November 2, 2009

Tuntutan Untuk Luki

Sebelumnya mohon maaf bila tulisan ini tidak berkenan. Niat saya untuk kebaikan :)

—- *** —-

Nafas Luki terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Dan seseorang tengah mendekatinya. Saat melihat orang tersebut, Luki berteriak, "Aduh… Siapa lagi kamu?"

"Aku Rika. Ingin menuntut atas kezholiman yang kau lakukan semasa kau hidup." Jawab orang itu.

"Ah… Tidak… Celaka aku." Luki kembali berteriak.

Orang yang datang pada Luki itu adalah orang yang ke-2130 yang menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki semasa hidup. Saat ini yaumil hisab, hari pembalasan. Semua kasus dan masalah dipersidangkan secara adil. Termasuk siapa yang pernah dizholimi, berhak menuntut keadilan atas pelaku kezholiman.

Luki sebenarnya jarang menghina orang. Hanya 3% orang yang telah menuntutnya karena penghinaan. Untuk menggunjing orang, agak banyak. Ada 10%. Tapi yang dominan adalah kezholiman atas aktifitas merokok, sebesar 80%. Ya. Kebanyakan orang yang telah datang pada Luki adalah orang yang dirugikan karena asap rokok Luki.

Luki memang suka merokok sembarangan semasa hidupnya. Dia tidak merasa canggung untuk menghembuskan asap rokok memenuhi ruangan angkutan umum sekalipun di angkot itu ada orang lain selain dirinya. Di tempat terbuka seperti pasar, taman, dan lainnya, ia juga sering membuat orang mengipas-ngipas mukanya untuk menghalau asap rokok yang dikeluarkan Luki. Orang-orang itu merasa terzholimi.

Kalau ada yang menegur, kadang memang Luki bersikap sopan dengan langsung mematikan rokoknya. Tapi kadang ia juga cuek, sehingga membuat orang yang tidak diindahkan oleh Luki itu merasa makin terzholimi.

Luki sempat berdalih, bahwa kezholimannya tidak begitu parah karena cuma menghadirkan gangguan bagi yang terkena asap rokok. Tapi dalihnya tertolak, karena bukan cuma asap, tapi juga racun yang dikandung oleh asap rokoknya yang membuat orang terzholimi. Sedikit atau banyak, ia tetap menebar racun pada orang-orang. Dan itu kezholiman.

Maka akhirnya orang-orang itu pada hari pembalasan ini menuntut atas kezholiman yang telah dilakukan Luki. Dan kini di hadapan Luki, berdiri seorang wanita sedang menuntutnya.

"Atas masalah apa kamu menuntutku?" Tanya Luki.

"Karena rokok!" Jawab wanita itu.

"Hei… Aku tak pernah merokok di dekatmu!"

"Memang tidak pernah. Tapi suatu hari kamu pernah naik metro mini dan kemudian duduk di sebelahku. Saat itu kamu membawa bau rokok yang sangat menyengat sehingga membuatku mual. Itu karena kamu sebelumnya merokok. Andai kata bau yang menempel di badan dan pakaianmu itu disebabkan rokok orang lain, tidak akan menjadi masalah."

Dan orang yang terzholimi itu akhirnya mendapatkan keadilan. Sebagian pahala Luki dipindahkan untuknya untuk menebus kezholiman.

Kezholiman itu terjadi saat Luki berumur 30 tahun. Dan Luki wafat di usia 62 tahun. Ia berhenti merokok di usia 60 tahun. Berarti ada rentang 30 tahun lagi yang di rentang itu akan ada orang-orang yang menuntut Luki atas kezholimannya merokok.

Sedangkan pahala terakhir yang dipindahkan ke orang yang terzholimi adalah pahala yang dilakukan Luki saat ia berusia 58 tahun. Ada kemungkinan Luki termasuk orang yang bangkrut.

***

Lagi, seseorang menghampiri Luki.

"Kezholiman apa yang aku lakukan padamu?" Tanya Luki.

"Rokok." Jawab orang itu.

"Aku tak pernah merokok di dekatmu."

"Memang tidak pernah. Semasa hidup aku ditakdirkan suka mual dengan bau rokok. Suatu ketika di dalam perjalanan, aku singgah di sebuah rumah makan untuk makan dan buang air. Ketika masuk ke dalam wc yang disediakan rumah makan itu, aku dibekap oleh bau rokok yang pekat. Dan kamu adalah orang yang berada di wc itu sebelumnya. Kamu buang air besar sambil merokok. Dan baunya tinggal di wc itu ketika aku menggunakannya. Racunnya pun masih berkeliaran bercampur udara di dalam wc itu."

Luki terhenyak. Saldo amalnya dalam posisi kritis. Ia diambang kebangkrutan.

"Celaka aku… celaka aku…." Nafasnya terengah-engah ketakutan. Dan tak berapa lama kemudian… ia terjaga dari tidurnya.

Masih dalam keadaan terengah-engah, tatapannya beradu pada jam dinding di kamarnya. Pukul 1.30 malam. Jam dinding itu berhias kotak rokok bekas yang ia koleksi setelah isinya ia konsumsi. Melihat hiasan kotak rokok itu, Luki merinding.

— ** —-

Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan di dunia ini, adalah sangat berharga. Karena itu semua akan mendapatkan balasan dari Allah swt. Allah telah mengabarkannya dalam QS Al Zalzalah ayat 7: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". Allah mengabarkan hal itu agar kita termotivasi untuk beramal dan tidak meremehkan setiap bentuk perbuatan baik.

Begitu juga dengan keburukan, sekecil apa pun bentuknya akan ada balasannya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS 99:8)

Termasuk kezholiman yang kita lakukan pada orang lain, apa pun bentuknya, seremeh apa pun kadarnya, akan diadili oleh Allah swt di hari pengadilan. Bahkan ada kemungkinan di mana kezholiman kita itu menghabiskan seluruh amal baik kita dan membuat kita menjadi orang yang bangkrut.

Dalam suatu hadits, dikabarkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka, para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kedzaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang didzaliminya sementara belum semua kedzalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang didzaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Khusus untuk perokok, perlu kiranya anda introspeksi. Apakah aktifitas merokok anda sudah menzholimi sekian banyak orang? Jangan sampai hal yang kita anggap remeh itu malah menjadi penyesalan di akhirat kelak.

October 14, 2009

Add-ons Kebaikan

Salah satu kelebihan browser Mozilla Firefox adalah adanya add-ons, yaitu tools atau aplikasi-aplikasi tambahan yang melekat pada browser yang punya banyak manfaat untuk pengguna Mozilla.

Salah satu contoh add-ons yang dimiliki Mozilla adalah DownThemAll!, yang memudahkan pengguna untuk mendownload contain dari internet secara massal dan meng-organize-nya. Selain itu ada Boost For Facebook yang memanjakan pengguna untuk bermain-main dengan akun facebook-nya. Dan ada Alexa Statusbar yang berfungsi untuk mengecek rating situs yang sedang kita browsing. eQuake Allert untuk mengingatkan kalau terjadi gempa, dan banyak lagi.

Add-ons itu seperti plug-in, semacam tools tambahan. Bukan cuma browser mozilla firefox yang punya add-ons, aplikasi lain pun punya. Facebook punya, linux punya.

Hmm.. andai hati kita bisa dipasang add-ons, maka add-ons apa ya yang akan kita pasang? Mungkin bisa dicoba add-ons berikut ini:

1. Everytime dzikrullah.
Add-ons ini membuat hati kita untuk selalu berdzikir mengingat Allah swt di setiap saat. Rasulullah pun menginstall add-ons ini. Begitulah pengakuan Aisyah rha. “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam selalu berdzikir kepada Alah setiap saat." (HR. Muslim & Abu Dawud)

Add-ons ini memang bekerja di hati kita. Tapi hendaknya lisan kita pun mengikuti kerja add-ons ini. Karena itu perintah dari junjungan kita Rasulullah saw. "Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Alloh." (Muttafaqun ‘Alaihi dari Hadits Abu Hurairah)

2. Auto Istighfar.
Ketika kita melakukan suatu perbuatan dosa, maka kita akan segera tersadar dan beristighfar kepada Allah swt. Begitulah fungsi add-ons ini.

Add-ons ini merupakan aplikasi yang tepat agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena ciri orang yang bertaqwa adalah cepat menyadari kesalahannya dan kemudian bertaubat kepada Allah swt.

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS 3:135)

3. GhodBash
Aneh atau familiar namanya? Add-ons ini singkatan dari ‘Ghodul Bashar’. Artinya adalah menundukkan pandangan. Cara kerjanya begini: Ketika mata kita menangkap objek yang Allah haramkan untuk dipandang, seketika itu juga add-ons yang berada di hati kita ini bekerja mengirimkan pesan serius pada otak. Pesan itu adalah agar otak memerintahkan mata kita berpaling dari objek terlarang itu.

Add-ons ini sangat berguna untuk mengaplikasikan perintah Allah pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30-31.

4. eQuake.
Ya memang, add-ons ini beneran ada di dunia nyata. Gunanya untuk mengingatkan kalau ada gempa.

Tapi kalau versi yang terpasang di hati, berfungsi untuk membuat gempa atau getaran di hati ketika terdengar nama Allah swt. Getaran atau gempa yang ditimbulkan besarnya berbanding lurus dengan kecintaan kita kepada Allah swt. Makin cinta kita pada Dia, maka makin besar gempa yang terjadi di hati ketika nama Allah terdengar.

Add-ons ini musti terpasang di hati orang mukmin. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS 8:2)

5. Muhasabah.
Add-ons ini berfungsi untuk mengukur fluktuasi ketaatan kita pada Allah swt. Karena iman itu mengalami pasang surut. Kalau kita memiliki add-ons ini, maka kita bisa mengoptimalkan ketaatan kita pada Allah swt. Ketika ketaatan terdeteksi surut, maka kita bisa segera bertaubat dan menyegarkan iman kita, agar ketaatan kembali naik.

Kita bisa menggunakan aplikasi ini untuk memeriksa grafik ketaatan kita di waktu-waktu khusus. Misalnya akhir tahun, akhir bulan, akhir pekan, atau di akhir hari. Atau kapan saja kita mau.

6. Anti Virus.
Ya, ada juga add-ons seperti ini di hati. Karena hati kita rawan terkena virus. Kalau sudah terkena virus, maka jadilah hati kita hati yang sakit (qalbun maridh). Kalau tidak terobati juga, maka hati pun mati (qalbun mayit).

Jenis-jenis virus yang diobati oleh aplikasi ini adalah: dengki, hasad, dendam, riya’, ujub, ghurur, kibr, dll. Juga ada virus merah jambu (apa tuuh?? hehe…). Silakan lengkapi database antivirus anda dengan membaca buku tazkiyatun nafs karangan Imam Ghozali, sering mendengar taushiyah Aa Gym, dan cara lainnya.

Disarankan untuk rajin men-scan hati anda ketika hendak tidur, mencontoh seorang sahabat yang telah Rasulullah klaim sebagai penghuni surga. Salah satu kerja anti virus ini adalah dengan memaafkan orang yang pernah berbuat salah pada kita sehingga tidak ada dendam.

7. I’m Sorry.
Selain memaafkan, kita juga harus meminta maaf pada orang lain kalau kita berbuat salah. Install-lah add-ons ini agar kita tidak memiliki musuh atau punya kesalahan pada orang. Add-ons ini akan bekerja di hati ketika hati terdeteksi memiliki noda berupa kezoliman pada orang. Add-ons ini memaksa otak untuk segera mengucapkan kata maaf pada orang yang kita zolimi.

8. Anti Nifaq.
Penting untuk tidak menjadi munafik. Kalau tidak, kita akan memiliki musuh di langit dan di bumi. Install-lah add-ons ini di hati kita. Maka kita hati kita akan memiliki karakter shidq (jujur) dan amanah.

9. Syukur 21, Shobr, dan Ridho
Ketiga add-ons ini bekerja saat menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan pada diri kita. Syukur 21 aktif saat diri kita mendapatkan kenikmatan dari Allah swt. Shobr bekerja saat diri kita menerima musibah. Ridho bekerja secara general, apa pun yang terjadi, ridho selalu aktif bekerja.

Add-ons ini membuat pribadi yang meng-install-nya menjadi pribadi ‘ajaib’ yang mengagumkan.

”Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat, ia bersikap sabar, maka itu menjadi baik baginya.”(HR.Muslim)

10. Ikhlas mode on.
Add-ons ini penting dimiliki oleh hati agar setiap perbuatan baik kita memperoleh pahala. Aktifkan add-ons ini sebelum, ketika, dan sesudah berbuat baik.

Ada pihak ketiga yang tidak ingin add-ons ini aktif. Yaitu setan. Ia berusaha menjadi intruder dalam diri kita agar add-ons ini rusak. Maka selalu jagalah add-ons ini! Karena aktif-nya add-ons ini menjadi syarat sahnya amalan baik yang kita lakukan.

*****

Itulah beberapa add-ons yang bisa di-install di hati kita. Ada banyak lagi add-ons yang kita perlukan. Tidak cuma apa yang ada di atas. Pokoknya, semua jenis kebaikan adalah add-ons yang harus terinstall di hati kita. :)

Allahu’alam bish-showab.

September 29, 2009

Sesudah Kesulitan

Di musim kemarau, mentari pukul delapan sudah cukup terasa menyengat. Begitu lah yang dirasakan oleh Adi dan Indra yang sedang berada di sebuah metro mini menuju wilayah perkantoran Sudirman. Saat itu, bus yang mereka tumpangi sedang berada di sekitar Kalibata, salah satu daerah langganan macet di Jakarta.

Adi menghela nafas. Kemudian ia melontarkan keluhan, "Duh… sampe kapan sih harus begini. Apa orang-orang gak bosen dengan macet begini? Liat deh, itu ada mobil yang isinya cuma satu orang. Kenapa sih orang itu gak milih naek angkutan umum? Bikin macet aja."

Entah keluhan yang keberapa dari mulut Adi selama ia terjebak kemacetan. "Kenapa sih… kalo udah tau gak bakalan bisa menyelesaikan macet, kenapa masih ngotot jadi gubernur?" Keluhnya lagi.

Indra, yang duduk di samping Adi. Cuma tersenyum mendengar keluhan-keluhan itu.

Tak lama, di samping metro mini itu lewat lah bus lain yang mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya. Asap itu masuk ke dalam metro mini yang ditumpangi Adi, dan membuat Adi lagi-lagi melontarkan dumelannya.

Tak tahan dengan keluhan-keluhan temannya, Indra menegur Adi. "Buat apa sih ngeluh terus Di? Kayaknya hidup lu penuh dengan kesulitan-kesulitan aja." Ujar Indra sambil tertawa kecil.

"Iya sih… kalo dipikir-pikir. Kayaknya hidup gw penuh dengan kesulitan deh." Balas Adi.

"Halah.. lebay." Kali ini Indra tertawa lepas.

"Memang iya, Ndra. Ada-ada aja kesulitan dateng. Terakhir, gw diancem sama bos untuk gak boleh telat. Kalau telat, ada hukuman pengurangan gaji. Padahal gw beberapa hari ini telat karena motor gw rusak." Adi membela diri.

"Lho, yang laen aja bisa gak telat kok, Di."

"Ya, tapi kan gw terbiasa bawa motor. Sekalinya gak bawa motor, gw agak susah mengatur ulang jadwal berangkat ke kantor. Lagian, oke lah masalah telat itu karena gw sendiri. Gimana dengan masalah rusaknya motor gw gara-gara ditabrak lari mobil? Itu kan bukan salah gw. Dan masih banyak lagi masalah gw laennya. Banyak yang bukan karena keteledoran gw." Adi terus membela diri.

Indra menarik nafas panjang dan kemudian menghelanya. "Tapi bukan jadi alasan buat ngeluh, Di."

"Ya, tapi wajar dong kalo gw ngeluh."

"Gak lah."

"Lho, kok?"

"Gini deh. Misalnya lu jadi ikan yang hidup di kolam yang sempit banget. Lu sangat gak betah dengan kolam itu. Lalu suatu hari lu nemuin ada lubang sebagai jalan menuju kolam di samping yang jauh lebih luas. Lu harus melalui lubang itu untuk ke kolam yang lebih luas. Tapi lubang itu sempit banget, cuma lebih besar sedikit dari ukuran badan lu. Apa lu tetep akan menempuh jalan itu?"

"Mmm… Sebenernya gw lebih pantes diumpamakan sebagai burung merak yang indah, Ndra. Tapi kalo pun jadi ikan, mungkin ikan mas koki yang keren kali ya."

"Terserah deh. Tadinya gw mau mengumpamakan lu sebagai kecebong. Masih mending gw umpamakan sebagai ikan. Jadi lu mau gak melewati lubang itu. Ceritanya lu pengen bener tinggal di kolam sebelah."

"Ya… mau aja."

"Walaupun lubang itu sempit? Lu gak ngeluh?"

"Gak ngeluh dong. Kan gw udah tau bakalan dapetin tempat yang lebih baik. Lebih luas berkali lipat dari kolam pertama."

"Nah… kalo gitu, terhadap semua kesulitan, lu gak perlu ngeluh Di."

"Lah… kenapa Ndra? Maksudnya apa sih perumpamaan itu?"

"Semua kesulitan itu seperti lubang sempit itu, Di. Yang membawa pada kenikmatan dan kelapangan."

"Ya gw udah tau. Kalo kesulitan itu membawa kemudahan. Tapi mending gak ada kesulitan sama sekali dan gak perlu ada kemudahan, kalau jadinya impas."

"Kok impas?"

"Iya, memang ujung-ujungnya sih ada kemudahan. Tapi harus lewat kesulitan dulu. Seperti impas gitu kan? Mending gak ada kesulitan sekalian."

"Lho… bukan impas, Di. Kesulitan itu membawa keuntungan. Kadarnya lebih besar dari pada kesulitan yang lu derita. Seperti perumpamaan tadi, dapet tempat yang jauh lebih luas dari tempat sebelumnya. Untung kan?"

"Ya itu kan cuma ada dalam perumpamaan elu. Bukan di kehidupan nyata."

"Di kehidupan nyata juga, Di. Allah swt kok yang bilang itu."

"Ah, masa’?"

"Lu tau dong surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6."

"Iya tau. Setelah kesulitan ada kemudahan. Itu yang impas kata gw tadi."

"Lu salah memahaminya berarti. Di ayat itu bukan impas, tapi untung. Karena Allah menyebut Al-’usr, dan yusron. Al yang berdempetan dengan kata ‘usr (kesulitan) itu bentuk tunggal. Sedangkan kata yusron (kemudahan) tidak memakai Al, tidak berbentuk tunggal,  yang berarti kemudahan itu ada banyak. Jadi Allah menyebutkan setelah satu kesulitan itu ada banyak kemudahan. Bukan setelah satu kesulitan ada satu kemudahan. Gitu lho."

Adi terdiam sebentar. Kemudian ia menjawab, "Oh gitu… Tapi kok… kenapa gw belum ngerasain kelapangan-kelapangan itu ya?"

"Karena kemudahan-kemudahan itu gak membekas di hati lu, Di. Lu cuma meresapi kesulitan aja, dengan cara mengeluh. Tapi terhadap kemudahan dari Allah, lu biarkan lewat tanpa disyukuri. Kalau lu gak mengeluh dan banyak bersyukur, lu pasti nyadar kalo kehidupan lu dipenuhi oleh kemudahan." Balas Indra.

Adi lagi-lagi terdiam.

"Ya kan?" Kata Indra lagi, menagih pembenaran.

Tapi Adi tidak menjawab. Hanya diam. Dan akhirnya Indra melemparkan senyuman ke luar jendela.

******

Menafsirkan Surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, Ibnu Katsir menulis: "Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh "Al-’usri" (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh "yusran" berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak."

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: "Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Agar kita bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu, maka perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (QS 93:11). Terhadap kesulitan, hendaklah berlaku ridho. Dengan itu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat lebih banyak daripada kesulitan.

****

Saya mem-posting tulisan ini pada selasa 29 September 2009. Tapi keesokan harinya, tanggal 30 September 2009, terjadi gempa di Sumatera Barat. Kampung halaman saya. Padang, kota yang saya punya bayak kenangan indah di sana, rusak parah.

Ya Allah… begitu cepat apa yang saya tulis menjadi ujian kembali bagi diri saya sendiri…..

Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Bersabarlah, kita akan kembali pada-Nya.

September 15, 2009

Jangan Sia-siakan Kesempatan

Sejatinya, kesempatan baik itu ada dua jenis. Pertama, kesempatan baik yang apabila tidak termanfaatkan, tidak akan membuat orang yang mendapatkan peluang itu menjadi rugi. Kedua, kesempatan yang apabila tidak termanfaatkan, akan membuat orang yang mendapat kesempatan itu menjadi rugi.

Contoh kesempatan jenis pertama: seseorang berbelanja di tokok andaleh-mart. Karena nominal belanja mencapai seratus ribu rupiah, orang tersebut mendapatkan kesempatan untuk membeli 1 kg gula dengan harga murah hanya sebesar Rp 500. Tapi kesempatan itu tidak diambilnya. Dan orang tersebut tidak rugi apa-apa. Itu lah contoh kesempatan jenis pertama.

Kemudian, apabila ada seseorang berada dalam bahaya, maka kesempatan untuk keluar dari bahaya adalah kesempatan jenis kedua. Misalnya pada peristiwa penyanderaan oleh sekelompok penjahat, tersandera memiliki peluang untuk kabur. Tapi peluang itu tidak diambilnya atau gagal dimanfaatkan. Maka tersandera itu pun menjadi rugi.

Dalam hadits yang cukup kita kenal, bahkan hadits ini menjadi syair lagu bagi tim nasyid Raihan, terdapat nasihat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Untuk menyegarkan ingatan kita, hadits itu berbunyi:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak.)

Kesempatan yang ada dalam hadits di atas adalah kesempatan jenis kedua. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia itu berada dalam keadaan merugi. Dan lima perkara itu menjadi jalan bagi manusia untuk keluar dari keadaan merugi. Yaitu dengan cara memanfaatkan masa muda, masa sehat, masa kaya, masa luang, dan masa hidup untuk beramal sholeh serta saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr:1-3)

*****

Kemudian, ada hadits riwayat Al-Hakim lainnya yang berhubungan dengan kesempatan jenis kedua.

"……Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku lalu berkata,’ Celakalah orang yang mendapatkan bulan Ramadhan, tetapi ia tidak diampuni,’ maka aku berkata, ‘Amin’. Lalu ketika aku menaiki tangga kedua dia berkata,’ Celakalah orang yang mendengar namamu disebut, tetapi ia tidak bersholawat atasmu.’ Maka aku berkata, ‘Amin’. Ketika aku menaiki anak tangga ketiga, ia berkata,’ Celakalah orang yang menjumpai kedua ibu bapaknya yang telah tua atau salah satu dari keduanya, tetapi mereka tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.’ Aku berkata,’Amin’." ( HR Hakim )

Pada hadits ini, ada tiga kesempatan yang apabila tersia-siakan maka orang yang mendapat kesempatan itu menjadi celaka. Yaitu kesempatan mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan, kesempatan bersholawat ketika nama Rasulullah disebut, dan kesempatan berbuat baik kepada kedua orang tua yang telah renta agar mendapatkan surga Allah swt.

*****

Segala kesempatan berbuat baik yang kita dapatkan haruslah dimanfaatkan dengan segera mungkin.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa," (QS Ali-Imran : 133)

Karena selain kesempatan itu mudah hilang, juga ada kemungkinan membatunya hati kita dikarenakan malas yang terpelihara untuk segera memanfaatkan kesempatan itu. Ini terjadi pada Ahli Kitab sebelum umat ini. Telah datang hidayah kepada mereka berupa Al-kitab, namun mereka menunda-nunda untuk memanfaatkan kebenaran itu sehingga hati mereka keras.

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS 57:17)

Tidak semua orang mendapatkan hidayah. Ketika hidayah itu datang, maka itu adalah kesempatan yang diberikan Allah swt pada kita untuk mengikuti petunjuk itu. Tetapi kalau kita bermalas-malasan mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan, maka hati kita kemungkinan akan membatu. Atau akhirnya kita tidak lagi memiliki kesehatan, waktu muda, harta, kelapangan, atau pun kehidupan untuk mengikuti hidayah yang telah Allah berikan.

*****

Kini, kita harus introspeksi atas peluang besar untuk mendapatkan ampunan yang sedang kita dapatkan, yaitu bulan Ramadhan. Bagaimana kita menjalankan aktifitas di bulan Ramadhan? Apakah dengan berleha-leha dan santai-santai saja atas berita baik tentang rahmat, ampunan, dan tertutupnya pintu neraka? Apakah kita membiarkan waktu menggerogoti kesempatan ini detik demi detik, hingga ketika Ramadhan ini berakhir kita gagal menyandang gelar muttaqin? Apakah ampunan Allah semakin menjauh karena kita sendiri yang menjauhinya?

Celaka… celaka lah kita bila gagal memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt. Belum tentu kita mendapatkan bulan Ramadhan tahun depan. Dan ya, memang, di bulan lain kita bisa mendapatkan ampunan. Tapi bila di bulan yang penuh ampunan saja kita gagal mendapatkan maghfiroh dari Allah, lalu bagaimana dengan di bulan yang biasa?

Allahumma innaka ‘afuwwun kariim. Tuhibbul ‘afwa fa’fuanna.
Asyhadu an laa ilaaha illallah. Astaghfirullah. Inni as’alukal jannah. Wa’audzubika minannaar.

—–

Menjelang hari raya idul fitri, Zico Alviandri dan keluarga mengucapkan minal aidin wal faidzin. Taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin, atas semua kesalahan yang kami sengaja atau punt tidak. :)

Aktifitas blogging mungkin berhenti sementara, dilanjutkan setelah Ramadhan. Kecuali kalau ada inspirasi yang sangat bagus untuk ditulis :D

September 9, 2009

Kecuali… Kecuali…

Generalisasi… Kita biasa gunakan ini untuk vonis dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kalau kita menemukan sifat yang sama pada mayoritas anggota suatu golongan, kita akan memukul rata bahwa sifat tersebut dimiliki oleh semua anggota golongan itu.

Biasanya kalau kita mendapat pengalaman tidak enak saat berinteraksi dengan seseorang, ada saja godaan untuk memvonis latar belakang golongan orang tersebut. Entah sukunya, ras, agama, jenis kelamin, atau yang lainnya.

Tentu saja vonis generalisasi macam ini akan mendapat protes. Misalnya kita ngedumel kesal, "Orang Padang memang pelit!!". Lalu akan ada yang protes dengan ucapan itu, "Enak saja… tidak semua orang Padang pelit. Tergantung orangnya masing-masing. Jangan main generalisasi begitu dong…" (Ya dong… saya orang Minang, menurut saya, saya gak pelit kok :p).

Mungkin yang lebih tepat adalah kata-kata: "pada dasarnya, tapi tidak semua." (Sekali lagi, pada dasarnya orang minang gak pelit kok!). Atau kita memerlukan kata "kecuali" saat menilai suatu golongan agar terhindar dari generalisasi. Contohnya: "Anggota dewan itu bukan koruptor. Mereka bersih kok. Ya… kecuali beberapa oknum anggota dewan." (Oh ya? Ada berapa persen tuh beberapa oknumnya? :D )

Ungkapan seperti ini Allah gunakan untuk menghukumi semua manusia.

Dapat kita temukan pada ayat yang sering kita baca: surat Al-Ashr. "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Al-’Ashr: 1-3)

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata: “Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al ‘Ashr)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152). (lihat sumber)

Allah menghukumi manusia sebagai orang yang merugi. Lalu kemudian Allah lengkapi dengan pengecualian pada orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati pada kebenaran dan kesabaran. Allah tidak menggeneralisasi semua manusia itu merugi walau pun kebanyakan manusia itu ingkar kepada Allah dan merugi.

Juga pada ayat yang sering kita baca. "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya" (QS At-Tiin (95):5).

Allah bercerita tentang tempat kembali manusia - makhluk yang telah Allah ciptakan dengan sangat baik, yaitu tempat yang sangat rendah: neraka. Ciptaan yang sangat baik berakhir pada tempat yang sangat rendah. Tapi di situ Allah berikan pengecualian untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Jadilah orang-orang yang beriman dan beramal saleh terhindar dari penghukuman general terhadap manusia.

Oke, sampai di sini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kebanyakan manusia itu merugi dan ingkar. "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS Ar-Rum : 8) Dan mereka akan berakhir pada tempat yang buruk: neraka. Kecuali, orang yang beriman. Mereka akan masuk surga.

Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadits Rasulullah saw yang menyatakan bahwa orang yang beriman akan menempati surga. Tetapi… tunggu dulu… rupanya hal ini juga ada pengecualiannya.

“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari)

Konteks ‘umatku’ di situ adalah umat Islam. Karena hanya orang yang beriman yang akan masuk surga. "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan selain Allah, masuk surga.”" Jadi hanya orang yang beriman yang bisa digeneralisasi bahwa pada dasarnya mereka akan masuk surga.

Sayangnya memang masih ada pengecualian untuk itu. Walaupun pada akhirnya akan masuk surga juga, tapi akan ada umat Rasulullah saw yang singgah ke neraka terlebih dahulu. Itu lah orang yang enggan. Yaitu orang yang mendurhakai Rasulullah saw.

Tidak semua orang yang beriman akan langsung masuk surga. Di antara mereka akan ada yang melalui neraka sebelum masuk surga.

*****

Sekarang, posisi kita adalah sebagai manusia di bumi ini. Kebanyakan dari kita akan kembali ke neraka. Karena itu segera lah bergabung kepada golongan yang masuk pengecualian. Yaitu orang yang beriman.

Orang-orang yang beriman ini pada dasarnya akan masuk surga. Kecuali orang yang enggan, mereka akan masuk neraka terlebih dahulu. Karena itu berdoa lah agarjangan sampai kita tergabung pada golongan yang dikecualikan ini. Semoga. Amiin.

September 2, 2009

Memaafkan

Homo homini lupus. Bahwa manusia akan saling memangsa dengan sesamanya, telah disinyalir oleh para malaikat ketika Allah swt mengumumkan bahwa Ia Azza wa Jalla hendak menciptakan khalifah di bumi dari kalangan manusia.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" (QS 2:30)

Karena sudah wataknya, manusia pun saling menyakiti satu sama lain. Ditopang dengan sifat dendam, membuat pekerjaan saling menyakiti itu menjadi lingkaran setan yang tak pernah putus.

Allah sengaja menjadikan manusia itu sebagai makhluk yang saling memangsa satu sama lain. "Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat."(QS 25:20). Itu semua dalam rangka ujian untuk hamba-Nya. "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS 67:2).

Tetapi keadilan itu ada. Allah menurunkan syariat-Nya yang adil untuk ditegakkan di tengah umat manusia. "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita." (QS 2: 178). Di tangan pemimpin yang adil, syariat ini menjadi syariat yang menjaga kelangsungan hidup manusia. "Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa." (QS 2:179)

Dan apabila kezholiman tidak bisa diadukan pada pemimpin yang adil, Allah sendiri Maha Adil. Ia menerima pengaduan hamba-Nya yang terzholimi."Berhati-hatilah dengan doa orang yang dizholimi sungguh tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT" (HRBukhori, Muslim, an Nasa’i, ibnu Majah, ad Darimi, dan Ahmad).

Memang kita diberi jalan untuk mencari keadilan. Tapi sebenarnya tindakan zholim orang lain adalah peluang yang besar bagi kita untuk mendulang pahala yang besar dan meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Ada banyak dalil yang menyebutkan keutamaan memaafkan. Tapi saya hendak mengajak pembaca untuk mentadaburi surat Asy-Syuura, pada ayat 39-41. Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut Allah dua kali menyatakan bahwa tidak ada dosa bagi penuntut keadilan dan Allah pun juga dua kali menegaskan bahwa bersabar dan memaafkan itu lebih baik. Susul menyusul.

"Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri (ayat 39). Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (ayat 40). Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka (ayat 41). Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih (ayat 42). Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (ayat 43)."

Allah memperbolehkan untuk menuntut keadilan, tetapi menawarkan yang terbaik. Ada pahala dari Allah serta keutamaan memaafkan dan kesabaran.

Kebaikan dari memaafkan ini tidak cuma didapat oleh yang memaafkan, tapi kadang juga diterima oleh yang dimaafkan. Ya, memaafkan itu kadang mendatangkan kebaikan bagi pelaku kezholiman.

Kadang kala ada suatu kezholiman yang sudah pantas untuk dibalas. Tapi demi kebaikan yang hadir di masa yang akan datang, kezholiman itu tidak dibalas segera. Itu yang berlaku kala Rasulullah ditolak dakwahnya dan bahkan dianiaya oleh penduduk Thoif. Cerita ini sudah sangat masyhur. Saat itu Allah mengutus Jibril dan Malaikat Gunung untuk menemui Rasulullah. Lalu malaikat gunung pun menawarkan Rasulullah untuk meratakan Thoif dengan tanah. Tapi Rasulullah menolak dengan jawaban yang elegan."Tidak, bahkan aku berharap dari keturunan mereka akan muncul orang yang beribadah kepada Allah yang tidak menyekutukannya".

Dan harapan Rasulullah pun terwujud. Kelak kemudian lahir ahli fiqh dan ahli ibadah dari penduduk Thoif.

Ada cerita tentang orang yang ujub dan ghurur. Ia merasa sudah rajin beribadah dan berdakwah. Lalu ada sekelompok orang yang menyakiti dirinya. Ia menyangka bahwa orang yang zholim itu tidak akan selamat dari balasan Allah karena telah menyakiti dirinya yang telah beramal sholeh.

Pandangan ini keliru. Betapa banyak sahabat Rasulullah yang tadinya mereka termasuk orang yang gencar sekali memusuhi Rasulullah saw. Ada Umar bin Khattab ra, Abu Sofyan ra, Khalid bin Walid ra, dan banyak sahabat lain. Karena maaf Rasulullah saw lah mereka selamat dari memperoleh balasan atas kejahatan mereka dan menikmati peluang untuk bertaubat dan berbuat baik.

Kejahatan orang lain pada diri kita adalah sebuah bentuk ujian dari Allah. Atas kejahatan orang, kita bersabar; dan terhadap pelakunya, kita memaafkan. Bersabar dan memaafkan itu sangat-sangat baik untuk kita. Jangan mudah dendam, dan jangan sulit memaafkan. Jangan cepat menyangka orang yang berlaku zholim itu tidak akan pernah selamat dari azab Allah. Itu rahasia Allah. Bisa saja orang yang zholim itu justru Allah takdirkan kelak akan memperoleh kebaikan yang lebih dari kita.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Allah tertawa melihat dua orang yang telah bunuh membunuh dan keduanya masuk surga. Seorang pejuang berjuang di jalan Allah (Fisabilillah) lalu terbunuh kemudian yang membunuh masuk Islam dan ikut berjihad Fisabilillah sehingga mati syahid terbunuh pula.” (HR Bukhari - Muslim)

Memang ada mekanisme pengaduan kepada Allah. Tapi jangan terburu-buru menghendaki keburukan bagi orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk selamat agar bisa memperoleh hidayah. Lebih baik lagi kalau kita yang mendoakannya mendapatkan hidayah.

Selain itu, di balik perilaku jahat orang lain sebenarnya memberi peluang bagi kita untuk dekat dengan orang itu. Mungkin orang tersebut memiliki sesuatu manfaat bagi kita apabila kita dekat dengannya. Misalnya orang tersebut atasan kita. Mungkin kalau kita dekat dengan dia, karir kita bisa lancar atau cepat naik gaji. Nah, salah satu jalan untuk dekat itu sebenarnya adalah perilaku tidak menyenangkan orang itu pada kita. Kalau kita membalasnya dengan kebaikan, maka insya Allah akan terjadi seperti pada firman Allah berikut:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS 41:34)

Ada banyak sekali keutamaan yang didapat dari memaafkan. Bahkan seorang sahabat dipastikan sebagai ahli surga oleh Rasulullah walaupun ibadahnya tidak istimewa, hanya karena ia suka memaafkan orang lain. Menjelang tidurnya ia sempatkan diri untuk membersihkan hatinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.

Sudah dikutip di atas, surat Al-Furqaan (25) ayat 20, bahwa Allah menjadikan manusia menjadi ujian bagi yang lain agar manusia itu membuktikan kesabarannya. Itulah hikmah dari "homo homini lupus".

August 25, 2009

Menjaga Hati

Suatu hari terjadi percakapan antara saya dengan seorang senior di kampus, ketika saya masih di bangku kuliah. Di pembicaraan itu, senior saya mengkritik perilaku teman-teman mahasiswa aktivis dakwah yang suka menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan lawan jenis. Senior saya berkata, "Katanya jaga hijab… Yang perlu dihijab kan hati. Walau pun tidak melihat tapi hatinya bermain, kan sama saja bohong. Lebih baik hati yang dihijab." Seperti itu lah kira-kira.

Saat itu saya mangut-mangut. Ungkapan itu terdengar logis.

Berapa lama kemudian di sebuah pengajian, terdengar kritik dari seorang anggota pengajian (dia adalah senior saya yang lain) kepada para aktivis dakwah kampus yang menyepelekan hijab. "Mereka bilang ghodul qulub (menjaga hati) lebih penting, kemudian menyepelekan ghodul bashor (menjaga pandangan). Padahal yang benar ghodul bashor ilaa ghodul qulub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Jaga pandangan dulu untuk kemudian jaga hati!"

Nah lho… saya termangut-mangut lagi. Mana yang benar?

Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah penjagaan yang langsung di pusatnya: hati, daripada bersusah-susah menjaga pandangan. Tapi menurut senior kedua, tidak mungkin menjaga hati apabila tidak menjaga pandangan.

Sejauh mana kita bisa menjaga hati? Yang ditawarkan oleh senior pertama adalah kita mengontrol langsung hati kita sendiri. Pertanyaannya, bisa kah kita mengontrol atau mengendalikan hati kita?

Bahwa kondisi hati mengendalikan kita, jelas sekali dalilnya. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Lalu, sekali lagi, sejauh apa kendali kita terhadap hati?

Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, "…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al-Muthofifin : 83)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”" (QS. An-Nuur : 30-31).

Karena itu, saya rasa pernyataan senior yang kedua lebih tepat: ghodul bashor ilaa ghodul quluub (menjaga pandangan untuk menjaga hati). Bagaimana mungkin kita menjaga hati sementara indera kita dibiarkan bermaksiat?

*****

Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

*****

Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.

Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.

Allahu’alam bish-showab.

Tulisan terkait:

N O D A

August 6, 2009

Hidup Bersamanya

Dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global”, Hermawan Kartajaya menulis sebuah kisah.

“Seorang teman pergi ke dokter internis, ahli penyakit dalam. Dia mendadak suka haus. Oleh dokter, ia divonis diabetes mellitus. Dokter geleng-geleng kepala. Sambil mengernyitkan dahi, dokter bertanya bagaimana bisa dalam usia kurang dari 40 tahun sudah terkena penyakit kronis ini. “Kamu bisa mati kalau tidak hati-hati. Ini penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Paling-paling Cuma bisa dilakukan pencegahan saja!”.

Lantas teman saya dianjurkan ke ahli gizi. Oleh ahli gizi, dia diharuskan untuk diet ketat. Mengetahui kalau dia kena diabetes, teman saya jadi murung. Tapi dia tetap berusaha keras untuk mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh ahli gizi itu.

Tiga bulan kemudian, dia pergi ke Singapura untuk check up. Kali ini dia pergi ke salah satu dokter ahli penyakit dalam yang praktek di Mt-Elizabeth Hospital. Hasilnya sama, diabetes mellitus. Tapi ada yang sangat berbeda. Si dokter Cuma ketawa dan menghibur, “ya, Anda memang sudah diabetes. Ini penyakit kronis. Yang penting you have to live with it!”. Maksudnya si dokter ingin mengatakan, ya mau apa lagi. Sudah terlanjur diabetes. Yang penting jangan terlalu dipikirkan penyakit itu. Tapi bagaimana caranya hidup produktif bersama diabetes!”

Cerita di atas ada lanjutannya, tapi saya potong sampai di situ. Pointnya tentang bagaimana memanjakan client. Cerita itu dimuat dalam buku marketing. Tulisan ini tidak membicarakan tentang pelayanan pada client, tapi ada pelajaran bagus dari cerita di atas.

Pelajaran itu ada pada kata-kata si dokter Singapura untuk menyambut musibah yang dialami oleh penderita diabetes pada cerita di atas. “Yang penting you have to live with it.” Becanda kah si dokter? Atau meremehkan? Atau malah mengejek?

Tidak, tapi dokter itu memang benar untuk menyambut musibah dengan ceria. Apalagi musibah seumur hidup seperti penyakit diabetes.

Dalam buku La Tahzan, Dr ‘Aidh Al-Qarni (siapa yang tidak tahu buku itu, dan siapa yang tidak kenal beliau?) pada tulisan yang berjudul “Pendapat Orang-Orang Bijak Tentang Sabar” menulis: “Konon Anusyirwan pernah mengatakan, “semua ujian di dunia ini bisa dikategorikan menjadi dua. Pertama, yang bisa dicari jalan keluarnya, yakni guncangan jiwa. Dan kedua, yang tidak bisa dicari jalan keluarnya. Yang ini sembuh justru dengan menyambutnya.” Menurut kalangan bijak bestari, “jalan keluar yang tidak memberikan jalan keluar adalah kesabaran.””

Karena diabetes mellitus – menurut dokter – tidak bisa dicari jalan keluarnya, maka menyambutnya dengan kesabaran itu jauh lebih baik. Kesabaran malah menjadi “jalan keluar” dari musibah yang tidak ada jalan keluarnya.

Diabetes mellitus hanyalah satu contoh. Ada banyak jenis musibah yang bila menimpa seseorang, maka seseorang itu harus hidup bersamanya. Misalnya cacat permanen. Dari namanya saja – permanen, kita harus hidup bersama cacat itu sepanjang hayat. Tapi silakan googling, ada banyak cerita tentang orang cacat yang berprestasi. Ada kisah tentang seorang buta di negeri kita yang karya seninya berupa ilustrasi musik dipakai oleh game Mario Bross dan Final fantasy. Dia bernama Ramaditya. Dan masih banyak cerita orang cacat yang berprestasi lainnya.

Musibah yang kita harus hidup bersamanya bukan sebatas pada penyakit. Ada banyak derita lain. Yang paling menarik adalah…. persoalan asmara. Nah lho…

Dalam bukunya “Catatan seorang ukhti: 4, Karena Cinta Harus Diupayakan”, ada kisah yang menarik tentang rasa cinta yang membekas dan tak mau hilang. Itu menimpa pada seorang wanita yang sudah berkeluarga selama (kalau tidak salah) 5 tahun (maaf saya tidak punya bukunya, cuma pernah baca saja :-D ). Pada curhatnya dia mengaku tidak bahagia dalam rumah tangganya. Penyebabnya adalah perasaan cinta yang tidak bisa hilang kepada seorang lelaki yang bukan menjadi suaminya.

Menurut saya, perasaan cinta yang tidak bisa hilang itu seharusnya bukan alasan untuk menjadi tidak bahagia. Kecuali kalau dipaksakan solusinya adalah hidup bersama orang yang dicintai. Tentu itu susah untuk diupayakan (kalau tidak mau dibilang tidak bisa). Dan selama wanita itu tidak hidup bersama pria yang dicintainya, ia tidak akan bisa bahagia.

Kalau perasaan itu sudah diupayakan untuk lenyap namun tidak kunjung hilang juga, maka kesabaran lah solusinya! Biarkan kesabaran - yang harus sudah ada sejak awal musibah - menemani perasaan itu, dan kita bisa fokus pada dunia nyata. Jangan biarkan perasaan itu tidak terkontrol oleh kesabaran hingga mengganggu dunia nyata kita.

Begitulah, ada banyak musibah lain yang kita harus hidup bersamanya. Bisa berupa kegagalan kita menggapai cita-cita dan kesempatan itu telah hilang. Mungkin kematian dari salah seorang yang kita cintai. Atau mungkin ada pembaca yang pada masa kecilnya pernah diperkosa (duh sadis banget contohnya). Biarkan musibah itu mengiringi kita, dan kita hadirkan kesabaran untuk melengkapinya. Selanjutnya, semua musibah itu tidak bisa menghalangi produktifitas kita.

Tetapi ingat, kesabaran harus sudah dihadirkan sejak awal musibah. ”Sesungguhnya yang namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Tetap semangat!!! :-)

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah (QS 70:5)

June 6, 2009

Dari Pohon Hingga Kebun

Kita semua tentu mengenal apa itu tumbuhan atau pohon. Suatu organisme yang tumbuh dari sebuah bibit atau biji, kemudian memiliki tunas, dan terus tumbuh hingga memiliki dahan, cabang, dan ranting. Subhanallah… Kebesaran Allah sangat terlihat pada perjalanan tumbuhnya organisme ini.

Organisme inilah yang dipakai Allah untuk menjadikan perumpamaan bagi harta yang diinfakkan oleh seorang mukmin di jalan Allah, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah:261. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Sangat indah dan tepat. Begitulah yang dipaparkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa ketika Allah menerangkan perumpamaan sebutir biji yang tumbuh menjadi 7 tangkai dan setiap tangkai menghasilkan 100 biji, perumpamaan ini lebih mengena ke dalam jiwa daripada langsung menyebutkan bahwa satu kebaikan mendapat ganjaran 700 kali lipat karena disini ada isyarat bahwa amal sholeh seseorang ditumbuhkan Allah sebagaimana Allah menumbuhkan sebutir biji bagi orang yang menanamnya di tanah yang subur, bahkan lebih dari itu sebagaimana diriwayatkan dari Imran bin Hashin dari Rasulullah , beliau bersabda : “Barangsiapa yang membiayai orang yang sedang berjihad di jalan Allah sedang dia tinggal di rumahnya, maka baginya disetiap dirhamnya 700 dirham pada hari kiamat dan barangsiapa ikut berperang di jalan Allah serta juga menafkahkan hartanya maka baginya pada setiap dirhamnya 700.000 dirham. Kemudian Rasulullah membaca ayat …Wallahu yudhooifu liman yasyaa’… (dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki) sesuai keikhlasannyan dalam beramal dan Allah Maha Luas KaruniaNya dan lagi maha Mengetahui”.

Bila dalam sebidang tanah terdapat sebuah pohon, lalu benih-benih dari pohon itu jatuh ke tanah dan kemudian menumbuhkan pohon-pohon yang baru, maka sebidang tanah itu bisa menjadi kebun. Kebun yang homogen. Bila sebidang tanah itu ditumbuhi lebih dari satu jenis pohon, maka sebidang tanah itu menjadi kebun yang heterogen.

Kalau kita mendengar kata kebun, tentu yang terbayang ada sebidang tanah yang indah,rindang, dan menyenangkan yang terdapat pohon-pohon baik sejenis atau berbagai jenis. Kata kebun yang bercitra indah ini juga digunakan oleh Allah untuk perumpamaan bagi harta yang diinfakkan oleh seorang mukmin di jalan Allah. “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS Al-Baqarah : 265).

Dalam dua ayat yang berdekatan ini Allah menggunakan perumpamaan pohon dan kebun. Perumpamaan yang ‘nyambung’, karena antara pohon dan kebun punya hubungan. Subhanallah…

Suatu sedekah yang kita keluarkan ibarat tumbuhan yang akan tumbuh mulai dari benih hingga memiliki tujuh bulir dengan 700 biji tiap bulirnya. Maka jadikanlah sedekah kita itu kebun. Kebun yang homogen, manakala sedekah itu kita rutinkan, dan kebun heterogen manakala kita memiliki lebih dari satu macam sedekah.

Umpamanya berinfaq untuk seorang anak yatim dari kerabat kita, itu – insya Allah – akan menjadi sebuah pohon infaq kita. Kalau infaq itu kita rutinkan perbulan, akan menjadi sebuah kebun amal yang homogeny. Dan kalau kita juga punya pos infaq yang lain, misalnya infaq untuk Palestina, infaq untuk saudara yang lain, infaq untuk masjid yang kita rutinkan, dan kita juga punya kewajiban membayar zakat profesi, maka kita memiliki kebun amal yang heterogen.

Insya Allah, Allah akan melipat gandakan kebun amal kita.

April 20, 2009

Guncangan

Suatu hari sewaktu saya masih di bangku SMU, pernah terjadi gempa bumi. Dan setelah gempa bumi itu reda, kawan saya tidak sengaja menemukan seekor ular yang hendak dan hampir keluar dari sebuah lubang yang ada di halaman sekolah. Kami mengerubungi lubang itu dengan perasaan penasaran campur takut.

Tampaknya gempa bumi yang menyebabkan ular itu hendak keluar. Ular itu sepertinya mengkhawatirkan keselamatan dirinya sehingga harus keluar dari lubang sarangnya. Ular juga butuh keselamatan. Apa lagi mungkin dia tidak ikut asuransi sehingga kalau cedera tidak ada proteksi untuk pengobatan dirinya. (halaah…)

Fenomena ini, sebenarnya bisa menjadi permisalan bagi kehidupan kita. Untuk menampakkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam hati, perlu ada guncangan pada hati kita.

Dalam keadaan tenang, mungkin kita tidak akan pernah menyangka bahwa kita memiliki sifat yang mudah berkeluh kesah, dengki, dendam, dan sifat buruk lainnya. Tetapi ketika kita mendapat guncangan, mendapat masalah dalam hidup, maka itu akan memancing watak-watak buruk untuk tampil dalam perilaku kita.

Ketika saya mengikuti acara kemah yang diadakan oleh organisasi keislaman di kampus saya dulu, ada teman yang mengatakan pada saya bahwa watak asli seseorang akan terlihat di alam, ketika acara kemah seperti ini. Akan terlihat mana yang pekerja keras, mana pengeluh, mana yang manja.

Watak-watak tersebut terpancing keluar oleh guncangan, yaitu berupa kehidupan yang tidak nyaman. Di alam bebas atau di hutan, kita harus survive. Ketika lapar tidak ada pembantu untuk memasakkan makanan. Harus kita sendiri memasak makanan dengan peralatan seadanya. Ketika tidur, begitu tidak nyaman. Harus mendirikan perlindungan berupa tenda yang tidak cukup baik melindungi dari nyamuk dan hujan.

Misal di kantor kita ada pegawai baru yang terlihat periang, mungkin perlu ada ujian berupa beban kerjaan yang stressful untuk melihat apakah dia periang dalam setiap keadaan. Perlu ada konflik dengan pegawai lain untuk melihat apakah ia pemaaf dan tidak pendendam atau sebaliknya.

Guncangan itu sunnatullah (QS 2:155). Dan guncangan itu adalah hal yang baik. Berikut ini manfaat guncangan:

1. Sebagai jalan menuju surga dan pembuktian iman.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah 214 yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”

Yakin lah ketika kita mendapatkan guncangan yang hebat dalam hidup, maka itu adalah sebuah jalan menuju ke surga. Balasan bagi orang yang beriman adalah surga, dan iman itu sendiri perlu pembuktian.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut : 2)

Dari dua ayat ini, Allah memperingatkan kita agar kita tidak mengira bahwa pernyataan iman kita akan mulus mengantarkan kita pada surga. Tidak!! Ada guncangan untuk itu semua. Dan ketika guncangan itu datang, kabar baik, Allah telah merespon pernyataan kita dan telah membentangkan jalan untuk ke surga. Insya Allah :)

(Silakan buka buku ‘Menuju Jamaatul Muslimin’ karya syeikh Husain bin Muhammad bin Ali Jabir. Ada bab tentang tabiat jalan. Yang bercerita tentang berbagai guncangan kepada pembela kebenaran.)

2. Kesempatan untuk membersihkan diri.

Seperti yang sudah disebutkan, guncangan membuat ‘ular-ular’ yang bersembunyi pada lubang di hati kita untuk keluar. Saat itu lah kesempatan kita membunuh ular-ular itu dan membersihkan hati kita dari binatang jahat tersebut.

Saat kita telah menyatakan beriman, lalu Allah menurunkan ujian pada kita. Kadang kala terjadi seperti Surat Al-Ankabut ayat 10, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.”

Guncangan malah membuat kita melakukan kesalahan. Tapi masih ada kesempatan. Atas kesalahan yang kita perbuat, kita bisa bertaubat dan mengambil pelajaran untuk tidak mengulanginya lagi. Allah memperlihatkan aib kita melalui ujian agar kita bisa memperbaiki diri.

Yang perlu diperhatikan, apabila kita menemukan diri kita mudah berkeluh kesah kalau ada masalah, jangan kita menyangka seperti ini: “Ah, kalau ada masalah memang bawaan saya begitu. Tapi kalau saya mendapat nikmat, insya Allah saya mudah bersyukur sih. Memang kelemahan saya itu di ujian yang tidak enak, tapi kalau ujian yang enak, insya Allah saya lulus.”

Perhatikanlah surat Al-Ma’arij ayat 19-21. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,”

Allah menyanding sifat keluh kesah dan kikir sebagai suatu kesatuan. Maka menjadi warning, kalau kita mudah mengeluh dalam keadaan tidak enak, dijamin dalam keadaan yang enak akan menjadi kikir. Sama saja, tidak lulus ujian juga.
Jadi, insya Allah suatu guncangan dalam hidup bisa membersihkan dua penyakit sekaligus, yaitu bila kita belajar tidak berkeluh kesah, sekaligus juga akan membersihkan penyakit kikir. Insya Allah.

3. Dalam barisan dakwah, guncangan menjadi seleksi yang membersihkan dari anasir yang lemah.

Salah satu kisah tentang seleksi ini ada pada kisah Bani Israil yang Allah ceritakan pada surat Al-Baqarah 246-251. Awalnya mereka meminta melalui salah seorang nabi mereka agar Allah mengangkat seorang raja agar mereka bisa berperang. Nabi itu menggertak, jangan-jangan mereka tidak jadi berperang setelah Allah menurunkan perintah perang. Lalu mereka membantah dan beralasan.

Kekhawatiran nabi itu terwujud. Allah memerintahkan mereka berperang, tapi hanya sedikit saja dari mereka yang menyambut perintah itu. Ada apa?

Ada guncangan pada egoisme mereka. Raja yang mereka minta untuk memimpin mereka berperang, adalah orang yang mereka anggap tidak memiliki kekayaan yang cukup. Harga diri mereka terguncang, karena mereka menganggap masing-masing dari mereka lebih berhak menjadi pemimpin dari pada Thalut, raja baru yang telah Allah anugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Sebuah guncangan yang mengarah pada rasa gengsi yang tinggi. Dan mereka pun terseleksi. Hanya sedikit yang menyambut perintah perang.

Seleksi berlanjut. Thalut membawa keluar pasukan yang sedikit itu. Perjalanan panjang dan melelahkan mengundang dahaga. Lalu mereka menjumpai sebuah sungai yang airnya bisa melepas haus. Tapi Thalut malah menyampaikan bahwa Allah hendak menguji mereka untuk tidak meminum air sungai tersebut kecuali sekedar mencedukkan tangan. Sebuah guncangan lagi untuk mereka. Dan lagi-lagi mereka terseleksi. Sebagian besar dari mereka membandel meminum air dari sungai itu, dan kemudian tiba-tiba mengaku tidak mampu melawan Jalut, musuh yang akan dihadapi. Mental orang-orang yang meminum air sungai itu drop akibat ketidak-patuhan. Hanya sedikit dari mereka yang menuruti perintah Allah yang melanjutkan perjalanan.

Pasukan yang tinggal sedikit tersisa itu kemudian sekali lagi merasakan guncangan saat mereka berhadapan dengan Jalut dan tentaranya yang perkasa. Tapi mereka adalah orang yang cerdas yang mengeluarkan senjata pamungkasnya berupa do’a “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

Allah kekalkan redaksi doa mereka dalam Al-Qur’an agar kita menjadikannya doa ketika menghadapi guncangan.

Kisah ini happy ending. Mereka memenangi pertempuran. Dan Jalut terbunuh oleh salah seorang dari mereka yang bernama Daud a.s., yang kemudian menjadi Nabi. Begitulah kwalitas dari barisan yang sudah terseleksi ketat oleh berbagai guncangan. Mereka mampu mengalahkan pasukan yang lebih kuat. Dan keyakinan mereka adalah keyakinan yang baja yang mencerminkan pembuktian keimanan yang sangat dalam: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Itulah antara lain manfaat guncangan yang Allah hadirkan pada kita. Jangan kira itu buruk, tapi itu baik bagi kita kalau kita mau bersabar.

—–

artikel terkait, http://andaleh.blogsome.com/2008/06/18/sabarlah-kita-akan-kembali-pada-nya/

February 18, 2009

Penyemangat Di Awal Hari

Awal yang baik sangat berpengaruh bagi kesuksesan suatu proses.

Tanyakan pada seorang pelari, kesuksesannya saat start berpengaruh besar baginya untuk terdepan mencapai garis finish. Ketika ia telat start, maka ia harus bersusah payah untuk mendahului lawan-lawannya. Saking berpengaruhnya, maka kita kenal “curi start” dalam perlombaan lari.

Tanyakan juga pada perenang. Lompatan awalnya sangat berpengaruh untuk kesuksesannya terdepan menyentuh garis finish. Kalau terlalu pendek melompat, atau malah terpeleset, maka ia akan kesulitan mengalahkan lawan-lawannya. Tanyakan juga pada pembalap. Bagaimana pentingnya sebuah start. Kalau bisa, ia harus berada di posisi nomor 1 dalam start.

Begitu juga dalam keseharian kita. Start yang baik di pagi hari akan berpengaruh bagi kesuksesan kita di hari itu.

Kalau kita terbangun tanpa semangat, maka kemurungan akan mengisi hari kita. Tetapi kalau kita terbangun dengan penuh semangat dan bergairah, maka hari yang cerah telah menunggu kita.

Setiap hari adalah pertempuran. Kita harus memenangkan pertempuran dalam setiap harinya. Oleh karena itu, kita harus memasuki pertempuran dengan mental seorang pemenang, bukan pecundang. Dengan begitulah kita bisa berjaya di medan pertempuran.

Boleh saja mensugesti diri ketika bangun tidur dengan kata-kata yang bersemangat. Misalnya, “Selamat datang di hari yang menyenangkan…”, atau “Selamat pagi, waah senangnya bertemu hari yang baru…”. Kata-kata motivasi tersebut semoga bisa membuat kita lebih bersemangat mengarungi itu.

Tapi ada kata-kata yang penuh motivasi yang diajarkan oleh Rasulullah. Kata-kata yang bukan sekedar mantra, tapi menyemangati kita. Kata-kata tersebut dalam bentuk doa.

Terdapat dalam hisnul muslim, bacaan ketika bangun tidur ialah: “Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.” “Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.” Doa tersebut bisa menjadi kata-kata penyemangat kalau diresapi ketika diucapkan, asal bukan sekedar ucapan rutin tanpa penghayatan, apalagi bila tidak diucapkan. Kata-kata tersebut bukan mantra, tapi doa yang maknanya menyemangati.

“Alhamdulillah”. Ucapan syukur seorang hamba atas berbagai nikmat-Nya. Melalui ucapan pertama ketika bangun tidur, Rasulullah mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup kita berada dalam limpahan nikmat-Nya. Dan seperti hari-hari yang lain, hari yang akan kita masuki adalah hari yang berlimpahan nikmat-Nya. Ada segudang nikmat tak terhitung yang menunggu kita di hari itu. Dan bersiap lah mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi melalui ucapan tersebut.

“Allah tidak memberikan nimat kepada seorang hamba yang kemudian ia membaca Alhamdulillah, melainkan nikmat yang Dia berikan lebih baik dari apa yang diterima oleh hamba itu.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).

Kalau kita tahu bahwa ada nikmat yang berlimpah yang akan menunggu kita, lalu apa yang membuat kita tidak bergairah menyambut hari? Maka ucapkanlah “Alhamdulillah” dengan senyum dan penuh penghayatan, menghadirkan kata-kata tersebut ke dalam hati dan tulus berterima kasih kepada Allah swt atas segala nikmat-Nya.

“Alladzi ahyanaa ba’da maa amatanaa…”. Setelah mengucapkan syukur, kesadaran kita diarahkan pada kenyataan bahwa kita sedang hidup. Kita mendapatkan kehidupan setelah melalui proses kematian kecil – yang juga adalah nikmat-Nya yang lain. Kehidupan inilah yang menjadi objek syukur dalam doa ini. Dan Allah lah yang memberi nikmat tersebut.

Ya, kehidupan itu adalah sebuah nikmat. Karena melalui kehidupan lah kita bisa merasakan berbagai nikmat tak terhitung dari Allah. Dan melalui kehidupan, kita mendapat kesempatan berbuat untuk kehidupan yang lain di akhirat nanti, yang kekal abadi. Karena itu bersemangat lah menjalani nikmat Allah yang satu ini!!!

“Wa ilaihin nusyuur”. Doa ini, kata-kata penyemangat ini, ditutup dengan kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya. Kesadaran ini membuat kita bertambah semangat lagi, karena kita sebagai seorang muslim tentu menginginkan perjumpaan dengan-Nya. Seorang muslim mustilah rindu begitu sangat kepada-Nya.

Maka bagi orang yang rindu akan perjumpaan pada-Nya, bersemangatlah menggunakan nikmat hari yang cerah ini untuk diisi dengan amal sholeh. Ayo semangat!!!

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al Kahfi : 110)

Kesadaran bahwa kita akan kembali pada-Nya, akan membuat kita bergairah mengarungi hidup walau pun kita sadar kita memiliki masalah. Tertanam dalam kesadaran kita, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Kita sadar bahwa berbagai penyakit dan musibah yang kita hadapi adalah dari Allah – dengan tujuan untuk menguji kita, dan Allah lah tempat kita memohon agar Ia rela mengambil semua penyakit dan masalah kita. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”

Allah lah tempat kembali kita. Kita ‘mentok’ kepada-Nya. Penggal ini dalam doa sesudah tidur, membuat kita menjadi optimis dan bersemangat menghadapi berbagai masalah yang ada, karena kita punya Allah. Kita punya Allah. Kita serahkan pada-Nya berbagai permasalahan kita. Dan ia adalah sebaik-baik Pemecah Masalah.

Ayo, semangatlah mengarungi hari yang baru. Awali hari ini dengan start yang baik, yang elegan. Motivasi diri kita dengan sunnah Rasulullah, doa bangun tidur.

[Tulisan lain yang berkaitan dengan penggal wa ilaihin nusyur: Bersabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya]

—-

Artikel menarik lain:

N O D A
Rumput Tetangga Lebih Hijau
Ceng-ceng-an

December 15, 2008

Sebuah Logical Fallacy

Ada sebuah pendapat yang sangat ngawur mengatakan bahwa, “Karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, maka apabila kita sudah berakhlak baik, kita tidak perlu lagi sholat.” Pendapat itu merujuk pada firman Allah surat Al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” Menurut pendapat tersebut, tujuan sholat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar. Ketika seseorang tidak lagi mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tidak perlu lagi sholat.

Sebuah logical fallacy. Rasulullah saw saja yang Allah memujinya dengan firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS 68 : 4), tetap melakukan sholat hingga bengkak kakinya. Para sahabat yang berada pada generasi terbaik tidak ada yang tercatat meninggalkan sholat karena merasa akhlaknya sudah baik.

Pendapat tersebut bisa keluar dari ketidak-seimbangan orientasi kebaikan, di mana kebaikan dalam hubungan terhadap manusia (hablum minannaas) yang dipresentasikan pada akhlakul karimah dipandang lebih utama daripada hablum minallah. Atau bisa jadi yang diperhatikan hanyalah habulum minannas dan menafikan hablum minallah.

Bentuk peremehan atas hablum minallah bisa dilihat dari pandangan bahwa seolah-olah bentuk perbuatan keji dan munkar itu hanyalah akhlak yang buruk terhadap sesama manusia. Padahal yang paling awal dikategorikan perbuata keji dan munkar adalah bentuk kedurhakaan kepada Allah SWT.

Atau pendapat tersebut lahir dari salah kaprah menyangka bahwa yang termasuk perbuatan keji dan mungkar adalah perbuatan yang dilarang oleh agama, atau melanggar norma kesusilaan dalam hubungan manusia saja (mis. berjudi, mabuk, berzina, dll). Tidak masuk dalam hitungannya bahwa yang termasuk perbuatan keji dan munkar adalah ketidak-taatan atas perintah Allah SWT (mis. sholat, zakat, puasa, dll). Padahal taqwa itu adalah mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam hal ini, Allah memerintahkan kita sholat untuk menyembah-Nya. Maka bentuk perbuatan keji dan munkar yang pertama kali adalah ketika kita tidak melakukan sholat. Lalu bagaimana disebut sudah lepas dari perbuatan keji dan munkar manakala akhlak kepada sesama manusia begitu baik namun ketaatan kepada Allah sangat tipis atau nihil?

Yusuf Qardhawi dalam karangannya “At-Taubah Illallah” (buku terjemahan Indonesianya berjudul “Taubat” karangan Pustaka Al-Kautsar, lihat hal. 114 & 115), menulis : “Pembagian pertama tentang dosa ada dua macam: Meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakanapa yang dilarang. Banyak orang mengira bahwa dosa itu hanya sekedar mengerjakan apa yang dilarang dan diharamkan semata. Mereka lupa bahwa kedurhakaan pertama terhadap Allah adalah meninggalkan apa yang diperintahkan dan bukannya mengerjakan apa yang dilarang. Ini merupakan kedurhakaan Iblis. Allah telah memerintahkannya untuk sujud kepada Adam yang telah diciptakan dengan Tangan Allah sendiri dan meniupkan dari Ruh-Nya. Namun Iblis membangkan perintah Allah ini.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam”. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah : 34).

Kedurhakaan kedua adalah mengerjakan apa yang dilarang Allah, yaitu merupakan kedurhakaan Adam…”

Jelas sekali, bahwa ajakan untuk meninggalkan sholat apabila merasa diri sudah memiliki akhlak yang baik atau merasa sudah meninggalkan perbuatan keji dan munkar, sesungguhnya merupakan ajakan untuk melakukan perbuatan keji dan munkar dalam bentuk yang lebih besar lagi. Bahkan ajakan tersebut adalah ajakan kepada kekafiran, karena sholat merupakan pembeda antara mukmin dan orang kafir.

Selanjutnya Yusuf Qardhawi menulis, “Begitulah kita melihat dosa dan kesalahan yang bisa dipilah antara meninggalkan perintah Allah, ataukah mengerjakan apa yang dilarang Allah. Apa yang diperintahkan Allah juga berbeda-beda derajatnya. Perintah-Nya yang paling besar adalah tauhid dan iman, sedangkan larangan-Nya yang paling besar adalah syirik dan kufur. Setelah itu disusul dengan berbagai macam kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam dan bangunan-bangunannya yang agung seperti mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan, menunaikan haji. Meninggalkan salah satu dari kewajiban-kewajiban dan syiar-syiar yang agung ini merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah. Tingkat dosanya juga berbeda-beda. Yang paling besar adalah sholat karena sholat merupakan sendi agama, tanda orang-orang mukmin dan pemisah antara orang mukmin dengan orang kafir. Meninggalkan sholat termasuk ciri orang-orang kafir.

“Dan apabia dikatakan kepada mereka, “Ruku’ lah”, niscaya mereka tidak mau ruku’ (Al-Mursalat : 48).

Mengerjakan sholat dengan malas-malasan dan hati yang berat merupakan ciri orang munafik.

“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, maka mereka berdiri dengan malas” (An-Nisa’  142).

Allah menganggap celaka orang-orang yang menunda sholat dan melalaikannya hingga waktunya lewat.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya” (Al-Ma’un : 4-5)

Bahkan di antara imam-imam Muslimin ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggakan sholat sama dengan orang kafir dan keluar dari agama”

Orang yang berpendapat dan yang membenarkan bahwa tidak perlu sholat apabila tidak berbuat keji dan munkar, haruslah bertaubat dan menegakkan sholatnya lebih ketat lagi!!!

November 17, 2008

Hisab

Allah berfirman dalam surat Al-Insyiqaq :

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” (Al-Insyiqaq : 7-8)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini: “Maksudnya ia akan dihisab dengan lancar dan tanpa kesulitan. Seluruhnya amalnya tidak akan diperiksa secara teliti. Sebab orang yang dihisab secara teliti, pasti binasa. “

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dihisab dengan rinci, ia pasti disiksa.” ‘Aisyah berkata, “Bukankah Allah telah berfirman : “Dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” Beliau menjawab, “Itu bukan berarti dihisab, tetapi hanya diperlihatkan amalnya. Barangsiapa hisabnya dirinci pada hari kiamat, ia pasti disiksa.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh beruntung orang mukmin yang dihisab dengan mudah tanpa dirinci. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan orang kafir.

“…Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 13 : 18)

‘//———–

Hari penghisaban membuat manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang merugi dan yang beruntung. Seperti firman-Nya dalam surat Al-Waaqi’ah (Hari Kiamat), “(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),” (QS 56 : 3).

Selanjutnya orang-orang yang beruntung itu Allah bagi lagi menjadi dua bagian, hingga terdapat tiga kelompok seperti yang disebutkan pada surat Al-Waaqi’ah ayat ke 7, “dan kamu menjadi tiga golongan”. Golongan pertama adalah Ashabul Maymanah (golongan kanan, ayat ke 8) , Ashabul Masy’amah. (golongan kiri, ayat ke 9), dan Assaabiquunas-saabiquun (yang paling dahulu beriman. ayat ke 10). Golongan yang terakhir lah golongan yang terbaik.

Berdasarkan cara penghisaban, juga terdapat tiga golongan. Untuk golongan yang baik, dihisab dengan mudah tanpa rinci. Dan untuk golongan yang buruk, dihisab dengan hisab yang detail dan buruk. Terakhir adalah golongan yang terbaik, yaitu yang masuk surga tanpa hisab.

Terdapat dalam Riyadush-Sholihin Bab Yakin dan Tawakal, hadits riwayat Ibnu Abbas yang ringkasnya seperti berikut:
“Rasulullah saw bersabda:.. …Ternyata ada juga kelompok besar. Dijelaskan padaku: Ini adalah umatmu. Di antara mereka ada tujuh puluh ribu masuk surga tanpa hisab dan siksa. Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan masuk ke rumahnya. Para sahabat membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian berkata: Barangkali mereka adalah orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah saw. Sebagian berkata: Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika Rasulullah saw. keluar lagi, beliau bertanya: Apa yang kalian bicarakan? Mereka memberitahu, lalu Rasulullah saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan jimat/mantera tidak minta dibuatkan jimat, tidak meramalkan hal-hal buruk dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal….” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya ketika dihadirkan hadits tentang hisab tanpa rinci untuk orang mukmin, itu sudah sangat melegakan kita. Karena apabila dirinci perbuatan kita, maka akan kita temui kedurhakaan-kedurhakaan yang besarnya tidak sebanding dengan amal baik yang kita lakukan. Tapi semua termaafkan oleh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Adanya kabar tentang sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, patut menjadi motivasi untuk kita. Bobot amalan kita dipengaruhi oleh motivasi. Oleh karena itu, jangan pesimis memandang hadits tersebut. Kalau timbul keraguan dan pertanyaan apakah kuota tujuh puluh ribu seperti yang disebutkan dalam redaksi hadits tersebut sudah penuh atau belum, mengingat kita hidup di akhir zaman dan telah berlalu berjuta umat muslim sebelum kita? Sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Allah karena Allah yang mengetahui. Keraguan tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menggugurkan hadits tersebut menjadi motivasi kita. Berbuatlah sebatas kemampuan kita.

Agar hisab mudah, Umar bin Khattab r.a. sudah memberikan tips dengan ucapannya yang terkenal “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah sebelum ia ditimbang, bila itu lebih mudah bagi kalian dihari hisab kelak untuk menghisab dirimu dihari ini, dan berhiaslah kalian untuk pertemuan akbar, pada saat amalan dipamerkan dan tidak sedikitpun yang dapat tersembunyi dari kalian.”

Muhasabah adalah sarana yang ampuh untuk memperbaiki diri.

Juga ada do’a yang diajarkan oleh Rasulullah dengan redaksi hadits yang berbunyi:
“Aku mendengar Rasulullah saw berdoa di dalam sebagian sholatnya: “Allahumma haasibnii hisaaban yasiiroo” (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah.”).
Setelah Nabi saw beranjak, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu hisab yang mudah?” Nabi saw menjawab “Buku catatan amalnya dilihat lalu dilewati begitu saja. Barangsiapa yang dipertanyakan di dalam hisabnya pada hari itu, wahai Aisyah, maka ia binasa” (HR Ahmad).

Semoga Allah memudahkan kita pada amalan yang memasukkan kita pada golongan orang yang masuk surga tanpa hisab.

Allahu’Alam bish-showab.

August 22, 2008

N O D A

Saat saya bepergian dari Jakarta menuju sebuah desa di Lampung di tempat kakek saya tinggal, saya tiba pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”
“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak malu.
“Lho, kan bisa sholat di mobil.”
“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan meninggalkannya.
Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa jalan-jalan ke kebun.”
“Asyiik!!!” Sambut saya sumringah.

Senja tiba. Saya sudah siap melihat-lihat kebun kakek yang tidak jauh dari rumahnya. Entah kenapa, kakek meminjamkan sebuah celana berwarna putih untuk saya. Maklum karena di kebun tentu saja kami akan berkotor-kotor, saya tidak ragu mengambilnya. Daripada celana yang saya bawa dari Jakarta yang saya pakai. Sayang, persediaan terbatas.  Tapi aneh, pada akhirnya kakek berkata, “Kalau celana itu sampai kotor, kamu cuci sendiri ya!!” Saya tidak mengerti maksud kakek, tapi saya ikuti saja. Dan saya lihat kakek sendiri menggunakan celana hitam.

Perjalanan di mulai. Setelah 15 menit kami sampai di kebun kakek. Di kebun itu kami berkeliling menyaksikan bermacam tanaman yang ditaman oleh kakek, mulai dari pisang, jagung, hingga cabai.

Setelah puas, kami istirahat sejenak. Tanpa sungkan, kakek duduk di tanah dan menyuruh saya duduk di sampingnya. “Duduk lah.”
“Gak ah, kek. Takut kotor.”
“Kenapa takut kotor? Kakek santai saja kok duduk di tanah.”
“Ya jelas. Kakek kan memakai celana hitam. Sedangkan celana saya putih.”
“Memang kenapa kalau celana putih?”
“Kalau celana putih, kan susah dicucinya kalau kena noda. Kalau tidak bersih, nodanya akan terlihat jelas. Sedangkan celana hitam, tidak terlalu kentara kalau kotor.”
Kakek terangguk-angguk. “Apa kamu bisa mengambil pelajaran dari hal tersebut?”
“Hah?? Pelajaran apa kek???” Aku agak bengong.

“Kamu mengerti, bahwa perumpamaan orang munafik atau fasik, adalah seperti kakek ini yang memakai celana hitam…”
”Lho, maksud kakek?” Aku memotong.
“Dengar dulu!! Orang yang memakai celana hitam, tidak akan merasa was-was kalau celananya kotor. Dia tidak akan malu berjalan di tengah orang banyak dengan celana yang terkena noda tanah di sana sini. Sedangkan orang yang beriman, seperti orang yang memakai celana putih, yang ia khawatir apabila celananya sedikit kotor, maka noda itu akan terlihat jelas.”
Aku mengangguk-angguk. “Ooh… iya kek. Gak nyangka kakek filosofis banget.” Ujarku sambil ‘nyengir’.
“Apa kamu tidak mengambil pelajaran terhadap diri kamu sendiri?”
“Maksudnya, kek?”
“Bukankah tadi pagi kamu menggampangkan tidak sholat subuh? Muhasabah lah!! Apa mungkin hati kamu sudah terlanjur kotor sehingga setiap kotoran baru yang menempel bukan menjadi sesuatu yang mencolok?”
“Astaghfirullah…” Aku terhenyak.
“Kalau hati kamu bersih, tentu saja kamu tidak ingin ada setitik noda pun hinggap di hati kamu.”
“Astaghfirullah. Iya kek. Saya sadar, saya salah. Kalau begitu, mulai sekarang saya akan berusaha membersihkan hati saya. Akan saya jaga agar hati saya senantiasa bersih, tidak boleh ada kotoran yang hinggap. Saya akan selalu bersihkan dengan istighfar.”
“Bagus!!” Kakek mengangguk-angguk….

Saat alam menunjukkan tanda bahwa saat maghrib hendak tiba, kami pulang ke rumah. Di jalan, saya termenung. Lalu berkata kepada kakek, “Kakek, saya jadi paham kenapa kalau ada orang baik yang ketahuan aibnya, selalu menjadi bulan-bulanan gosip dibanding orang jahat yang ketahuan aibnya.”
Kakek mengangguk-angguk.
“Ya ya ya…. Ya seperti tadi, karena orang yang baik yang ketahuan aibnya itu seperti sebuah pakaian putih yang terlihat terkena noda. Nodanya akan mencolok dilihat oleh orang banyak. Beda dengan orang jahat, orang sudah terbiasa dengan berita aibnya. Tak terlalu menjadi bulan-bulanan omongan orang.”
“Benar kek. Tapi, susah ya menjaga hati ini bersih. Menjaga perilaku ini tetap bersih. Karena kotoran ada di mana-mana. Kalau terkena noda, akan mencolok. Dan harus dibersihkan dengan tenaga yang ekstra. Belum lagi omongan orang-orang… Hhh…”
“Hahaha….” Kakek tertawa kecil.

—-

Ibnu Mas’ud r.a. berkata "Orang yang benar-benar beriman, ketika melihat dosa-dosanya, seperti ia sedang duduk dibawah gunung. Ia kuatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya."

Semoga bisa diambil hikmahnya dari cerita di atas. Btw, cerita di atas fiktif!! Kedua kakek ku udah lama meninggal. Kakek ku yang ada di Lampung gak punya kebon. :D

August 15, 2008

Rumput Tetangga Lebih Hijau

Kulihat harta dunia di tangan seseorang
Lahirlah gundah semakin ia berlipat bilangan
Hinalah siapa yang memandang dengan keagungan
Agung lah siapa yang memandang dengan kehinaan
(Suara Persaudaraan)

“Rumput tetangga lebih hijau”. Ungkapan yang berarti bahwa orang lain memiliki kenikmatan atau kebaikan yang lebih dari pada diri kita. Bagaimana sikap kita ketika menghadapi kenyataan tersebut? Dengki, iri, atau ikut senang?

Mudah-mudahan tidak ada penyikapan negatif. Berikut ini kemungkinan dan penyikapan yang tepat saat melihat rumput tetangga lebih hijau…

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena kita memandangnya dari jauh.
Jarak sering menipu pandangan. Bulan yang terlihat indah dengan sinarnya yang kuning keemasan di malam hari, sebenarnya bila dilihat lebih dekat, adalah sebuah padang tandus yang berlubang-lubang oleh meteor. Sebuah bukit yang sebenarnya agak gundul, bila dilihat dari jauh tetap saja terlihat biru.
Semuanya jelas bila dilihat lebih dekat. Bahwa mungkin orang lain terlihat lebih bahagia dari kita, tetapi ketika kita mengetahui dari dekat kehidupannya, bisa jadi kita akan mengkoreksi pandangan kita, dan tersadarlah bahwa kita memiliki kehidupan yang lebih bahagia.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena ketamakan dan kurangnya rasa syukur pada diri kita.
Rasulullah pernah bersabda “Sekiranya Anak Adam mempunyai sebuah lembah emas , niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi. Tidak akan puas kantong mulut seseorang kecuali jika sudah penuh dengan tanah” (dalam Jami’ ash-Shaghir karya Suyuthi)
Inilah mental yang menghadirkan fatamorgana. Rasa tak pernah puas menyebabkan kita melihat segalanya lebih indah dan selalu ingin memiliki. Introspeksilah, dan semoga kita terhindar dari sifat buruk ini.

- Mungkin rumput kita lebih hijau, atau sama hijau dari rumput tetangga, tetapi rumput tetangga terlihat lebih hijau karena mental pecundang yang ada pada diri kita.
Mental pecundang ini berlawanan dengan mental juara. Seseorang yang memiliki mental pecundang, ia punya rasa rendah diri yang berlebihan. Atau inferiority complex. Selalu under estimate terhadap dirinya.
Dalam persaingan, orang yang memiliki mental pecundang, akan tersingkir. Ia akan selalu melihat kompetitornya lebih baik darinya, lalu diikuti dengan rasa pesimis. Kalah sebelum bertanding. Seharusnya tidak begitu sifat orang mukmin.
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran 139)

- Boleh saja rumput tetangga lebih hijau dari kita, Memangnya kenapa?
Sifat cuek hadir pada saat yang tepat dalam urusan seperti ini. Jangan sifat cuek hanya ada pada kritik atas kesalahan kita saja. Atau seperti istilah begini: “gw sih asik asik aja… Selama dia gak nyenggol gw.”

- Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena rumputnya dicat oleh pemiliknya.
Kadang kala ada orang yang seleranya melompat dari kemampuannya. Seleranya berada di kebutuhan tersier, sedangkan kemampuannya berada di kebutuhan primer. Dan orang tersebut memaksakan diri meraih apa yang ia selerakan. Sehingga terlihat lah ia parlente, dan mewah. Keadaannya palsu. Hijau rumputnya adalah karena cat, bukan hijau alami.
Jadi, jangan buru-buru takjub lah terhadap orang yang kehidupannya terlihat mewah.

- Alhamdulillah, rumput tetangga lebih hijau. Saya ikut senang.
Rasulullah bersabda, "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari-Muslim) Maka melihat saudaranya seiman memiliki nikmat yang lebih, seharusnya sikap seorang mukmin seperti apa yang telah Allah ceritakan dalam Al-Qur’an tentang kaum Anshor, “ …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” (QS 59 : 9)

- Rumput tetangga yang lebih hijau memberi motivasi bagi diri saya!!
Maka telah hadir energi positif, alih-alih energi negative berupa kedengkian. Motivasi seperti ini adalah bahan bakar yang baik untuk kehidupan.

- Rumput tetangga memang lebih hijau, tapi dibanding tetangga yang lain, alhamdulillah rumput saya masih lebih hijau…
Dalam urusan akhirat, kita seharusnya melihat ke atas, tetapi dalam urusan dunia, lihat lah ke bawah. Kalau kesyukuran itu hadir karena perbandingan, maka seharusnya kita lebih banyak bersyukur kepada Allah, karena masih banyak yang tidak seberuntung kita.

- Biarkan saja rumput tetangga lebih hijau, karena orientasi saya adalah surga dan keridhoan Allah, bukan rumput.
Ya, seharusnya orientasi seorang mukmin adalah surga dan keridhoan Allah. Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS 3 : 14)
Maka seharusnya seorang mukmin sibuk menghijaukan rumput surganya daripada mengurusi hijaunya rumput tetangganya.

- Asyik.. rumput tetangga lebih hijau. Bisa buat makan si dombi, domba kesayangan saya.
Waaa… parah niiih…..