

November 23, 2008

Bersumpah Tidak Dengan Nama Allah Pada Lirik Lagu

Filed under: Orat Oret

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh telah musyrik. [HR Tirmidzi]. Pada hadits lain dari Ibnu Umar ra, "Rasulullah saw. Bersabda, ‘Setiap sumpah yang diucapkan tidak dengan nama Allah, termasuk perbuatan syirik.’" (Shahih, HR Hakim [1/18] dan Silsilah al-Ahadatis ash-Shahihah [2042]) 

Kita semua tentu sudah sering mendengar lagu ungu yang berjudul “Demi waktu” dan “Dengan Nafasmu”. Pada kedua lagu tersebut, terdapat lirik yang agak kontroversial. Seorang muslim harusnya memprotes lirik tersebut.

Pada lagu Demi Waktu, dari judulnya saja sudah kontroversial. Karena menggunakan kata “demi”. Biasanya kata “demi” dipergunakan untuk bersumpah. Bahkan kemungkinan besar kata-kata ini diambil dari ayat pertama surat Al-‘Ashr. 

Lagu kedua, terdapat juga kata “demi” yang maksudnya sangat mendekati sumpah, “demi nafas yang telah kau hembuskan dalam kehidupanku, Ku berjanji… ”.

Kata demi, memang bisa saja artinya adalah “untuk”. Tapi lazim juga digunakan untuk sumpah. Untuk mengetahui maksud penggunaannya, harus didengarkan secara lengkap keseluruhan kalimat hingga bisa diambil kesimpulan. Atau tanyakan langsung kepada pengucapnya untuk lebih jelasnya. Silakan lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, setidaknya ada 5 arti dari kata “demi”.

Allahu’alam, saya tidak tahu apakah Ungu menggunakan kata “demi” untuk sumpah atau dalam artian “untuk”. Kalau saya ikuti cita rasa bahasa saya, maka terasa seperti sumpah. 

Dulu dalam sebuah forum diskusi di internet, ada yang membahas tentang lagu “Demi Waktu” ini, menggugat kenapa Ungu bersumpah bukan dengan nama Allah. Dan jawaban saya waktu itu adalah tidak boleh seorang muslim bersumpah dengan nama selain Allah. Tapi kata demi sendiri bisa bermakna untuk. Dan saya tidak mengambil kesimpulan apakah kata demi tersebut dimaksudkan untuk sumpah atau maksud lain.

Semoga saja ada personel Ungu membaca artikel ini. Atau anda yang membaca, mau menyampaikannya kepada personel band Ungu. Semoga mereka bisa lebih berhati-hati, terutama dalam pemilihan diksi pada syair yang mereka buat. Artikel ini dipublish agar kita semua bisa mengambil pelajaran, tanpa maksud meng-ghibah.

Mengembalikan File Yang Disembunyikan Virus

Filed under: Orat Oret, Blogramming

Suatu saat flashdisk saya terkena virus. Semua file yang berekstensi *.doc hilang entah kemana. Hingga menimbulkan kedukaan yang mendalam di hati saya (bahasanya biasa aja dooong).

Singkat cerita, virus di flashdisk saya berhasil dibersihkan. Tetapi saya masih kehilangan file-file yang penting. Tapi mau bagaimana lagi? Rencananya roh-roh file yang hilang tersebut akan dihadirkan lagi menggunakan program file recovery, tapi belum sempat dilaksanakan. Masih kurang sesajen.

Surprise!! Saat flashdisk saya dibaca oleh komputer kawan, rupanya file2 tersebut terbaca. Hanya saja di-hidden. Berita gembira, rupanya file2 tersebut dibuat tidak tampak oleh virus. Padahal hampir saja saya menghubungi komisi orang hilang atau kontras.

Ketika file tersebut ingin saya pulihkan dari status hidden, saya klik kanan – properties, rupanya file tersebut ter-deep freeze hidden, dalam kata lain tidak bisa dipulihkan hiddennya. Waduh…Tampaknya file-file yang disembunyikan itu dibuat menjadi file system oleh virus.

Kemudian, saya setting computer saya agar bisa membaca file yang hidden, melalui tools\folder options\view di windows explorer. Tapi rupanya belum terbaca juga. Saya un-check ‘Hide protected operating system files’, tetap tidak terbaca. Keanehan terjadi, rupanya setelah saya klik tombol OK, item tersebut kembali checked. Entah kenapa. Jangan-jangan, computer saya masih ada virusnya????

Akhirnya saya pakai cara bodoh (sebenarnya, karena saya merasa bodoh, maka cara apa pun yang saya lakukan tetap namanya cara bodoh. Huh… menghina diri sendiri). Saya pinjam komputer kawan saya itu, lalu saya buka file yang hidden. Kemudian saya save-as dengan nama yang lain (file yang terbaru tidak hidden). Lalu file yang hidden itu saya delete.

Capek juga. Ada lumayan file bertipe doc di flashdisk saya. Hhhh….

Akhirnya saya tanya teman, bagaimana caranya agar file yang ghaib itu bisa pulih. O la la, rupanya dia tahu. Caranya seperti ini:

1.Buka command prompt.
2.Tuju folder yang memuat file yang mati suri.
3.Lalu ketikkan attrib –s –h *
4.Berhasil.

Wah… saya baru tahu caranya. Mungkin pembaca sudah dulu tahu ya. Ya… begini lah saya. Kampungan. Wekekekeke……..

September 5, 2008

Tentang Rokok

Filed under: Orat Oret

Saya agak telat bergabung diskusi di sebuah thread di detikforum. Thread tersebut membahas tentang rokok. Saya mulai bergabung pada pos ke 440. Telat banget ya?

Sengaja saya dokumentasikan ke blog. Pengen aja. Saya sudah lama ingin menulis tentang rokok. Kebetulan terlibat dalam diskusi tentang rokok, ya sudah saya dokumentasikan saja untuk blog ini.

Saya menjawab gugatan dari beberapa rekan yang mempertanyakan keharaman rokok, atau menolak rokok itu diharamkan. Kira-kira seperti ini diskusi yang berlangsung:

http://forum.detik.com/showpost.php?p=4046903&postcount=440
seorang user menulis:
urusan halal dan haram itu hak Mutlak ALLAH..Janganlah menjadi orang yang berlebih-lebihan..untuk ajakan utk tidak merokok kan sudah di himbau oleh pemerintah..Ahmadiah katanya sesat karena telah melanggar aturan..skrg mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan ALLAH, melanggar aturan gak ya?

saya menulis:
Enggak. Apanya yang melanggar aturan?

Rokok memang gak pernah ada nash yang tegas yang mengharamkan. Tapi kalau rokok itu menyebabkan hal yang haram terjadi, semisal pemborosan, menganiaya diri sendiri, menganiaya orang lain yang tidak suka dengan asap rokok atau bau asap rokok, maka rokok tersebut menjadi haram.

Kita gak pernah dengar ganja, opium, putaw, dll itu disebut haram oleh nash. Tapi karena barang2 tersebut membawa pada hal yang haram, yaitu mabuk, maka barang2 tsb menjadi haram.

Saya rasa berlebih-lebihan kalau sudah diperingatkan akan bahaya rokok, tapi dengan berbagai dalih mengikuti nafsu tetap ngotot untuk merokok.

http://forum.detik.com/showpost.php?p=4046964&postcount=441
seorang user menulis:
kalau mmg rokok itu merusak kesehatan..orang tua yang sudah umurnya 70an masih merokok..dan mereka tetap sehat..
Kalau menurut saya pribadi..
KESEHATAN ITU DIKASIH SAMA YANG MENGHIDUPKAN>> Orang kaya skrg apa kurang makan vitamin dan menjaga kesehatannya?kyknya lebih2 deh..tapi kok malah kena serangan jantung..darah tinggi ya..

saya menulis:
Itu sama seperti orang yang ngeyel yang diperingatkan jangan jalan kaki di tengah jalan raya, tapi karena belum pernah ketabrak mobil lantas jumawa dengan mengatakan bahwa jalan kaki di tengah jalan raya itu tidak berbahaya.

Kesehatan itu memang dikasih sama Yang Menghidupkan, tapi apa lantas untuk kasus rokok ini anda menjadi orang yang beranggapan bahwa kita tidak perlu kerja karena rezeki itu datang dari Yang Memberi Rezeki?

http://forum.detik.com/showpost.php?p=4111181&postcount=453
seorang user menulis (menanggapi postingan saya sebelumnya):
Bro, yang lo sebutin itu jelas, hukumnya. Dan koreksi bukan barang yang memabukkan tapi Khamr (merusak akal). Klo rokok, gak ada hukum yang jelas, jadi kita gak boleh bilang itu barang haram. Kalo mo dilarang, ya larang aja, jangan dengan istilah Haram.

Tau sejarah rokok?

saya menulis:
Ganja tidak pernah ada dasar hukumnya. Masalah khamar (gw pake bahasa yang mudah dimengerti: memabukkan), itu sebagai analogi yang gw pake. Sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya (pada dasarnya adalah halal), kemudian menjadi sarana untuk suatu yang haram, maka menjadi haram.

Seperti itu juga rokok, menjadi sarana untuk mubazir, merusak diri dan orang lain, maka itu menjadi haram.

http://forum.detik.com/showpost.php?p=4111164&postcount=452
seorang user menulis:
Gimana dengan:
Asap hitam kendaraan bermotor.
Kolesterol.
Senjata.
Pisau.
Obat-obatan.
dll.

semua itu bisa merusak kehidupan manusia…

saya menulis:
[*]Manusia tidak mengkonsumsi asap hitam kendaraan bermotor. Memang berbahaya, tapi tidak seperti rokok yang jelas berbahaya tapi dikonsumsi juga oleh manusia.
[*]Kolesterol dibutuhkan oleh tubuh.

Dan sisanya,

pada dasarnya semua itu ada manfaatnya. Penyalah-gunaan yang salah lah yang haram. (mis senjata dipakai untuk membunuh).

http://forum.detik.com/showpost.php?p=4125266&postcount=462
seorang user menulis:
Setuju sekali rokok diharamkan oleh fatwa MUI,tapi tolong carikan solusi para buruh pabrik rokok yang pabriknya ditutup oleh pemerintah,karena memproduksi barang haram,bagaimana dengan buruh tani,pedagang tembakau,terus cukai rokok yang katanya cukup besar di apbn,kalau memang hal itu benar2 di fatwakan oleh MUI pasti deh banyak korbannya,apakah pemerintah sudah siap menerima korban2 tsb,pengangguran meningkat,kemiskinan meningkat ,kriminalitas meningkat,pembayar pajak berkurang (karena jadi nganggur) lha kalau sudah begitu solusinya bagamna dong,pusing aku nguntal pil anti pusing ach

saya menulis:
Fatwa MUI cuma untuk umat Islam. Dan fatwa MUI bukan lah produk hukum dan MUI sendiri bukan lembaga eksekusi. MUI cuma mengeluarkan fatwa yang seharusnya dipatuhi oleh umat Islam.

Ketika bunga bank diharamkan oleh MUI, tidak ada resign besar2an dari Umat Islam yang bekerja di Bank. Dan pemerintah tidak mengeksekusi bank konvensional. Tapi fatwa itu tetap berlaku buat umat Islam yang mau taat.

Orang yang mau patuh pada fatwa MUI, saya yakin adalah orang yang tidak memandang bahwa rizkinya berasal dari ladang tembakau atau pabrik rokok. Tapi dari Allah SWT. Maka ketika dia taat, insya Allah dia terlebih dahulu tawakal kepada Allah SWT, dan percaya bahwa rizki itu urusan Allah. Allah akan memberi jalan keluar bagi orang yang bertaqwa & bertawakkal kepada Allah SWT.

"…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. " (Ath-Thalaq : 2 & 3)

"…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. " (Ath-Thalaq : 4)

"…Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Ath-Thalaq :7)

Allahu’alam bish-showab.

——-

Well… di suatu acara dialog di televisi swasta, seorang berkata bahwa kreatifitasnya akan hilang manakala dia tidak merokok.

Masya Allah.. mengapa orang itu menggantungkan hidupnya pada sebatang racun? Apa bedanya ia dengan orang yang mengkonsumsi narkotik agar timbul rasa percaya diri? Saya pernah mendengar sebuah band yang sebelum manggung ia mengkonsumsi narkotika untuk menimbulkan rasa percaya dirinya. Bedanya, rokok memang tidak memabukkan. Tapi persamaannya adalah sama-sama membiarkan diri ketergantungan pada racun yang mematikan.

Saya yakin, seorang yang pada dasarnya kreatif, kreatifitasnya tidak ada hubungannya dengan rokok. Seorang kreatif yang perokok, pasti mengalami masa dimana ia sebelum menjadi pecandu rokok. Ingat-ingatlah, apakah sebelum menjadi perokok ia tidak memiliki kreatifitas?

Bukan… bukan itu manfaat rokok. Itu cuma halusinasi dan sugesti. Malah menyedihkan kalau kreatifitas itu tergantung pada racun.

Dan Janganlah kalian menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan.”(Al Baqoroh:195).

August 15, 2008

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Kulihat harta dunia di tangan seseorang
Lahirlah gundah semakin ia berlipat bilangan
Hinalah siapa yang memandang dengan keagungan
Agung lah siapa yang memandang dengan kehinaan
(Suara Persaudaraan)

“Rumput tetangga lebih hijau”. Ungkapan yang berarti bahwa orang lain memiliki kenikmatan atau kebaikan yang lebih dari pada diri kita. Bagaimana sikap kita ketika menghadapi kenyataan tersebut? Dengki, iri, atau ikut senang?

Mudah-mudahan tidak ada penyikapan negatif. Berikut ini kemungkinan dan penyikapan yang tepat saat melihat rumput tetangga lebih hijau…

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita memandangnya dari jauh.
Jarak sering menipu pandangan. Bulan yang terlihat indah dengan sinarnya yang kuning keemasan di malam hari, sebenarnya bila dilihat lebih dekat, adalah sebuah padang tandus yang berlubang-lubang oleh meteor. Sebuah bukit yang sebenarnya agak gundul, bila dilihat dari jauh tetap saja terlihat biru.
Semuanya jelas bila dilihat lebih dekat. Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia dari kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi kita akan mengkoreksi pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena ketamakan dan kurangnya rasa syukur pada diri kita.
Rasulullah pernah bersabda “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (dalam Jami’ ash-Shaghir karya Suyuthi)
Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Introspeksilah, dan semoga kita terhindar dari sifat buruk ini.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena mental pecundang yang ada pada diri kita.
Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu under estimate terhadap dirinya.
Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran 139)

- Boleh saja rumput tetangga lebih hijau dari kita, Memangnya kenapa?
Sifat cuek hadir pada saat yang tepat dalam urusan seperti ini. Jangan sifat cuek hanya ada pada kritik atas kesalahan kita saja. Atau seperti istilah begini: “gw sih asik asik aja… Selama dia gak nyenggol gw.”

- Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena rumputnya dicat oleh pemiliknya.
Kadang kala ada orang yang seleranya melompat dari kemampuannya. Seleranya berada di kebutuhan tersier, sedangkan kemampuannya berada di kebutuhan primer. Dan orang tersebut memaksakan diri meraih apa yang ia selerakan. Sehingga terlihat lah ia parlente, dan mewah. Keadaannya palsu. Hijau rumputnya adalah karena cat, bukan hijau alami.
Jadi, jangan buru-buru takjub lah terhadap orang yang kehidupannya terlihat mewah.

- Alhamdulillah, rumput tetangga lebih hijau. Saya ikut senang.
Rasulullah bersabda, "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari-Muslim) Maka melihat saudaranya seiman memiliki nikmat yang lebih, seharusnya sikap seorang mukmin seperti apa yang telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kaum Anshor, “ …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” (QS 59 : 9)

- Rumput tetangga yang lebih hijau memberi motivasi bagi diri saya!!
Maka telah hadir energi positif, alih-alih energi negative berupa kedengkian. Motivasi seperti ini adalah bahan bakar yang baik untuk kehidupan.

- Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi dibanding tetangga yang lain, alhamdulillah rumput saya masih lebih hijau…
Dalam urusan akhirat, kita seharusnya melihat ke atas, tetapi dalam urusan dunia, lihat lah ke bawah. Kalau kesyukuran itu hadir karena perbandingan, maka seharusnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.

- Biarkan saja rumput tetangga lebih hijau, karena orientasi saya adalah surga dan keridhoan Allah, bukan rumput.
Ya, seharusnya orientasi seorang mukmin adalah surga dan keridhoan Allah. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3 : 14)
Maka seharusnya seorang mukmin sibuk menghijaukan rumput surganya daripada mengurusi hijaunya rumput tetangganya.

- Asyik.. rumput tetangga lebih hijau. Bisa buat makan si dombi, domba kesayangan saya.
Waaa… parah niiih…..

May 12, 2008

Antara Ajakan Primer dan Sekunder

Filed under: Orat Oret

Menelusuri jalan dari Bakauheni menuju Bandar Lampung, saya menemukan begitu banyak poster-poster calon peserta pilkada Lampung yang sebentar lagi akan diselenggarakan terpasang di pinggir jalan. Entah berapa dana yang telah digelontorkan, tapi yang jelas di desa-desa yang dilintasi jalan lintas sumatera itu benar-benar tidak sepi dari wajah-wajah calon gubernur dan wakil gubernur. Pastinya, ada dana yang tergelontor tidak sedikit. Tapi, apakah sebegitu pentingnya memenangkan sebuah posisi gubernur hingga keping-keping uang yang begitu berharga bagi rakyat miskin menjelma wajah senyum yang terpampang di dekat gubug-gubug rumah pedesaan? Allahu’alam.

Melihat semua itu, ingatan saya tentang pilkada di Ibu kota yang lalu membayang kembali. Saat saya ikut-ikutan berpartisipasi untuk memenangkan calon yang saya harap bisa memberikan pencerahan kepada warga ibu kota yang mengidap kesenjangan sosial cukup parah. Saya harap agar benarlah sang calon yang saya dukung bila terpilih nanti merealisasikan pendidikan gratis agar wajah kumuh kemiskinan dan kebodohan bisa terangkat.

Saya yang tergabung dengan beberapa orang yang saya kenal di lingkungan kosan saya, mulai beraksi dari jauh-jauh hari untuk memenangkan sang calon. Agar batin terikat, kami mengadakan bakti sosial berupa bazar layanan kesehatan gratis. Sebenarnya baksos seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Bahkan setahun bisa dua kali. Walau pun tidak terkait dengan even pemilu atau pilkada. Jadi baksos kali ini hanyalah berupa pemeliharaan ikatan batin yang memang sudah terikat cukup kuat antara masyarakat dengan para aktifis suatu partai di lingkungan saya tinggal.

Makin dekat waktu pilkada, diadakan lagi baksos berupa bazar. Masing-masing RW di lingkungan saya diadakan baksos/bazar yang waktunya tidak bersamaan. Maka terasa makin dekat lah antara kader/aktifis partai itu dengan masyarakat. Belum lagi ungkapan dukungan yang saya dengar langsung dari mereka, bahwa mereka mempercayai 100% partai ini membela rakyat kecil.

Pada akhirnya pilkada dilaksanakan. Setelah siang, suara dihitung. Dan di lingkungan saya - yang masyarakatnya berbondong-bondong menghadiri layanan kesehatan gratis dan bazar sembako murah - jagoan kami kalah. Bahkan di suatu TPS di mana bazar tersebut dilaksanakan, jagoan kami kalah telak.

Mengetahui hasil tersebut, reaksi para kader partai itu berbeda-beda. Pada dasarnya kecewa, tapi ada yang menerimanya dengan dewasa. Tapi, ada juga yang mengejutkan saya ketika terlontar dari lisannya, "sudah lah, lain kali jangan ngadain bazar di sana lagi."

Maka pemandangan perjalanan Bakauheni - Bandar Lampung ini mengingatkan saya akan hal tersebut, ketika semarak pilkada terasa menyapa orang-orang yang masuk ke provinsi yang berada di kaki pulau sumatera.

Lontaran kekecewaan seorang teman itu benar-benar masih terngiang di telinga saya. Ia merasa dikhianati. Mungkin pikirnya, bagaimana sudah baiknya ia dan kawan-kawan kepada masyarakat. Tapi pada akhirnya masyarakat tak mau menuruti himbauannya untuk memilih pasangan calon gubernur tertentu.

Selintas memang terasa salah masyarakat. Karena ibarat lelaki yang mendamba seorang gadis, gadis itu telah memberi harapan pada lelaki tersebut. Tapi ada kisah yang menarik 14 abad yang lalu ketika seorang yang sangat sangat berpengaruh di lingkungannya berdiri di atas bukit Ash Shafa kemudian berteriak lantang membangunkan penduduk Makkah, sehingga mereka berkumpul di sekitar orang tersebut. Ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakilnya. Orang itu, Rasulullah SAW, berkata,”Wahai Bani Abdil Muththalib, wahai Bani Fihr, bagaimana pendapat kalian kalau saya beritakan bahwa ada sepasukan berkuda di balik bukit ini siap untuk menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”

Mereka menjawab,”Ya.”

Kata beliau lagi,”Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan buat kalian sebelum datangnya adzab yang sangat pedih.”

Tiba-tiba Abu Lahab menukas,”Celakalah kau selama-lamanya. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Kejadian di atas, memperlihatkan bagaimana seorang Rasulullah yang menjadi kepercayaan orang-orang, sehingga bergelar Al-Amin, tetap tidak mendapat tempat di hati pihak tertentu bila membawa suatu seruan spesifik.

Jadi, tidak seharusnya kecewa berlebihan. Sebuah kebaikan belum tentu selalu berbalas dengan kebaikan. Sebuah kebaikan belum tentu efektif menjadi sarana untuk mencapai tujuan.

Tapi ada yang salah, ketika sebuah kebaikan dilaksanakan tanpa bertujuan agar mendapat ridho Allah SWT. Bahwasanya seorang da’i mencoba memikat hati umat, itu suatu keharusan. Tapi tentu saja percobaan itu dilakukan sebagai media untuk menyeru umat kepada Islam, agar Allah ridho. Bukan ditujukan agar umat mendengar seruan-seruan keduniaannya yang tak ada hubungannya dengan ridho Allah SWT.

Ajakan kepada suatu kelompok, atau ajakan untuk suatu tindakan politik, adalah ajakan sekunder, bahkan tersier. Yang primer tentu saja ajakan kepada Islam. Maka kekecewaan lebih “mending” ada ketika masyarakat tidak juga meninggalkan syirik apabila di sana masih beredar kepercayaan-kepercayaan syirik. Atau ibu-ibu muslimah yang menjadi pelanggan setia bazar masih ada saja yang belum menutupi auratnya dengan hijab yang pantas. Tapi kalau pesan yang diselipkan pada sebuah kebaikan bernama baksos adalah pesan sekunder dan mengesampingkan pesan primer, maka pesan itu rapuh tanpa pondasi.

Justru, pesan-pesan politik yang sekunder atau tersier itu, sangat tidak tertutup kemungkinan dimanfaatkan secara negatif oleh pihak-pihak tertentu. Lugasnya, bisa saja kepercayaan itu malah dijadikan lahan bisnis untuk kepentingan dunia semata bagi sementara pihak.

March 18, 2008

Pengamen Cilik dan Renunganku

Filed under: Orat Oret

Dengan tangan kanan menggenggam botol aqua yang telah diisi beras setengahnya, serta tangan kiri menggendong adik yang masih bayi, ia percaya diri menapaki tangga metromini. Ia sekitar 5 - 7 tahun, putri, berbaju kumuh dengan muka serta rambut yang lusuh. Keadaan metromini yang sedikit sesak-sesakan tidak menghalanginya untuk menerobos kerumunan, mencoba berjalan ke tengah. Setelah menemui posisi yang pas, ia memulai dengan sedikit kata-kata pembuka untuk kemudian memulai lagu pertama diiringi gemericik butir beras yang saling beradu dalam botol produk minuman yang ia genggam.

Dulu sewaktu saya masih bergabung dengan kelompok nasyid, saya diwanti-wanti sekali oleh teman-teman untuk menjaga pandangan tetap ke penonton serta menyesuaikan mimik selaras dengan lagu yang dinyanyikan saat manggung. Tapi tampaknya hal yang diwanti-wanti oleh teman-teman saya itu tidak dipraktekkan sama sekali oleh biduanita cilik di hadapanku ini. Matanya jelalatan kemana-mana. Mimiknya seadanya meski lagu yang ia nyanyikan lagu yang gembira.

Setelah berapa lama, selesai sudah satu buah lagu ia nyanyikan. Biasanya pengamen cilik tidak ingin manggung berlama-lama. Jangankan satu lagu, baru setengah lagu saja ia sudah berhenti dan kemudian mengedarkan sebuah kantong untuk memungut uang, atau mengumpulkan amplop-amplop yang ia sebar sebelumnya ke penumpang bila ia menggunakan sarana amplop. Tapi rupanya pengamen ini lain, ia lanjutkan dengan lagu kedua.

Tak lama lagu kedua usai, ia lanjutkan lagu ketiga. Setelah lagu ketiga selesai ia nyanyikan, barulah ia memungut sumbangan dari penumpang.

Penggalan kejadian dalam metromini itu benar-benar mengganggu mood saya. Saya tercengang dengan anak kecil tadi yang harus menghafal sekian banyak lagu. Lho, bukankah lagu adalah modal pengamen untuk mencari uang? Ya, tapi yang harus menghafal itu adalah seorang anak kecil. Kenapa dengan anak kecil? Bukankah anak kecil justru memiliki memori yang kuat. Mereka  menyerap seperti spons? Justru itu, karena dia masih kecil sehingga memiliki memori yang mampu menyerap seperti spons, saya menyangkan bila waktunya habis cuma untuk menghafal lagu. Usia seperti itu adalah usia yang sangat baik buat menghafal Al-Qur’an.

Imam Syafi’i hafal Qur’an pada umur 7 tahun. Dengan menjadi hafizh pada usia sebegitu dini, beliau mampu menjadi seorang ahli fiqh yang pemikirannya terus hidup sampai akhir zaman. Hasan Al-Banna pada umur 22 tahun hafal 18000 syair & prosa arab, selain Al-Qur’an dan hadits. Tentu saja materi hafalan yang begitu banyak tidak dihafal sekaligus dalam beberapa tahun. Tapi dipupuk sejak kecil.

Masa kecil adalah masa yang sangat tepat untuk memulai pendidikan. Seperti kata Hasan Al-Basri, "Menuntut ilmu di waktu kecil seperti memahat di batu". Memang ada pro kontra terhadap pemberian pendidikan pada usia dini. Tapi terlepas pro kontra tersebut, kenyataannya banyak kita temukan tokoh-tokoh besar yang hafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Kembali pada kisah pengamen cilik tersebut, saya tidak tahu apakah ada saat untuk belajar mengaji - selain sekolah - bagi pengamen cilik itu, sehingga ia punya kesempatan menghafal Al-Qur’an selain menghafal lagu-lagu untuk mengamen. Sebab pertemuan saya dengannya terjadi pada sekitar pukul 7 malam. Ada kemungkinan ia masih melanjutkan aktifitasnya. Entah sampai jam berapa.

Ah… sayang sekali, bagaimana bila pengamen cilik itu punya potensi kecerdasan seperti Imam Syafi’i? Tentu ia akan jauh lebih baik bila berada dalam gemblengan & didikan yang terfokus untuk menjadi orang yang alim. Dan saya juga membayangkan dari sekian banyak pengamen cilik yang waktunya habis untuk mencari uang, tentu banyak yang memiliki potensi untuk menjadi Imam Syafi’i-Imam Syafi’i pada masa yang akan datang, andai saja berada dalam lingkungan yang kondusif.

Sekilas saya teringat dengan adik sepupu saya yang berumur 4 tahun. Gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Ia sangat hobi menyanyi. Lagu-lagu terbaru yang sering tayang di televisi, ia hafal. Ia tak segan bila diminta menyanyi. Kalau ia sedang diam, cukup dipancing dengan lagu sekilas saja, lalu ia akan meneruskan lagu tersebut.

Saya jadi cemburu, mengapa seorang anak lebih mudah menghafal lagu daripada ayat-ayat Al-Qur’an. Sekedar surat Al-Ikhlas, cukup pendek bahkan lebih pendek daripada lagu-lagu yang ia hafal. Mungkin karena lingkungan. Ia tidak dibiasakan untuk mendengarkan surat-surat pendek lalu dipancing menghafalnya. Tapi yang ada, ia dibebaskan untuk menonton televisi, mendengarkan lagu-lagu yang sedang populer, dan kemudian menghafalnya untuk dinyanyikan.

Adik sepupu saya itu memang diajarkan beberapa doa oleh orang tuanya, juga di Play Group tempat ia memulai pendidikan. Tapi tetap saja saya cemburu karena hanya segelintir doa yang ia hafal, jauh lebih sedikit dibandingkan lagu yang ia sering nyanyikan. Sekali lagi saya berandai-andai… andai adik sepupu saya itu punya potensi seperti Imam Syafi’i, maka ia akan tumbuh maksimal pada lingkungan yang mendukung.

Out of topic, kalau boleh menganalisa, mungkin karena sebuah lagu memiliki nada selain lirik, maka sebuah lagu mudah dihafal. Karena nada lebih mudah terekam di kepala dibandingkan kata-kata. Sering orang hafal lagu tapi hanya nadanya saja. Liriknya tidak hafal. Jadi keberadaan nada pada lagu membuat lagu mudah dihafal, lalu mengikuti juga liriknya bila lagu tersebut sering diulang-ulang.

Ketika awal mengenal Murottal, saya memiliki sebuah kaset Murottal Sa’ad Al-Ghomidi, juz 30. Terasa sekali dengan mengikuti irama mengaji Sa’ad Al-Ghomidi, saya mudah menghafal sebuah surat.

Tapi tidak mungkin bila kita mengajarkan anak kita sebuah surat dengan disertai nada-nada seperti nyanyian.

Terakhir, saya jadi teringat jasa kawan-kawan saya yang mengurus TPA. Dulu semasa kuliah, Lembaga Dakwah Kampus di LDK saya memiliki sayap dakwah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) buat anak-anak kecil di sekitar kampus. Rata-rata yang mengurus TPA, adalah aktifis yang "terpinggirkan" dari tubuh pusat LDK. Tapi mereka ikhlas sekali, sekalipun anak-anak itu nakal-nakal. Ah… rasanya rapat-rapat saya dulu ketika menjadi pengurus LDK, tidak ada artinya dengan pengabdian teman-teman saya di TPA.

*cerita di atas gak mutlak persis dengan kejadian sebenarnya

September 26, 2007

Orat oret tentang Madrid

Filed under: Orat Oret

Real Madrid telah memasuki musim 2007/2008. Ada pemain masuk, dan ada pemain yang keluar. Iseng-iseng, ngomentarin lini per lini dari real madrid ah.

Kiper: Iker tetap tak tergantikan. Bagi saya, dia kiper nomor satu di dunia saat ini. Terserah deh pendapat laen yang bilang buffon, etc. Iker udah sangat banyak melakukan penyelamatan gemilang. Saat pertahanan Madrid rapuh, Iker lah yang menjadi tameng terakhir yang sangat efektif.
Dudek udah terbukti saat adu pinalti melawan Milan pada Final Liga Champion tahun 2005. Tapi saya lebih suka Diego menjadi back up dari Iker. Sayang, saya belum pernah melihat Diego bermain saat Madrid ditangani Capello.

Bek Kanan: Di situ ada Ramos, Salgado dan Torres. Saya lebih memilih Ramos.
Cicinho telah pindah ke Roma. Cicinho adalah bek kanan yang lincah dan punya gocekan ala brazil. Kalau dari segi penyerangan, Cicinho saya nilai sangat baik. Tapi sebagai bek kanan, Cicinho malah lemah dalam bertahan.
Sergio Ramos punya kemampuan bertahan yang baik. Bahkan ia bisa menjadi central bek. Gocekan Sergio Ramos tak kalah dengan Cicinho. Crossingnya pun baik. Dari segi penyerangan, Ramos sama baiknya dengan Cicinho. Jadi over all, Sergio ramos lebih baik dari Cicinho.
Salgado saya nilai tidak terlalu baik dalam menyerang dan juga tidak terlalu baik dalam bertahan. Dari segi usia, Salgado tidak layak dipertahankan.
Miguel Torres baik dalam bertahan. Kalau menyerang, Torres tidak sehebat Ramos. Saya lebih memilih Torres menjadi back up Ramos.

Central Bek: Ada beberapa nama seperti Cannavaro, Pepe, Metzelder, Ramos pun bisa beroperasi di sektor ini. Saya memilih duet Canna dan Metzelder. Rasanya tidak perlu membicarakan Canna. Kita sudah tahu kualitasnya. Cuma, usianya… rasanya tahun depan Madrid harus membeli pemain bertahan lagi, khususnya di Central Bek untuk menggantikan Canna.
Metzelder tinggi. Dia adalah bek nasional Jerman. Kemampuan bertahannya cukup baik. Pepe, saya tidak terlalu tahu bagaimana kualitasnya. Tapi, saat melawan Sevilla dia melakukan banyak blunder sehingga Madrid kalah 5-3. Ramos cukup baik menjadi bek tengah. Tapi dia lebih diperlukan di kanan.

Bek Kiri: Ada Heinze, Drenthe, dan Marcello. Tiga-tiganya punya kualitas yang sama. Dulu saya tidak suka dengan Heinze, berawal dari pertandingan Arsenal vs MU. Heinze membuat penyerangan Arsenal mati kutu. Saya tidak suka karena kualitasnya yang bagus membuat Arsenal, klub yang juga saya suka, tidak berkembang :D . Sekarang dia sering banget cedera. Saat tulisan dibuat, Heinze sedang cedera. Sebelumnya waktu masih di MU, dia jarang diturunkan karena cedera, dan kualitasnya juga sudah menurun.
Drenthe, wah ini bener-bener jelmaan Davids. Punya power.
Marcello, punya gocekan gaya brazil. Tapi dari segi bertahan saya lebih suka Drenthe.

Sayap Kanan: Ada Robinho dan Higuain. Ya, Higuain diarahkan menjadi sayap kanan oleh Schuster. Padahal posisi aslinya adalah striker. Robinho, rasanya tidak perlu didiskusikan kehebatannya. Sebab yang ada malah pujian terus. Higuain belum begitu matang pada posisi sayap kanan.

Gelandang Bertahan: Ada Diarra dan Gago. Diarra punya power yang kuat. Tekel2nya mematikan. Saat lawan Sevilla pada musim 2006/2007 di kandang Madrid, Diarra sukses mematikan Kanoute. Gago dipuji oleh Schuster setelah melawan Bremen. Gago lincah. Mungkin karena itu dia lebih baik dipasang untuk mematikan playmaker yang lincah seperti Diego.

Gelandang Serang & Play Maker: Ada Guti, Sneijder, dan Baptista. Guti sebenarnya tak kalah bagus dengan Sneijder untuk menjadi playmaker. Kalau mereka berdua main, Madrid seperti memiliki dua playmaker. Sneijder punya kelebihan lain: akurasi dan power tendangan. Saat ini Sneijder sedang bertabur pujian. Baptista punya potensi. Sayang Schuster jarang memilih Baptista sekalipun saat ini Schuster menerapkan prinsip rotasi pemain.

Sayap Kiri: Ada Robben, Sneijder, dan Drenthe. Saya salut sama Robben. Kecepatan dan kemampuan dribllingnya sangat brilian. Sayang rentan cedera. Sneijder juga tak kalah baik menjadi sayap kiri. Dan Drenthe, meski di bawah Robben dan Sneijder, tapi cukup bagus di sayap kiri.

Striker: Menumpuk! Ada Nistelrooy, Raul, Saviola, Higuain, dan Soldado. Tapi Higuain lebih diarahkan ke sayap kanan. Nistelrooy adalah top scorer 06/07. Punya finishing yang cantik. Raul cukup energik. Saviola punya kecepatan. Soldado, saya belum tahu seperti apa kemampuannya.

Pelatih: Schuster sejauh ini sudah memperlihatkan kapasitasnya. Melatih Getafe aja bisa bagus, apalagi Madrid. Insya Allah.

Kalau mau lihat squah Madrid, bisa dilihat di sini http://realmadrid.com/plantilla/portada_eng.htm

Starter pilihan:

Iker Casillas, Sergio Ramos, Cannavaro, Metzelder, Heinze, Robinho, Diarra, Sneijder, Robben, Nistelrooy, Raul.

September 18, 2007

Bencana di Indonesia, azab kah?

Filed under: Orat Oret

Suatu waktu ada pertanyaan di sebuah forum diskusi, kenapa bangsa Indonesia yang sebagian besar muslim, banyak mengalami bencana. Apakah itu adalah azab?

Waktu itu postingan saya seperti ini:

—————————————————-

"Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." QS Al-Anfaal : 25

Bahwa kejahatan menimbulkan bencana, memang iya. Dan bencana tersebut - seperti telah diperingatkan oleh Allah pada surat Al-Anfaal - tidak terjadi khusus pada orang yang zhalim saja. Tapi bencana itu datang dengan seketika menghampiri kawasan yang di sana sudah tersebar kezhaliman.

dalam sebuah hadits digambarkan, ada sekelompok orang yang sedang berlayar menggunakan kapal. Pada kapal tersebut, ada yang menempati ruangan di bawah dan di atas. Orang yang berada di dek bawah, apabila harus mengambil air, harus naik ke atas terlebih dahulu. Agar mudah, orang-orang di dek bawah berniat melubangi dasar kapal agar mudah mengambil air. Apabila tidak ada orang yang melarangnya, maka kapal itu akan tenggelam.

Seperti itu gambaran musibah yang menimpa secara keseluruhan baik orang-orang yang baik maupun yang buruk.

Terus, adakah kejadian2 di Indonesia ini azab?

"Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri" An-Nisa : 79.

Kenapa tidak di negara lain?

Begitulah Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Bukan berarti ketika ‘azab turun pada zaman Nabi Musa, Nabi Luth, Nabi Hud dsb, cuma belahan bumi tersebut saja yang banyak kemaksiatannya, lho.

Dan bukankah di Indonesia banyak yang muslim?

Ya. Tapi bukankah seorang muslim apabila berbuat salah maka disegerakan balasannya di bumi agar di akhirat ia terbebas dari kesalahan tersebut. Sedangkan orang yang kafir maka ditangguhkan balasannya hingga hari akhir.

Allahu’alam bish-showab.

Cuma mo ngingetin, bahwa sebelum azab turun kepada Fir’aun, Fir’aun telah ditegur dengan berbagai musibah dari serangan hama, air yang berubah menjadi darah, dll. Tapi pada akhirnya Fir’aun dan pengikutnya tak juga kunjung beriman sehingga Allah menimpakan azab yang lebih besar lagi.

Setelah banyaknya musibah2 yang melanda di Indonesia ini, gak ada alasan buat para koruptor untuk meneruskan kebiasaan mereka. Nunggu apa lagi? Sedangkan Allah sudah berulangkali menegur mereka.

——

Lihat keajaiban masjid pasca gempa Aceh di http://andaleh.blogsome.com/2008/02/26/keajaiban-masjid-pasca-gempa-aceh/

August 19, 2007

Penjara Dunia instead of Penjara Akhirat.

Filed under: Orat Oret

"Ad-Dunya sijnul mukmin wa jannatul kafirin". (HR Muslim)

Arti hadits di atas adalah dunia itu adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Berarti apa ya? Hidup di dunia ini bagi mukmin bagaikan di penjara. Seorang mukmin, tentu saja akan mematuhi larangan-larangan yang telah Allah tetapkan. Makanan seorang mukmin diatur, dilarang makan babi, dilarang minum khomr, darah, bangkai, dll. Dalam berbisnis, ada larangan-larangan bagi mukmin, tidak boleh memakan riba, tidak boleh curang, tidak boleh berbisnis yang membuat orang berbuat maksiat, dll. Seperti dikekang dalam penjara.

Bagi orang kafir? Terlebih atheis, orang kafir tidak mengenal larangan yang macam-macam dalam hidupnya. Memang ada agama yang melarang pemeluknya memakan daging hewan. Juga agama samawi mengenal larangan-larangan yang dikenal dalam Islam. Tapi toh, keterikatan orang kafir terhadap tuhan (t kecil :D ) mereka tidak sekuat keterikatan mukmin dengan Robbnya. Orang kristen diperintahkan oleh Yesus untuk memberikan pipi kirinya apabila pipi kanannya ditampar orang, adakah yang benar-benar berbuat seperti itu? Yang ada juga menampar double. (Gedungnya di bom, eh malah ngebales dengan ngebom banyak kota sekaligus :D . Kota orang yang gak ada hubungan dengan pengeboman gedung itu padahal :p)

Memahami hadits ini, adakah kita harus menunjukkan hidup seperti benar-benar dalam penjara? Tidak bisa hidup mewah, selalu terlihat sengsara… Suatu ketika ada seorang mukmin yang berjalan di atas kendaraannya dengan pakaian yang mewah. Melihat hal itu, seorang kafirin mengkritisinya, bukankah seharusnya seorang mukmin itu hidup bagaikan dalam penjara di dunia ini. Lalu mukmin tersebut berkata, yang intinya, "Saya hidup dengan kemewahan seperti ini di dunia, adalah seperti penjara dibanding yang akan saya dapatkan di surga nanti. Dan anda dengan kemiskinan seperti itu di dunia, bagaikan surga dibanding apa yang anda rasakan di neraka nanti."

Telak!!

Dunia itu penjara bagi mukmin, dengan berbagai larangan yang turun dari Robbul Izzati. Bagi saya, hidup di dunia ini memang pahit. Selalu ada saja masalah. Dan masalah (baca: ujian) itu memang sudah menjadi bagian hidup orang mukmin.

Mungkin orang bilang, "Life is beautiful". Bo, gak peduli mukmin atau kafir, yang namanya masalah selalu ada. Orang kafir dengan segala kebebasan yang ia miliki, tetap saja tertimpa masalah. Bedanya dengan mukmin, seharusnya masalah itu tidak membuat seorang mukmin berkeluh kesah. (Hadits mengatakan sungguh ajaib kehidupan seorang mukmin, apabila mendapat nikmat ia bersyukur, apabila mendapat musibah, bersabar.)

Misal kita disuruh mengangkat seorang atlit sumo. Mana lebih ringan mengangkat atlit itu di darat atau di laut (tepi laut?). Jelas di tepi laut, karena ada bantuan air laut yang menahan beban pesumo tersebut. Nah, saat berhadapan dengan masalah, seorang kafir seperti mengangkat pesumo di darat, sedangkan orang mukmin seperti mengangkat pesumo di laut. Masalah yang dihadapi orang mukmin dan orang kafir mungkin sama, tetapi bedanya, orang mukmin mendapat pertolongan dari Allah.

Hidup di dunia itu seperti penjara bagi saya. Punya banyak masalah, punya banyak keinginan yang tidak bisa terkabul di dunia… "Gak bersyukur banget sih, Zic? Itung deh, lu itu udah banyak banget nimat yang Allah kasih buat lu. Punya banyak kenikmatan yang orang laen gak dapet!!!"

Jah… bukannya bermaksud melontarkan kekecewaan terhadap Tuhan atas hidup yang ada. Oke deh, ada banyak hal yang harus saya syukuri instead of berkeluh kesah. Tapi Rasulullah ketika mensabdakan hadits seperti di atas bukan berarti sedang berkeluh kesah dong!!! Begitu juga saya!

Tidak ada semangat berkeluh kesah ketika saya bilang hidup itu tidak enak. Hidup itu seperti penjara. Tapi ungkapan itu sebagai motivasi saya untuk masuk surga! Memotivasi saya untuk merindukan surga yang penuh kenikmatan, yang tidak ada masalah di sana.

Salah satu penjara yang saya dapatkan di dunia ini adalah: di dunia ini saya diharuskan untuk menjaga pandangan. Padahal, yang namanya Jl Sudirman Jakarta, bejibun cewek-cewek kantoran yang… wow :D . Untuk dipandang aja menggoda, apalagi kalau ada kesempatan lebih jauh.. (na’udzubillahi min dzalik).

Sebenernya… gak tau deh bener apa gak… itu yang menjadi alasan saya untuk menempatkan kriteria "cantik" dalam mencari istri, sekalipun orang akan bilang "gak malu ama kaca nih anak!" Sebabnya, ketika saya melihat yang bening-bening di luar, istri yang cantik di rumah bisa menjadi penyeimbang. Tapi kalau balik ke rumah mendapati istri tidak seindah yang diluar… saya takut saya malah kecewa dan punya kecenderungan untuk… yah… mudah-mudahan tidak terjadi.

Tolong dooong.. yang membaca tulisan ini, saya minta pendapatnya. Kalau alasan saya itu salah, mohon banget dikoreksi di komentar :)

Tapi kemudian saya tidak lagi berpikiran seperti itu, kok. Sekarang ini, saya ingin mendapatkan istri yang bisa menolong saya agar bisa masuk surga dan tanpa sempat dihisab dulu. Saya butuh sekali istri seperti itu!!!

Percuma, saya mendapat keindahan di sini tetapi keindahan itu tidak bisa menolong saya dari kesengsaraan di akhirat. Bayangkan, satu hari di akhirat itu sama dengan seribu tahun di dunia. Menikmati gadis cantik selama - anggap lah - 40 tahun, tapi tidak bisa menolong, misalnya, satu hari terbakar di akhirat, buat apa??? Selisih 960 tahun. Ih sereeem…

Alhamduillah paradigma saya saat ini bisa berubah :) . Saya kesampingkan kriteria cantik, minang, dan cerdas demi menolong saya dari penjara yang lebih hebat lagi. Saya berharap Allah memberikan istri yang bisa saya terima kehadirannya, dan bisa menolong saya dari siksa akhirat. (Syukur-syukur kalo dia minang, cantik, dan cerdas. Teteeep…)

Biarlah, mungkin di luar lebih indah dari di rumah (seperti terpenjara). Tapi yang penting saya terhindar dari penjara yang lebih hebat lagi di akhirat!!!

August 14, 2007

Fenomena PKS dan Fenomena Ghurur!!

Filed under: Orat Oret

Fenomena PKS dan Fenomena Ghurur!!

Tadi malam (14 aug 2007) di todays dialog Metro TV, ada pembicaraan tentang fenomena PKS.

Pukul 21:43:40 di sms temen, "DARI FPKS:Ikuti Todays Dialogue mlm ini jam22 metrotv,tema:"PKS ANCAMAN BG PARTAI2 BESAR PEMILU 2009?" Mahfudz Siddiq/PKS&Burhanudin/Golkar SEBARKAN!dewi.s"

Berhubung sepupu berkunjung untuk membereskan program sistem informasi TU sekolah tempat dia bekerja, saya cuma bisa nonton bagian akhir dari acara itu.

Setelah Pilkada DKI, para pakar maupun masyarakat menyatakan kesalutannya terhadap PKS. Bekerja sendirian, tapi mampu mencapai 42% lebih suara. Dimusuhi 20 partai, KPUD, kiai-kiai kampung yang memfitnah PKS sebagai GAM (Gerakan Anti Maulid) dan anti Tahlilan, RI1&RI2 (penunjukan Prijanto konon dari RI1. RI2? Jelas-jelas berpihak pada Foke), didemarketing dengan isu penegakkan syari’at, dll. Masih bisa meraih suara 42% lebih. Bukan cuma itu, lihat siapa calon yang diusung PKS? Seberapa terkenalkah Adang Darajatun sebelum 2007? Sangat sedikit yang mengenal. Lalu siapa Adang Darajatun? Mantan Wakapolri. Seorang polisi! Profesinya dibenci oleh masyarakat karena prilaku yang kotor dalam bertugas. (Oknum siiih…. tapi kok oknum bisa jadi mayoritas ya? Gimana masyarakat ga tergoda untuk menggeneralisasi).

Intinya? Setelah menghadapi rintangan dan tantangan menghadang, PKS….. kalah dalam pemilu. Kalah tapi dengan kepala mendongak. 42% lebih bo!

Itulah alasan PKS jadi buah bibir masyarakat.

Lalu bagaimana kadernya pasca kekalahan? Hmm… let’s see…. setelah berinteraksi dengan beberapa kader PKS, juga melihat-lihat internet sana-sini… jangan salahkan saya kalau saya mengambil kesimpulan bahwa kader PKS sedang terjebak dalam ghurur, dalam ujub, bahkan rasa sombong atas raihan suara PKS (sekali lagi jangan salahkan saya. Kalau benar, itu dari Tuhan, kalau salah, itu dari syetan yang membisikkan yang salah-salah. Salahin setan aja :p).

Kader sedang sibuk mengembangkan kupingnya lebar-lebar, ingin mendengar setiap pujian yang disampaikan orang-orang tanpa luput. Setiap acara di JakTV atau dari Metro TV atau stasiun televisi lain yang membahas tentang PKS, akan cepat tersebar di kalangan kader. Mereka saling menginformasikan agar jangan sampai acara itu terlewati. Kader sedang sibuk membuka matanya lebar-lebar atas pemberitaan di koran atau internet yang menyatakan kesalutannya atas fenomena PKS.

Bangga!!! PKS dipuji dan kadernya bangga. Walau entah seberapa besar peran seorang kader dalam memperjuangkan kemenangan PKS dalam pilkada kemarin, kader tersebut akan sangat sangat bangga dengan sanjungan terhadap PKS. Kepada teman-temannya, kader tersebut memperbincangkan fenomena PKS, berharap ada pujian dari mereka.

Teruslah seperti itu, agar PKS terperosok jauh pada 2009. Lupakanlah fenomena Hunain. Kesombongan telah mengalahkan hamasah, tawakal, dan roja’ kepada Allah SWT. Lalu kwantitas yang unggul itu hanya menjadi buih.

Ingin rasanya saya teriakkan ke setiap telinga kader PKS agar tidak terlena akan fenomena ini. KARENA BUKAN UNTUK INI KITA BERJUANG!!!! INGAT, KITA INGIN AGAR KALIMAT ALLAH TEGAK DI MUKA BUMI. BAGAIMANA MUNGKIN KITA BANGGA, TERSANJUNG, SEDANGKAN KALIMAT ALLAH BELUM MENGGAUNG DI JAKARTA INI???? Kita berjuang untuk li’ila-i kalimatiLlah! Bukan agar perolehan suara kita mengejutkan para pengamat politik!

Ayyuhal Ikhwan…. Kembali lah kepada agenda kalian semula.

o> Teruskan perjuangan kalian untuk mensejahterakan ummat dengan baksos-baksos kalian, dengan layanan kesehatan gratis kalian, yang tidak seberapa sering diadakan.

o> Teruskan perjuangan kalian untuk mencerdaskan ummat dengan bimbel-bimbel gratis yang diberikan kepada putra-putri warga yang masih sekolah. Teruskan program beasiswa kalian yang tak seberapa.

o> Teruskan perjuangan kalian untuk mensolehkan masyarakat dengan majlis-majlis ta’lim kalian, TPA, Remaja Masjid, Rohis-rohis di SMU dan Universitas….

Teruskan agenda-agenda kalian yang lain! Berhentilah membicarakan "bagaimana hebatnya kita atas pengepungan orang2 yang dengki kepada dakwah kita", dan tataplah program-program real! Ummat masih miskin. Ummat masih bodoh. Ummat masih jauh dari syari’at Islam. Kita dihadirkan untuk membangkitkan ummat, bukan untuk sibuk mengagumi kerja kita!!!

Allahu’alam bish-showab.

—–

Silakan baca juga http://andaleh.blogsome.com/2008/05/12/antara-ajakan-primer-dan-sekunder/

June 9, 2007

Moral

Filed under: Orat Oret

Apakah moral itu relatif?

Saya setuju, moral itu relatif. Kok???

Ya, moral adalah rumusan budaya setempat. Setiap tempat memiliki standard moral yang tidak sama. Suatu hal yang patut pada suatu daerah, belum tentu patut dinilai oleh masyarakat di daerah lain.

Misalnya saja, berjalan di depan orang yang lebih tua tanpa membungkukkan badan di tanah Batak adalah hal yang wajar-wajar saja. Tapi tidak demikian di Jogja. Hal itu akan dianggap suatu kesombongan. Itulah makanya menurut saya moral itu relatif.

Tapi budaya terus mengalami perkembangan sehingga standard moral pun akan mengalami perubahan.

Islam mengenal ‘urf atau adat kebiasaan. ‘Urf menjadi salah satu hukum dalam Islam. Tentu saja selama ‘urf tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Samakah ‘urf dengan moral? Itulah, karena menurut saya moral itu hasil budaya, dan benar atau salah moral itu dinilai oleh budaya setempat, maka ada keterkaitan antara ‘urf dan moral. ‘Urf adalah kebiasaan yang dianggap baik oleh suatu lingkungan tertentu. Begitu juga moral, yang adalah sikap tingkah laku seseorang yang dinilai oleh budaya. Duh… mulai membingungkan kan ya? Cape deeh. Tapi yang jelas, moral itu dekat artinya dengan akhlak. Sedangkan ‘urf adalah adat yang dianggap baik.

Jadi, kalau kita dinilai bermoral buruk karena tingkah laku kita oleh masyarakat, kemudian kita menjawab, “lho.. kan perangai saya ini tidak dilarang dalam Islam.” , tetap saja kita bersalah karena telah membuat orang sekitar kita tidak nyaman. Hati masyarakat harus ditenggang dengan cara mematuhi standard-standard moral yang berlaku.

Ingat bahwa moral itu relatif menurut budaya setempat. Bukan menurut individu. Karena yang menilai suatu prilaku itu moral atau immoral adalah masyarakat. Di sini, pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung" berlaku. Kalau kita melabrak, kita akan terkena hukum norma oleh masyarakat. Wajar saja.

Ada segelintir orang yang tidak suka dengan RUU APP, lalu mereka bilang “jangan paksakan standar moral kalian kepada saya! Setiap orang memiliki standar moral berbeda-beda.”

Oke, relatif sih relatif. Tapi relatifnya moral itu disandarkan pada penilaian publik suatu tempat, bukan penilaian perorangan.

Lalu, kalau moral itu relatif, berarti kita tidak dapat memaksakan konsep akhlak Islam kepada masyarakat, dong? Karena belum tentu konsep akhlak Islam itu sesuai dengan masyarakat.

Pada masyarakat yang baru di sentuh dakwah, saat kita memulai melakukan terobosan berupa pengenalan Islam kepada masyarakat tersebut, tentu saja kita harus mematuhi kaidah "tidak ada paksaan dalam beragama". Dalam artian, selain kita tidak memaksakan orang lain masuk agama Islam, kita juga tidak bisa semena-mena memaksakan standar akhlak kepada suatu lingkungan. (Sekali lagi, masyarakat tersebut baru diperkenalkan dengan Islam). Selisih standard yang ada akan menimbulkan resistensi di masyarakat tersebut.

Lalu? Budaya terus berkembang, dan menyeret serta moral yang dirumuskan oleh budaya tersebut. Pada perputaran waktu yang ditunggangi oleh perkembangan budaya itu, perlahan-lahan kita bisa mengubah paradigma masyarakat tentang moral ke arah rumusan akhlak yang dinginkan oleh Islam.

Maka ketika kita mengenalkan Islam pada suatu lingkungan, pertama kali kita harus merebut hati orang-orang yang berada di lingkungan itu. Bukan dengan memaksakan suatu peraturan-peraturan yang memugar kembali tatanan budaya yang ada dan standard-standard kepatutan yang berlaku di lingkungan tersebut. Tentu berat buat mereka. “Permudahlah jangan mempersulit”, begitu kata Rasulullah.

Setiap perilaku yang buruk, pasti akan berbenturan dengan fitrah manusia. Kalau kita meyakini bahwa Allah SWT tidak merumuskan suatu konsep akhlak kecuali itu semua adalah kebaikan dan selaras dengan fitrah manusia, maka kita yakin bahwa Islam sendiri tidak mengenal perilaku buruk tersebut.

Sesungguhnya konsep akhlak dalam Islam sangat dekat dengan fitrah manusia. Akhlak Islam itu indah, simple dan praktis. Akhlak Islam dekat dengan keadilan, tapi tidak mengabaikan kasih sayang. Islam tidak memerintahkan umatnya memberikan pipi kirinya apabila pipi kanannya di tampar. Tapi Islam – dengan mengusung nilai keadilan – memberikan kesempatan bagi yang dianiaya untuk membalas penganiayaan dengan setimbang. Dan Islam juga – dengan mengusung nilai kasih sayang – memberi apresiasi lebih kepada yang mau memaafkan. Sangat elegan!!!

Tidak terhitunglah banyaknya cerita orang-orang yang berbondong-bondong memeluk islam karena ketinggian ajaran akhlak Islam.

Setelah kita merebut hati masyarakat, kita masuk pada keresahan akan ketidakselarasan perilaku yang berkembang di masyarakat dengan fitrah manusia. Perlahan-lahan kita mengenalkan alternatif akhlak yang lebih fitri. Rabalah, bagaimana hati yang telah simpati itu – dengan izin Allah – akan bergetar mengakui keagungan akhlak Islam.

Dan pada akhirnya, standard moral yang relatif itu berubah juga sesuai dengan perubahan paradigma masyarakat.

Akhlak Islam itu sesuai dengan fitrah manusia, sama-sama sudah kita ketahui. Tapi mengapa di sebagian besar belahan bumi ini umat manusia lebih memilih akhlak yang antagonis? Dan semakin lama semakin jauh dengan fitrah. Yang sangat parah, pernikahan sesama jenis dilegalkan.

Itulah karena du’at belum bisa memenangkan hati mereka. Untuk ini, kita bisa memberi selamat atas kesuksesan orang-orang yang – entah harus bagaimana saya memberi label pada para teroris itu – … yang telah membuat stigma manusia kepada Islam menjadi buruk, yang telah menjauhkan manusia kepada du’at yang hendak mengenalkan akhlak Islam kepada mereka.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” Ali-Imran 159.

May 29, 2007

Demarketisasi

Filed under: Orat Oret

Demarketisasi!!!
 
Pada pemerintahan Megawati, kelompok mahasiswa yang sering berdemonstrasi meminta Mega turun dari jabatannya, tidak begitu  yakin bahwa Megawati akan mendengar tuntunan mereka dan kemudian lengser keprabon. Atau anggota MPR mendengar tuntutan mereka dan kemudian mengadakan Sidang Istimewa untuk menjatuhkan Megawati Sukarno Putri. Lalu, mengapa mereka masih terus berdemonstrasi?
 
Oke, tuntutan idealisme adalah salah satunya. Megawati saat itu jelas-jelas tidak berpihak pada reformasi dan malah makin menyuburkan praktek KKN. Dan salah satu prestasinya adalah penjualan Indosat dengan harga murah kepada pihak asing. Kita sama-sama tahu lah, Indosat adalah aset yang sangat berharga selain keberadaannya yang vital sebagai salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Bayangkan, pembicaraan rakyat Indonesia akan mudah disadap oleh pihak asing, dalam hal ini Singapura yang menguasainya.
 
Hmm.. Megawati sepintas seperti sebuah Trojan Horse dalam istilah komputer. Atau dalam dunia perwayangan Yunani kuno, seperti Patung Kuda yang dihadiahkan kepada kota Troja yang berfungsi sebagai alat masuk musuh ke dalam kota. Ya sama saja, Trojan Horse juga namanya :-p.
 
Lalu adakah alasan lain? Ya ada, dan itu yang mencapai target. Yaitu demarketisasi!!! Alasan Mahasiswa mengadakan gelombang demonstrasi saat itu adalah untuk melakukan demarketisasi terhadap Megawati. Agar saat pemilu pilpres popularitas Megawati telah anjlok jlok jlok.
 
Proses demarketisasi sangat diperlukan, untuk membuka mata masyarakat akan kegagalan Megawati sebagai presiden. Mungkin dengan adanya kebijakan-kebijakan Mega saat itu, sudah otomatis men-demarketisasi dirinya sendiri dan seharusnya mahasiswa tidak perlu berpanas-panas ria turun ke jalan mendemarketisasi pemerintahan Megawati. Tapi Megawati bukanlah pihak yang lemah. Pemilu tahun 99 saja memperoleh 35 persen suara. Perlu usaha yang lebih keras lagi untuk meruntuhkan Megawati dari hati asyarakat. Hasilnya? Tercapai sudah! Meski sempat masuk ke putaran ke dua dan suara yang diperolehnya saat putaran kedua hanya beda tipis dengan perolehan SBY-JK.
 
Well… ada tugas demarketisasi lain menanti!!
 
Saat kamu merasa bahwa sebuah pemimpin telah gagal, dan pemimpin tersebut dengan pede tidak peduli terhadap kegagalannya bahkan hendak mencalonkan diri lagi, maka tindakan yang harus kamu lakukan adalah mendemarketisasi, membuka mata dan telinga orang-orang agar tahu bahwa pemimpin itu telah gagal.
 
Nah, bayangkan, pemimpin yang telah menghadirkan banjir hebat bagi Jakarta, dengan pedenya mengusung slogan "serahkan jakarta pada ahlinya." Ngocol banget gak tuh. Untuk orang ini harus harus harus didemarketisasi!!!
 
Entah apa yang dikepala pasangan banjir ini, berani-beraninya mengaku sebagai ahlinya Jakarta. Padahal prestasinya hancur-hancuran.
 
Busway, underpass, dan pembangunan jalan-jalan lain? Kita tidak menafikan prestasi di bidang infrastruktur. Tapi toh prestasi itu tak lepas dari kebobrokan di dalamnya. Dua pasangan itu seperti tidak peduli dengan lingkungan. ‘Prestasi’nya itu memanjakan pengguna kendaraan bermotor di tengah-tengah kampanye untuk menghemat emisi dan menjaga lingkungan. Kita tahu, salah satu efek rumah kaca yang menipiskan ozon disebabkan oleh gas karbondioksida yang dihasilkan oleh kendaraan. Apa tak punya cara lain untuk menghindari macet sekaligus menjaga lingkungan?
 
Pembangunan infrastruktur yang kasar terhadap lingkungan itu juga berbuah banjir besar. Apa yang kurang pelajaran dari banjir tahun 1992? Bukankah saat itu gebernurnya Bang Yos juga. Dan Foke pun hidup saat itu. Bukankah seekor keledai tak jatuh pada lubang yang sama dua kali?
 
Pengerjaan kanal barat dan kanal timur yang bisa sedikit banyak menyelamatkan warga Jakarta dari banjir tak lebih prioritas dari sebuah alat transportasi bernama BusWay.
 
Sebaiknya wakil gubernur jakarta saat ini mengakui bahwa banjir yang terakhir itu cukup menjadikan bukti bahwa dia sama sekali bukan ahlinya dalam mengurus Jakarta. Juga kemacetan yang tak juga menemukan jawaban. Wajah Ibukota yang semakin ganas dengan penggusuran-penggusuran yang mengacuhkan konsep win-win solution.
 
Belum lagi masalah Tata Kota… Ah masih banyak lagi prestasi buruk pemerintahan Sutiyoso-Foke ini.
 
Cukup!!! Saya ngikut kandidat baru saja… "Ayo Benahi Jakarta!!!"
 
Kembali ke masalah demarketisasi, tadi pagi saat bus 640 yang saya tumpangi melintas di Kalibata, terlihat poster-poster yang bertuliskan "Bosen Macet? Ayo Benahi Jakarta." Itu salah satunya. Kata-kata yang lain… lupa nih. Tapi lumayan kreatif untuk membuka mata warga Jakarta akan masalah yang ada yang tidak terselesaikan oleh "sang ahli" tersebut.
 
Sebenarnya kata "Ayo Benahi Jakarta", tanpa embel-embel "Bosen Macet?","Nata Kota Kok Bikin Sengasara", dsb. sudah cukup sebagai demarketisasi. Tapi supaya lebih membuka mata warga, memang bagus apabila sebelum kata "Ayo Benahi Jakarta" itu ditambahkan kata-kata yang mengetengahkan masalah yang ada. Baru diakhiri dengan slogan optimis, "AYO BENAHI JAKARTA!!!"