July 11, 2009
Doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk pasangan pasutri baru adalah agar pernikahan mereka diberkati. Kalau sekedar bahagia, maka kehidupan kumpul kebo pun bisa membahagiakan. Karena itu, keberkahan lah yang diharapkan hadir. Dan itu sudah mencakup kebahagiaan, kelanggengan, bermanfaatnya pernikahan untuk keluarga besar dan masyarakat, hadirnya generasi Islam yang sholeh, dan sebagainya.
Keberkahan didambakan. Tetapi menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga saja kadang terasa sulit.
Komunikasi
Yang sering kita dengar dianjurkan dalam rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan adalah komunikasi. Karena rumah tangga itu bukan kita sendiri yang menjalani, tapi ada organisme lain yang sebelumnya kita mengenalnya dari luar saja, yang kita harus bekerja sama dengannya untuk menghadirkan kebahagiaan dan ketentraman.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ruum : 21)
Kita punya definisi dan kriteria sendiri tentang kebahagiaan. Begitu juga dengan pasangan kita. Dengan mengkomunikasikan kriteria dan definisi bahagia yang kita punya, kita akan mudah bekerjasama dengan pasangan kita untuk menghadirkan kebahagiaan itu.
Hanya saja, kadang ada kriteria yang susah untuk dikomunikasikan. Tidak semua kriteria yang kita punya bisa kita definisikan. Dan dari upaya komunikasi itu pun, tidak selalu pasangan kita mengerti apa yang kita maksud. Dan dari tidak semua kriteria yang berhasil dimengerti oleh pasangan kita, tidak semuanya pula bisa diupayakan. Kadang ada kriteria yang berlawanan dengan kriteria yang dimiliki oleh pasangan kita.
Karena itu, komunikasi saja tidak cukup. Perlu qona’ah dan ridho. Merasa cukup dan menerima. Serta lapang dada. Itu akan melengkapi ketidak-sempurnaan kebahagiaan yang kita idamkan. Itu sangat perlu. Kalau tidak, yang hadir adalah rasa kecewa yang menjadi jalan masuk setan untuk megompori hubungan kita dengan pasangan kita.
Upgrade standar kebahagiaan kita!!
Seorang muslim seharusnya pikiran dan perasaannya telah ter-shibghoh oleh Islam. Begitu juga standar, kriteria, dan definisi kebahagiaannya, seharusnya selaras dengan Islam.
Seorang muslim yang mengarungi rumah tangga, yang standar kebahagiaannya sudah di-tuning dengan ghiroh Islamiah, maka akan bahagia dengan jumlah anggota keluarga muslim yang ada pada keluarganya. Akan bahagia dengan kesholehan anggota keluarganya. Akan bahagia manakala rumah tangga itu memiliki manfaat terhadap sekitar. Akan bahagia manakala rumah tangganya lebih memperkuat kerja dakwah Islam.
Kebahagiaan yang selaras dengan semangat Islam itu harusnya begitu dominan dalam dirinya. Karena dengan begitu, setiap kepahitan fitrah yang dirasakan apabila dibenturkan dengan kebahagiaan yang sudah di-upgrade kepada derajat kebahagiaan islami, maka akan menanglah kebahagiaan yang islami itu.
Ada contoh yang baik pada Khansa rha. Beliau dijuluki ibu para syuhada. Siapa yang tidak pedih anaknya tewas dibunuh orang. Fitrah seorang ibu, tentu akan sedih sekali. Dan bagaimana lagi bila semua anaknya yang berjumlah 4 orang tewas dibunuh orang? Tetapi kebahagiaan melihat anak-anaknya syahid mengalahkan kepedihan yang manusiawi itu. Ia malah bersyukur atas kematian putranya.
Maka, kebahagiaan yang sudah tercelup dengan sibghoh Islam, akan mengalahkan kerinduan seorang istri yang ditinggal suaminya untuk berdakwah. Akan mengalahkan rasa repot seorang ibu mengurus anaknya yang banyak namun sholeh/sholehah semua. Akan mengalahkan ego istri untuk berbelanja demi menghemat uang untuk diinfakkan.
Satu cerita lagi. Suatu ketika istri-istri Rasulullah meminta tambahan belanja. Mereka merasa tidak puas dengan uang belanja yang sedikit yang mereka terima. Tetapi Allah menggertak mereka. Mereka diminta memilih antara tambahan belanja dan kehidupan dunia yang menyenangkan vs Allah, Rasul, dan dunia akhirat. Mereka memilih pilihan yang kedua. Itulah contoh kebahagiaan yang ter-upgrade.
"Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, kalau kalian semua menghendaki kehidupan dunia dan kemewahannya, maka marilah saya akan memberikan kepada kalian kesenangan sementara, lalu saya akan menceraikan kalian dengan cara yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kalian menghendaki Allah dan Rasul Nya, serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan untuk wanita-wanita yang shalihat di antara kalian pahala yang besar."(Al-Ahzab 28-29)
Poligami dan Kebahagiaan
Sedikit selipan, dan karena untuk bahasan ini juga tulisan ini dibuat. Ada yang bilang bahwa poligami itu tidak membahagiakan. Benarkah?
Yang jelas standar kebahagiaan tiap orang itu berbeda. Dan poligami itu sendiri harus dilihat latar belakang motivasinya apa. Bukan tidak mungkin saran poligami itu datang sendiri dari seorang istri sebagai suatu kriteria kebahagiaannya. Kaget dengan hal itu?
Dan poligami yang lahir dari motivasi untuk maslahat umat atau dakwah, tentunya tidak akan membuat seorang istri sholehah tidak bahagia. Karena kebahagiaan seorang istri sholehah tentu ada pada maslahat umat/dakwah. Memang ada rasa sakit pada istri yang dipoligami, dan itu dibuktikan sendiri oleh istri-istri Rasulullah. Tapi rasa sakit dan cemburu itu tentu akan dikalahkan oleh rasa cinta kepada umat/dakwah yang dominan.
Apabila dalam poligami yang dilakukan oleh seorang suami ada motivasi-motivasi kebaikan, maka kesedihan seorang istri yang suaminya berpoligami akan dikalahkan oleh rasa bahagianya sendiri untuk melihat kebaikan yang akan hadir oleh poligami.
Jadi, jangan terlalu dini memvonis poligami itu tidak akan membahagiakan. Itu tergantung standar kebahagiaan dan motivasi poligaminya.
Allahu’alam bish-showab.
April 28, 2009
Jantan memiliki arti yang sama dengan pria. Tapi jantan lebih digambarkan dengan keperkasaan, kekuatan, dan keberanian. Sifat tersebut dalam kehidupan memang selalu dilekatkan pada pria. Dan secara kodratnya, pria lebih perkasa daripada wanita – yang digambarkan dengan sifat kelembutan.
Saat yang paling jantan dalam kehidupan pria adalah ketika ia menjemput sendiri ‘mitsaqon gholizo’. Kenapa bisa disebut saat yang paling jantan? Apa hubungannya dengan mitsaqon gholizo? Mari kita bahas dulu tentang mitsaqon gholizo.
Mitsaqon gholizo bermakna ikatan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT tiga kali menyebut kata ini. Pertama dalam Al-Ahzab ayat 7, perjanjian antara Allah dan Rasul-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”.
Kemudian pada An-Nisa 154, antara Allah SWT dan Bani Israil. “Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”
Dan terakhir pada An-Nisa ayat 21, perjanjian antara suami dan istri. “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”
Allah menggunakan kata mitsaqon gholizo dalam pernikahan, sebagaimana Allah menggunakannya untuk perjanjian antara Ia dan Rasul-Nya, serta Ia dan Bani Israil.
Mitsaqon gholizo adalah perjanjian yang sangat serius. Untuk Bani Israil, Allah sampai mengangkat gunung Thursina ke atas kepala mereka. Coba bayangkan, jangankan gunung, apa rasanya kalau ada yang mengancam atau menginterogasi kita dengan cara mengangkat sebuah batu besar di atas kepala kita? Tentu kita merasa ketakutan. Dan begitulah proses perjanjian mitsaqon gholizo.
Dan untuk Nabi, Allah tidak kalah kerasnya mengancam. Bahkan seorang kekasih-Nya pun diancam seperti ini: “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (QS Al-Haaqqah : 44-48).
Bukan main konsekuensi dari mitsaqon gholizo ini. Karena itu, wajar bila disebut saat yang paling jantan bagi seorang pria adalah saat ia menjemput sendiri mitsaqon gholizo, ketika ia datang ke rumah orang tua seorang gadis untuk menikahinya.
Khusus untuk pernikahan, wanita lah yang mengambil perjanjian yang kuat dari seorang pria yang teruji kejantanannya. Tapi bukan berarti konsekuensinya kecil. Dalam buku fiqh prioritas, Yusuf Qardhawi membuat bab yang berjudul “Mengutamakan Hak-Hak Manusia Atas Hak-Hak Allah”.
Hak manusia memang lebih utama dipenuhi. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa para ulama berpendapat, “Sesungguhnya hak-hak Allah Ta’ala dibangun atas dasar toleransi, sementara hak-hak manusia dibangun atas dasar kepastian (ketat).” Dan dalam hadits disebutkan bahwa seorang yang mati syahid, sebuah amal yang sangat besar pahalanya, terhalang masuk surga karena ada hak manusia yang tidak terpenuhi, misalnya hutang atau lebih parah lagi pencurian. Seorang pencuri ketika bertaubat, insya Allah dihapuskan dosanya oleh Allah. Tapi tidak cukup di situ, selama ia belum meminta maaf kepada manusia, urusannya belum selesai.
Tanpa terangkat sebuah gunung ke atas kepalanya, atau ancaman pemotongan urat jantung, seorang pria membuat ikatan dengan seorang gadis untuk beberapa misi yang sangat sulit. Misi yang sulit itu adalah : Menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Hanya yang jantan lah yang bisa menjalankan misi tersebut!
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6)
Jelas misi ini sangat sulit. Menjaga diri sendiri dari api neraka saja sangat sulit. Pada misi yang ia hampiri sendiri ini, seorang pria harus melindungi tidak cuma dirinya, tapi juga keluarganya dari api neraka.
Seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan ia akan dimintakan pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya ini. Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin… Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka…” (Shahih Muslim No.3408)
Dan dalam An-Nisa : 34, Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”
Belum lagi, apa yang dipimpinnya, kadang ‘menjadi musuh’ bagi dirinya (lihat QS At-Taghabun (64) : 14). Sangat-sangat tidak mudah menjaga diri dari api neraka yang dikelilingi oleh kenikmatan. Wajar disebut jantan bagi seorang yang berani mengambil peran memimpin diri dan orang lain dari api neraka.
April 1, 2008
“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
"Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." (HR. Turmudzi).
Mungkin hadits pertama lebih populer di kalangan wanita muslim dibanding hadits kedua. Begitu juga sebaliknya, hadits kedua lebih populer di kalangan pria muslim dibanding hadits pertama.
Hadits pertama terasa memberikan perlindungan kepada wanita dari pandangan-pandangan berlandaskan nafsu. Memberikan perlindungan kepada wanita solehah agar tidak tersingkir dari peluang dinikahi hanya karena hitungan duniawi. Itulah mengapa hadits pertama lebih populer di kalangan wanita mukmin. (Mungkin… Saya belum pernah mengadakan survey ilmiah).
Ayat lain yang memberikan perlindungan yang sama ada pada QS Al-Baqarah 221.
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…"
Peringatan "engkau akan celaka" pada hadits peratama adalah peringatan yang serius dari Rasulullah terhadap pria mukmin. Mengesampingkan pertimbangan keimanan saja sudah menjadi sebuah kecelakaan yang serius. Dan lebih serius lagi karena terjadi untuk membangun sebuah lembaga bernama pernikahan.
Apabila menikah itu menggenapkan separuh dien, karena selama membujang itu dien kita belum ‘genap’, lalu bagaimana mungkin dien itu ditambal oleh dunia yang dalam pandangan Allah tidak lebih bernilai dari sayap nyamuk? Bukankah seharusnya dien itu pun ditambal dengan dien pula sehingga genap, yaitu pernikahan yang berlandaskan keimanan!!! Bisakah pernikahan berlandaskan nafsu menambal dien yang belum genap dari seorang bujangan?
Begitu pula hadits yang kedua, juga memberikan perlindungan kepada pria mukmin dari penolakan yang tidak berlandaskan pertimbangan agama. Sehingga hadits tersebut lebih populer di kalangan pria mukmin.
Sama seperti hadits pertama, atas pengabaian pertimbangan agama, ada ancamannya. Kali ini berupa "fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata." Bila pada hadits pertama ancaman hanya pada pria itu sendiri, di hadits kedua ancamannya lebih besar lagi.
Bisa dimengerti mengapa ancaman pada hadits kedua lebih besar lagi. Bila seorang pria mukmin yang menikah karena alasan dunia yang ada pada seorang gadis yang tidak begitu baik agamanya, pria tersebut - bila keimanannya baik - masih bisa membimbing keluarganya kepada keimanan. Meskipun usahanya akan mendapat hambatan karena agama yang kurang baik dari istri.
Tapi bila seorang wanita tidak dilepas kepada seorang pria yang baik agamanya, lalu akhirnya jatuh kepada pria yang tidak baik agamanya, maka keluarga yang dibentuknya akan dibawah bayang-bayang buruknya agama sang kepala keluarga. Pada akhirnya, sulit untuk membentuk keluarga yang islami.
Bahayanya jauh lebih besar dari yang pertama.
Ala kulli hal, memang fitrah manusia kadang tidak bisa lepas total dari sebuah pertimbangan. Tentang kecenderungan terhadap yang cantik, atau kaya, atau baik keturunan. Rasulullah tidak melarang kita menikahi yang cantik, kaya, bangsawan. Tapi Rasulullah hanya memerintahkan agar menyertakan penilaian dien atas sebuah pertimbangan, dan menjadi penilaian yang dominan. Tanpa itu, kecelakaan menghampiri.
- Salah Kaprah -
Yang tidak boleh terjadi, penggunaan yang tidak benar atas dua hadits pada awal tulisan. Bagi pria, hadits tidak boleh menolak orang yang akhlaknya baik, tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksakan pinangannya. Padahal pria tersebut juga harus mengamalkan hadits pertama terlebih dahulu.
Dan bagi wanita, tidak boleh ada cibiran atas nama hadits kedua bila seorang pria menikah dengan seorang wanita yang cantik. Merasa akhlak & diennya lebih baik dari wanita yang dinikahi pria idolanya, lalu menuding si pria telah meninggalkan hadits pertama.
Allahu’alam bish-showab.
October 2, 2007
Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya? Coba perhatikan uraian berikut ini.
Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.
Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentruk kemesraan tersebut.
Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:
1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha’ bin Yasar: "Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau." (HR Sa’id bin Manshur)
2. Memberi wangi-wangian pada auratnya
‘Aisyah berkata, "Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)
3. Mandi bersama istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana)." (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)
4. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh".(HR Ahmad)
5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah." (HR Ibnu Asakir)
6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, "Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya." (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)
7. Membelai istri
"Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya." (HR Ahmad)
8. Mencium istri
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya."(HR ‘Abdurrazaq)
Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa." (HR Ahmad)
9. Tiduran di Pangkuan Istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur’an." (HR ‘Abdurrazaq)
10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).
11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan." (HR. Ibnu Sunni)
12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu." (HR Nasa’i)
13. Bermesraan walau istri haidh
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya." (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)
14. Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata,
"Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu."
Ia (Ummu Kultsum) berkata, "Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah." (HR Ahmad)
15. Segera menemui istri jika tergoda.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, "Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu." (HR Tirmidzi)
Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba.
– dari eramuslim –