November 17, 2007

SEKELUMIT KATA PENGANTAR UNTUK PERJUANGAN KITA

Filed under: Surat surat terbuka

<Sebuah surat buat pengurus baru UKM Fajrul Islam, 2005-2006>

Sebuah karunia Allah kemarin-kemarin ini terlimpah pada kita, yaitu keberlangsungan suksesi kepemimpinan dakwah dengan damai. Pergantian estafet kepemimpinan ini ibarat bernafasnya organisasi kita. Pada suatu periode, ada waktunya ia menghembuskan udara lama untuk kemudian menghirup udara baru yang segar. Udara yang mengimprovisasi semangat, kreasi, dan kekuatan yang telah ada. Udara yang terlebih dahulu telah Allah saring dengan penyeleksian-Nya yang sangat cermat, mengerecutkan semua pilihan udara yang ada, kemudian menyisakan sekelompok molekul yang bersih sebagai bahan bakar organisasi kita.

Sesungguhnya dakwah ini digerakkan oleh orang-orang yang masih membiarkan diri sekali-kali terlena sapuan angin lembut dunia. Digerakkan oleh orang-orang yang masih mempartisi hati, sebagian ruang untuk-Nya, dan sebagian untuk dunia. Tapi rahmat Allah mengalahkan murka-Nya. Allah masih mengilhamkan kita untuk memberikan yang terbaik untuk dakwah ini. Sebagai penebus dosa yang berkesinambungan yang kita lakukan.

Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar".” <Al-Hujurat : 17>

Saudaraku, tiap kita adalah sebuah potongan puzzle. Pada tiap lekukan yang kita miliki, adalah kelebihan kita, atau bisa juga kekurangan kita. Lekukan yang menjorok ke dalam adalah kekurangan kita, sedangkan lekukan yang keluar adalah kelebihan kita. Di samping kita, ada puzzle lain yang menutupi area yang kosong dari diri kita, dan kita pun menutup area yang kosong dari dirinya.

Bila masing-masing kita tertempatkan dengan rapi, maka gambar yang kita susun itu akan terlihat dengan indah. Apabila ada bagian puzzle yang menyimpang, maka susunan gambar itu akan terlihat memiliki cacat. Biarkanlah Allah menyusun diri kita. Ia telah menulis susunan itu di kitab-Nya – Lauhul Mahfudz – sebelum kita lahir. Wajah dakwah ini akan tampak indah. Dan jangan ada di antara kita yang membuat wajah dakwah di kampus ini tampak cacat.

Saudaraku, pada setiap lembaga yang telah mengikrarkan diri berjuang di jalan Allah, terdapat kendala-kendala spesifik di dalam perjalanannya. Dan telah Allah anugrahkan pada tiap lembaga itu sebuah instrumen yang menggodok setiap permasalahan yang dimilikinya. Instrumen itu bernama syuro.

Sebenarnya tidak semua permasalahan dapat terangkat ke dalam Syuro apabila lembaga itu memiliki SDM-SDM yang konstruktif. SDM-SDM yang dengan gerakan berkelitnya, mampu memuaskan berbagai pihak internal lembaga itu dalam menyelesaikan permasalahan baik yang mengemuka maupun tersembunyi. Sehingga belum sempat diangkat ke dalam syuro, masalah telah selesai duluan.

Maka berlombalah kita untuk menjadi kader berkualitas terdepan, yang keberadaannya di tengah saudaranya adalah trouble solver.

Kecewa itu biasa. Tapi kalau dengan kecewa itu dapat menyelesaikan permasalahan dakwah, maka kecewalah! Tapi apa bisa? Berdakwah itu sendiri merupakan masalah. Maka bagi antum yang tidak mau memiliki masalah, jangan berdakwah! Bukankah adagium ‘jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum, tapi pikirkan apa yang telah antum berikan untuk dakwah’, itu sangat tidak asing di telinga kita.

Kalau lah kita tetap memiliki kecewa, jangan sampai kekecewaan itu membuat kita berbuat destruktif terhadap dakwah. Kekecewaan itu lahir dari harapan kita yang yang tak bersinggungan dengan realitas yang harus kita terima. Mungkin harapan itu adalah sesuatu yang baik, atau buruk. Tetapi yang jelas rupanya harapan yang tak terejawantah dalam realitas itu berada dalam wilayah ego kita.

Dakwah ini diisi oleh orang-orang yang tak sempurna. Tapi memang sengaja Allah setting begitu, agar tiap komponen jama’ah bisa saling mengisi. Dan dari itu semua kemudian lahirlah ukhuwah.

Selamat berjuang saudaraku. Tulisan ini tak fokus pada satu permasalahan. Tetapi poin-poin tersebut memang ingin ana sampaikan pada kalian semua. Agar ana memiliki jawaban ketika ditanya bukti cinta yang real pada kalian semua.

 

Depok 16 Juni 2005

October 25, 2007

Untuk Ihsan Iswaldi

Filed under: Surat surat terbuka

Suatu hari teman saya, Ihsan, mengirim surat kepada saya tentang surat seorang akhwat yang mengkritik kondisi MIPA Unand saat itu. Saat itu tahun 2003 (atau 2002? Sudah lupa). Lupa lagi isi surat akhwat tersebut. Tapi balasan saya kepada Ihsan seperti ini:

Dewasa di Jalan Dakwah

Untuk Ihsan Iswaldi

Di Fakultas FMIPA

Di atas bukit Limau Manis, bukit yang bangga akan banyaknya pejuang-pejuang Allah yang menginjaknya.

Sejatinya, ketika kita mengikrarkan untuk setia dalam dakwah, baik itu di dalam hati atau kita ucapkan, maka Allah telah siapkan tugas-tugas yang akan kita emban, beserta tribulasi-tribulasi yang akan kita hadapi baik dari internal maupun eksternal.

Dan – seiring meningkatnya cinta Allah kepada kita atas ikrar kita tadi – pada semua rancangan itu telah Allah gantungkan bantuan tepat di depan mata kita. Sehingganya seorang du’at yang memiliki tashowur haroki yang cerdas dapat menggapai bantuan-bantuan itu untuk kemudian – tanpa terpeleset dari jalan yang licin ini – terlepas dari rentetan ujian yang telah Allah siapkan.

Hal ini berlaku juga pada konteks kelembagaan. Pada setiap lembaga yang telah mengikrarkan diri berjuang di jalan Allah, terdapat kendala-kendala spesifik di dalam perjalanannya. Pada lembaga ini, semua permasalahan dapat digodok dalam sebuah institusi bernama Majlis Syuro, di mana di atas institusi itu Allah meletakkan tangan-Nya.

Sebenarnya tidak semua permasalahan dapat terangkat ke dalam Syuro apabila lembaga itu memiliki SDM-SDM yang konstruktif. SDM-SDM yang dengan gerakan berkelitnya, mampu memuaskan berbagai pihak internal lembaga itu dalam menyelesaikan permasalahan baik yang mengemuka maupun tersembunyi. Sehingga belum sempat diangkat ke dalam syuro, masalah telah selesai duluan.

Akhi, ana coba untuk menganalisa lembar curhat seorang akhwat yang telah antum kirimkan ke ana melalui tulisan ini.

1. Masalah nomor satu itu menurut ana adalah masalah internal akhwat tersebut. Tapi Allahu’alam kalau itu merupakan representasi dari keadaan akhwat kebanyakan. Sebenarnya dia cukup melakukan autokritik terhadap dirinya, sejauh mana dia memiliki kemauan untuk mengetahui kabar saudarinya. Karena begitu ia bangun dari tidurnya di pagi hari, sudah jadi kemestian untuk memikirkan keadaan saudarinya baik yang berada di sekitarnya maupun nun jauh di sana sebagai syarat masuk ke dalam golongan Muhammad saw. Ana yakin, dengan semangat itu, dia mampu menghalau rintangan yang menjadi kendala ukhuwah tanpa dia harus mengeluh.

Kita anggap saja hal itu sudah dipenuhinya, hanya dia menginginkan sarana yang lebih memadai lagi untuk mengikat hati dengan saudarinya. Mungkin akhwat itu di Padang tinggal dengan orang tuanya, bukan di wisma. Itu pun dia terlalu sibuk untuk sekali-kali singgah ke wisma akhwat yang ada. Dan juga di halaqoh dia tidak ada anak farmasinya. Dan lokal kuliah farmasi di gedung C jarang terjadi berdekatan dengan lokal kuliah Biologi.

Kalau memang perlu diadakan lagi sarana tambahan untuk mengikat ukhuwah, pikirkanlah! Tapi menurut ana yang perlu ditambah itu kemauan berukhuwah. Habisnya terlalu enak sih mengkambing hitamkan kesibukan.

2. Keadaan idealis yang diinginkan, memang juga tidak ana dapati dulu. Ana menginginkan tersebarnya salam di antara ADK. Sembari memulai dari ana dahulu, ana terus mengkritisi ikhwah yang kalau bersua tidak memberi salam. Begitu juga dengan ucapan ana-antum, yang menurut ana ucapan itu memiliki kontribusi untuk mengikat hati. Karena dengan panggilan yang berbeda dari orang ‘ammah, ana merasa bersaudara dengan antum.

Yah, ana rasa kondisi tersebut belum terwujud ketika ana pergi. Tapi yang harus ana perbuat adalah menciptakan kondisi ideal dimulai dari ana sendiri. Karena Allah sengaja membuat kondisi tidak ideal, agar ana menjadi pelopor bagi pembentukan kondisi yang ideal itu.

Katakan pada ukhti tersebut, agar perasaan itu dijadikan acuan untuk bersikap konstruktif bagi dakwah ini. Bukan malah lari dari dakwah. Anti memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor bagi pembentukan keadaan ideal!

3. Kita semua, baik yang telah tergabung dalam dakwah maupun yang belum, adalah objek dakwah. Ingat ketika Rasulullah mengatakan bahwa agama adalah nasihat, bahkan Allah-pun adalah objek nasihat. Begitu juga Rasul-Nya. Apalagi kita… Itulah makanya kita bergabung dalam dakwah ini, agar kebutuhan kita sebagai objek dakwah dapat terpenuhi dengan taujih-taujih up to date dari saudara kita.

Satu orang berguguran di jalan dakwah, menjadi tanggung jawab antum di hadapan Allah selaku pemimpin, Ihsan. Antum harus benahi kalau itu menyangkut kesalahan kebijakan/kinerja. Tapi yang jelas, bagi ADK-ADK MIPA yang kecewa, ana harap jangan menjatuhkan diri. Karena sekali lagi, itu adalah tugas yang diberikan Allah untuk antum untuk membenahi keadaan ini sejauh yang bisa antum perbuat. Lakukanlah manuver yang memuaskan semua orang dan menyelesaikan masalah. Dalam dakwah antum bertugas menjadi trouble solver bukan sebatas pengeluh!

Saran ana, aktifkan tatsqif sekali sebulan + minta pada ADK yang produktif untuk memberi taujihnya (khusus untuk ADK) dalam bentuk tulisan untuk disebar luaskan kepada ADK yang ada.

4. Ana meloncat kepermasalahan Nomor 5. Kecewa itu biasa. Tapi kalau dengan kecewa itu dapat menyelesaikan permasalahan dakwah, maka kecewalah! Tapi apa bisa? Berdakwah itu sendiri merupakan masalah. Maka bagi antum yang tidak mau memiliki masalah, jangan berdakwah! Ana juga orang yang kecewa, dan telah salah melakukan reaksi atas kekecewaan itu. Tapi ana tidak mau itu berulang di Gunadarma. Keadaan Gunadarma rupanya – di beberapa sisi – lebih buruk di banding MIPA. Bayangkan, ADKnya saja sekitar 200-an. Padahal mahasiswa Gunadarma itu sekitar 35.000-an orang (terbanyak se-asia tenggara). Busyet dah, berapa persennya coba?

Antum semua boleh kecewa, tapi jangan sampai karena kekecewaan itu melakukan tindakan destruktif bagi dakwah.

Ana teringat kata ust. Rahmadi, ‘jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum, tapi pikirkan apa yang telah antum berikan untuk dakwah’. Karena dakwah ini dijalankan secara berjamaah, maka kita tidak bisa berbuat ma nan ka lamak di awak se.

Kalau antum ditempatkan di luar FSI, jangan merasa diusir dari FSI. Karena dakwah ini bukan cuma milik FSI! Dia milik FKI-R, milik BEM, dsb. Dan kenapa antum, karena antum dinilai memiliki kapabilitas untuk mengurus dakwah di luar sana. Intinya kan berdakwah, bukan di mana berdakwahnya. (Jawaban ana atas kaduan antum tentang seorang akhwat yang merasa dikucilkan dari FSI karena ditempatkan di FKI-R. Semoga beliau tidak lagi mengeluh).

5. Konsolidasi mutlak diperlukan bagi jamaah. Tapi banyak kisah tentang kreatifitas sahabat. Ana lupa nama sahabat itu, tapi seorang sahabat yang karena perjanjian harus dipulangkan ke Mekkah (tidak boleh hijrah ke Madinah), ia malah lari kesebuah daerah (dan tidak kecewa atas kebijakan Rasulullah yang tidak menerimanya di Madinah). Di daerah itu ia melebarkan sayap dakwah, hingga ketika futuh Mekkah, ia menyumbangkan pasukan dalam jumlah yang signifikan.

Sahabat itu tidak merasa ditinggal atau dibiarkan berjalan sendiri oleh Allah. Antum yang duduk di lembaga formal, bisa deh seperti sahabat itu.

6. Oke deh, acara bergebyar luar biasa. Tapi kalau kelak kita adu bangga-banggaan di hadapan Allah, ingin tidak yang kita banggakan adalah ukhuwah yang lebih kuat di banding fakultas lain? Ingin tidak seandainya ADK hukum & fakultas lain itu tahu bagaimana hangatnya ukhuwah yang ada di MIPA, ia meninggalkan acara gebyar itu lalu bergabung dengan kehangatan ADK MIPA? “Andai raja-raja itu tahu apa yang kita rasakan di jalan dakwah ini, pasti mereka akan merebutnya dengan pedang-pedang mereka”

 

Jangan pikirkan apa yang dakwah berikan untuk antum. Tapi pikirkanlah apa yang antum berikan untuk dakwah. Kalau kecewa itu dapat menyelesaikan masalah dakwah ini, kecewalah! Tapi lebih baik antum menjadi seorang du’at yang kreatif konstruktif, yang mampu memberikan penyelesaian masalah. Pada semua lembaga dakwah, terdapat masalah. Dan memang Allah sengajakan keadaan tidak sempurna itu, agar kita menjadi pelopor untuk membenahinya.

Alhamdulillah ada ukhti yang mau mengemukakan masalah dan memberikan beberapa solusi, kalau tidak bisa-bisa masalah-masalah ini dianggap sesuatu yang tidak perlu repot-repot dipikirkan.

Selamat berjuang sahabatku. Saat ini kita hanya bisa bekerja bersama, karena masa-masa bekerja sama itu telah lewat. Kita saling mendoakan saja. Untuk FSI, ana tidak mendoakan agar masalah-masalah itu berkurang, tapi ana mendoakan agar orang-orang tukang kecewa itu berkurang, dan bertambah orang-orang penyelesai masalah.

Jangan badung di jalan dakwah, ya! Emang shinchan?

 

Wassalamualaikum wr. wb.

Zico Alviandri

FTI Gunadarma 51402113.

 

March 16, 2007

Untuk Andika

Filed under: Surat surat terbuka

Bismillahirrahmanirrahiim

Akh, alhamdulillah kalau antum masih mau mendengarkan ana, masih meminta ana untuk memberikan saran-saran bagi antum. Karena ana saat ini merasa tidak dibutuhkan lagi, merasa dibuang begitu saja, dll. Yah, Murobbi sudah menasehati bahwa hal seperti ini wajar, dimana setelah masa jayanya, seseorang kadang dibuang setelah tidak dibutuhkan. Kalau antum kelak mendapatkan keadaan seperti itu, kenanglah keadaan ana sehingga antum tidak akan merasa bahwa antum sendirian diperlakukan seperti itu.

Akhi, saat-saat reorganisasi adalah saat-saat genting bagi kaderisasi, karena saat-saat tersebut kaderisasi dituntut mempersiapkan kadernya untuk melanjutkan kerja dakwah. Kaderisasi dituntut untuk memberikan garansi bahwa kader-kader penerus dakwah selanjutnya telah siap secara fikriyah dan ruhiyah.

Karena itu, saat-saat menjelang reorganisasi, kaderisasi harus sibuk untuk menyediakan suplemen-suplemen atau bekal-bekal yang tepat bagi para kadernya. Dan pemberian suplemen tersebut, harus diperhitungkan dengan matang agar suplemen yang diberikan adalah suplemen yang tepat. Bukan suplemen yang tidak mereka perlukan atau belum saatnya mereka dapatkan sehingga menjadi percuma.

Lakukanlah musyawarah dengan rekan-rekan antum di department untuk menelaah bekal-bekal apa saja yang layaknya diberikan kepada kader-kader antum.

Untuk mempersiapkan bekal-bekal yang akan antum berikan, hal yang bisa antum lakukan adalah:

1. Pertimbangkan berdasarkan pengalaman antum, atau teman-teman, apa saja yang dibutuhkan seseorang untuk bekerja dalam jamaah dakwah di Gunadarma ini?

Pada mahasiswa baru yang baru tergabung, tentu mereka membutuhkan ma’rifatul maidan. Tetapi pengenalan medan ini bukan cuma dibutuhkan oleh mahasiswa baru, atau kader yang baru bergabung. Tetap saja kader-kader yang sudah cukup berperan di dakwah kampus Gunadarma perlu diberikan pengenalan medan.

Hal lain, ana sangat concern sekali terhadap fiqh prioritas. Untuk kader dakwah dimanapun medannya, fiqh aulawiyat, fiqh realitas, fiqh kontemporer adalah suatu hal yang wajib ia kuasai. Fiqh aulawiyat/prioritas membuat ia mengambil keputusan dengan efisien, fiqh realitas membuat ia bijaksana, dan fiqh kontemporer membuat ia tidak melangkah pada hal yang haram. Semua itu menjadi penunjang bagi fiqh dakwah. Dan kesemua itu berasal dari fiqh siroh. Akhi, introspeksikanlah, sudahkah kader kita memiliki pemahaman seperti itu?

Lalu apalagi menurut antum? Suasana ruhiyah sangat penting bukan? Maka sering-seringlah adakan usbu’ ruhi (hal yang tidak pernah ana lakukan selama menjadi kaderisasi). Tetapkan amalan-amalan yang harus dilakukan selama sepekan. Misalnya pada pekan pertama bulan April antum tetapkan sebagai usbu’ ruhi (pekan ruhiyah). Seorang kader harus minimal tilawah tiap hari sebanyak 3 lembar, shoum pada senin dan kamis, sholat malam minimal 3 kali sepekan itu, dll. Lalu jadikan hal tersebut sebagai introspeksi kader, apakah kader mampu memenuhinya? Antum kumpulkan laporannya (biarkan mereka menyembunyikan identitas) lalu hasilnya diumumkan di secretariat. Biar menjadi introspeksi kolektif kader!!!

Materi-materi tentang kepemimpinan juga penting. Mereka juga butuh kemampuan bargaining position (karena posisi tawar kita lemah, pada acara PPSPPT, kita sering kalah untuk “menyudahi” acara fakultas agar kemudian maba sholat dan mentoring. Juga penting untuk menghadap pak Irwan beserta gangnya). Mereka juga butuh pemahaman tentang bagaimana rapat/syuro yang efektif. Juga manajemen konflik.

Dan sebagainya dan sebagainya.

Hmm… ini ana berikan ide strategisnya saja. Silakan antum pikirkan teknisnya .

2. Lakukan survey

Survey ini ana lakukan tiap kali tatsqif, pada kepengurusan Ilham. Hasil survey sangat membantu ana untuk membuat keputusan, apa saja yang harus ana lakukan. Apa saja yang mereka butuhkan!!!

Pertanyaan-pertanyaan survey itu bisa terdiri dari:
- Interaksi mereka terhadap materi halaqoh/mentoring.
Pada konteks ini, antum berikan pertanyaan-pertanyaan tentang materi halaqoh.
- Kedalaman tsaqofah
Berikan pertanyaan tentang hal-hal umum. Cek apakah mereka cukup wawasan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
- Aqidah
Berikan contoh-contoh kasus, uji mereka. Akhi, aqidah ini sangat penting!!! Bagi salafy, aqidah merupakan fokus dakwah mereka. Tentu saja, untuk apa kita menyeru manusia kalau tidak untuk memurnikan aqidah mereka? Lalu bagaimana mungkin aqidah umat menjadi selamat apabila aqidah du’atnya saja tidak selamat?
- Pemamahan terhadap siroh
Pada zaman kepemimpinan akh Slamet, pernah ana survey tentang pemahaman kader tentang siroh. Saat itu pertanyaannya tentang penyebab perang badar (atau uhud? Ana sudah lupa). Sangat sedikit sekali yang menjawab dengan tepat. Menyedihkan.

Well… dari survey itu antum bisa putuskan antum akan memberikan kajian tentang apa? Antum akan memberikan dauroh yang isinya tentang apa?

Ide-ide ini akan lebih aman apabila ana tulis dan kemudian ana simpan. Memang lebih asyik berdiskusi, tapi malam ini ada pikiran liar yang harus ana tangkap. 

April 7, 2006

MEMANFAATKAN MASA TRANSISI

Filed under: Surat surat terbuka

<sebuah surat untuk adk baru>

Masa tahun pertama kuliah adalah masa transisi yang sensitif. Terdapat banyak kejutan yang akan dialami oleh mahasiswa baru, mulai dari sistem akademik yang sama sekali beda dengan masa sekolah dulu, cara belajar yang harus direvolusi mengikuti sistem akademik perkuliahan, sampai merombak kembali manajemen waktu yang dimiliki semasa sekolah dulu untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi perkuliahan yang biasanya berlangsung dari pagi sampai sore.

Masalah akademik, mungkin mahasiswa baru (termasuk saya) perlu banyak belajar kepada senior yang notabene telah memiliki usia lebih lama di kampus dibanding kita, anak kemarin sore di kampus ini. Tapi masa sensitif yang kita miliki itu bukanlah sekedar dalam permasalahan akademik. Seorang mahasiswa baru dalam masa transisi ini adalah seorang yang sedang mencari identitas diri dan begitu labil dan mudah terpengaruh.

Sebagai komunitas yang telah merelakan diri menjadi du’at di jalan-Nya, masa sensitif ini dapat kita manfaatkan dengan cantik. Di sekitar kita, bertebaran kawan-kawan kita yang inner-conciousness atau kesadaran dirinya sedang butuh diisi. Mereka bingung menempatkan perannya di kampus ini.

Oleh karena itu akan sangat mudah sekali terlihat jiwa-jiwa hanif di antara kawan-kawan kita apabila kita cermat mengamati. Mereka biasanya cepat ‘nyambung’ apabila diajak berbicara mengenai keislaman. Apalagi apabila kita sudah memiliki kredit point di mata mereka sebagai seorang yang sedikit faqih mengenai dinul Islam, maka kita akan menjadi sasaran kaduan dari mereka mengenai masalah-masalah keislaman aktual yang mereka rasakan. Jiwa-jiwa hanif inilah prioritas dakwah kita.

Orang-orang seperti ini akan terbagi dua: ada yang mau diajak untuk bergabung dalam komunitas Islam legal formal kampus, ada juga yang cenderung menghindar untuk terjebak dalam kesibukan organisasi. Sesuai sasaran dasar da’i, yaitu pengingkaran manusia akan thogut, tak ada alasan bagi kita untuk kecewa atas golongan yang kedua itu. Kita terus saja menyebarkan opini keislaman kepada mereka, dan melayani sejauh mana keinginan mereka untuk menggali wawasan keislaman dari kita. Intinya, dakwah fardiah!

Sebenarnya ada celah positif untuk mengolah semangat mereka lebih baik. Biasanya alasan mereka tak ingin ikut organisasi adalah karena takut akan sibuk dan ‘tak mau capek’. Kalau kita ingin melakukan manuver atas hal ini, bisa saja kita tawarkan kepada mereka mentoring eksklusif tanpa dicover dengan organisasi. Kita bisa mengambil mentor dari Rohis atas persetujuan mereka, dan adakan acara pekanan itu di tempat kos salah seorang dari mereka yang masih memiliki semangat keislaman itu. Mentoring inilah (atau pengajian kelas) yang kemudian kita harapkan merubah paradigma mereka tentang hidup sehingga mereka mau untuk berlelah-lelah bersama kita dalam barisan da’wah ini.

Hati-hati, apabila semangat ini tidak keburu diolah dengan baik oleh kita, maka biasanya bara itu akan meredup dan padam setelah tahun-tahun perkuliahan berikutnya. Takutnya, inner-conciousness mereka terisi oleh hal-hal yang tidak baik yang mereka dapatkan dari buruknya pergaulan. Dan apa jawaban kita kepada Allah swt kelak, apabila kita diminta pertanggung-jawabannya mengenai masalah mereka? Semangat yang ada terbuang percuma dikarenakan tidak pekanya kita terhadap mereka. Karena itu, selagi masih menjadi mahasiswa baru yang memiliki banyak kesempatan, berdakwah fardiah-lah. Sesungguhnya dakwah fardiah itu indah dan memiliki banyak seni manuvernya, dan paling efektif untuk mahasiswa tahun awal.

———-

Zico Alviandri

March 28, 2006

Kepada para mutarobbiku

Filed under: Surat surat terbuka

Kepada                                                                            27 Juni 2005

para mutarobbiku 

 

Saudaraku, tak terasa sudah begitu lama kita mendapatkan nikmat yang orang lain tak mendapatkannya di halaqoh. Sekian lama kita duduk dalam lingkaran di sebuah taman yang sangat indah. Di taman itu, kita memetik buah-buahan yang tersedia dekat dengan kita. Langsung dari pohonnya. Di taman itu kita duduk-duduk sambil menyeruput teh, melihat-lihat pemandangan yang indah, menghirup udara yang bersih. Taman tempat kita refreshing dari segala kepenatan urusan dunia, sehingga ketika kita selesai duduk-duduk di taman yang indah itu, kita merasa segar lagi untuk menghadapi hidup ini.

Saudaraku, sampai kapan taman itu hanya berperan sebagai tempat lari kita dari kehidupan dunia. Kita bukanlah sekelompok rahib yang melakukan ‘uzlah, yaitu lari menyendiri ke lereng-lereng gunung, menjauh dari kehidupan dunia. Tetapi seharusnya kita adalah sekelompok pemuda yang beriman yang Allah tambahkan keimanan itu (fityatun amanu birobbihim wa zidnahum huda, Al-Kahfi : 13). Karena kita berani berkata lantang tentang kebenaran. Berani berbuat lain untuk kebenaran.

Alhaqqu mirrobbika falaa takunana minal mumtarin. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu (Al-Baqarah 147). Kalian telah begitu banyak Allah paparkan – melalu berbagai perantara – tentang sebuah fikrah (pemikiran) yang bersih, sempurna dan jelas, yaitu fikrah Islam. Dan itulah yang kalian yakini sebagai kebenaran. Maka dengan kebenaran itu, apakah kalian tidak menunaikan hak-haknya? Apakah itu hanya untuk konsumsi kalian sebagai pembeda bahwasannya kalian adalah sekelompok pemuda yang benar sendiri?

Maka sudah saatnya taman yang indah itu kita gunakan sebagai tempat berbincang kita untuk menyebarluaskan fikrah yang lurus itu kepada umat ini. Sedangkan kalian tahu bagaimana sakitnya umat saat ini. Mereka melihat bara api sebagai air dan air sebagai bara api. Kalian tahu umat saat ini ibarat serangga yang terpikat oleh api dan kemudian bermain-main di dekatnya. Sangat rawan terbakar. Apakah kalian tidak ingin menghalau serangga itu agar tidak terbakar oleh api?

Kalian ibarat berada di sebuah kapal yang memiliki dua dek. Dek atas dan dek bawah. Setiap kali orang yang berada di dek bawah hendak mengambil air, selalu melewati orang yang berada di dek atas. Karena segan, orang-orang yang berada di dek bawah hendak membuat lubang di dasar kapal agar mudah mereka mengambil air. Kalau kalian tidak mencegah perbuatan itu, maka petaka akan menimpa kalian semua!

Berbuatlah saudara-saudaraku. Apabila Allah timpakan petaka kepada sebuah umat, petaka itu akan menimpa orang baik maupun buruk di antara mereka. (Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, Al-Anfal 25). Memang pada akhirnya kita dibangkitkan dan dihisab sesuai amal kita. Tetapi inginkah kita menemui azab Allah yang pedih di akhir kehidupan kita bersama-sama dengan orang-orang yang mengundang bencana yang kita tidak atau gagal kita cegah.

Pancangkanlah tekad. Kita adalah pemuda yang menginjeksikan serum kebaikan di tengah umat. Dengan sikap kita. Dengan kata-kata kita.

 

Murobbimu, Zico Alviandri

March 24, 2006

Untuk teman departemen ku

Filed under: Surat surat terbuka

Afwan kalo ana nimbrung nulis di sini. Hari ini, 7 September 2004, begitu berkesan bagi ana. Karena langkah awal lancarnya kerja kaderisasi UKM begitu mulus. Kaderisasi fakultas mendukung penuh atas kerja kita. Tiap detik ada bobot masalah yang kita pikul.

Setiap detik ada kenangannya sendiri. Tiap detik ada catatannya sendiri. Begitulah jundi-Nya: Bukan orang yang bisa berleha-leha dalam mengarungi detik yang dilaluinya. Setan tidak akan pernah rela kita gagah dalam jalan yang susah ini. Selalu ada ‘sliding tackle’ yang nakal dalam langkah kita yang diperbuat olehnya. Dan tak lupa – tak ketinggalan, tipuan Allah, test case Allah untuk hamba-Nya yang Allah menyettingnya lebih samar dari pergerakan semut hitam di atas batu hitam pada malam yang pekat tanpa cahaya bulan atau bintang.

Begitu besar bobot yang dihadapi oleh seorang junduLlah dalam detik yang ia arungi. Tiap detik yang berlalu, menyempatkan diri untuk mengusik sang jundi.

Tak apa! Buat apa desahan nafas berat putus asa apabila bersama masalah itu ada kemudahan? Buat apa wajah terlipat, begitu pusing, apabila Allah menjanjikan pertolongan? Buat apa kehendak untuk lari meninggalkan kecewa yang bertumpuk, apabila diujung jalan ini kita bakalan menemui ‘adn? Allah tak akan pernah ingkar janji.

Thulu’ut Thariq, katsratu’ aqabat, qillatur-rijal. Jalannya panjang, hambatannya banyak, dan pendukungnya sedikit. Ya, memang seperti itulah karakter jalan yang kita arungi. Kenali baik-baik. Lalu? Kalau masih ingin berada di sini, tetapkan ‘azam. Memang begitulah kita akan banyak dibenturkan dengan cadas, untuk melihat apakah kita kokoh.

Apa salahnya Allah lipat gandakan pahala untuk kita? “Ganjaranmu tergantung kadar lelahmu.” (HR Muslim). Ikuti saja alur masalah ini dengan senyum. Maka sabar akan mengantarkan kita dari jalan yang terjal kepada padang bunga yang indah. Adalah berujung, setiap hal berat yang kita hadapi. Tapi tidak berujung, keridhoan Allah pada kita bila kita sukses mengarunginya.

Terasa sekali bila dakwah yang kita hadapi, bukanlah pekerjaan menyeru tanpa gangguan. Tapi kesudahan yang dirsasakan setelah satu masalah selesai, adalah kepuasan menyaksikan janji-Nya yang benar: “Setiap kesempitan akan disusul kemudahan.”

Terakhir… “Yang kami maksud dengan ats-tsabat adalah: Tetaplah anda sebagai aktifis dakwah yang selalu aktif berjuang pada jalan yang ditujunya, walaupun masanya panjang bahkan sampai bertahun-tahun. Sampai nanti bertemu Allah Rabbul ‘alamiin dalam kondisi seperti itu, dengan meraih salah satu dari dua kebaikan: Berhasil mencapai tujuan atau meraih syahadah pada akhirnya. Firman Allah SWT: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya (QS Al-Ahzab : 23). Waktu bagi kami merupakan bagian dari solusi, sebab jalan dakwah itu panjang dan jauh jangakauannya serta banyaik rintangannya. Tapi semua itu adalah cara untuk mencapai tujuan dan ada nilai tambah berupa pahala dan balasan yang besar serta menarik.” Hasan Al-Banna mengenai Ats-Tsabat dalam 10 rukun bai’at.

 

Untuk saudara/I ku di kaderisasi UKM Fajrul Islam Universitas Gunadarma.

Allahu Akbar.

Untuk ‘azzam yang selalu berkobar.

Zico Alviandri